
Hai, kalian masih nungguin nggak?
Bab 10 a. Sudut Kantin
Ada yang lebih menyakitkan daripada cemburu, ditinggal pergi, ataupun saling menyakiti dalam suatu hubungan. Yaitu, mau marah, mau cemburu, mau pergi, mau menyakiti, tapi nggak bisa. Karena kita bukan siapa-siapa.
***
"MAKAN dulu nasinya, lo pasti belum makan dari pagi, makanya sakit perut," ujar Keisha. Gadis itu me ndorong sterofoam berisi nasi kuning -yang dibelinya di kantin tadi- ke dekat Lyodra.
Lyodra yang sejak tadi menangkupkan kepalanya di atas meja mendongak, ia memandang Keisha dan Ziva bergantian lalu beralih ke bubur di depannya. Ia tersenyum. "Makasih, ya."
Keisha hanya bergumam sebagai jawaban. Sejak pagi hingga jam istirahat berlangsung, Lyodra memang mengeluh pusing dan sakit perut. Disuruh ke UKS tidak mau karena keadaannya bertepatan dengan ulangan fisika barusan, ia berkilah dengan alasan tidak ingin ikut ulangan susulan makanya meskipun sakit ia memilih untuk tetap di kelas.
"Lo bisa makan sendiri kan?" tanya Ziva sangsi melihat tangan Lyodra bergetar saat memegang sendok.
Keisha memutar matanya jengah. "Dia cuma sakit perut kali, Ziv, bukan lumpuh."
Ziva merengut. "Kali aja, tangan dia tremor gitu. Ngeri gue."
Dengusan kasar dari Keisha terdengar jelas. Mengabaikan Ziva yang mulai ngoceh banyak hal. Gadis itu segera membuka cup mienya lalu makan. Ia memang sengaja tidak makan di kantin, selain karena hari ini kantin ramai sekali dan ia tidak kebagian kursi. Lyodra juga sendirian di kelas.
Mereka makan dalam diam. Kecuali Ziva. Keisha sampai meringis, ia jadi kasihan ke Lyodra, sudah sakit perut, kepala tambah pusing mendengar cerita nggak jelas Ziva.
"Beliin gue makan sana!"
Mereka sontak menghentikan makannya lalu mendongak, menatap Samuel yang sekarang sudah berdiri di samping mejanya. Lelaki itu, dengan wajah songongnya menatap Lyodra.
"Seenaknya banget sih lo nyuruh-nyuruh," protes Ziva kesal. Siapa coba yang nggak kesal saat sedang enak-enaknya makan dan cerita, seseorang datang mengganggu dengan cara menyebalkan.
"Gue nggak ngomong sama lo. Nggak usah ikut campur," kata Samuel. Ia kembali memandang ke arah Lyodra. "Lo denger nggak gue nyuruh apa tadi?!" sentaknya.
Tidak mau ribut dan masalah semakin panjang. Lyodra menjauhkan makanannya lalu berdiri. "Mau beli makan apa?" tanyanya.
Hah?
Keisha dan Ziva jelas melongo dibuatnya. Lyodra yang biasanya keras kepala dan nggak mau kalah sekarang malah mau-mau saja disuruh Samuel? Nggak salah?
"Pesenin gue bakso sayur di kantin. Gue males antre," ucap Samuel sambil menyodorkan uang lima puluh ribuan ke Lyodra.
"Lo mau makan dimana? Kelas apa kantin?"
"Kantin."
Lyodra mengangguk. Ia membiarkan Samuel berjalan mendahuluinya. Sebelum menyusul, ia tersenyum ke arah kedua temannya, menunjukkan gesture bahwa ia baik-baik saja.
"Lo kenapa sih? Tiba-tiba nurut dan mau-mau aja disuruh Samuel? Lo diancam apa gimana?" tanya Keisha curiga.
"Tapi nggak gini juga kali, Ly," celetuk Ziva tidak terima. "Tuh anak bakal ngelunjak kalau dibiarin."
"Nggak apa-apa. Kalian mau nitip-nitip sekalian?" tawar Lyodra.
Keisha menggeleng. "Sini, biar gue aja yang pesenin. Lo lanjutin makan aja."
"Nggak ap--"
"Buruan! Lelet banget sih lo!" teriak Samuel dari arah pintu. Lyodra langsung menahan ketika Keisha sudah berdiri, bermaksud memaki lelaki itu.
"Biarin. Daripada tambah ribet masalahnya. Gue nggak apa-apa. Kalian tunggu disini aja.
***
"KADANG aku ngerasa nggak enak ke mama kamu," kata Tiara. Ia baru saja keluar dari kelas. Jam pelajaran Matematika menguras habis kapasitas otaknya. Makanya, yang ia bahas sekarang random banget.
Nuca, yang berjalan di sampingnya menoleh. Ia menaiikan sebelah alisnya bingung. "Nggak enak gimana?"
"Mama kamu tahunya kita pacaran. Padahal enggak," katanya.
Mereka sedang menuju kantin. Jangan tanya dimana Brisiana yang biasanya bersama dengan Tiara. Gadis itu sudah ngibrit bersama yang lainnya karena tahu pasti Tiara akan dijemput Nuca. Mana mau ia jadi obat nyamuk diantara keduanya. Apalagi, kalau endingnya akan sama seperti kemarin-kemarin. Ogah.
"Biarin aja. Kenapa emangnya? Kamu risih? Kalau iya, biar aku bilang ke mama."
Tiara menghebuskan napas pelan. Hampir tiga tahun bersama, ternyata Nuca masih saja sama. Sulit sekali untuk mengerti dan peka bahwa ia.. tidak mau digantung. Kebanyakan orang mengira bahwa ia dan Nuca adalah sepasang kekasih yang sangat cocok dan bahagia. Padahal, sebenarnya tidak seperti itu.
"Gimana ulangan kamu tadi?" tanya Tiara mengalihkan pembicaraan karena tidak mau terusan larut dalam pembicaraan yang lumayan menguras emosi itu.
"Lancar."
Selesai. Setelah itu tidak ada lagi pembicaraan diantara mereka. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Jika Tiara sibuk memikirkan hubungan mereka serta perasaannya. Kepala Nuca penuh dengan banyak pertanyaan. Soal alasan Lyodra yang tiba-tiba menghilang, tentang bagaimana keadaan Lyodra sekaeang, soal telfonnya yang dimatikan sepihak oleh gadis itu kemaein, lalu soal.. Tiara yang tiba-tiba aneh. Ini bukan kali pertama, sejak dulu, gadis itu memang sering kode atas kejelasan hubungan mereka. Ia bukannya tidak peka, hanya saja.. belum siap untuk memulai.
Tiara bagi Nuca adalah anugrah. Gadis itu datang di saat ia benar-benar mau melupakan Lyodra dulu. Gadis itu selalu menemani dan berdiri di sampingnya dalam keadaan apapun. Mendukungnya untuk melakukan hal-hal baik yang ia suka. Seringkali kalau ia sedang manggung, Tiara datang menemani. Rela menunggu lama di backstage sendirian. Apapun itu, Tiara selalu ada untuknya.
Bagaimana bisa ia tidak mencintai gadis itu setelah mereka lama bersama? Nuca jelas mencintainya. Hanya saja ia belum siap.
Ia belum siap ditinggal pergi lagi.
Apalagi, Lyodra datang dan membuat hatinya kembali berantakan. Padahal, ia sudah begitu yakin kalau ia mencintai Tiara. Tapi, begitu gadis kecil di masa lalunya itu datang.. sedikit perasaannya kembali terbang. Kembali pada gadis itu.
"Nuc.. Ya Allah. Lyodra!!"
Nuca tersentak dari lamunannya. Ia menoleh dan langsung mengikuti arah pandang Tiara. Ia terbelalak kaget melihat keadaan di depannya. Kantin mendadak ricuh, tapi fokusnya hanya pada seseorang di tengah kerumunan itu.
Lyodra.