
LYODRA terusan memegangi perutnya yang sakit sejak kemarin. Ia berusaha sekuat tenaga untuk antre membeli bakso. Jangan kalian pikir antrenya lurus ke belakang, bukan. Ini lebih mengerikan. Murid-murid berkerumun, berdesak-desakan sambil menyodorkan mangkok agar dapat duluan. Tidak peduli siapa yang lebih dulu datang, yang jelas, yang lebih cerdik menyelinap ke depan, ia yang dapat duluan.
Panas, pengap, dan pusing. Kipas angin di kantin berasa tidak berfungsi. Andai saja Samuel memesan makanan yang lain, mungkin antrenya tidak akan seekstrim ini. Ia berpegangan pada tembok di dekatnya karena rasa pusing dan sakit di perutnya semakin menjadi. Setelah sepuluh menit lebih menunggu, akhirnya ia kebagian juga.
"Nggak pakai bawang goreng ya, mang," katanya sesuai permintaan Samuel.
Sebenarnya ia ingin pesan dan makan juga agar perutnya terisi, tapi jika maagnya kambuh begini dan sudah terlanjur telat makan, ia jadi tidak nafsu. Bahkan, nasi kuning tadi hanya tersentuh sedikit karena ia memang tidak mau makan. Hanya saja yang mau menolak ia tidak enak sendiri karena temanya sudah berbaik hati membelikannya makan.
"Ini kembaliannya, neng. Selamat makan ya. Semoga pelajarannya lancar sebentar lagi," ucap Mang Bakso sambil mengulurkan mangkok berisi bakso penuh dan uang kembalian pada Lyodra. Lyodra hanya berterimakasih dan tersenyum menanggapi.
Ya. Selain baksonya enak, penjualnya juga ramah dan asik. Setiap menyerahkan pesanan, lelaki payuh baya itu pasti tidak akan lupa menyelipkan ucapan dan do'a-do'a yang akan diaamiini pembelinya. Makanya, anak BHS hobi banget dan rela-relain antre di lapak Mang Bakso daripada yang lain.
Sambil terus berjalan, Lyodra mengedarkan pandangannya ke seantero kantin untuk mencari keberadaan Samuel. Ia sudah akan berbelok ke sudut kantin sebelah kanan ketika seseorang menyorakinya dari arah belakang.
"Heh lelet!! Gue disini!!"
Suara Samuel. Lyodra sergera berbalik. Gerakannya sangat cepat dan tiba-tiba. Membuat seseorang yang berjalan di belakangnya kaget dan memekik keras saat bakso panas yang dipegang Lyodra tadi tumpah mengenai seragamnya.
"Sial*n, anj*r!! Panasss, aduuh, tolong ambilin tissue dong!!" teriaknya membuat salah-satu temannya yang sudah duduk bergegegas mengambil tissue dan menghampirinya. Orang itu langsung mengambil alih tissuenya dan mengelapnya dengan wajah memerah.
"Maaf," kata Lyodra merasa bersalah.
"Lo tuh kalau jalan hati-hati, seenaknya banget sih jadi orang!" bentak gadis bermata hazel yang tadi mengambilkan tissue. Gadis dengan name tag Alda Wiyekedela itu jelas emosi karena ia kecipratan juga.
Jantung Lyodra berdegup cepat saat korban kecerobohannya itu mendongak lalu menatapnya penuh kebencian. Ia masih ingat orang itu. Orang yang mempermalukannya di kantin dulu. Saat ia menghampiri Nuca. "Lo lagi lo lagi, biang masalah emang!" katanya tajam. Gadis itu, Mahalini, mengambil mangkok berisi penuh soto miliknya di meja lalu mengguyurnya ke tubuh Lyodra.
Beberapa murid memekik kaget. Mereka mulai bergerombol mendekat dan membantu Lyodra menjauh dari Mahalini.
Lyodra berteriak antara kaget dan kepanasan. Ia terus mengaduh karena perih sambil menangis. Tangannya merah dan bergetar hebat. Satu masalah belum kelar, sekarang masalah lagi.
"Lo tuh kalau cuma mau nyari masalah, jangan di sekolah. Muka tembok!!" bentaknya.
"Lo kenapa sih? Gue kan nggak sengaja. Gue ngaku salah dan minta maaf tapi balasan lo kayak gini." Lyodra mengusap kasar air matanya. Sebenarnya ia tidak mau menangis, tapi serius, kuah soto yang disiramkan Mahalini itu panas banget. Apalagi, ia cukup malu dihina di depan banyak orang.
"Lo tanya gue kenapa? Gue jijik sama lo! Malu gue sebagai cewek karena ada spesies yang seperti lo!" teriak Mahalini yang kemudian disambut cekikikan teman-temannya.
Pandangan Lyodra mendadak buram. Suara orang-orang terdengar sayup-sayup. Ia dapat merasakan ketika seseorang mendudukkannya di kursi, mencoba menenangkannya dari amukan Mahalini.
"Bawa jauh-jauh tuh anak. Jijik banget gue, bikin sensasi terus!" ucap Mahalini pada orang yang di dekar Lyodra.
"Gue ada seragam di loker, lo ganti baju dulu ya," katanya.
Lyodra menoleh. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya. Tiara, dengan senyuman tulusnya memenuhi matanya. Kepalanya semakin pusing, ia sudah mencengkram lengan Tiara ketika gadis itu membawanya berdiri.
"Kamu bisa gendong Lyodra ke UKS kan, Nuc?" tanya Tiara pada Nuca yang diam saja sejak tadi. Sejak mendapati Lyodra dibully habis-habisan, ia hanya bungkam. Tidak tahu harus bagaimana dan berbuat apa. Ingin sekali ia memeluk gadis itu, menenangkannya, tapi.. meskipun menolak untuk peka, tetap saja ada hati yang harus ia jaga.
Ia sudah akan membantu Tiara untuk memapah Lyodra ketika seseorang menerobos dan mengambil alih Lyodra.
"Biar gue aja."
***
LYODRA menoleh ke arah samping. Ziva dan Keisha berada di sana. Kedua temannya itu duduk lesehan di bawah dengan santainya sambil ngobrol banyak hal. Entah karena jam kosong atau memang guru yang mengajar tidak begitu peduli kehadiran murid, jadi mereka bisa bebas disini.
Tadi, ia memang langsung dibawa ke UKS. Samuel yang menggendongnya. Bukan Nuca. Lelaki itu masih sempat mengumpatinya dengan kata-kata kasar saat perjalanan menuju UKSĀ tapi ia tidak peduli karena rasa sakit mengalahkan semuanya saat itu. Sebenarnya, ia ingin sekali menabok mulut Samuel nggak berisik dan tambah pusing, tapi ia urungkan. Bisa-bisa lelaki itu melepasnya begitu saja dari gendongan.
Sedangkan Nuca, lelaki itu tidak bicara apapun. Ia hanya mengusap kepalanya sebentar sebelum keluar ruangan ketika Tiara membantunya ganti baju. Setelah itu, mereka berdua pergi ketika Ziva dan Keisha datang karena bel masuk berbunyi.
Tidak ada Samuel dimanapun. Jika kalian harap semuanya akan berakhir seperti di novel-novel, Samuel menggendongnya ke UKS lalu menemaninya sampai dirasa mendingan, kalian salah. Karena lelaki itu langsung pergi begitusaja setelah meletakkannya dengan kasar di tempat tidur. Untung saja kasurnya sedikit empuk. Kalau tidak, sudah pasti pinggangnya akan sakit.
Suara pintu terbuka membuat ia menoleh. Ingatannya langsung buyar begitu Nuca masuk sambil menenteng kresek kecil di tangannya.
"Eh, nggak apa-apa kak, gue lebih enak disini aja daripada di kelas," ucap Ziva sambil nyengir lebar tanpa dosa.
Keisha mendengus mendengar itu. "Nanti kalau misalnya Kak Nuca ada pelajara, Lyodra ditinggal aja biar istirahata. Biar nanti kita yang jenguk lahi," kata Keisha menengahi. Seakan memberi ruang untuk Nuca dan Lyodra, dengan ekspresi datar Keisha memberi kode untuk Ziva menyetujui.
Nuca bergumam. Ia membiarkan dua orang itu menghampiri Lyodra untuk pamit dan mengatakan pesan-pesan pada Lyodra. Mereka keluar ruangan setelah itu.
Sekarang hanya tinggal mereka berdua.
Nuca mendekat dan duduk di pinggiran tempat tidur. Ia membuka kresek yang dibawanya dan mengeluarkan kotak sterofoam dari sana. Dari bau yang keluar, dapat ditebak itu pasti bubur ayam.
"Sini makan."
Lyodra jelas terharu. Ia bangun dan bersandar pada sisi tempat tidur dibantu Nuca. Dengan hati-hati Nuca menata beberapa bantal untuk dijadikan sandaran.
Jika saja waktu bisa berhenti, ia akan meminta semesta untuk berhenti sebentar saja sekarang. Biar ia lebih jelas dan fokus merekam semuanya dalam ingatan.
"Kenapa Kak Nuca tiba-tiba baik?"
Nuca menaikkan sebelah alisnya. Ia menyodorkan satu sendok bubur ke mulut Lyodra. "Apa selama ini gue udah jahat ke lo?" tanyanya usai Lyodra menanggapi suapannya.
Ah, Lyodra ingin menangis rasanya. Bukan karena pertanyaan Nuca, tapi karena makanan yang dikunyahnya. Bubur yang ia makan itu mengingatkannya pada seseorang.
Dulu, kalau maagnya kambuh, mamanya pasti akan terus menemaninya. Menyuapinya makan bubur, mengompres perutnya, lalu menemaninya nonton film di netflix untuk mengalihkan rasa sakit.
Sekarang, semuanya jelas berbeda. Tiba-tiba saja ia jadi rindu mamanya. Memang benar ya, semuanya terasa lebih mellow dan menyedihkan kalau kita sedang berada di bawah, seperti ketika sakit seperti ini misalnya. Biasanya, ada orangtua yang meraeat tapi sekarang..
"Kok nangis?"
Lyodra menggeleng. Ia menangkup wajahnya dengan kedua tangan. Akhir-akhir ini ia memang jadi cengeng sekali. Sedikit-sedikit mellow dan nangis. Mungkin karena semakin banyak masalah yang menerpanya. Lalu, tidak ada satu pun orang yang bisa menjadi tempat ia mengadu jadi ia dituntut untuk kuat menghadapi semuanya sendiri.
Nuca meletakkan buburnya, ia mendekat dan membawa Lyodra ke pelukan. Tangis gadis itu semakin kencang. Ia mengusap pelan bahunya, seakan menenangkan.
"Kenapa nangis, hm?"
Lyodra menggeleng. Lama sekali ia tidak merasakan pelukan ini. Begitu hangat, begitu mendebarkan. Ia jadi tidak bisa membayangkan hari-harinya setelah ini jika jauh dengan Nuca. Seperti ini saja membuatnya merasa cukup. Lalu, kenapa harus dikurangi lagi dengan ia menjauh dari Nuca?
Ia sudah kehilangan banyak hal. Mamanya, ayahnya jauh, kakaknya sering tidak tersentuh karena sibuk, lalu sekarang, Nuca??
Apa ia bisa?
Lyodra melepas pelukannya lalu menatap Nuca. "Ini pasti kak Tiara yang nyuruh kak Nuca nyamperin aku terus bawa bubur," tebaknya.
Nuca bungkam.
Lyodra benar.
Gadis itu tersenyum. Tanpa Nuca menjawab, ia sudah tahu jawabannya. Ia mengusap pipi Nuca pelan, membuat lelaki itu memejamkan mata.
"Kak Nuca sayang banget ya sama kak Tiara sampai nurut dan ngelakuin apapun yang kak Tiara mau?"
Nuca sedikit menjauh dan menatap Lyodra tidak suka. "Dia nggak seperti itu."
Lyodra tersenyum lagi. Tidak seperti biasanya gadis itu tersenyum selembut ini.
"Mulai besok, aku mau seperti yang kak Nuca ingin. Jadi orang yang nggak suka gangguin kak Nuca lagi dan ngejauh lalu biarin kak Nuca hidup tenang. Jadi, hari ini aku boleh ya peluk Kak Nuca. Anggap aja ini pelukan perpisahan," kata Lyodra dengan nada tenang. Gadis itu mendekat. Menatap lekat mata Nuca lalu kembali memeluknya. Gadis itu memejamkan mata. Membiarkan air matanya jatuh begitu saja. Tidak ada isakan, tanpa suara ia menangis dalam diam.
Suatu saat, jika semuanya kembali membaik. Lyodra mau bersama Nuca selamanya. Lyodra mau lelaki itu tahu bahwa ia..
sangat mencintainya.