Remember Me Please

Remember Me Please
khawatir



16.46


Dr. Yu :


nona jika anda sudah membaik, anda sudah diperbolehkan kembali.


aku menatap Dr. Yu penuh seksama.


Ya ampun aku bahkan ada planning yang belum terselesaikan. Rapat hari ini pasti dibatalkan kan. Berantakan sudah...


"ingin makan? " suara pria itu membuyarkan pikiranku.


Disamping Dr. Yu pria berkacamata itu tersenyum ramah kepadaku.


Aku sedikit merasa takut dan curiga pada dia.


Dr. Yu:


hem karena sudah ada tuan Willy, saya tinggal ya.


oh jadi namanya Willy?


aku kembali menatapnya.


Dr. Yu meninggalkan kami berdua, pria itu kini mengambil kursi dan duduk disamping ranjang. Dia masih tersenyum dan menatapku heran.


"apa ada masalah? kau menatapku curiga seakan akan aku akan membunuhmu"


Aku mengalihkan pandangan "Tidak, aku hanya bingung"


tiba tiba dia memegang tanganku.


"yaa aku tahu pasti sangat rumit menjalani hidup ini. Oh ya namaku Willy"


aku tertegun dengan apa yang dikatakannya, seakan dia tahu apa yang baru saja ku alami.


mata kami bertemu beberapa menit hingga dia tersadar sesuatu.


willy:


oh ya, apa kau mau pulang?


aku menggeleng pelan


entahlah, rasanya di rumah sakit lebih nyaman.


"kau tidak berpura pura kan?" aku menatap lurus dan sengaja mengatakan itu. Aku membayangkan, bagaimana jika dia hanya akan baik padaku untuk detik ini. lalu dia akan membunuhku?


Aku gemetaran melihat dia yang menatapku tajam. Dia benar benar seperti akan menerkam. Aku mangsanya ya?


Dia terkekeh dan menyeringai. Tatapan itu hilang ketika ia mulai tertawa lantang. Apa yang lucu? heran.


Willy:


perempuan aneh. aku kan sudah membantumu. kenapa malah curiga? aku heran kau kenapa bisa bertanya seperti itu sih?


dia menahan kepalanya dengan tangannya, menatapku dengan mantap. bertanya tanya dan ingin aku menjawab pertanyaannya.


"kau mungkin adalah Thomas" kataku tegas dengan membalas tatapannya.


dia mengangkat satu alisnya dan mulai memainkan jemarinya.


Willy:


Aku punya teman, namanya Thomas. Tapi dia sudah dipenjara 2 bulan lalu setelah tidak sengaja membunuh pacarnya sendiri. Apa dia yang kau maksud? apa dia mantanmu?


aku terdiam, merasa ngeri dan terancam.


"aku gak yakin, mungkin Thomas yang aku maksud masih disekitar sini"


dengan ekspresi heran, dia melepas kacamatanya. Menghela napas panjang lalu meletakkan kepalanya diranjang.


Willy:


Aku akan membantumu


kata kata yang ia ucapkan cukup membuatku bergidik ngeri. Tidak tahu harus senang atau khawatir, aku masih tidak yakin.


Kemudian aku sadar, Rumah sakit ini menjadi tidak nyaman ketika aku mengingat pria itu, ya pria yang ku bawa kerumah sakit tadi pagi.


Sekarang aku ingin pulang, aku ingin merasakan nyaman dan hangat kamarku. Aku juga ingin memakan kue coklat dan teh hangat sembari membaca komik. Ya setidaknya hal itu yang kulakukan saat umurku 8 tahun. Dan kembali terlintas di ingatanku. Aku merasa lelah dengan kehidupan orang dewasa yang banyak masalah.


Aku mengambil ponselku, yang aku tidak tahu sejak kapan sudah ada di bawah bantal. Aku hanya menatap ponsel itu lalu menaruhnya kembali.


Dan tak lama kemudian...


kakak iparku menelepon


Aku mengangkatnya...


Dan dia mengatakan hal yang membuatku terkejut