
Sesampainya dikantor, badanku rasanya jadi sakit. Perasaan gelisah tiba tiba datang entah apa alasannya. Aku menjadi kurang fokus saat perjalanan tadi.
Beberapa orang menyapaku ramah, mereka melambaikan tangan dan memanggil namaku. Tapi aku merasa ada yang aneh, seperti ada yang mengawasi. Aku merasa seluruh badanku menjadi lebih sakit. Ketika aku berada didalam lift, seorang wanita muda berada di sana lebih dulu. Dia membawa setumpuk berkas, aku rasa dia akan interview.
Dia terlihat ketakutan dan pucat,
"anda akan melakukan interview?" tanyaku sambil tersenyum ke arahnya.
"iya, saya butuh pekerjaan. Saya sangat berharap bisa diterima disini, apalagi ini perusahaan besar" katanya sambil tersenyum kecil
"jangan gugup, semuanya akan berjalan semestinya. Mukamu terlihat pucat, kurang sehat ya? " aku memegang pundaknya
"tidak, saya hanya gugup" dia menghindar dan menyingkirkan tanganku.
Tidak lama pintu lift terbuka, seorang pria masuk ke dalam lift dan menyapaku. Dia adalah Wildon si CEO atau tepatnya adalah bos ku.
"wah wah asisten ku terlambat?" katanya sambil mengangkat satu alisnya
"maaf saya tidak akan mengulanginya,tadi ada beberapa kendala yang membuat saya terlambat" kataku
"hmm.. Ya, kali ini aku bisa memaafkanmu asisten. Ngomong ngomong apa file nya sudah siap? " sekali lagi dia mengangkat alisnya.
Tuan Wildon menatapku tajam, dia juga sempat mengalihkan pandangan ke wanita yang ada di sampingku. Yah tepatnya wanita yang akan interview itu.
"ehem.. Nanti jam 9 aku dan rekanmu Taolin akan berdiskusi sebentar, kau tidak keberatan jika kau menyelesaikan file ini? " katanya sambil menatapku serius
"hemm, bagaimana bisa aku keberatan? Tapi apa yang anda diskusikan dengan Taolin? Apa ini menyangkut bahan untuk rapat? "
"ya itu juga akan aku diskusikan dengan dia, intinya aku ingin kamu selesaikan file nya. Kinerjamu lebih baik daripada Taolin, aku percayakan padamu" sambil menepuk pundakku beberapa kali.
Aku merasa semua yang dikatakannya barusan hanya omong kosong. Terlebih lagi dia memilih Taolin untuk membahas tentang rapat penting yang akan dilaksakan besok. Lalu dia mengatakan kinerjaku lebih baik daripada Taolin, tapi dia malah memilih Taolin untuk mendampinginya. Aku merasa sangat muak, dia selalu melakukan itu padaku. Sebenarnya Taolin adalah bawahanku, tepatnya dia adalah asisten dari asisten CEO. Dan yang seharusnya mendampingi saat rapat adalah aku. Tapi tuan Wildon memilih Taolin.
Taolin adalah adik angkat dari tuan Wildon, dan hubungan mereka sangat dekat. Taolin adalah pria yang baik, dia juga cukup cekatan. Tapi kemampuannya tidak lebih dari aku, dia hanya pandai berdebat. Tapi aku tidak heran juga jika tuan Wildon memilih Taolin mendampinginya saat rapat, karena dia pasti lebih memilih adiknya ketimbang orang lain.
Suasana di lift menjadi agak canggung, wanita yang disampingku menatapku. Pintu lift terbuka, aku merasa lega akhirnya keluar dari lift yang membuatku tidak nyaman itu. Mataku menatap ke arah tuan Wildon yang berjalan di depanku. Dia bahkan tidak mengucapkan salam, malah membuatku tidak nyaman.
Aku berjalan ke ruanganku, tiba tiba saja aku teringat suatu hal. Dimana aku melupakan USB ku di mobil.
Baru saja berbalik arah hendak kembali ke tempat parkir. Hidungku dibuat sakit karena menabrak dada seorang pria. Aku menatapnya dan cukup terkejut, itu dia? Dia adalah penggalang dana terbesar di perusahaan ini?! Dia itu adalah Delon!