Remember Me Please

Remember Me Please
Hari yang panjang(2)



Aku memberanikan diri untuk turun ke basement, badanku bergemetar saking takutnya. Aku memegang tongkat erat-erat, dan tiba tiba...


Seorang pria tergesa gesa berjalan ke arahku, rambutnya yang berantakan dan wajahnya kacau. Dia berhenti ketika melihatku berada di depannya, wajahnya terlihat ketakutan. Aku juga iku ketakutan melihatnya saat itu, wajahnya terlihat tidak ramah. Tanganku yang gemetaran siap melambungkan pukulan ke arah wajahnya. Belum sempat kupukul wajahnya, dia terjatuh begitu saja ke arah belakang. Aku terkejut bukan main, ketika melihat darah memenuhi pakaian pria itu. Aku merasa bersalah karena dia jatuh, tapi aku juga memikirkan darimana asal darah itu. Aku tanpa sadar menghampirinya. Melihatnya tergeletak di lantai dengan wajah pucat, aku tidak tahu harus berbuat apa.


handphone ku bergetar beberapa kali, tapi aku tidak memperdulikannya. Aku masih kebingungan memperhatikan pria ini. Badanku rasanya lemas dan aku merasa dingin menusuk kulitku. Ah aku harus membawanya ke rumah sakit sebelum dia kehilangan kesadaran. Susah payah aku mengangkat badannya yang berat menaiki tangga, napas pria itu berat dan sepertinya dia sesak napas. Tubuhnya benar benar lemas sekaligus berat, aku membawanya ke mobilku dan dia sempat menatapku dengan matanya yang sayup.


Hahh... kenapa aku membantunya? harusnya aku membawanya ke kantor polisi. Tapi sepertinya itu terlalu jahat, aku melihat dia tidak berdaya dan membuatku iba, pikiranku untuk menghajar wajahnya spontan hilang ketika melihat dia jatuh ke lantai. Jujur saja aku masih ketakutan dan masih memikirkan bercak darah yang ada di pakaiannya.


Dalam perjalanan menuju rumah sakit, keheningan di dalam mobil membuatku bisa mendengar detak jantungku yang tidak beraturan. Tanganku terasa tidak sanggup menyetir tapi aku harus membawanya segera ke rumah sakit. Aku juga mendengar napas pria itu yang membuatku semakin tidak sabar memberikannya agar cepat ditangani dokter.


"ssiapa kau ini?" tanyaku


Dia tidak menjawabnya...


Aku bernapas lega ketika sampai ke depan pintu lobby rumah sakit, aku keluar dari mobil dan bergegas memanggil suster untuk menggotongnya masuk. Aku tidak bisa menunggu lagi, aku berteriak meminta bantuan. Seorang perawat pria melihatku dan menanyakan siapa yang akan digotong masuk, Aku menariknya dan aku tunjuk mobilku, "Disana! cepat bawa dia masuk!"kataku.


Perawat itu memanggil beberapa rekannya dan segera membawanya masuk. Seorang suster mengatakan bahwa dia akan di masukkan ke ruang IGD. Aku tidak menjawab apa apa, aku masih tidak percaya dengan yang aku lakukan. Dipikir pikir aku ini sudah membuang waktu dan uang untuknya. Padahal dia sudah membuatku takut dan mungkin saja dia penjahat.


Aku melihatnya masuk ke ruangan itu dengan suara ricuh perawat yang memberikannya penanganan. Salah seorang perawat mempersilahkanku duduk di kursi panjang untuk pengantar. Aku memikirkan keselamatan pria itu dengan tanpa sadar, aku yakin dia tidak seburuk yang aku kira. Apalagi melihat banyak luka di wajahnya yang kusam, dan banyak bercak darah di pakaiannya membuatku berpikir mungkin saja dia korban yang lalu melarikan diri.


Handphone ku kembali bergetar, aku melihat ada panggilan tak terjawab dari rekanku. hufft.. aku sudah telat masuk kerja. Dan sekarang aku harus berangkat. Aku mematikan handphone ku dan berdiri. Seorang perawat keluar dari ruangan dan memintaku untuk bicara sebentar,


"apa anda keluarga dari pasien yang baru saja kita tangani? kita butuh biodata pasien untuk melanjutkan perawatan" ujarnya


"aku bukan keluarganya, aku tidak tahu dia siapa"


"sepertinya dia tidak ada handphone, apa gak bisa langsung di urus? aku akan membayar administrasi nya" ujarku


"lalu anda menemukan pasien dimana? kita akan tetap mengurusnya,namun data pasien juga kami butuhkan. Kalau anda memang tidak tahu apa apa, kami akan memanggil polisi untuk menyelidiki dan data data pasien" ungkapnya...


"hmm.. silahkan saja, jadi dimana saya harus membayar biaya perawatannya?"


Perawat itu tersenyum ke arahku dan berjalan didepanku menunjukkan jalan. Aku mengikutinya dan segera membayar biaya rawat inap dan perawatannya.


"ah.. aku harus pergi kerja, apa anda bisa urus semua ini? nanti sepulang kerja aku akan kembali lagi" kataku pada perawat itu.


Perawat itu meng-iya kan dan tersenyum...


Ketika aku pergi untuk mengambil mobilku, seorang anak kecil menawarkan majalah yang ia jual. Karena aku merasa kasihan, aku membeli satu majalah yang anak kecil itu bilang ada berita baru. Bukannya aku tertarik, tapi aku melihat anak ini bertubuh kurus dan masih harus berjualan majalah. Senyumnya yang begitu manis mengucapkan terimakasih kepadaku, lalu dia pergi.


Ketika berada di mobil, aku masih memikirkan pria itu. Masih terbayang wajahnya yang pucat. Aku melupakan semuanya dan segera pergi ke kantor.


***HALO GUYS(づ ̄ ³ ̄)づ


MAKASIH YA UDAH BACA EPISODE INI!


AKU AKAN BERUSAHA BUAT CERITANYA LEBIH MENARIK LAGI♡