
Elona, Reina, dan Marder yang tiba-tiba saja sudah mengambil tempat disisiku tanpa aku sadari.
Mereka semua kompak menghembuskan nafas tanda kecewa mereka, “Dengar ya! Aku
sudah berjuang sekuat ku dengan kasus sebelumnya, tapi kenapa kalian merasa
kecewa hah?! Bisa tidak jangan merendahkan aku seperti itu?!” teriak ku sangat
kesal, sehingga membuat ku berdiri dari sofa tempat ku dan akhirnya aku duduk
kembali sebab sudah merasa baikan.
Kemudian langkah kaki orang lain terdengar dari arah belakang ku, satu-satunya yang tersisa adalah
Suzumi. “Apa kalian sedang luang?” tanya Suzumi cukup serius jika aku dengar
dari suaranya, mereka semua memandang ke arah Suzumi yang ada dibelakangku.
Dalam situasi apapun sekalipun harus berhubungan menyelamatkan dunia, aku tak
akan mau mengikuti orang seperti Suzumi. Gelagat suaranya mengindikasikan jika dia
mempunyai masalah yang merepotkan untuk kami semua.
“Terus ada apa?” tanya ku judes kepadanya, tanpa ampun dia langsung menjitak kepala ku cukup
keras. “Ada pembunuhan lagi tapi, ini berada di Amerika jadi aku ingin meminta
bantuan kalian semua” mohon Suzumi dengan sangat setelah menjitak kepala ku
sampai terasa encer seluruhnya. Semua terkejut tanpa ada sepatah kata lagi yang
bisa keluar dari mulut, aku yang sedang merasakan sakit pun merasa penasaran namun
juga malas menanggapi kasus yang sama, dalam waktu yang berdekatan.
“Tunggu dulu” sela ku, suara serak basah ini membuat semua mata teralihkan ke arahku, “ahem, kita
ini berada di bidang paranormal bukan detektif swasta yang banyak merajalela
sekarang ini. Jadi bagaimana kalau kita serahkan saja kepada mereka dan kita
mengurusi kasus yang harus kita urusi?” tanya ku dengan sedikit melawan menggunakan
argumen sederhana, semoga Reina mau mempertimbangkannya. “Baiklah Lony benar,
hal seperti ini bukan hak kita untuk menerima” tukas Reina cepat menanggapi
harapan ku, “namun, kita harus mengajak Enola agar kita bisa menerima kasus
seperti ini” sambungnya. Sungguh berbeda dari apa yang aku harapkan.
‘brakkkk’
Suara pintu depan
terbuka dengan sangat keras. Dan disitulah muncul orang yang tak kalah keras dari
suara pintu tadi. “Hahaha... Aku mendengar percakapan kalian semua, jadi
intinya kalian ingin mengatasi kasus itu dengan bantuanku bukan? Ya kan? Oh,
baiklah jika kalian memang memaksa ku” ucap Enola penuh semangat membara,
mengebu-gebu. Entah kenapa rasanya, aku sangat ingin melemparnya dengan sesuatu
yang keras seperti batu mungkin. Ketika selesai mendengar ucapan penuh semangat
membara tersebut Elona langsung berdiri dari duduknya, “Mohon maafkan kami,
kami hanya akan memperalat anda bukan bermaksud meminta bantuan anda” kata
Elona terang-terangan.
Reina hanya tersenyum bangga, Marder langsung memanjatkan doa agar tak tertimpa sial,
Suzumi hanya diam memperhatikan, dan sedangkan aku hanya diam membatu saja di
tempat yang sama. Aku mengangkat kepalaku malas untuk melihat perdebatan dua
orang bodoh hampir bernama sama ini, lantas aku menoleh ke Suzumi yang ada di
belakangku, “Miryl Heartman kan? Pembunuh yang kamu maksud barusan” tanya ku
tiba-tiba. Lagi-lagi semua mata kini tertuju ke arahku lagi bahkan jauh lebih
bergairah dari sebelumnya. Menggali kuburan ku sendiri, sungguh aku lebih bodoh
dari kedua orang bernama hampir mirip itu.
“Darimana kau dengar nama itu?” tanya Suzumi sangat sinis, bukankah wajar atau memang dia ini
tak tahu jika sudah menyebar di koran pagi hari ini? Kenapa belum mulai saja
sudah sangat merepotkan seperti ini. Aku mengaruk kepala ku, “Ya begini, sudah
ada di surat kabar yang terbit hari ini bahwa Miryl Heartman sudah bebas dan
langsung kembali berulah. Lalu entah bagaimana kamu harus mengurusi itu, bukan,
lebih tepatnya diminta untuk mengurusi itu sebab hanya kamu saja yang tak tahu
melakukan analisis ringan disini.
Aku menguap, dan hanya mendengarkan pernyataan juga pertanyaan dari mereka tanpa memberikan
penjelasan atau jawaban. Mataku mulai ingin terlelap, jika memang tertidur
disini Reina dan Elona pasti akan berebut untuk menidurkan aku. Lalu disaat
inilah aku mendengar suara dua orang berlari saling adu kecepatan secara
singkat, kemudian tubuhku tertarik ke kanan lalu ke kiri. Terakhir kalinya aku
kehilangan rasa kantuk ku.
“Jadi apa kita akan kesana?” tanya Enola, pertanyaan kecil namun berdampak besar di telinga
semuanya kecuali aku. Rasanya aku harus berterimakasih kepadanya bila
pertanyaan sederhana itu mampu menghentikan penyiksaan ku.”Kita akan pergi”
ucap Reina sembari menarik ku sangat kuat. “Kita tidak akan pergi” sahut Elona
dan juga menarik ku tak kalah kuat dari Reina.
Aku menarik kedua tangan ku sampai lepas dari cengkraman mereka berdua dan langsung berdiri,
“Kita semua ini adalah penyedia jasa Investigasi Paranormal, bukan Detektif
swasta kebanyakan. Jadi kita tak harus berlawanan dengan pembunuh atau penjahat
kelas kakap bahkan teri lagi” tegas ku, aku berusaha membuka pikiran semua orang namun tak ada yang
setuju. Sebab mereka menunduk dan lebih memilih diam.
Dalam dunia seluas ini kenapa aku paling terkena hal yang berbau pembunuhan? Terlebih mereka
seakan lebih memilih urusan yang diluar kemampuan mereka. Persetan sudah, aku
tak tahu harus bagaimana lagi menghadapi semua kekacauan kecil disini. Kaki
membawaku berjalan meninggalkan mereka semua dalam kecanggungan dan keheningan,
kesal dan marah adalah hal yang aku rasakan sekarang. Tak akan ada yang peduli
dengan apa yang aku kata kan, tidak akan ada.
Menyebalkan, padahal kasus seperti itu bukanlah pilihan yang tepat untuk biro jasa
paranormal seperti milik Reina. Kenapa juga Suzumi sangat bersikeras untuk
melibatkan Reina dalam kasus ini? Dan Elona mungkin bilang tidak mau ikut namun
mau bagaiamana pun juga, dia ikut tidaknya tergantung Reina. Ah membingungkan, Elona
ikut adalah hal wajar sebab dia tak punya masalah dengan masalah tersebut.
Berbanding terbalik dari Elona, aku tak ingin berurusan dengan iblis lagi.
Sampai kapanpun.
Akhirnya aku lebih memilih keluar rumah dan duduk dibangku yang ada ditaman kecil selatan rumah,
tepat didepan sisi kanan garasi berada. Dari pandangan ku orang kaya memang
bisa melakukan apa yang mereka mau termasuk membangun rumah seluas ini ditambah
taman, aku tak bisa membayangkan berapa banya uang yang dikeluarkan untuk
membangun rumah ini.
Tak lama kemudian terdengar langkah kaki menghampiri ku, dari ritmenya berjalan sepertinya dia
adalah Reina. “Reina ya?” tanya ku dalam kondisi mata terpejam menikmati
belaian angin pagi agak kesiangan ini. Tanpa berkata apa-apa Reina langsung
duduk saja di samping ku, ya ini adalah hal wajar dimana dia selalu muncul
disaat-saat seperti ini .
“Kau yakin tidak ingin menyelesaikan ini?” tanya Reina sedikit ragu juga terkesan takut mendengar
jawabanku. Aku membuka mata dan membenarkan posisi duduk ku, “Tidak alasan aku
untuk menolak kasus itu, tapi kita bukanlah detektif bayaran, kamu sendiri tahu
itu kan?” desakku, Reina tampak menggengam erat rok miliknya, “haah, baiklah
aku ikut hanya dengan syarat tidurlah dengan ku, selalu dan seterusnya” sambung
ku kemudian berdiri beranjak pergi, aku yakin dia akan menolak hal tersebut. “Baiklah
aku m-m-m-m-mau” jawab Reina spontan setelah aku berjalan beberapa langkah
dengan bangga. “Aku juga akan ikut” tambah Elona. Aku menoleh kebelakang,
ternyata ada siluman disini, ya baiklah. Rasanya ini akan menjadi hari panjang
lainnya.