
Dimana aku? Ah, ya sepertinya
kalau tidak salah ingat aku terkena ledakan bom, entah bom bunuh diri atau
memang sengaja sudah dipersiapkan. Seluruh dunia gelap ini membuatku
terheran-heran, tak ada cahaya bahkan tak ada apapun selain kekosongan yang
bisa dikatakan abadi. Apa aku sudah mati dan apa ini adalah dunia ku sekarang?
Berjalan menelusuri dunia gelap abadi ini.
Reina, Elona, Suzumi, dan
Marder, sepertinya mereka selamat dan aku yang meninggalkan mereka. Apa mereka
baik-baik saja? Semoga begitu. “Lony.... Lony...” suara entah darimana tersebut
memanggil-manggil nama ku, aku terkejut dan menoleh ke segala arah, tetap tak
bisa aku temukan pemilik suara itu. “Kakak!” seketika dua suara muncul dan kaki
ku terasa sedikit berat. “Clust? Violet?” mata, mulut, dan tubuhku serasa tak
bisa bergerak. Tanpa diduga dua adik ku yang telah lama meninggalkan ku memeluk
erat kaki ku. “Lony Jerome Doyle, sudah lama sekali ya rasanya” suara yang
sangat familiar bagiku muncul di belakangku. Ketika aku menoleh, wajah itu, dua
wajah itu.
***
Di sebuah rumah sakit bernama
Rumah Sakit St. Thomas, rumah sakit terbaik sejauh ini, mulai penuh kegaduhan.
“Elona kamu baik-baik saja kan? Suzumi? Marder?” Reina tampak orang
kebingungan, dia menanyakan kondisi keluarga kecilnya tersebut. “Aku baik-baik
saja, bahkan tidak terluka sama sekali, tadi hanya sedikit terhempas” Elona
menjelaskan apa yang dirasakannya sekarang. “Kalau aku mungkin hanya luka gores
ini” Suzumi menunjukan sebuah perban luka dilengan kirinya. “Aku baik-baik,
hanya terguncang sedikit tadi, sampai aku kehilangan kesadaran” Marder pun
ikut-ikutan menjelaskan kondisinya.
Reina bernafas lega, namun disaat
bersamaan. Lony berada dimana? Pertanyaan tersebut muncul dikepala mereka,
mereka saling tatap satu sama lain. Menyadari akan terjadi kegaduhan seorang
perawat mendekati Reina,”Maaf Nyonya, bila Lony yang Nyonya maksud adalah
seorang yang memakai baju pelayan unik dan memiliki sedikit luka jahitan di
dagu kiri maka dia sedang berada di ruang intensif. Karena ledakan tadi, sebuah
pecahan kaca menggores lehernya sehingga dia banyak kehilangan darah dan
sekarang dia sedang dalam kondisi tak sadarkan diri” jelas perawat tersebut.
Demi memastikan ketentraman
pasien di rumah sakit, perawat tersebut langsung mengantarkan Reina ke ruangan
dimana Lony di rawat sementara waktu karena banyak kehilangan darah. Setelah
berjalan menyusuri lorong yang cukup panjang akhirnya Reina sampai, namun hanya
diperkenankan untuk melihat dari balik jendela terlebih dahulu sampai kondisi
Lony benar-benar stabil. Reina menangis dengan meraba kaca yang menjadi pemisah
mereka.
“Bagaimana kondisi Lony?” suara
Elona tiba-tiba muncul membuat Reina kaget, tak kuat berkata akhirnya Reina
menunjuk Lony. Elona, Suzumi, dan Marder mengikuti petunjuk tersebut. Tangisan
keras seketika pecah antara Reina dan Elona, lain cerita Marder dan Suzumi yang
tak kenal dekat dengan Lony. “Hai, kalian para maniak misteri ternyata kalian
masih sehat ya?” tiba-tiba suara itu
merusak suasana. Pria bertubuh kekar dan tinggi yang hampir sama dengan Lony
tersebut bernama Garf, bisa dibilang dia adalah seseorang yang selama ini
merawat Lony ketika masih di jalanan.
“Tuan Garf, tolong maafkan aku
karena tak bisa menjaga Lony sesuai pesan mu” kata Reina kemudian bersujud di
kaki pria berkepala tiga tersebut, dan Elona juga mengikuti cara Reina. “Hahahaha...
Sudahlah dia tak akan mati semudah itu aku jamin, sudah ya aku pergi dulu
karena istri ku menjadi korban diledakan tadi” pamit Garf tanpa memperpanjang
pembicaraan tersebut.
***
“Ya begitulah ceritanya, kuharap
kamu bisa memahaminya” kata ayahku dengan menggaruk kepalanya tak yakin.
Sedangkan ibu ku hanya menahan tawanya dengan senyuman kesalnya. Tak pernah
berubah sama sekali meski sudah berada di alam lain. “Kakak, ayo kita main
seharian ini!” kedua adik ku menarik tanganku. “Coba temani mereka” kata Ibu ku
dengan lembut, ya bagaimana mungkin aku menolak permintaan terakhir seperti
ini.
Pada akhirnya seharian penuh aku
bermain di dunia entah berantah nan gelap ini dengan kedua adik ku dan orang
tuaku. Bermain bola yang entah darimana munculnya, petak umpet, tebak-tebak,
dan terakhir kejar-kejaran. “Haaahhh.... ini terlalu menyiksa bagiku” keluh ku
ketika nafas ku mulai terasa habis di paru-paru.
Perlahan segalanya memudar dan
tanpa sadar aku kembali ke dunia ku sendiri. Di waktu tengah malam yang sunyi,
mata ku kembali terbuka, pikiran kembali berfungsi, dan rasa sakit menyesakan
juga ikut terasa kembali. Tangan sontak reflek meraba leher, dan benar saja ada
sebuah perban tertempel. Karena kaca waktu itu, sebagian jalan hidup ku hanya
semua anggota keluarga ku meski aku tak yakin itu benar-benar arwah mereka
ataukah hanya sekedar keinginan terdalam ku.
Sekuat tenaga aku berusaha
bangun dari tempat tidur pasien, ku lihat sekitar memastikan apakah ada orang
atau tidak dan hasilnya aku benar-benar sendirian. Tanpa memikirkan resikonya
aku melepas semua selang juga alat yang terpasang di badanku. Pikiran ku kini
sudah benar-benar terfokus pada satu hal saja yakni membalaskan dendam dan
mencari penjelasan.
Lantas aku berusaha berdiri dan berusaha
mencari jalan keluar, pasti jika ada yang melihat ku akan menjadi masalah
sehingga mau tak mau aku harus menyelinap keluar. Menelusuri lorong rumah sakit
di malam hari seperti ini membuatku ingin cepat-cepat keluar. Walau dasarnya
aku betah dengan hantu tak wajar, pada kondisi ku sekarang rasanya aku tak
sanggup menahannya. Pada akhirnya, aku sampai di lantai satu tanpa ada masalah
berarti, aku berhasil keluar dengan selamat.
Ditengah malam ini, dimana bulan
menyinari menggunakan cahaya dinginnya aku menyusuri jalanan. Jalan Victoria,
tempat tinggal otak dari semua ini pasti tidak jauh. Mungkin. Seperti kata
pepatah, dunia ini terlalu sempit.
“Kita bertemu lagi rupanya”
tanpa diduga seorang pria berdandan rapi muncul dihadapan ku. Lantas pandangan
kepalaku aku naikan, rupanya dia muncul sendiri lagi, tanpa ada pemberitahuan
sama sekali. Aku menghela nafas, “Hmp... dasar tua bang...”
‘door’
Belum sempat aku menyelesaikan
kalimat ku sebuah tembakan terdengar dari arah belakang, lalu aku langsung
menoleh ke arah belakang. Pose menembak itu dan orang disampingnya, “Kalian
berdua sangat merepotkan” kata ku kepada Reina dan Elona. Reina tak peduli sama sekali, dia berjalan
maju melewati ku dengan pistol yang masih ditodongkan ke arah Richard.
“Tenanglah biarkan dia menyelesaikan urusannya” ucap Elona ketika aku fokus
memperhatikan Reina dengan berani menodongkan senjata milik ku.
Kemudian aku mendekati mereka
dibantu Elona, “Jadi apa rencana mu sebenarnya?” tanya ku ke Richard, dan
mengambil pistol ku dari tangan Reina. Cukup bahaya jika dia memegang senjata
dengan emosi yang tak terkontrol. “Hanya membuat bisnis Stanford bangkrut, itu
saja. Jadi aku cukup membunuh keluarga orang yang menggunakan jasa investigasi
paranormal” jelasnya cukup singkat dan langsung menuju inti. Reina lantas
langsung menendang berkali-kali tubuh Richard, “Kenapa?! Apa salah papa ku pada mu?!” tanya dengan
berteriak cukup keras sebelum akhirnya tenang.
“Tidak ada, dan kau pelayan
laki-laki. Ayah mu cukup mudah untuk di ancam dan bahkan aku dapat kekayaan
dari menjual organ dalam keluarga mu dulu. Mengancam membunuh mu saja, ayah mu
langsung menuruti ku” kata Richard, aku sadar betul bila dia berkata sejujurnya
juga berusaha memprovokasi ku untuk menembaknya namun tak akan semudah itu.
“Cukup sampai disitu!” teriak
seseorang dari belakang kami semua, dan rupanya seorang detektif terkenal sudah
sampai. “Kalian berdua memanggilnya?” tanya ku kepada Reina dan Elona, lantas
mereka mengangguk cepat. Akhirnya aku dapat bernafas lega,”Hey pelayan
laki-laki, serahkan senjata itu” ucap Sherlock kepada ku. Sebelum itu aku
melihat Richard terlebih dahulu, dan menembak kaki satunya.
‘door’
Sherlock terdengar berjalan
cepat ke arahku. “Terima kasih telah melindungi kota ini” kata nya kepadaku
dengan mata berbinar, “namun jangan menembak kakinya lagi! Bagaimana aku
membawanya! Tengah malam begini mana ada taksi dasar bodoh!” sambung Sherlock
Holmes dengan amarah yang kuat sampai ingin memukul kepalaku menggunakan
tongkatnya.
Namun sebelum mendarat dikepala
ku, “Sudahlah Holmes mari kita bereskan ini terlebih dahulu, dan kalian semua terima
kasih, silahkan pulang” ucap Watson asisten Detektif Sherlock Holmes yang
terkenal itu. Kami semua pun menurutinya, dan aku menyerahkan senjata api milik
ku ke Watson lalu pergi.
“Akhirnya semua selesai” kata ku
disela-sela perjalanan pulang dengan jalan kaki. Reina kemudian berjalan ke
depan mendahului ku, “Belum semuanya” katanya penuh semangat. Lalu Elona
tertawa, “Ya belum semuanya selesai” tambah Elona jauh lebih misterius sebab
dia tertawa. Perasaan ku mulai merasa tak enak, selanjutnya mungkin akan lebih
berat dari ini. “Kamu harus memilih tanggal pernikahan kita!” ucap Reina dan
Elona bersamaan.
Dan beginilah akhirnya, daripada
memikirkan tanggal dan persiapan pernikahan lebih baik aku menuntaskan satu
kasus yang tertunda. Seorang mahasiswa yang bunuh diri di Universitas Durham.
Lebih penting lagi sekarang aku harus kuat berjalan sampai rumah dan istirahat.