ReiLon

ReiLon
Bab 4



Dimana aku? Ah, ya sepertinya


kalau tidak salah ingat aku terkena ledakan bom, entah bom bunuh diri atau


memang sengaja sudah dipersiapkan. Seluruh dunia gelap ini membuatku


terheran-heran, tak ada cahaya bahkan tak ada apapun selain kekosongan yang


bisa dikatakan abadi. Apa aku sudah mati dan apa ini adalah dunia ku sekarang?


Berjalan menelusuri dunia gelap abadi ini.


Reina, Elona, Suzumi, dan


Marder, sepertinya mereka selamat dan aku yang meninggalkan mereka. Apa mereka


baik-baik saja? Semoga begitu. “Lony.... Lony...” suara entah darimana tersebut


memanggil-manggil nama ku, aku terkejut dan menoleh ke segala arah, tetap tak


bisa aku temukan pemilik suara itu. “Kakak!” seketika dua suara muncul dan kaki


ku terasa sedikit berat. “Clust? Violet?” mata, mulut, dan tubuhku serasa tak


bisa bergerak. Tanpa diduga dua adik ku yang telah lama meninggalkan ku memeluk


erat kaki ku. “Lony Jerome Doyle, sudah lama sekali ya rasanya” suara yang


sangat familiar bagiku muncul di belakangku. Ketika aku menoleh, wajah itu, dua


wajah itu.


***


Di sebuah rumah sakit bernama


Rumah Sakit St. Thomas, rumah sakit terbaik sejauh ini, mulai penuh kegaduhan.


“Elona kamu baik-baik saja kan? Suzumi? Marder?” Reina tampak orang


kebingungan, dia menanyakan kondisi keluarga kecilnya tersebut. “Aku baik-baik


saja, bahkan tidak terluka sama sekali, tadi hanya sedikit terhempas” Elona


menjelaskan apa yang dirasakannya sekarang. “Kalau aku mungkin hanya luka gores


ini” Suzumi menunjukan sebuah perban luka dilengan kirinya. “Aku baik-baik,


hanya terguncang sedikit tadi, sampai aku kehilangan kesadaran” Marder pun


ikut-ikutan menjelaskan kondisinya.


Reina bernafas lega, namun disaat


bersamaan. Lony berada dimana? Pertanyaan tersebut muncul dikepala mereka,


mereka saling tatap satu sama lain. Menyadari akan terjadi kegaduhan seorang


perawat mendekati Reina,”Maaf Nyonya, bila Lony yang Nyonya maksud adalah


seorang yang memakai baju pelayan unik dan memiliki sedikit luka jahitan di


dagu kiri maka dia sedang berada di ruang intensif. Karena ledakan tadi, sebuah


pecahan kaca menggores lehernya sehingga dia banyak kehilangan darah dan


sekarang dia sedang dalam kondisi tak sadarkan diri”  jelas perawat tersebut.


Demi memastikan ketentraman


pasien di rumah sakit, perawat tersebut langsung mengantarkan Reina ke ruangan


dimana Lony di rawat sementara waktu karena banyak kehilangan darah. Setelah


berjalan menyusuri lorong yang cukup panjang akhirnya Reina sampai, namun hanya


diperkenankan untuk melihat dari balik jendela terlebih dahulu sampai kondisi


Lony benar-benar stabil. Reina menangis dengan meraba kaca yang menjadi pemisah


mereka.


“Bagaimana kondisi Lony?” suara


Elona tiba-tiba muncul membuat Reina kaget, tak kuat berkata akhirnya Reina


menunjuk Lony. Elona, Suzumi, dan Marder mengikuti petunjuk tersebut. Tangisan


keras seketika pecah antara Reina dan Elona, lain cerita Marder dan Suzumi yang


tak kenal dekat dengan Lony. “Hai, kalian para maniak misteri ternyata kalian


masih sehat ya?”  tiba-tiba suara itu


merusak suasana. Pria bertubuh kekar dan tinggi yang hampir sama dengan Lony


tersebut bernama Garf, bisa dibilang dia adalah seseorang yang selama ini


merawat Lony ketika masih di jalanan.


“Tuan Garf, tolong maafkan aku


karena tak bisa menjaga Lony sesuai pesan mu” kata Reina kemudian bersujud di


kaki pria berkepala tiga tersebut, dan Elona juga mengikuti cara Reina. “Hahahaha...


Sudahlah dia tak akan mati semudah itu aku jamin, sudah ya aku pergi dulu


karena istri ku menjadi korban diledakan tadi” pamit Garf tanpa memperpanjang


pembicaraan tersebut.


***


“Ya begitulah ceritanya, kuharap


kamu bisa memahaminya” kata ayahku dengan menggaruk kepalanya tak yakin.


Sedangkan ibu ku hanya menahan tawanya dengan senyuman kesalnya. Tak pernah


berubah sama sekali meski sudah berada di alam lain. “Kakak, ayo kita main


seharian ini!” kedua adik ku menarik tanganku. “Coba temani mereka” kata Ibu ku


dengan lembut, ya bagaimana mungkin aku menolak permintaan terakhir seperti


ini.


Pada akhirnya seharian penuh aku


bermain di dunia entah berantah nan gelap ini dengan kedua adik ku dan orang


tuaku. Bermain bola yang entah darimana munculnya, petak umpet, tebak-tebak,


dan terakhir kejar-kejaran. “Haaahhh.... ini terlalu menyiksa bagiku” keluh ku


ketika nafas ku mulai terasa habis di paru-paru.


Perlahan segalanya memudar dan


tanpa sadar aku kembali ke dunia ku sendiri. Di waktu tengah malam yang sunyi,


mata ku kembali terbuka, pikiran kembali berfungsi, dan rasa sakit menyesakan


juga ikut terasa kembali. Tangan sontak reflek meraba leher, dan benar saja ada


sebuah perban tertempel. Karena kaca waktu itu, sebagian jalan hidup ku hanya


semua anggota keluarga ku meski aku tak yakin itu benar-benar arwah mereka


ataukah hanya sekedar keinginan terdalam ku.


Sekuat tenaga aku berusaha


bangun dari tempat tidur pasien, ku lihat sekitar memastikan apakah ada orang


atau tidak dan hasilnya aku benar-benar sendirian. Tanpa memikirkan resikonya


aku melepas semua selang juga alat yang terpasang di badanku. Pikiran ku kini


sudah benar-benar terfokus pada satu hal saja yakni membalaskan dendam dan


mencari penjelasan.


Lantas aku berusaha berdiri dan berusaha


mencari jalan keluar, pasti jika ada yang melihat ku akan menjadi masalah


sehingga mau tak mau aku harus menyelinap keluar. Menelusuri lorong rumah sakit


di malam hari seperti ini membuatku ingin cepat-cepat keluar. Walau dasarnya


aku betah dengan hantu tak wajar, pada kondisi ku sekarang rasanya aku tak


sanggup menahannya. Pada akhirnya, aku sampai di lantai satu tanpa ada masalah


berarti, aku berhasil keluar dengan selamat.


Ditengah malam ini, dimana bulan


menyinari menggunakan cahaya dinginnya aku menyusuri jalanan. Jalan Victoria,


tempat tinggal otak dari semua ini pasti tidak jauh. Mungkin. Seperti kata


pepatah, dunia ini terlalu sempit.


“Kita bertemu lagi rupanya”


tanpa diduga seorang pria berdandan rapi muncul dihadapan ku. Lantas pandangan


kepalaku aku naikan, rupanya dia muncul sendiri lagi, tanpa ada pemberitahuan


sama sekali. Aku menghela nafas, “Hmp... dasar tua bang...”


‘door’


Belum sempat aku menyelesaikan


kalimat ku sebuah tembakan terdengar dari arah belakang, lalu aku langsung


menoleh ke arah belakang. Pose menembak itu dan orang disampingnya, “Kalian


berdua sangat merepotkan” kata ku kepada Reina dan Elona.  Reina tak peduli sama sekali, dia berjalan


maju melewati ku dengan pistol yang masih ditodongkan ke arah Richard.


“Tenanglah biarkan dia menyelesaikan urusannya” ucap Elona ketika aku fokus


memperhatikan Reina dengan berani menodongkan senjata milik ku.


Kemudian aku mendekati mereka


dibantu Elona, “Jadi apa rencana mu sebenarnya?” tanya ku ke Richard, dan


mengambil pistol ku dari tangan Reina. Cukup bahaya jika dia memegang senjata


dengan emosi yang tak terkontrol. “Hanya membuat bisnis Stanford bangkrut, itu


saja. Jadi aku cukup membunuh keluarga orang yang menggunakan jasa investigasi


paranormal” jelasnya cukup singkat dan langsung menuju inti. Reina lantas


langsung menendang berkali-kali tubuh Richard, “Kenapa?!  Apa salah papa ku pada mu?!” tanya dengan


berteriak cukup keras sebelum akhirnya tenang.


“Tidak ada, dan kau pelayan


laki-laki. Ayah mu cukup mudah untuk di ancam dan bahkan aku dapat kekayaan


dari menjual organ dalam keluarga mu dulu. Mengancam membunuh mu saja, ayah mu


langsung menuruti ku” kata Richard, aku sadar betul bila dia berkata sejujurnya


juga berusaha memprovokasi ku untuk menembaknya namun tak akan semudah itu.


“Cukup sampai disitu!” teriak


seseorang dari belakang kami semua, dan rupanya seorang detektif terkenal sudah


sampai. “Kalian berdua memanggilnya?” tanya ku kepada Reina dan Elona, lantas


mereka mengangguk cepat. Akhirnya aku dapat bernafas lega,”Hey pelayan


laki-laki, serahkan senjata itu” ucap Sherlock kepada ku. Sebelum itu aku


melihat Richard terlebih dahulu, dan menembak kaki satunya.


‘door’


Sherlock terdengar berjalan


cepat ke arahku. “Terima kasih telah melindungi kota ini” kata nya kepadaku


dengan mata berbinar, “namun jangan menembak kakinya lagi! Bagaimana aku


membawanya! Tengah malam begini mana ada taksi dasar bodoh!” sambung Sherlock


Holmes dengan amarah yang kuat sampai ingin memukul kepalaku menggunakan


tongkatnya.


Namun sebelum mendarat dikepala


ku, “Sudahlah Holmes mari kita bereskan ini terlebih dahulu, dan kalian semua terima


kasih, silahkan pulang” ucap Watson asisten Detektif Sherlock Holmes yang


terkenal itu. Kami semua pun menurutinya, dan aku menyerahkan senjata api milik


ku ke Watson lalu pergi.


“Akhirnya semua selesai” kata ku


disela-sela perjalanan pulang dengan jalan kaki. Reina kemudian berjalan ke


depan mendahului ku, “Belum semuanya” katanya penuh semangat. Lalu Elona


tertawa, “Ya belum semuanya selesai” tambah Elona jauh lebih misterius sebab


dia tertawa. Perasaan ku mulai merasa tak enak, selanjutnya mungkin akan lebih


berat dari ini. “Kamu harus memilih tanggal pernikahan kita!” ucap Reina dan


Elona bersamaan.


Dan beginilah akhirnya, daripada


memikirkan tanggal dan persiapan pernikahan lebih baik aku menuntaskan satu


kasus yang tertunda. Seorang mahasiswa yang bunuh diri di Universitas Durham.


Lebih penting lagi sekarang aku harus kuat berjalan sampai rumah dan istirahat.