
..."Jenius hanya hidup dalam cerita di atas kegilaan"...
...-Schopenhauer...
Aku tidak begitu percaya hal bernama hantu, dedemit, jin, setan dan hal ghaib lainnya. Termasuk media praktek nya papan ouija, sihir, benda magis, dan sebangsa itu semua sama sekali tak ku percayai. Tinggal dijalanan dengan pemberian orang lain bagiku saja sudah hukuman yang menakutkan, di banding melihat ***** bengek 'Dunia lain' yang dibicarakan orang akhir-akhir ini.
Diatas beberapa lembar koran tipis yang menahan hawa dingin dari tanah, juga disela-sela perang melawan rasa dingin yang menusukku, datang seseorang dengan baju yang hampir tak pernah kulihat semasa hidup. Serba hitam ditemani dengan aura dingin, bagai orang hidup tanpa jiwa didalamnya.
"Hai selamat malam!" ucapnya riang lalu berjongkok didepan ku. Karena hawa dingin terlalu kuat, pasti membuat ku berhalusinasi. Aku melihatnya sinis, "Ada apa? Kenapa kamu yang seperti anak dari pejabat mengunjungiku malam-malam?" hawa dingin yang lebih kuat melawan rasa takut ku sampai lenyap dari tubuhku.
"Jahat! Padahal aku hanya ingin menawari mu tinggal dirumah ku! Papa ku baru saja meninggal dan disana cuman ada satu pelayan!" dia merengek sangat keras, aku menghela nafas. Aku harap dia tidak berbohong dan membedah tubuhku lalu menjual organ ku ketika aku sampai dirumahnya. "Tidak, aku tak mau, sekalipun aku menjadi gelandangan di usia muda seperti sekarang ini, aku tak mudah begitu saja percaya kepada orang asing" aku langsung kembali tidur setelah berkata seperti itu kepadanya. "Baiklah jika memang harus dengan...." mata ku kembali terbuka setelah mendengar ucapannya yang tak jelas, namun saat aku berbalik dia sudah tidak ada.
Karena sudah ku pastikan tak ada orang yang sejenis dengannya tadi aku kembali tidur, namun setelah beberapa saat memejamkan mata aku merasa ada yang melihatku. Aku membuka mataku perlahan ditemani jantung yang berdegub kencang didada sebelah kiri, "Se-se-see-setan?" ucapku polos juga datar kala melihat sebuah wajah hampir rusak dengan darah mengalir, namun aku sangat yakin bahwa itu hanyalah tipuan bocah tadi.
"Ternyata kamu tidak takut dengan hantu itu ya kak" suara gadis tadi kembali muncul dari belakang ku. Bila dia berada dibelakang ku jadi yang didepan ku sekarang ini adalah yang asli. Aku bangun dari tidur ku lagi, mata ku menyorot wajah rusak tersebut dengan penuh rasa benci.
Aku berusaha berdiri, mataku melihat secara bergantian antara gadis dan setan atau apalah itu yang tiba-tiba muncul didepan ku kala aku ingin tidur. Tanganku tanpa sadar sudah mengepal erat, "Dasar setan, bisa-bisanya muncul saat aku ingin tidur! Dan kau bocah kaya kenapa kau kembali lagi hah?! Bukannya kau tadi pergi?!" aku mengambil setan tersebut dan kepala saja saat aku angkat. "Woyah, berani sekali kak kamu memungut hantu tanpa badan itu" sontak saja aku ingat kalau masih ada satu penganggu lagi. "Hey bocah, aku akan nerima pekerjaan itu tapi dengan satu syarat, singkirkan kepala ini" ucapku dengan melempar kepala tersebut. "Ja-ja-jangan bercanda! Kenapa kau melemparkannya ke arahku?! Dasar bodoh!" teriak gadis itu kemudian berlari, sayangnya dia dikejar dengan kepala yang menggelinding sesuka hatinya. Menerima pekerjaan bodoh ini pasti aku akan mengurusi yang lebih dari ini.