ReiLon

ReiLon
Bab 2



"Andai ada yang bisa merubah takdir, kehidupan ku tak akan menjadi berantakan seperti sekarang ini" gumam ku sambil menggaruk-garuk kepala ku. Dengan melihat gadis muda berlarian dikejar hantu tanpa badan di taman,ternyata melihat orang sengsara bisa sedikit menghibur ku, "Hei kau yang disana! Cepat ambil dan buanglah kemana, asal jangan ke arahku! Aku jijik melihatnya!" dia memohon kepada ku dengan teriakan suara kecil nya, apa boleh buat.


Lantas aku berjalan mendekatinya, dan hap aku menangkap hantu tanpa badan itu kemudian aku buang ke arah yang lain.


Mata ku kembali menyorot gadis kecil tadi, "Jadi ngomong-ngomong apa pekerjaan ku?" tanya ku tiba-tiba, dia langsung berdeham tuk membersihkan sisa ketakutan yang bersarang di tenggorokannya. "Ahem, kau akan menjadi pelayan ku juga orang yang akan turun ke lapangan untuk memecahkan segala misteri tentang dunia lain. Tenang saja kau akan bisa mendapat promosi jika kerja mu bagus, seperti Elona yang ada disana, tunggu sebentar ya" tuturnya santai meski laju nafasnya sedikit berantakan, "hey Elona! Kenapa kau hanya diam saja saat melihat majikan mu dikejar kepala barusan itu!" teriakannya membuat seisi taman dekat Universitas Durham ini berisik.


Kemudian dalam bayangan gelap muncul seorang pelayan perempuan berusia hampir sama dengan ku, tinggi, cantik, berambut pirang, juga sedikit misterius tapi bagiku dia sama sekali tidak asing.


Gadis pelayan bernama Elona lantas menghela nafasnya perlahan, "Begini Nyonya, kau tadi berpesan bahwa aku tidak bleh ikut campur apapun alasannya" Elona melawan apa kata gadis kecil yang disebutnya 'Nyonya', mungkin perasaan ku saja atau memang mereka terlihat sangat akrab. Hanya mereka berdua yang tahu, aku hanyalah pendatang sebelum menjadi sebuah kotoran yang dibuang.


"Tapi mana bisa begi..."


"Perkenalkan nama ku Elona Rose dan sedangkan orang berisik yang mungkin kau anggap gadis kecil ini adalah Reina Standford" jelas pelayan bernama Elona tersebut dengan suara lembut nan anggun namun datar, aku kagum dengannya meski gadis itu masih saja cerewet berbicara kepadanya.


"Haaah?! Siapa yang kau panggil gadis kecil?! Aku sudah berumur 19 tahun! Dan juga perhatikan bila aku berbicara Elona!" seketika Reina berteriak tepat di depan Elona, sedangkan wajah Elona sangat jelas berkata 'aku tidak peduli'. Aku menghela nafas, "Hei Reina! Apa pekerjaan ku?!" tanpa sadar aku bertanya kepada Reina dengan berteriak namun tak sekeras Reina. Langsung saja dia berbalik dan menghampiriku, "Bukan kah sudah ku bilang?! Kau akan menjadi pelayan ku juga petugas lapangan untuk menyelesaikan misteri dunia lain!" jawabnya dengan berteriak juga tepat didepan ku, bedanya dia terlihat tersenyum. Namun berbanding terbalik dengan Elona dia tampak tak berekspresi sama sekali bahkan selama bicara, tak ada nada amarah, ataupun kesal keluar dari mulutnya.


Semua terasa monoton, wajahnya juga cukup datar. Seperti orang.... diwaktu itu yang merebut sesuatu dariku.


Lantas aku berjalan melewati Reina, matanya nampak mengikuti kemana arahku pergi. Sekarang tepat didepan ku adalah Elona seorang pelayan seumuran dengan ku atau bahkan bisa lebih muda dariku, " Jangan berbuat mesum pada Elona, dasar mata keranjang!" teriak Reina dari arah belakang. Namun teriakan itu tak ku permasalahkan karena aku tak punya waktu untuk meresponnya. Aku memegang rahang Elona saat itu juga dengan satu tangan, Reina menghentakan salah satu kakinya seakan ingin lari ke arahku dan menendang ku dari belakang namun Elona memberi isyarat agar tak ikut campur dengan tangannya yang masih bebas.


Suasana hening sebelum aku tidur pun datang kembali, kami bertiga terdiam satu sama lain dengan detak jantung juga pikiran masing-masing. Berusaha menebak gerakan dan mata terbuka waspada. "Kau, kalau tidak salah ingat adalah orang yang menerobos masuk ke dalam rumah ku kemudian membunuh ibu dan kedua adik ku kan?" tanya ku kepada Elona, Reina terkejut, suaranya ingin keluar namun dia tahan kembali karena menuruti permintaan egois Elona walau nyawanya bisa berakhir ditanganku.


Dari kedua mata Elona mengeluarkan air mata, "Jadi kamu yang di lindungi oleh mereka bertiga? Maa... arg.." tanya nya kepadaku, namun tangan ku semakin erat mencengkram rahangnya sampai dia mengerang menahan sakit. "Kenapa kau melakukan itu? Sampai-sampai membuat rumah ku meledak dan terbakar tanpa sisa? Kenapa?!" desak ku demi mendapat sebuah jawaban dan tangan ku intens mencengkram rahangnya. Matanya pun berlinangan air mata lalu berusaha untuk tersenyum. "Hentikan! Jangan bunuh Elona! Dia satu-satunya keluarga ku!" teriak Reina tanpa bergerak dari tempatnya, aku menatap Elona yang sedang mengerang kesakitan, menangis, juga tersenyum ke arah ku. Dengan sisa tenaganya Elona menyentuh lembut sebagian wajahku, "Lak...kuk...kanlah... lampias... kan amarahmu" ucapnya walau terbata-bata. "Tolong siapa pun namamu, jangan bunuh Elona! Akan ku lakukan apa saja!" teriak Reina sekuat-kuatnya sebelum akhirnya dia jatuh terduduk karena tak kuat mendengar apa yang didengarnya juga dilihatnya. Perlahan aku melepaskan tangan ku, Elona pun menatap ku heran dan perlahan senyuman itu hilang berganti air mata yang mengalir bertambah deras. Andai dia bertanya mengapa, aku tak mungkin bisa menjawabnya.


Lantas setelah itu kepalaku tertunduk, "Hiburlah dia" Elona pun langsung berlari ke arah Reina. "Kejahatan dibalas kebaikan, ya?" gumam ku kala mengingat nasehat dari ibuku, dua tahun lalu di meja makan.


Kemudian aku menghampiri mereka berdua dan duduk tepat didepan mereka yang sedang saling berpelukan, setelah menyadari kehadiran ku mereka pun melepas pelukan lega itu. Lalu Reina juga Elona menatapku penuh rasa terima kasih, "Tak mungkin kau membunuh tanpa alasan, lagipula tak ada buktinya. Karena hutang menumpuk akibat ulah Ayahku sendiri yang hobi berjudi mungkin ada yang menyewa mu, atau kau yang datang untuk menyelamatkan mereka namun terlambat" ucap ku dengan memandang mereka berdua. Elona pun berbisik sesuatu ke Reina dan Reina mengangguk cepat, kemudian Elona bersiap untuk bicara "Aku bukan pembunuh nya namun karena aku yang terlihat disana maka aku dianggap pembunuhnya lalu ditangkap tapi karena bukti tak kuat pada akhirnya aku dibebaskan.


Sebelum aku keluar, ibu mu berkata bahwa salah satu anaknya berhasil diselamatkan oleh dirinya juga adik-adiknya. Seenggaknya kita bisa bertemu ya Lony" jelas singkat Elona, aku pun tersenyum bahwa ada orang yang mengetahui namaku sebelum aku berkenalan. Poin terpenting, organ dalam mereka telah diambil saat sudah ditemukan terbakar hangus pagi harinya.


***


"Elona, apa Lony sudah kembali?" Reina bertanya kepada pelayan yang satu-satunya masih hidup dan sedang bekerja di kediaman mewahnya, Elona ketika mendengar pertanyaan itu langsung menghampiri Reina.


"Belum, tapi aku yakin kalau dia sudah mendapatkan petunjuk. Lagi pula dia pasti sedang mengejar seseorang" ucap Elona dengan mengusap kepala Reina agar tidak lebih menjadi khawatir. "Jika, saat itu dia benar-benar membunuhmu dengan tangannya... pasti sekarang aku sudah sendirian di rumah besar ini dan dia tak akan membantuku untuk meneruskan jasa dari papa ku" tutur Reina saat teringat dimana Lony seakan ingin menghancurkan rahang Elona.


Saat itu juga Elona mengingat wajah Lony disaat dia akan mencoba membunuh dirinya, wajah penuh kesedihan juga penyesalan "Ya, Lony adalah orang baik pada dasarnya, dia tidak akan membunuhku saat itu juga walau memang terkesan ingin melakukannya. Dari wajahnya saat itu, terlihat dia sedang memikul rasa sedih, penyesalan, juga dendamnya sendiri dengan baik." Elona tiba-tiba membalas ucapan Reina tanpa dia sadari, "eh, tidak maafkan aku" sambung Elona menyesal karena merasa menambah beban pikiran Reina.


Reina berdiri dari kursinya lalu menghampiri Elona, "Kau sudah berubah ya sejak bertemu dengannya, bahkan.... aku juga merasa begitu. Lony meski kurang sajar namun karenanya lah rumah besar ini serasa memiliki lebih dari tiga penghuni" ucap Reina sembari memegang pundak Elona pelayannya juga teman masa kecilnya.


Reina dan Elona akhirnya tersenyum dalam waktu bersamaan, "Rasanya aku sudah cinta kepadanya" ucap mereka berdua, namun setelah itu mereka kembali tertawa lebih keras. "Kita akan menikahi orang yang sama ya ternyata?" kekeh Reina. "Ya kalo itu kamu, aku tak masalah" ucap Elona santai dengan senyum yang telah lama hilang menurut Reina. "Kalo begitu jika sudah waktunya, kita berdua akan menikahinya" kata Reina penuh semangat, Elona pun mengangguk dengan senyum bahagia.


***


"Hasyuuuuu..." tiba-tiba aku bersin, lantas aku membersihkan ingus ku yang hampir saja keluar menggunakan sapu tangan yang aku bawa. "Apa anda tidak sehat tuan?" tanya sopir taksi tersebut, mungkin dia merasa khawatir. "Ah, tidak apa-apa hanya saja sepertinya aku sedang dibicarakan oleh orang" kata ku, dan sopir taksi itu hanya tertawa kecil dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Ya, lagipula tak akan ada yang percaya akan takhayul tersebut.


Kala sampai Taman Botanic sebuah taman setengah jadi dekat Universitas Durham yang seharusnya hari ini ku selidiki misteri juga fenomena ghaibnya namun gagal karena kasus ini muncul, dan disini adalah tempat dimana aku bertemu Elona dan Reina pertama kali. Disebuah tangga, saat aku semakin memasuki taman ini nampak ada seorang pria sedikit tinggi dari ku memakai jas juga topi koboi nyentrik.


Sekarang orang aneh dengan gaya bagaimana lagi? Pertanyaan itu teringiang-ngiang di telinga ku, mengingat aku sudah bertemu beberapa. "Bagaimana kabar mu detektif gadungan?" tanya pria tersebut. Tidak salah lagi orang ini adalah orang paling buruk yang aku kenal selama hidupku, dari suaranya saja aku sudah bisa mengenalnya.


Lantas kaki ku pun berhenti saat ingin menuruni tangga ini, "Lantas bagaimana kabarmu ayah? Bukan, mungkin lebih cocok ku panggil pembunuh? Dan bagaiman kau bisa selamat dari kecelakakan sebulan lalu?" tanya ku sembari menunduk dengan kedua tangan masih didalam saku jas yang menghangatkan ku.


"Hah? Ayolah, jangan begitu dengan ayah mu, kenapa kau marah sekali? aku bukan pembunuh yang kau maksud dan aku masih hidup karena Tuan Richard membiayai seluruh perawatanku" ucapnya datar, masih sama seperti dulu tak pernah berubah sedikit pun."Sayang sekali aku tak pernah percaya kepadamu sedikit pun" kata ku sembari mengeluarkan sepucuk senjata api kemudian berbalik ke arahnya. Tak diduga dia melakukan hal yang sama seperti ku, sebuah reuni keluarga kecil antara ayah dan anak dengan saling todong senjata. Mata kami saling menatap serius satu sama lain, bersiap untuk menarik pelatuk senjata kami masing-masing.


"Seharusnya kamu sudah membunuh si pelayan itu dan membuat putri pemilik jasa itu hancur, tapi kenapa kau tidak membunuhnya padahal aku yakin jika kau sudah mencengkram rahangnya cukup kuat. Seandainya kau melakukan itu, mungkin seluruh perbuatan Richard dan aku sendiri pasti akan aman tanpa disadari oleh siapapun, tapi kau malah menjadi pelayannya juga memecahkan kasus ini dengan cepat, seharusnya aku membunuhmu dulu agar resiko tertangkap kami bisa terkurangi cukup besar" jelasnya sangat detail tentang apa yang terjadi belakangan ini, jadi singkat cerita, memang ini sudah direncana kan sejak awal.


Aku tak terlalu terkejut jika memang harus berurusan dengan orang tamak seperti dirinya dan untuk masalah Richard alias Si Tampan, sudah ku duga sejak awal karena wajah Reina saat bertemu dengan Richard sedikit berubah kesal. Aku tersenyum masam mendengar penjelasan itu, "Jadi semua ini bukanlah murni pembunuhan acak kan? Karena kau disewa akibat harus balas budi, pasti ada alasan khususnya kenapa orang-orang itu harus di bunuh dengan cara spesifik, lalu untuk menutupinya agar terlihat lebih sempurna, kau mencari orang lain untuk dibunuh secara acak menurut nama korban supaya bisa menjadi sebuah kalimat yang terkesan seperti dua pembunuh saling berbicara kan?" tutur ku secara berurutan, dia pun merapatkan rahangnya. Akhirnya aku mendapat seekor pengerat yang sedang terpojok.


"Diam! Kau hanya bocah, tak tahu apa-apa tentang apapun!" teriaknya tak terima. Suasana disekitar semakin menjadi bertambah gelap, tak ada salah satu dari kami yang bergetar tangannya karena takut mati.


"Kau juga yang mengambil lalu menjual organ milik ibu dan kedua adik ku setelah Elona datang berusaha menyelamatkan mereka kan? Lalu untuk menutupi jejak mu, kau membakar kemudian meledakkan rumahnya, lalu jika dilihat dari saksi pasti Elona akan disalahkan karena keluar sebelum ledakan terjadi. Karena tuduhan itu pasti kau berpikiran, aku akan mengincarnya tapi sayang sekali ya tak sesuai dugaan mu" desak ku untuk membuatnya mengakui semua kesalahannya dan menyerah dengan damai tanpa ada baku tembak sedikit pun.


Lantas dia menurunkan senjatanya, karena merasa dia sedikit tenang aku pun ikut menurunkan senjata pula. Dia sontak tersenyum kesal ke arah ku juga menodongkan senjatanya ke arah kepalanya sendiri, "Dasar anak merepotkan, Hasta la vista—selamat tinggal" kata nya kemudian pelatuknya ditarik.


'dorr'


Sebuah suara tembakan yang menembus kepalanya pun tedengar cukup keras, aku menghembuskan nafas ku. Anak merepotkan? Justru kau yang merepotkan ayah, setidaknya akan ku urus dalang sebenarnya. Reuni yang singkat juga tak ada perasaan khusus apapun, lantas aku kembali menaiki tangga menuju sebuah kotak telepon kosong untuk menghubungi Reina dan Elona di rumah untuk memintanya datang kemari, sekalian membawa Enola Holmes yang sempat ikut campur kasus ini.


Setelah beberapa jam menunggu akhirnya Reina, Elona, dan Enola pun datang ditemani beberapa perwira polisi juga detektif kepercayaan mereka masing-masing. "Selamat malam, semuanya ini adalah laporan, petunjuk, juga penjelasan atas apa yang terjadi barusan" ucap ku dengan memberikan lembaran kertas yang aku tulis saat menunggu kedatangan mereka. Tanpa bicara sepatah kata lagi, dia sang perwira hanya mengucapkan terima kasih dan langsung melihat mayat tersebut.


"Kerja bagus Tuan Pelayan" puji Enola ketika aku menghampirinya, disampingnya ada Reina dan Elona yang mungkin menunggu ku. "Tidak usah memujiku seperti itu Enola" kata ku sedikit kesal karena aku tipe orang tak suka dipuji." Aku tidak memuji mu" sahut Elona, lantas aku sedikit bingung begitu juga Reina dan Enola si pemuji sebenarnya. Nama mereka berdua hampir sama satu sama lain maka tidak heran juga jika Elona salah tanggap. "Tunggu yang dimaksud itu aku, Enola Holmes" protes Enola kepada Elona, seperti pada hari-hari biasanya Elona menanggapi itu dengan santai. "Oh, begitu kah? Jadi apa ada masalahnya dasar wanita pemabuk" hina Elona, mungkin dia merasa kesal karena terlalu disalahkan akibat nama yang kebetulan sama.


"HAH?! Wa..."


"'Hah?! Wanita pemabuk katamu' anda akan bilang begitukan? Padahal kau sendiri memakai pakaian mencolok, terlebih kenyataannya mulut bau anggur yang memabukan" elak Elona, walau nada bicaranya sangat datar begitu, juga ekspresinya terkesan tak menyakitkan tapi akan berbeda cerita jika berada di sudut pandang Enola. Lantas mereka akhirnya diam satu sama lain. Mata ku menyorot baju Reina yang lumayan biasa menurutku, tak seperti biasanya terkesan mewah.


Menyadari aku menatapnya Reina menjetikan jarinya di depan wajahku, "Hey jangan membayangkan aneh-aneh ya, aku masih ingin menikah dengan orang yang aku cintai" kata Reina cukup tajam seakan-akan aku adalah seorang mata keranjang yang beruntung, "jadi itu siapa, kemudian apa rencana selanjutnya?" sambung Reina dengan bertanya. Sejujurnya aku enggan membahas ini namun karena dia termasuk majikan ku, tak bisa ku tolak begitu saja. "Dia ayah ku tapi aku tak membunuhnya, dia bunuh diri tepat di depan ku. Untuk rencana selanjutnya aku harus mencari keberadaan Richard untuk menelusuri segala kesalahannya" jelasku langsung kepada intinya, nama tersebut membuat Reina sedikit tersentak, ya itu pasti karena mereka terkesan kenal akrab cukup lama walau ada perang dingin di antara mereka, menurut ku.


"Dia ya? Sudah ku duga ada sesuatu yang disembunyikannya" gumam Reina namun terdengar sampai telinga sensitif milikku karena sudah terlatih mendengar benda bergerak atau jatuh walau jauh, ini adalah akibat kebiasaan Reina yang menyuruhku menyelidiki fenomena ghaib."Aku tak tahu apa yang kamu maksud tapi sepertinya dia tidak main-main, apalagi sampai membuat ayah ku sendiri seperti ini" ucap ku dengan melihat mayat ayahku yang sedang dibawa beberapa orang menuju rumah sakit, "dan cepat atau lambat pasti akan ada acara selanjutnya yang sangat merepotkan" sambung ku tanpa melihat mata Reina sedikit pun bahkan dua orang lainnya seakan tidak ada disini.


'krrkkrkkrrrrrr'


"Ini makanlah aku sudah membuatkannya" ucap Elona saat mendengar perut ku berbunyi cukup keras, tanpa malu lagi aku langsung menerima keranjang tersebut dan membukannya, ternyata roti lapis daging sapi kesukaan ku. Sembari makan ditempat, mereka bertiga melihat ku dengan mata seperti berkata 'kerja bagus, berjuanglah, semangat'. "Sekarang sudah lebih dari jam sepuluh malam, lebih baik kita kembali. Ayo Elona, Lony. Nyonya Enola aku permisi dulu" perintah Reina kepadaku juga Elona, sedangkan Enola hanya tersenyum dan mengangguk.


"Kenyangnya, sehari aku hampir tak makan sama sekali" ucap ku lega karena perutku terisi sangat penuh. Terlalu penuh untuk seukuran perut orang kurus seperti ku. Elona dan Reina sontak memeluk tangan kanan juga kiri ku. "Ngomong-ngomong mulai dari sekarang kita mempunyai sopir juga keluarga baru, namanya Marder. Kemudian mulai dari hari ini sampai seterusnya aku dan Elona akan membuat mu menikahi kami" tegas Reina tiba-tiba, sedangkan Elona hanya tersenyum sembari memeluk tangan kiri ku.


"Selamat senior! Sepertinya ini akan menjadi malam pertama mu yang sangat panjang" sahut Marder semangat selaku sopir baru. Aku kehilangan kata-kata, tak bisa berkata apa-apa juga tak tahu aku harus senang ataukah semakin meratapi nasib sial ku. Tapi siapa sangka, aku bisa menikahi kedua gadis cantik ini. "Lebih baik tunggu waktunya saja, dan salam kenal Marder" ucap ku kepada mereka bertiga.