
Malam berganti pagi yang menyengat dengan dingin miliknya pada jam 3 dini hari. Selepas melihat orang bunuh diri dengan menembak kepalanya sendiri didepan ku seperti kemarin membuatku susah untuk tidur. Sekalipun disisi ku ada Elona dan Reina, hamburan isi kepala tetap akan terbayang di diingatan ku. Di pagi buta seperti ini biasanya orang akan merokok untuk menyambut harinya namun aku bukanlah pecandu rokok.
Anginnya cukup terasa sampai sum-sum tulang, dan kata-kata itu hanya sekedar kiasan. Kalau saja mereka berdua bangun pasti akan lengkap rasanya, lengkap dalam hal penderitaan telinga. Ngomong-ngomong soal mereka berdua, kenapa tiba-tiba Reina dan Elona mau aku nikahi? Walau memang aku tertarik dengan mereka berdua tapi tak kusangka akan menjadi seperti itu.
"Lony kamu sudah bangun ya ternyata" suara itu tiba-tiba mengagetkan ku yang sedang dibelai angin, saat aku mencari pemilik suara itu rupanya Reina. Dibalut dengan gaun tidur bewarna putih miliknya, Reina tampak seperti wanita yang luar biasa cantik. "Ah ternyata kamu, ya aku tak terlalu bisa tidur" balasku lalu kembali menatap langit dini hari ini, terlebih ditemani oleh Reina bisa menjadi penyedap suasana sunyi ini. Reina kemudian mendekati ku dan mengambil tempat disisiku, "Pada akhirnya malam akan pergi juga meninggalkan beberapa kenangan baik atau buruk dan pahit atau manis untuk di ingat" kata Reina tiba-tiba, dalam satu malam dia menjadi seseorang yang bijak.
Aku sontak tertawa, "Darimana kamu mendapat kata-kata itu?" tanya ku tak percaya bila itu adalah kata buatannya sendiri. Reina menggembungkan pipinya, dalam pandangan ku dia nampak seperti ikan buntal merasa terancam nyawanya, "Hmp, curang" Reina membalas segala perkataan ku dengan kata curang, bisa dipastikan bila dia mengutip dari sebuah buku yang sudah dibaca nya. "Semisal kita tak bertemu dengan cara waktu itu, berapa jarak bulan juga malam yang dingin untuk menemui mu?" tanpa sadar kalimat itu keluar begitu saja dari mulutku. "Suatu hari pasti kita akan bertemu, karena aku juga masih ada hutang dengan mu" jawab Reina sedikit keluar dari pertanyaan yang aku ajukan.
Kepalaku tertunduk, otak ku yang baru saja bangun ini berusaha mencerna kata hutang didalam kalimat miliknya. Semasa hidup, aku tak pernah merasa berhutang kepada siapa-siapa termasuk kepada Reina. "Jangan bilang peristiwa itu" kata ku kala ingat akan kematian ibu dan kedua adik ku, Reina menganggukkan kepalanya. Dalam lubuk hati terdalam milikku, bagiku kegagalan Reina juga Elona tersebut bukanlah sebuah hutang yang wajib dibayar olehnya sebab takdir adalah sebenar-benarnya jalan dalam sebuah kehidupan.
Kami berdua memandang langit yang mulai kebiru-biruan sebab matahari mulai bersiap untuk naik dan bulan bersiap untuk turun, pergantian shift kerja yang menarik itulah pikir ku. "Dan ya, aku hampir lupa, nanti siang atau lebih lambat dari itu. Anak dari kenalan papa ku akan berkunjung sekaligus membantu kita memecahkan kasus ini, dia dari Jepang namanya Kiyotaka Suzumi tapi tenang saja dia sudah pandai berbahasa inggris seperti kita" ucap nya sembari menepuk pundak ku dan kemudian pergi entah kemana tujuannya. Ditelan oleh bayangan dinding yang tak membiarkan sedikit pun cahaya masuk selain dari jendela.
Bertambah satu pemeran lagi, merepotkan saja. Aku lantas berjalan menuju kamar ku sendiri, disela-sela hentakan kaki, aku berpikir sedikit mengenai kasus yang memang sudah diluar pekerjaan sehari-hari ku. Bila tak cukup kuat pasti otakku akan meledak, dan bila saja aku tokoh utama dari kebanyakan cerita pasti aku bisa memecahkannya dalam satu halaman, hal seperti itu mana mungkin terjadi. Lebih baik tidur saja untuk hari ini karena lelah yang ku pikul tak bisa ku toleransi lagi.
***
Sementara itu, di suatu tempat di London Inggris. "Hah? nande dekinai no?—hah? kenapa tidak bisa?" Suzumi sahabat Reina sedang berdebat dengan supir taksi yang menolak mengantarnya. Suzumi berdeham dan mengulangi kata-katanya dengan bahasa yang dimengerti oleh sang supir taksi, "Ahem, kenapa Anda tidak bisa mengantarkan aku?" Suzumi memiliki rasa penasaran yang amat kuat juga tak mau meninggalkan supir tersebut begitu saja. Sang sopir hanya memegang sopir setir kemudinya dan membisu menatap jalanan.
Cukup lama berdebat akhirnya Suzumi memutuskan untuk berjalan kaki, dari bandara sampai kediaman milik Reina. "Kenapa hanya ada satu taksi dengan sopir seperti itu, seharusnya aku tak menderita seperti ini" gerutu Suzumi selama berjalan kaki melewati pertokoan yang cukup padat di pagi hari. Gadis remaja berusia 17 tahun dengan rambut hitam sebahu tersebut berjalan menembus keramaian di beberapa tempat di London, bersama wajah cantik khas orang asia dan mata hitam miliknya, dia menatap takut lingkungan sekitarnya.
Setelah hampir satu jam berjalan akhirnya Suzumi menyerah terhadap rasa lelah yang mengekang erat kakinya, "Ima wa tabun kyuu-ji kurai kana—sekarang mungkin sudah jam sembilan" gumam Suzumi sembari memijat-mijat kecil kaki ramping miliknya. Tak bisa dipungkiri bahwa dia sudah benar-benar sedang tersesat di sebuah kota yang cukup besar. Sesuai kesepakatan didalam surat, bahwa dirinya harus sampai tepat sebelum jam 12 siang.
Secara umum orang Jepang terkenal sangat disiplin dan ulet dalam berbagai bidang tapi seperti itu hampir tak berlaku bagi Suzumi yang sering pergi keluar negeri beberapa kali, kecuali dia berjanji. Namun bukan berarti dia meninggalkan budayanya begitu saja karena terpengaruh budaya asing negara yang dikunjunginya.
Prinsip hidup Suzumi adalah lebih baik membuat diri menunggu daripada membuat orang lain menunggu. Sebuah prinsip sempurna bagi seseorang yang pandai berbisnis, bukan penasehat atau pengusir hantu seperti Kiyotaka Suzumi. Setelah istirahat sejenak akhirnya Suzumi melanjutkan perjalanannya, dia terlihat cukup pasrah sebab merasa dirinya sudah tersesat. Demi kebaikannya sendiri, dia menyerahkan kepada hati kecilnya untuk membawa kemana yang sekiranya benar.
"Suzumi?" panggil seseorang dari belakangnya menggunakan nada terdengar ragu. "Reina! Kenapa rumah mu jauh sekali?" Suzumi lantas mengadu dan mencurahkan segala rasa lelahnya setelah tahu jika yang memanggilnya adalah Reina sahabatnya dulu. "Tidak jauh kok, itu di depan. Kebetulan aku baru saja beli bahan makanan" ucap Reina kemudian meninggalkan Suzumi yang sedang kelelahan mengikuti di belakang. Satu hal yang dapat ditebak dengan benar dalam kasus ini adalah Reina tak tahu menahu bila Suzumi menuju rumahnya dengan berjalan kaki, dan Suzumi juga tak mau membicarakan hal tersebut sebab Suzumi sudah berulang kali memutari jalan ini.
Ketika sudah berada didalam rumah mewah milik Reina, Suzumi terbelalak karena disambut pemandangan barang antik dan lukisan epik diruang tamu setelah masuk melewati pintu. Matanya berbinar-binar dan berjalan kesana-kemari untuk melihat lebih dekat. Reina hanya tertawa melihat Suzumi yang dikenalnya tak berubah sama sekali, "Kamu tak banyak berubah ya? Cuman fisik mu saja yang berubah selain dari itu masih tetap sama" kekeh Reina dengan menutup mulutnya karena dia berusaha menahan tawa.
Setelah itu suasana rumah kembali hening sementara, semua bekerja dan melakukan kegiatan sehari-harinya. Reina dengan berkas-berkasnya, Elona dengan pekerjaan rumahnya, Marder yang sibuk mengutak-atik mobil, Suzumi yang istirahat karena kelelahan dan terakhir Lony yang sedang tidur.
***
Setelah menikmati bermacam-macam episode mimpi aku terbangun dari tidur nyenyak yang hilang dari kehidupan ku beberapa hari ini, akibat menangani satu kasus yang berbuntut panjang. Rasa ingin liburan ke suatu tempat dan mengambil cuti cukup kuat menggema dalam pikiran ku yang baru saja terbangun. Namun setelah mendengar suara yang bermacam-macam ketika berada didalam kamar, liburan maupun cuti adalah sebuah impian yang tak mungkin untuk ku raih dengan tanganku sendiri. Aku mengehela nafas, "Haaaah... Setelah ini bagaimana jalan hari ku?" gumam ku lirih setelah mengingat bahwa aku dapat menikahi mereka berdua, Elona dan Reina.
Sangat merepotkan, namun seperti itu adalah impian beberapa orang. Mata ku melirik jam yang sudah menunjuk pukul 1 siang, tanpa pikir-pikir lagi kuputuskan untuk menuju ke kamar mandi agar bisa menyegarkan tubuh sepenuhnya dari bakteri juga keringat.
Dalam bukunya, Osamu Dazai berkata "Pikiran tentang kematian tidak pernah mengangguku, tetapi terluka, kehilangan darah, menjadi lumpuh, dan sejenisnya—tidak,terimah kasih" secara logika aku memang tak akan tersiksa ketika sudah benar-benar mati dan aku setuju dengan hal itu. Namun sebaliknya bila terluka dan sejenis itu, kata menyerah dan sakit adalah kata yang akan ku teriakan di gedung tertinggi atau di padang yang luas. Akan tetapi rasa sakit adalah kenyataan dari hidup yang tak pernah terlelap ini.
'tok tok tok'
"Lony?" panggil Reina sesaat setelah mengetuk pintu dan bertepatan aku sedang sibuk berpakaian. Dengan tergesa-gesa aku memakai seragam harian ku. Kemeja putih lengan panjang, sebuah rompi kecokelatan dan jas mantel bewarna hitam favoritku. Ketukan pintu semakin cepat dan keras. Lantas aku langsung membuka pintu kamar, "Ada apa?" tanya ku malas kepada seorang gadis berusia 19 tahun tersebut, "bukankah kamu bisa menunggu sampai aku menyelesaikan urusanku?" sambung ku dengan bertanya lalu keluar dari kamar, namun Reina hanya tersenyum misterius seperti biasanya. Pintu telah ku tutup dan mulai dari sini lah hidup ku di hari ini dimulai.
"Sore de, anata wa atarashii meido ka?—jadi, kamu pelayan yang baru?" tiba-tiba bahasa asing dari sisi lain sangat menusuk telinga ku. Ketika aku melihat, benar saja tepat di arah kanan lorong ada seorang gadis berkebangsaan Jepang berdiri dengan anggun. "Aku tidak bisa bahasa alien" ucap ku malas lalu memalingkan wajahku ke arah lain. "Hora—hey!, aku bukan alien dari planet lain!" teriaknya tak terima, lantas aku kembali melihatnya. Jadi seperti ini gadis Jepang, tak ada bedanya. "Hm, jadi ya... , sampai nanti" pamit ku lalu pergi menuju dapur untuk mencari makanan enak yang dapat memuaskan nafsu makan ku. "Oey! Kenapa aku dicuekin?!" protes gadis bernama Suzumi yang diceritakan oleh Reina pagi-pagi buta tadi.
Rasanya hari ini akan menjadi hari berat berikutnya, Reina dan Elona saja sudah sangat berat ditambah satu lagi mungkin akan lebih berat dari biasanya. Disisi lain aku beruntung, sebab Reina menerima Marder menjadi sopir pribadi barunya, aku belum mengenalnya dengan baik tapi aku harap dia bisa menahan semua cobaan yang akan diterimanya dalam waktu dekat. Karena di keluarga ini kejadian tak terduga adalah tradisi.
"Hm, Lony? Apa kamu lapar?" tanya Elona saat tahu aku mencapai dapur yang dikuasainya sejak lama. "Sudah jelas kan? Bukan kah orang lapar itu harus makan? Jika aku seorang psikopat tentu lebih baik membunuh dari pada makan, itu adalah cara terbaik untuk menahan rasa lapar" kata ku tak mau kalah dari Elona juga sedikit melampiaskan rasa kesal. "Baik Tuan muda" ejek Elona terhadap perlakuan dan gaya bicaraku, aku hanya dapat menghela nafas mengeluarkan kekesalan ku sepenuhnya.
Sepiring roti lapis daging ditambah saos pedas dihidangkan olehnya, ini adalah makanan favoritku. Memakan dengan lahap dimeja dapur ditemani Elona yang sedang sibuk menyiapkan makanan untuk semua orang yang tinggal disini adalah hal terbaik setelah mengalami beberapa kejadian tak menyenangkan, sedikit damai ku rasa. Tapi ya semua orang pasti mengalami, pasti itu.
"Elona makanannya belum siap kah?" tanya Reina berwajah malas kala memasuki dapur, khusus Reina rasanya tak termasuk orang yang mengalami beberapa kejadian dalam satu kurun waktu kecuali berkas-berkas yang menumpuk. Dan bagaimana caranya dia bisa merubah ekspresi wajahnya sangat cepat hingga aku sendiri tak bisa menebak perasaan sebenarnya.
Wajahnya berubah merah padam kemudian berbalik kembali ke meja tanpa berkata apa-apa. Sebuah senyuman tanpa sadar mengembang diwajahku karena itu adalah hal yang sangat jarang terjadi. Kemudian aku kembali fokus ke tujuanku untuk mengurusi beberapa hal yang memang harus aku atasi sampai akar-akarnya, Richard adalah target selanjutnya.
Dalam sudut pikiran kecil ku, ada nama Marder yang keluar dari persembunyiannya. Lebih baik aku ajak dia saja, Reina tak akan keberatan jika sopirnya sementara aku pinjam untuk membantuku lagipula Elona bisa menyetir mobil. Sedikit bersemangat karena bisa menyeret orang untuk mengikuti alur kasus yang aku tangani, kaki ku menggunakan ritme cepat agar segera sampai ke garasi dimana Marder berada sedang membenarkan mobil satunya.
Setelah berjalan cukup lama dikarenakan luas rumah yang hampir mirip lapangan sepak bola ini akhirnya sampai dibagian selatan rumah dimana garasi berada. Marder si sopir pun juga terlihat sibuk membenarkan mesin mobil tua itu, kalau tak salah dengar mobil itu berusia 30 tahun, angka tersebut melebihi usia ku sendiri.
Aku mendekati sopir baru itu untuk lebih akrab dengannya, "Marder, kamu masih sibuk seperti biasanya ya?" tanya ku sebagai jalan awal untuk akrab dengannya. Marder sedikit terkejut sampai menjatuhkan sebuah palu ke kakinya, "Arghh... Oh, kamu ternyata, angin apa yang membawa mu kemari senior?" entah orang ini memang kuat atau hanya pura-pura tegar ketika benda sebesar itu jatuh.
Sedikit heran, namun ya setiap orang mempunyai kelebihan masing-masing, "Jadi, kamu bisa mengantarku?" tanya ku agak canggung sebab merasa bersalah dengan kakinya yang telah tercium oleh palu. Lagipula palu sebesar itu untuk apa dan apa hubungannya dengan mobil?. "Ah, palu ini hanya untuk berjaga-jaga jika kamu memang penasaran, ngomong-ngomong mau kemana? Karena Reina, Elona dan tamu nya sudah ada di belakang mu" setelah mendengar itu sebagian diriku merinding, keringat dingin juga keluar cukup deras dalam waktu singkat.
Pundakku lantas di remas oleh dua orang berbeda cukup kuat, Marder hanya menyatukan telapak tangannya seperti dia mendoakan ku, "Lony, mungkin kita semua harus pergi bersama, jangan seenaknya sendiri" suara Reina tepat berada di telinga kananku. Disisi lain, cengkeraman Elona semakin kuat tanpa bicara sepatah kata pun.
Percuma bila aku mengelak sekarang, karena jika aku mengelak sekarang yang ada hanyalah peti mati siap pakai di belakang garasi, akan menemani tubuhku didalam tanah. Nasib buruk memang selalu ada dalam kehidupan ku, lebih sialnya nasib buruk lebih sering berperan daripada nasib baikku. "Ya ya, kalian bertiga bisa ikut" ucap pasrah setelah mempertimbangkan resiko bila aku menolak mereka untuk ikut. Marder pun tertawa kecil, "Tolong bersabar, semoga kebaikan selalu berpihak kepadamu" Marder pun membungkuk kepada ku. Telat sangat telat, bahkan aku merasa tak membutuhkannya setelah mengalami semua ini.
"Tolong Marder, cepat keluarkan mobilnya sebelum aku benar-benar berakhir saat ini juga" kata ku sedikit sedih, mengingat sedari tadi Reina dan Elona belum melepaskan cengkeramannya. Sedikit memakan waktu tapi akhirnya cengkeraman dibahu akhirnya dilepas oleh mereka, mungkin saat mandi nanti malam atau besok akan berbekas sangat jelas, terutama Elona, hanya dia yang memiliki kuku panjang bulan ini. Berusaha ingin pergi, aku dengan sekuat tenaga mencari beragam alasan, "Aku ke toilet dul...." kepala ku lantas dipegang rapat-rapat oleh mereka, sakit sekali.
Lalu kami semua sudah berada didalam mobil, "Jadi kita kemana senior?" tanya Marder sedikit keras, mungkin hanya agar suaranya sampai ke semua telinga. "Aku juga tak tahu" mendengar suara serak sedikit malas itu Marder langsung membenturkan kepalanya ke setir mobil, ya itu adalah reaksi wajar. Berbeda dengan tiga hewan buas yang berada disamping kanan dan kiri ku. Mereka menatapku seperti kotoran ayam yang ada dihalaman belakang. "Bagaimana ceritanya kamu tak tahu tujuan mu?" akhirnya tamu spesial dari negara lain angkat bicara untuk menunjukkan eksistensinya. "Suzumi kamu masih hidup?" tanya Reina heran. Dan perang mulut ke sekian kalinya pun dimulai.
"Marder tolong jalankan saja mobilnya, daripada kita tidak kemana-mana" pinta ku dan Marder langsung menghidupkan mesin mobil, lalu kami semua pun meninggalkan rumah yang nyaman dan tentu selamat tinggal ketenangan ku hari ini.
Disela-sela Reina juga Suzumi yang sedang adu mulut dan Elona yang melamun melihat keluar jendela, aku berpikir keras tentang bagaimana kasus ini akan berakhir. Apakah harus ada pengorbanan atau memang akan berakhir bahagia. Menyedihkan sekali otakku saat ini, jika dalam keadaan seperti ini pasti tidak pernah berfungsi dengan baik.
Ampunilah aku, kenapa takdir hidupku tak pernah jauh lebih baik dari ini? Aku mengeluh dan mengeluh, hingga akhirnya menghela nafas. "Kenapa kau bernafas seakan-akan bakal mati?" suara itu sangat menyakitkan ditelinga ku, bahkan sampai Reina dan Suzumi berhenti bertengkar setelah mendengar pertanyaan itu dari Elona. Aku memegang dagu ku, "Hm ya, bagaimanapun juga manusia pasti akan mati dengan sendirinya" kata ku bernada rendah, dan Elona tak merespon sama sekali.
"Hahaha... Kau bahkan diacuhkan olehnya" ejek Suzumi, namun sebelum aku membuka mulut. "Sepertinya ada orang ingin diperhatikan ya disini....." mereka berdua sudah mulai bertengkar menggunakan mulut lagi dan suasana mobil kembali ramai. Jangan mengkhawatirkan Marder, dia masih bisa menyetir dan tak mau ikut campur.
***
"Elona kamu harus berlari jauh dari sini" pinta sesosok orang tua yang berusia sekitar 40 tahun, dia adalah ayah Elona. Si Elona kecil masih menangis dan menggeleng-gelengkan kepalanya, menegaskan bahwa Elona tak mau kehilangan ayah nya dibalik lahapan sesuatu yang merah menyala dirumah tersebut dengan asap membumbum cukup tinggi. "Dengarkan ayah ya nak, suatu hari pasti kamu akan menjadi pelayan anak dari Tuan Stanford" rayu sang ayah karena sudah mulai kehabisan waktu untuk menyelamatkan ibunya yang mungkin sudah mati terpanggang.
Akhirnya Elona mengangguk, dan ayah Elona masuk kedalam. Tak berselang lama, bangunan tersebut roboh. Dengan mata kepala sendiri, Elona melihat kedua orangnya tewas dalam satu waktu bersamaan. Dan hingga akhirnya pada saat Elona sudah cukup umur, dia menjadi pelayan pribadi Reina hingga sekarang, dari masa kecil hingga sekarang mereka selalu bersama dan akan selalu begitu.
***
Sekedar perasaan saja atau memang benar Elona sekarang sedang bermimpi buruk, sedari tadi dia memanggil nama seseorang. Elona Rose sesosok pelayan yang sangat dekat dengan Reina, namun mungkin saja mereka sudah bersama sejak kecil karena dia pernah bilang bahwa keluarga Elona bekerja sebagai pelayan di rumah keluarga Standford.
Lony Jerome Doyle adalah nama lengkap ku, karena aku tak suka nama panjangku jadi aku sering tak membicarakan nama panjangku. Bagiku nama panggilan sudah mencukupi syarat untuk sekedar berkenalan tidak lebih dari itu. Ya, pada dasarnya pasti akan terlupakan juga, bila memang aku sudah selesai dengan seseorang.
Hari mulai sore dan kami semua sekarang berada di depan restoran kecil pinggir jalan, "Elona kita makan terlebih dahulu, bangun lah" panggil ku, perlahan kelopak matanya terbuka dan menunjukan sebuah bola mata indah dengan pupil warna hijau. Dia hanya mengangguk kemudian keluar, di kala semua orang keluar aku masih berada didalam hendak melarikan diri.
"Lony, jangan berpikiran untuk bertindak diluar kendali" tiba-tiba suara yang sudah kupastikan orang tersebut lenyap memasuki restoran muncul kembali. "Ya... baiklah aku akan ikut makan" kata ku pasrah kepada Reina. Namun tepat saat kaki menapak tanah kala keluar dari mobil, syukurlah tidak terjadi apa-apa selain orang berlalu lalang seperti pada umumnya. Mengikuti Reina dari belakang jika dipikirkan rasanya seperti mengikuti seoarng kurcaci versi perempuan.
Ketika melewati pintu, Marder langsung melambaikan tangannya menandakan dimana mereka mengambil tempat. Aku dan Reina pun menghampiri kemudian langsung mengambil tempat, makanan sudah dipesan sesuai selera kami berkat Elona yang sudah biasa melayani kami. Ya,semoga makanan ku tak seburuk hari ku.
Satu hal menganggu pikiranku, tidak tahu kenapa wajah Elona sekarang cenderung lebih datar dari biasanya setelah tertidur di mobil tadi. Apa memang mimpi buruk atau kenangan miliknya muncul kembali dalam mimpinya? Aku tahu sama sekali, dia tak pernah bercerita sedikitpun. Bagai kotak terkunci tanpa adanya kunci untuk membukanya, adalah kata yang pas untuk menggambarkan sosok Elona.
Kami semua makan bersama setelah makanan datang, semua menikmati dan bercanda kecuali Elona yang lebih memilih fokus pada makanannya.
'booom'
Tanpa diduga ada sebuah bom yang meledak dan memecahkan kaca restoran dimana kami makan bersama, ledakan seperti itu membuat telinga ku tuli sementara juga rasa dingin sekujur tubuhku terasa menyakitkan. Sebelum akhirnya kesadaran ku perlahan mulai memudar.