
"Jadi bagaimana bisa dia ada disini? Bukannya sudah ku beritahu untuk......" Reina gadis kecil yang kutemui satu minggu lalu sekarang menjadi majikan ku, setiap hari dia hanya menceramahi ku dan menyuruh ku untuk melakukan tindakan tak masuk akal untuk pendirian ku yakni tak percaya dengan adanya dunia lain. Tapi dari kejadian malam itu aku menjadi percaya, namun tak semenakutkan saat orang-orang menceritakan hal serupa, dengan apa yang ku alami sendiri.
Sejujurnya telinga ku semakin hari semakin risih mendengar ocehan majikan ku sendiri, pada dasarnya ingin aku maklumi karena dia masih anak-anak namun saat dia bilang bawa umurnya sudah sembilan belas tahun rasa maklum itu langsung kembali kerumah untuk menikmati liburan. "Hey, kau mendengarkan ku tidak?" aku mengangkat kepala dan membalas ceramah miliknya, "Begini, sekarang masih tahun 1986, jadi mana ada hantu seperti penjelasan mu tadi" darah ku sudah naik dan nafasku semakin sesak menahan amarah.
Dia memukul meja sangat keras sampai seisi ruangan terisi oleh gelombang kejut tersebut, "Aku tak peduli ini sudah tahun 1986 atau 8000, sekalipun perang dunia sudah berakhir dan banyak negara sudah merdeka aku ingin kamu mengatasi berbagai perkara ghaib di sini" lalu dia pergi melewati ku begitu saja dan menutup pintunya dengan keras.
Universitas Durham, mana ada mahasiswa dengn bodohnya bunuh diri sebab gagal ujian kemudian menjadi hantu gentayangan di Universitas tua itu. Kastil tua yang di alihkan menjadi universitas sekitar tahun 1832 ini memang menjadi sarang berbagai misteri dan aku tak mempermasalahkan jika bertemu sejenis roh atau arwah.
Akan tetapi jika harus menjadi seseorang yang mewakili dia yang bertugas menjadi paranormal di sini itu sangat merepotkan, seharusnya aku tak menerima tawaran ini, seenggaknya aku dapat makan juga tempat tinggal gratis tanpa dipungut biaya sepeser pun.
"Lony, kenapa kau berbaring disini? Apa Nyonya memarahi mu lagi?" tanya seseorang dengan nada lembut juga menenangkan sedikit telinga ku yang terbakar. "Jadi dari kapan kamu disini?" tanya ku kepada Elona, bisa di bilang jarang sekali kami berbicara berdua lepas seperti ini kecuali dalam suatu acara formal dan ini adalah waktu yang tepat. "Aku disini sudah sejak ayah ku masih hidup, ya bisa dibilang memang keluarga ku menjadi pelayan dikeluarga ini" dia berjalan ke arah ku dengan sepatu khas pelayan miliknya, aku yang sedang memejamkan mata pun tak menyadari apa-apa.
'bukk'
Aku bangun dengan terbatuk-batuk, "Maaf aku kira kamu sedang dirasuki" ucapnya sambil membungkuk kepadaku, gaya khas ketika pelayan melakukan sebuah kesalahan. "Hah? Sudah jelas aku masih waras dan tunggu, apa itu dirasuki?!" tanpa sadar aku melampiaskan kekesalan ku kepadanya, tanganku juga sibuk memegang dada yang baru saja diinjak cukup keras. Elona adalah satu-satunya pelayan disini, jadi bukan hal aneh bila aku mengetahuinya dengan cepat sekalipun dalam kondisi mata terpejam.
"Ku kira kau sudah tahu, dirasuki adalah dimana sesuatu seperti roh atau arwah penasaran atau hal ghaib masuk ke tubuhmu dan mengambil alih tubuhmu" informasi singkat untuk orang bodoh seperti ku, jujur aku akan lebih berterima kasih bila dia tidak menginjakku, "dan tidak perlu berterima kasih kepadaku untuk memberikan info sepele itu" ucapnya lagi dengan santai juga sedikit sombong, lagi pula mana sudi aku berterima kasih kepadanya.
Aku berdiri dan pergi meninggalkan ruangan milik Reina dengan Elona disana, jadi aku harus memulai dari mana untuk menyelidiki kejanggalan itu? Mengusutnya atau bagaimana, dan yang benar saja bocah tersebut bunuh diri karena gagal dalam ujian atau ada penyebab lainnya yang lebih masuk akal yang bisa terkesan sama. Kenapa juga harus aku yang melakukan hal seperti ini kenapa tidak Elona saja. Dengan berjalan menyusuri rumah luas ini, berlandaskan lantai marmer mengkilat juga ditemani lukisan maupun barang antik disisi kanan juga kiri membuatku sedikit bersemangat.
Bersemangat agar semua ini cepat selesai dan aku bisa kembali ke kehidupan wajar sebagai seorang pelayan pada umumnya.
"Lony!" panggil Reina tiba-tiba dari arah belakang, aku tetap meneruskan langkah kaki tanpa ada niatan untuk berhenti karena rasa jengkel berlebihan. Namun, entah bagaimana ceritanya tiba-tiba ada barang melesat cepat melewati ku, "sudah ku bilang untuk berhenti kan?".
Lantas barang itu menancap di pintu, itu lebih tepat disebut sebilah pedang tua, bila Reina ada niatan untuk membunuh ku pasti aku sudah mati sekarang. "Hah? Ada apa?" respon ku cuek, tapi dalam jiwa terdalam ku rasanya ingin untuk sujud memohon ampun kepadanya agar nyawaku tak diambil olehnya.
.....
Aku memegang dahi ku dalam keadaan bingung, "Jadi intinya, ada pembunuhan berantai? Dan itu sama seperti pada tahun 1888? Mana mungkin dan aku tidak mengurusi seperti ini. Mengurusi hantu saja sudah hampir membuat ku gila kenapa harus ditambahkan hal seperti itu?" aku mengeluh berat sebab aku tak mungkin bahkan mustahil untuk memecahkan misteri yang bisa mengancam nyawaku secara nyata kala melakukannya. Daripada meminta ku kenapa tidak menyerahkannya kepada keluarga Holmes si detektif pintar yang terkenal hingga sekarang, meskipun mereka sedikit aneh.
Reina memukul ku dengan beberapa lembar kertas yang dibawanya, "Jangan harap Holmes menerima kasus ini karena dia sudah ribut dengan kasus keracunan yang marak akhir-akhir ini, oleh karena itu meskipun kita bergerak dalam bidang paranormal, kita harus melakukannya demi mengamankan kota London tercinta ini. Sama-sama memecahkan misteri kan?" ucapan itu sangat enteng dimulut kecilnya, bagi aku yang sudah berusia hampir dua puluh dua tahun, itu adalah hal mustahil walau sama-sama misteri.
Secara spontan aku mengambil lembaran kertas yang di pegang Reina dan membacanya sekilas, "Jadi sudah ada berapa korban?" tanyaku disela-sela membaca berbagai penjelasan saksi mata juga pihak berwajib yang diserahkan kepada Reina sebagai permohonan agar mau untuk membantu. "Hanya satu, dengan nama Galbert. Ya mungkin hanya satu, namun lebih tepatnya salah satu karena setiap korban memiliki luka berbeda, yang kita urus sekarang ini lukanya hampir berada diseluruh tubuh, bukan salah satu dari dua puluh korban lainnya" jelasnya singkat.
Salah satu? Berarti ada lebih dari satu pembunuh juga cara membunuh berbeda-beda, lalu kenapa aku mendapatkan kasus yang ingin membuat perutku lari dari tempatnya. Pembunuhan berantai pada tahun 1888 merupakan hal besar kala itu, dengan korban yang termutilasi juga luka mengerikan membuat seluruh London menjadi kota berbahaya, terlebih bagi wanita yang kala itu memang menjadi incaran utama.
Aku menaruh lembaran kertas itu diatas meja, dan memandang ke arah keluar jendela yang lebar dan berfungsi sebagai pelengkap lorong rumah ini, "Pembunuhan berantai dan tak ada petunjuk apapun selain luka korban juga waktu yang berjarak relatif pendek, rasanya seperti Jack The Ripper bangkit dari kematiannya setelah hampir satu abad" bergumam sendiri untuk mengusir rasa bingung bercampur takut akan menghadapi ajal ku sendiri bagai mengepakan sayap meski tahu tak ada bulunya.
"Jangan sok dramatis gitu, cepetan selesaikan kasusnya agar kita bisa kembali mengurusi bidang kita" Reina memegang pundak ku dengan berkata seperti itu membuatku naik tensi lagi, kalau dipikir-pikir lalu menghubungkan dengan waktu yang tepat, aku rasa ada sesuatu yang janggal. Rasanya yang bunuh diri tadi bukanlah orang yang sengaja bunuh diri. "Reina, mahasiswa yang bunuh diri jam berapa ditemukannya?" aku langsung spontan bertanya karena menyadari keanehan mengangguku.
"Sekitar jam 9 ma.... Ah aku tahu arah pikir mu"Reina langung berlari ke kamarnya mungkin untuk mengambil sesuatu. Di kertas laporan tadi tertulis bahwa Galbert terbunuh pada jam 8 malam sedangkan mahasiswa yang akan aku selidik tepat jam 9 malam, jika memang orang yang sama pasti memungkinkan tapi karena akhir-akhir ini pembunuhan berantai sedang dalam pengerjaan utama bisa saja pelaku lain memanfaatkan situasi seperti ini agar semua dakwaan tak tertuju padanya.
Reina kembali lagi, kali ini dia membawa lembaran kertas lain lagi, "Selain kamu aku juga punya satu hal aneh yang menggangu ku" ucapnya kemudian dia menulis beberapa huruf atau potongan nama korban hingga membuat serangkaian kalimat. "I can kill a lot—aku bisa membunuh lebih banyak. No you can't—kau tak bisa" rasanya daripada pembunuhan berantai sepertinya disini ada dua orang pembunuh yang mencoba berkomunikasi dengan sandi dari nama depan korbannya dan untuk menyadarinya butuh ketelitian karena bukan hanya dari imisial namun juga potongan nama depan.
"Jadi kita mengurusi salah satu pembunuh baru yang mencoba berkomunikasi dengan nama korbannya?" gumam ku heran. Reina hanya mengangguk dengan tangan sedikit bergetar ketakutan, wajar bila ketakutan sebab tak bisa dipastikan siapa korban selanjutnya.
Terbesit dibenak ku untuk menggoda Reina supaya suasana lebih tenang, "Ya kalo takut gak usah bantu-bantu, kamu duduk saja dibalik meja sambil ngurusin dokumennya klien kita" ucap ku dengan tersenyum lebar merasa senang bisa menggoda Reina. Dia langsung saja gemetaran bercampur rasa kesal, "Ma-ma-maksud mu apa hah?! Ka-ka-kau pikir aku penakut?!" teriaknya keras meski terbatah-batah seperti orang gagap.
"Bukan asal nuduh, dan setahuku kebanyakan orang kalo takut bakalan gemetaran dan bicaranya gagap. Jadi apakah mahasiswa dari klien mu itu memang seseorang yang bunuh diri?" aku kembali kepada topik dengan menusuk telinga Reina soal mahasiswa yang bunuh diri. karena rasanya aneh bila semua ini hanya kebetulan, dan di lain cerita, mengapa dia membuka jasa pengusir hantu atau sejenis itu tapi dia sendiri merasa takut dengan hal itu. Orang merepotkan pasti akan selalu merepotkan sekitarnya, itulah kelakuan sosial yang kadang tak aku sukai selama ini. Jauh merepotkan daripada mengurus setan, hantu, jin dan sebangsa itu.
'braak'
"Hey orang-orang bodoh masih sehat?" tiba-tiba setelah suara bantingan pintu ujung lorong tersebut, ada seseorang datang menghampiri kami, terlebih dia memanggil kami bodoh, "perkenalkan nama ku Kami si pujangga tampan di negara ini" aku dan Reina seketika membatu mendengar pernyataan itu, tampan di negara ini? Lebih cocok paling aneh di negara ini. "Ah, Kami kalau tak salah di Jepang Kami memiliki arti rambut, berarti rambut mu tampan ya?" sela ku kala Si Tampan itu sibuk bermonolog sesukanya, Reina langsung tertawa mendengarnya. "Yang penting aku tak seperti berdada datar disana" elak nya berusaha lari dari ejekan yang aku lontarkan. "Hey, pelayan bodoh ambilkan sesuatu disamping mu" wah, ya, Reina sangat kesal bila ada seseorang menyinggung soal bagian tubuhnya yang memang masih dalam masa pertumbuhan itu. Sesuai perintah darinya, aku mengambil sebuah tempat lilin berbentuk trisula.
Disaat Reina mendekat, Si Tampan itu masih bermonolog memuji dirinya sendiri ditambah gerakan-gerakan aneh khas miliknya seorang. "....ah, jangan biarkan hitam menyelimuti hati mu yan...."
'dukk'
Bersamaan suara itu akhirnya suasana kembali normal, kepala Si Tampan itu sudah dipukul oleh Reina cukup keras, karena bahaya sudah lenyap aku pun mendekat ke Reina. "Jadi siapa 'Tampan' ini juga apa benar namanya 'Kami'?" aku menyentuh tubuh Si tampan ini dengan ujung sepatu, siapa tahu dia masih sadar jadi aku bisa memberikan sedikit hadiah.
Reina meletakan tempat lilin berbentuk trisula itu di meja dekatnya, kalo dipikir, meja dilorong rumah ini sangat banyak dengan barang koleksi milik mendiang papanya juga miliknya sendiri. Reina mengehela nafas cukup dalam, "Kami bisa berarti Kami-sama yang berarti Tuhan atau Dewa, namun ya kalo dia mungkin merasa bahwa dirinya adalah reinkarnasi Dewa Ketampanan. Dan namanya adalah Richard Kolidestien" jelas Reina, dia menyilangkan tangannya dan menatap busuk Si tampan yang sedang pingsan.
"Nama aneh apa itu? Dan sejak kapan ada Dewa Ketampanan di dunia ini?" kaki ku pun menginjak punggung Si Tampan akibat rasa kesal yang menumpuk dan butuh sebuah pelampiasan. "Bukan kah kau banyak tanya pelayan Rookie?—pemula" desis Reina dan dia pun ikut menginjak punggung Si Tampan, bedanya dia lebih sedikit lebih keras dalam menekan.
"Kenapa kau tidak mati saja Richard? " gerutu Reina kesal merasa kecewa sebab tak dapat melaksanakan upacara pemakaman paling buruk untuk Si Tampan ini, sedikit sadis tapi ya itulah sifatnya. Si Tampan pun bangun dari pingsan singkatnya, "Ya maaf saja kalo aku mengecewakan mu. Jadi siapa pelayan bereng...." sebelum dia mengucapkan kata 'berengsek' dari mulutnya aku langsung menendangnya cukup keras sehingga dia pingsan kembali. "Elona!" panggil ku dengan berteriak.
"Ya ada apa Lony?" tiba-tiba dia muncul disamping ku tanpa disadari, rasanya pelayan bernama Elona ini lebih misteri dari seluruh misteri tentang dunia lain di dunia ini. "Ahem, silahkan bawa tamu 'Tampan' kita ke ruangan Nyonya" ucapku dan Elona mengangguk paham, seperti tak memiliki ide yang lebih baik Elona langsung saja menyeret Si Tampan itu hingga ruangan Reina.
"Woyah, tumben sekali memanggil ku 'Nyonya' Kak, baiklah nanti lagi ya, aku ke ruangan dulu karena ada tamu 'pingsan' menunggu ku" entah mengapa namun aku tak pernah sudi kalo dia memanggil ku kakak walau kenyataannya Reina memang lebih muda dariku, tak ada kata yang ingin aku katakan lagi, aku pun langsung saja pergi melewati pintu dimana Si Tampan tadi masuk juga sebilah pedang yang masih nyaman menancap. Bagian dalam diriku merasa lega akibat bisa lolos dari lemparan pedang tadi.
***
Suasana ruangan berubah buruk karena kedatangan tamu tak diundang di rumah miliknya, "Kau tahu kan, bahwasanya kau tidak boleh kemari lagi?," tegas Reina kesal karena Richard kembali kerumah nya tanpa izin darinya. Richard tertawa sedikit keras, "Kenapa? Apa kau takut ketahuan oleh pelayan baru mu tadi?," tanya Richard menyinggung soal Lony, seorang pemuda gelandangan yang tiba-tiba naik status menjadi pelayan meski mendapat gelar kurang sajar dari Nyonya nya, Reina.
"Itu urusan ku dengannya bukan urusan mu dasar penjilat!," teriak Reina berusaha untuk membuat Richard tak nyaman agar bisa cepat angkat kaki dari rumah miliknya. Richard menghela nafas cukup berat, "Cepat atau lambat Reina, cepat atau lambat" ucapnya tenang, "kalau begitu aku permisi" sambungnya kemudian berdiri menuju pintu,"kau tahu kan? Bahwa sekawanan kelinci kadang mengorbankan temannya," sambungnya sembari tersenyum puas sebelum akhirnya menghilang ditelan pintu. "Diam! Cepat pergi dari sini!" teriak Reina penuh amarah.
Elona berusaha menenangkan majikannya kala tamu sudah pergi, "Apa Lony bisa menyelesaikan semua ini Elona?" tanya Reina ragu. Elona tersenyum kemudian memijat pundak Reina "Lony pernah bilang kepadaku, 'ada seorang penulis dari Jepang yang hobi bunuh diri namun sering sekali gagal meski pada akhirnya mati juga, dia adalah Osamu Dazai didalam bukunya ia berkata 'Semakin tidak bertanggung jawab dan licik, semakin besar kemungkinan seseorang memiliki bakat untuk mendongeng' tanpa ku jelaskan lagi, kau tahu kan artinya' kemudian Lony pergi menuju dapur" tutur Elona untuk menjawab keraguan Reina. Reina tersenyum kecil, "Terkadang pembaca seperti dia adalah seseorang yang tenang akibat dari buku yang telah dibacanya" ucap Reina kala merasa tenang. Elona mengangguk dan tersenyum mengikuti suasana hati majikannya.
***
Dari buku berjudul Matahari Tenggelam karangan Osamu Dazai, dia berkata dalam bukunya "Dunia, bagaimanapun, masih merupakan tempat horor tanpa dasar" cukup lama hidup, aku akhirnya bisa memahami apa yang dituliskannya. Sekalipun aku menguak berbagai masalah atau misteri yang ada di dunia pasti akan melahirkan pertanyaan baru lagi dan itu adalah sebuah misteri tak terpecahkan.
"Baiklah, kita sudah sampai Tuan" ucap sopir taksi tua dengan bijaksana yang mengagetkan ku, aku mengeluarkan beberapa poundsterling untuk membayarnya kemudian keluar menuju tempat dimana pembunuhan terjadi. Hah, gedung yang suram dengan segala kehidupan didalamnya. Lantas aku kembali melangkahkan kaki ku menuju lantai 3 kamar nomor 23.
Dalam pikiran ku sering terulang sebuah pertanyaan apakah masyarakat itu selain indivualis?—tak tahu, seperti itu akan menjadi misteri. Gema suara sepatu menemani telingaku ketika menaiki tangga menuju lantai tiga, suasana suram dibalut seperti jejak sisa pembunuhan penuh akan nafsu juga sedikit dendam.
"Anda pasti Tuan Lony kan?" seseorang menyambut ku hangat juga sopan, seorang polisi sedikit berkumis dan juga berbau alkohol dari mulutnya itu, ya, sesopannya orang pasti ada jejak kurang ajar yang tersimpan. "Senang bertemu dengan anda, kata Nyonya saya, saya harus membantu penyelidikan ini meski bukan bidang kami " aku berusaha basa-basi agar tak canggung.
Ketika aku masuk kamar lokasi pembunuhan, diatas tempat tidur ada orang aneh selain Si Tampan tadi siang. Aku berhenti melangkahkan kaki ku, "Siapa orang itu? Duduk dengan memegang kipas" pemandangan seperti ini adalah bukanlah hal wajar disini. "Biarkan saja dia, dia sedikit aneh tapi memang banyak memecahkan kasus. Terpenting dia adik dari Sherlock Holmes, baiklah silahkan amati saja apa yang ada disini dan jika menemukan sesuatu atau mendapat petunjuk silahkan diskusikan dengan Nyonya 'aneh' disebelah sana " jelas nya singkat, lalu kemudian pergi meninggalkan kami berdua di sebuah kamar penuh noda darah juga atsmosfer sejuk karena jendela terbuka. Lantas aku menarik satu kesimpulan sangat singkat, kasus aneh dengan penyelidik tak kalah aneh.
Pikiran ku hanya berisi sebuah makanan juga kasur nyaman, tanpa berdiskusi terlebih dahulu aku pun langsung saja menutup jendela yang telah terbuka. Ditengah-tengah suasana sunyi, "Pintar sekali kamu pelayan muda, rasanya kita bisa menjadi satu rekan untuk kasus ini" aku menghela nafas. "Lantas, apa yang telah anda dapat Nyonya Holmes?" tanya ku tanpa memandangnya sedikit pun.
"Jangan terlalu formal, panggil saja Enola" ucapnya santai, seorang wanita lebih tua dariku memakai gaun merah mencolok dan membawa kipas berbulu ditangannya. "Ya mana bisa, anda lebih tua dariku, terlebih kenapa perempuan seperti anda bergelut di kasus seperti ini dan bukan nya keluarga Holmes tidak ikut campur? Lebih aneh lagi nama anda sangat mirip dengan pelayan perempuan di tempat ku" tanya ku sembari memeriksa dari langit-langit sampai lantai berbahan kayu terbaik di negara ini sebagai usaha untuk mencari sesuatu yang bisa aku pecahkan atau mengarahkan ku kepada petunjuk hari ini.
"Aku masih dua puluh empat tahun, tidak setua yang kau bayangkan dan aku tak membantu mengurusi kasus membosankan seperti itu"elaknya lihai lalu mendekati ku dengan santainya. "Jadi kamu sudah mendapatkan petunjuk?" tanya ku sembari berusaha menjaga jarak darinya, aku berusaha menyibukan diriku dengan mencari dan memeriksa kesana-kemari.
"Ayolah jangan menjauh terus seperti itu, apa kau membenci ku?" tanya nya dengan nada amat mengoda nafsu seorang lelaki perjaka seperti ku, terlebih aku tak punya pengalaman kencan sama sekali. Dan lagi pula tak ada untungnya bila aku merespon godaan darinya, juga tak ada niatan untuk menerima godaanya.
Enola lantas menarik kerah bajuku dari belakang kemudian melemparku, inilah alasannya aku tak suka berkumpul dengan siapaun karena pasti ada orang aneh tak jelas berbuat sesuka hati mereka, dan juga kenapa wanita satu ini kuat sekali. Lantas aku melihat wajahnya, ternyata memang benar dia masih muda juga cantik. Aku pun lebih memilih berdiri dan bicara dengannya baik-baik "Jadi? Apa ada kesalahan sampai-sampai kau melempar ku seperti sampah" gerutu ku kesal terhadap adik detektif terkenal negara ini. Enola mendekatkan wajahnya kepadaku, "Tidak ada tapi rasanya kamu sudah menyadari sesuatu kan?" tanyanya singkat.
Sebuah helaan nafas berat keluar dari ku "Ya, lantai itu aromanya sangat tidak sinkron sama sekali. kala sekitar sedikit berbau amis karena darah tapi lantai dimana mayat itu ditemukan walau samar sedikit seperti bau cat" jelas ku dengan memandang sumber bau tak wajar itu, dan Enola pun mengacungkan jempol kepada ku dengan rasa semangat tinggi. Biarlah, sedari dulu pendahulunya juga sedikit punya penyakit syaraf. "Aku sedari tadi berpikir, bagaimana ceritanya bisa ada bau cat disana" Enola kembali duduk diatas kasur milik korban pembunuhan, walau sudah mati dan tempatnya menjadi tempat penyelidikan setidaknya hargailah sedikit.
"Haaaa..... Itu mudah hanya ada beberapa pilihan opsi tergantung mana yang lebih masuk akal" jawab ku singkat setelah menguap yang membuat pikiran ku sedikit lebih tenang dan rileks. Enola sontak menoleh ke arah ku, "Hah? Kamu paham?" itu adalah kata pertama yang diucapkannya penuh dengan keraguan.
Bagi ku ada kemungkinan sederhana, entah bagaimana dengan mu selaku saudara atau adik dari detektif terpintar di Negara ini. "Ya pertama memang pelaku ingin menghilangkan jejaknya, kedua memang orang yang tinggal dibawahnya mengecat ulang langit-langitnya karena risih dengan bau amis dari tempat ini karena tadi aku melihat ada beberapa kaleng cat tepat di depan pintu kamar bawah ini" jelas ku singkat dan menunjuk arah bawah, mata Enola seketika berbinar menghadap ke arahku, "sudahlah jangan memasang ekspresi 'kau hebat sekali', aku tak sehebat seperti pandangan mu sekarang ini, aku hanya... melakukan sesuatu yang bisa aku lakukan" tanpa sadar, aku hampir mencertiakan masa lalu ku kepada orang lain. Jauh dari harapan ku, Enola langsung memasang wajah yang mengatakan 'aku benci seorang pembohong' mungkin seperti itu.
Enola mendekati ku yang sedang menikmati pemandangan dari lantai tiga gedung suram ini "Apa maksud dari jeda tadi?" desaknya dengan sedikit menekan amarahnya. Dasar merepotkan pikirku.
Aku pun berjalan menjauhinya, dan mengambil sebilah besi tajam yang biasa digunakan untuk memasukan atau menata kayu di perapian, meski sekilas aku membacanya ditangga, ada aturan bahwa setiap penghuni berkewajiban untuk menyalakan dan menjaga api secara bergantian bila musim dingin tiba.
Dalam pikiran aku berusaha mencari sesuatu yang diluar akal kebanyakan orang supaya mendapat sebuah petunjuk dan mengakhiri drama pembunuhan ini. Tak perlu pikir panjang lagi, aku pun langsung menghancurkan lantai, tepat di mana tubuh sang korban sebelumnya terbaring lemas menunggu ajal karena kehabisan darah.
"Dasar kenapa harus di sini, jadi ini kayu baru?" bunyi tadi mengundang beberapa orang berjaga didepan pintu masuk ke dalam. "Ada apa ribut-ribut? Kenapa lantainya bisa hancur begitu!" teriak polisi pada saat masuk, dia sebelumnya yang menyambutku, ternyata dia punya sisi tegas juga panik ternyata.
Lantas daripada menceritakannya aku mengangkat sepucuk surat dari lubang tersebut, "Ini adalah kayu yang baru dipasang, kalau tak salah ini mayatnya ditemukan setelah penyewa kamar dibawah ini melihat darah berjatuhan dari langit-langitnya kan? Jadi kemungkinan besar si pelaku punya banyak waktu untuk mengganti kayu nya juga, karena bisa sampai kamar bawah maka si pelaku memperkirakan sang penyewa kamar akan mengecat ulang langit-langitnya dan itu bisa menyebunyikan sepucuk surat ini" hasil analisis dadakan langsung aku paparkan kepada mereka sesingkat-singkatnya. "Buka dan bacalah, karena kamu yang menemukannya" perintah Enola, perasaan ku dibuat, kemana sifat kekanak-kanakan mu tadi? Perempuan memang sulit untuk dimengerti.
Cukup aneh jika ditusuk menggunakan pipa besi yang diruncingkan sampai tembus tapi lantainya tetap baik-baik saja tanpa ada goresan sedikit pun.
Aku membaca sekilas surat itu, dan entah mengapa rasanya aku sangat kesal dengan isi dari surat ini terlebih ada pertanda Tampan di pojok bawa surat tersebut, dilihat dari tulisannya rasanya aku tahu siapa 'Si Tampan' disini. Aku menghela nafas dan memberikan surat itu kepada Enola,"Permisi aku ada urusan sebentar yang harus aku selesaikan, jadi kalian uruslah dulu ini" ucap ku dengan tergesa-gesa ingin segera pergi untuk mastikan sesuatu.
Sebelum keluar secara sempurna dari kamar ini, tangan ku ditahan oleh polisi yang sama. "Jelaskan apa yang terjadi, padahal kamu masih dalam perjanjian untuk menyelesaikan ini" aku tersenyum sinis dan menarik paksa tangan yang ditahannya. Dengan penuh rasa kesal aku memandang polisi tersebut, "Jangan ikut campur dengan urusan ku, bila aku tak sempat maka... semua...akan hilang dari genggaman ku. Tak akan kubiarkan semua ini terulang lagi, juga aku tak peduli dengan perjanjian itu, permisi" tegas ku kepada semua orang yang ada dikamar itu, kemudian tangan ku meraih gagang pintu.
"Hey pelayan muda!" kaki juga tangan terhenti kala Enola memanggil, "bagaimanapun juga tidak ada orang yang menerima takdir bukan? Terlebih takdir buatan dari orang lain. Berjuanglah" aku melambaikan tangan ku tanpa menatapnya kemudian keluar dari kamar tersebut.