
"Kita nongkorong yuk gaes?" Ucap Jessen kepada ke empat temanna saat bel pulang telah dibunyikan.
"Jangan dirumah gue lagi ya, stok makanan gue menipis gara-gara kalian." Kata Gio dengan wajah kesalnya. Tiga hari yang lalu Dave, Arkan dan Jessen memang datang kerumahnya dan langsung membuka kulkas yang ada di kamarnya hingga stok snacknya menipis.
"Kalo ga dirumah lo dirumah siapa jadinya? Jangan dirumah gue, ntar kalian godain pembantu gue yang semok itu." Kata Dave menimpali, dirumah Dave memang terdapat seorang asisten rumah tangga yang masih muda, dan
bisa dibilang lumayan cantik.
Gio, Jessen dan Dave tersenyum penuh arti lalu melirik ke arah Arkan yang masih sibuk mengemasi buku-buku miliknya.
"Kita bertiga nongkrong dirumah lo ya!" Kata Jessen bersemangat sambil menatap ke arah Arkan.
Arkan yang tengah mengemasi buku pun menghentikan kegiatanya dan melihat ke arah teman-temannya. "Ga usah deh ya, kalian nanti ngancurin rumah gue." Kata Arkan datar.
Gio maju satu langkah mendekat ke arah Arkan sambil tersenyum lebar. "Janji dah kita ga akan ngerusak rumah lo." Ucap Gio sambil menaik turunkan alisnya. "Boleh ya? Arkan kan gantengg." Lanjut Gio yang membuat Jessen dan Dave tertawa kecil.
Arkan melirik sinis ke arah Dave sebelum dia mengatakan, "Yaudah iya."
"HOREEEEEE!" Teriak ketiga cowok itu kegirangan, Jessen melompat-lompat layaknya anak TK yang dibelikan permen.
"Yaudah yuk ah cus sekarang!" Ajak Gio lalu berjalan meninggalkan kelas diikuti oleh teman-temannya
-oOo-
Arkan menggelengkan kepalanya saat melihat teman-temannya sudah menguasai kamarnya. Di depan TV nya sudah ada Jessen dan Gio yang sedang memainkan PS miliknya tanpa meminta izin terlebih dahulu darinya, dan
Dave, lelaki itu sedang duduk di pojokan sambil memainkan handphonenya yang sedang di men-charge karena lowbat.
Arkan melangkahkan kakinya menuju tempat tidurnya lalu merebahkan dirinya disana.
"Anjir! Kalah lagi gue ah kampret" pekik Gio sambil membanting stick PS yang dipegangnya ke atas karpet. Dia memang sedang memainkan game yang didalam game itu ia melawan Jessen.
"Yaiyalah orang lawan lo udh Pro" sahut Jessen dengan cengiran khasnya.
"Arkan, laper nih yang, minta makanan dongggg...." ucap Gio sambil melangkahkan kakinya mendekati Arkan yang sedang berbaring dikasur.
"Iya nih laper, perut gue udah demo." Sahut Jessen yang juga menyusuli Arkan di atas kasur.
Arkan bangun dari kasurnya lalu mengacak pelan rambutnya. "Ah nyusahin lo pada".
Arkan yang sudah berdiri di depan kamar tidurnya memperhatikan teman-temannya yang masih sibuk sendiri dengan kegiatannya. "Ini pada mau makan ga sih? Ayo buruan ke ruang makan biar nanti minta masakin si bibi."
Jessen dan Gio melompat-lompat di kasur. "Yeayyy dapet makan gratis choyyyyy." Teriak Jessen dan Gio dengan wajah yang berseri-seri. Arkan hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah kedua temannya itu. Arkan mengalihkan pandangannya kepada Dave yang masih fokus dengan handphone ditangannya. "Dave, lu mau makan ga?" Teriak Arkan yang hanya dibalas Dave dengan anggukan kepalanya.
"Dave mah emang gitu, kalo lagi chatingan sama Tiwi suka ga inget dunia." Sindir Jassen yang langsung membuat Dave meletakkan handphonenya di atas kursi yang ada di sampingnya.
"Ya namanya juga bucin!" Sahut Gio sambil tertawa pelan. Dave hanya tersenyum menanggapi candaan teman-temannya lalu ia kembali mengambil handphonenya dan menyusuli teman-temannya yang sudah menuju ruang makan.
-oOo-
"Dave, udah ah jangan main hp mulu, ini makanan jangan di anggurin." Tegur Arkan kala makanan sudah siap di meja makan.
"Iya Dave, lu jangan chat-an mulu lah orang kita lagi ngumpul juga." Sahut Jessen yang di setujui oleh Gio dengan anggukan kepalanya.
Dave yang ditegur hanya tersenyum simpul lalu meletakkan handphonenya diatas meja. "Maaf deh, jangan baperan lu pada."
Arkan menggelengkan kepalanya melihat tingkah teman-temannya ini. "Udah ah lo pada, mending makan daripada ribut gini, katanya laper." Ucap Arkan berusaha menetralkan keadaan.
Jessen mengangguk pelan setuju dengan perkataan Arkan. Jessen mengalihkan pandangannya ke Gio yang sudah mengambil potongan ayam keduanya. "Ini si kambing kok makan duluan sih kamprettt" ucap Jessen kesal.
Sedangkan yang dimarahi hanya tersenyum-senyum tidak jelas.
"Udahlah Sen makan aja lah, lo ngomel mulu dari tadi kaya ibu kos-kosan yang belum di bayar uang kosnya." Sahut Dave sambil menyuapkan nasi kedalam mulutnya.
"Kampret lo." Sahut Jessen dan mulai memakan makanannya.
Mereka memakan makanannya dengan hening tak ada yang bersuara hingga suara yang Gio memecah keheningan.
"Arkan, gue boleh minta masakin mie goreng gak?" Mendengar perkataan Gio teman-temannya menggelengkan kepala takjub. Gio sudah menghabisi 2 potong ayam, 1 potong ikan nila, dan tahu tempe masing-masing 2 potong, dan sekarang ia ingin memakan mie lagi? Terbuat dari apa ya perutnya? Karet mungkin...
Arkan mengembuskan nafasnya pasrah. "Yaudah minta masakin ke bibi sana." Ucap Arkan yang disambut oleh pekikan dari Gio. "MAKASIH YA ARKAN SAYANGNYA ACUUUUUUU." Ucap Gio sambil mengedip-ngedipkan kedua matanya. Ketiga temannya hanya memasang wajah jijik, mengapa mereka bisa berteman dengan orang seperti ini ya?
Handphone Dave berkedip tanda ada pesan masuk. Dave langsung mengecek handphonenya dan terdapat pesan dari Tiwi disana.
Tiwi: kamu kemana sih? Ngilang 10 menit. Aku marah loh Dave!!!!!
Dave memukul kepalanya pelan. Shit! dia lupa bilang pada Tiwi jika ia ingin makan sebentar pasti Tiwi akan
ngambek padanya sekarang. Dave buru-buru mencari kontak Tiwi dan menelponnya. Begitu mendengar suara telpon telah terhubung pada Tiwi, Dave langsung melangkahkan kakinya menjauh dari meja makan dan meminta maaf kepada gadis itu.
Jessen mengarahkan pandangannya kepada Dave. "Ngapa lagi tuh Anak?" Ucap Jessen pada Gio yang juga sedang memandangi Dave.
"Palingan nelponin cewenya yang ngambek, setiap kita ngumpul cewenya pasti ngambek entah apa yang di ngambekin gue juga kaga tau." Sahut Gio dan Arkan mengangguk setuju.
Lalu ketiganya sama-sama mengucapkan sebuah kata. "BUCIN!" Lalu tertawa pelan.
"Eh eh gue ada pantun nih buat orang yang bucin" ucap Gio sambil berdiri diatas kursi makan, seakan-akan kursi itu adalah panggungnya. Arkan dan Jessen hanya menatap Gio dengan tatapan bingung sedangkan Dave yang sudah selesai dengan pembicaraan-nya dengan Tiwi lewat telepon hanya menatap Gio dengan tatapan -lagi-ngapain-lo?-.
"Burung terbang di waktu senja" kata Gio memulai pantunnya.
"AZEKKKKK" sahut Arkan dan Jessen bersamaan.
"Mencari mangsa ditepi kali" lanjut Gio dengan wajah yang di dramatisir kan.
"LANJUTT MANGGGG"
"Kalau sedang dilanda cinta" kali ini Gio mengucapkannya sambil memandang Dave dengan senyum yang jenaka.
Dave hanya menatap Gio bingung, ia tak tau apa yang sedang dilakukan temannya ini. Memang yang paling aneh
diantara mereka berempat adalah Gio, lelaki yang satu ini sepertinya tempat lahirnya bukan di bumi. Di Wakanda mungkin?
"Tai buaya disangka roti" Secara serempak Jessen dan Arkan menyemburkan tawanya, Dave yang sadar bahwa pantun itu untuk dirinya langsung menghampiri Gio yang masih berdiri diatas kursi lalu menendang kursi itu hingga Gio terjatuh.
"Aduh mamangggg pantat gue sakit bangettt berasa lagi ditabok pake sarung tangan Thanos." Spontan Gio saat ia sudah terduduk di atas lantai.
"Ga sekalian di belai sama Thanos aja tuh pantat lo Gi?" Celetuk Jessen yang membuat suasana makin ramai dengan tawa dari mereka bertiga sedangkan Gio, hanya mengusap-usap pantatnya yang mulai ngenyut sambil beristighar karena pikirannya mulai terbayang kala Thanos membelai pantatnya dengan lembut.