Regret

Regret
[1] Tiwi & Dave



"Ampun sayanggg, lepasin dong jewerannya. Sakit tau!" Pinta Dave pada Tiwi yang masih menjewernya dan menyeretnya ke taman belakang sekolah.


Taman belakang sekolah adalah tempat favorit mereka disekolah ini, taman itu memang jarang didatangi para siswa dan siswi karena taman itu angker. Hanya Dave dan Tiwi yang memang sering kesana bila jam istirahat atau pada saat-saat Tiwi ingin menghukumk Dave seperti saat ini.


"Ga ada ampun-ampunan." Ucap Tiwi sinis.


Dave menghembuskan nafasnya kasar, telinganya mulai terasa pedih sekarang. Sesampainya ditaman belakang sekolah Tiwi langsung melepaskan jewerannya dari telinga Dave.


"Alhamdulillah yaallah, untung telinga Dave yang mulus ini ga lepas." Ucap Dave dramatis sambil memasang wajah bahagia.


Lalu Tiwi maju selangkah mendekat kearah Dave dan mencubit kecil pinggang Dave hingga membuat lelaki itu meringis kesakitan. "Arghhh, ampun yang,  ampunnn!" Ucap Dave merintih.


"Sakit ya sayang?" Ucap Tiwi.


Dave hanya diam ia tau disaat seperti ini jika ia menjawab ucapan Tiwi, Tiwi akan berbuat lebih sadis kepadanya.


Tiwi yang melihat wajah Dave memerah langsung melepaskan cubitannya dari pinggang lelaki itu. Dave memang sering Tiwi cubit pinggangnya, karena kelemahan lelaki itu ada dipinggangnya.


Dave menarik nafasnya panjang lalu menghembuskannya. "Kamu kenapa sih?" Tanya Dave bingung.


Tiwi berdecih. "Lo gatel banget sih suka tebar pesona sama cewe cewe."


"Astagfirullah salah lagi baim yaa allah...." ucap Dave drama yang semakin membuat Tiwi kesal.


"Lo tuh ya jadi cowo drama banget! Makanya jangan suka nonton drama korea, cowo kok suka nonton drama." Ujar Tiwi yang kesal dengan kelakuan pacarnya ini. Dave memang sangat menyukai drama korea, terkadang dihari minggu mereka berdua menghabiskan waktu untuk marathon drama korea, Tiwi sebenarnya tak suka dengan film menye-menye seperti itu. Tapi Dave selalu meminta Tiwi untuk menemaninya menonton drama korea.


"Dih drakor itu cocok buat cewe atau cowo. Apalagi cewe-cewe korea cantik, seksi lagi ya wajar kalo aku suka nonton drama korea." Ceplos Dave yang tak terima atas ucapan Tiwi.


Tiwi kembali maju selangkah mendekat kearah Dave sambil menyunggingkan senyum khasnya. "Ohh cewe cewe korea cantik ya? Trus seksi?" Ucap Tiwi dengan penekanan disetiap katanya.


Dave menutup mulutnya dengan kedua tangannya, ia tau bahwa ia salah jika memuji cewe lain di hadapan Tiwi.


"Kamu lebih cantik kok." Ucap Dave berusaha menenangkan Tiwi dari amarahnya.


Tiwi maju selangkah lagi hingga jarak mereka berdua hanya 5cm. "Ah masa?"


Dave mengangkat kedua jarinya membentuk 'V' . "Suer dah yang! Kamu lebih cantikk."


Tiwi tersenyum membuat Dave menghembuskan nafasnya lega.


"LO PUSH-UP 50 KALI SEKARANG!" Teriak Tiwi tepat didepan wajah Dave hingga lelaki itu latah karena terkejut.


"MAMANG, AMPUN MANG!" Latah Dave yang terkejut karena teriakan Tiwi.


Bibir Tiwi berkedut menahan tawa saat ia melihat Dave terkejut karenanya. "Udah ah cepetan, push-up 50 kali." Perintah Tiwi pada Dave.


"Lah kenapa aku disuruh push-up sih? Aku kan ga ada salah."


"Dave sayang, kamu udah ngelakuin tiga kesalahan pagi ini. Pertama kamu gatel sama cewe yang tadi dikoridor dan Kedua kamu udah bohong sama aku karena kamu bilang aku lebih cantik dari cewe korea, Bayi yang baru melek aja tau kalau cewe korea itu 1000 kali jauh lebih cantik dari aku. Dan yang ketiga kamu muji cewe lain didepan aku, sekalipun itu orang korea kan dia tetep cewe." Kata Tiwi dengan nada yang lembut tetapi membuat bulu kuduk Dave merinding.


"My honney bunny sweetty, maafin aku yah Tiwi. Aku kan pacar kamu, masa kamu tega nyuruh aku push-up nanti kegantengan ku yang mengalahi Song jong ki ini luntur."


Tiwi menjitak kepala Dave dengan cukup kuat. "Pala lo, muka lo di bandingin sama Sule aja masih gantengan Sule. Gimana mau ngalahin Song jong ki? Mimpi." Ujar Tiwi kesal.


"Astagfirullah, teganya dirimu kepadaku wahai Tiwi.." ucap Dave yang menirukan suara dangdut, membuat Tiwi bergidik jijik.


"Push-up sekarang atau gue tambah jadi 100 kali?" Ancam Tiwi yang sudah duduk dibangku taman, dan Dave langsung tengkurap di tanah lalu langsung melakukan push-up.


"Lo jangan coba-coba kibulin gue deh, lo push-up baru 27 kali, lanjutin push-up lo sekarang!" Perintah Tiwi dan Dave langsung melanjutkan push-upnya.


"47,48,49,50." Hitung Dave disela sela Push-up nya. Begitu ia sampai di push-upnya yang kelima puluh, Dave langsung menjatuhkan tubuhnya ke tanah. "Capee gue." Lirih Dave lalu mengubah posisinya menjadi telentang berbaring ditanah.


Tiwi tersenyum saat melihat kekasihnya berbaring ditanah ia tau kekasihnya pasti sangat kelelahan saat ini. "Lo tunggu sini dulu ya," ucap Tiwi bangkit dari duduknya dan meninggalkan Dave yang sudah terbaring ditanah.


Dave mengatur nafasnya yang mulai terengah-engah karena push-up yang dilakukannya tadi. Dave memejamkan matanya karena ia sangat lelah sekarang. Tiwi, gadis itu selalu banyak cara untuk menghukumnya bila ia berbuat salah.


"Untung gue sayang, kalo gak udah gue lempar ke sungai amazon tuh anak." Racau Dave dengan mata yang terpejam. Lalu Dave merasakan benda dingin menyentuh keningnya.


"Oh, kamu mau lempar aku ke sungai amazon ya sayang?" Ucap Tiwi sambil menaruh sebotol minuman dingin di kening Dave.


Dave membuka matanya perlahan. "Eh sayang, kok udah disini lagi sih?" Ucap Dave sambil mengubah posisinya menjadi duduk dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Gue tadi kekantin beliin minuman buat lo, eh taunya lo disini lagi ngatain gue." Kata Tiwi datar.


Dave tersenyum cengengesan. "Engga gitu sayangkuuu, tadi aku lagi ngigo aja."


Tiwi menggelengkan kepalanya saat mendegar ucapan Dave yang sangat tidak masuk akal. Ngigo?Lah emang tadi dia tidur? Satu kata yang dapat menggambarkan sifat kekasihnya ini. Aneh.


"Yaudah minum dulu, gue tau lo haus." Ucap Tiwi sambil melempar satu botol minuman dingin pada Dave yang disambut senang oleh lelaki itu.


"Aduh tau aja nih pacar gue kalo sekarang gue lagi haus." Kata Dave lalu ia meneguk minuman sampai habis.


"Gila langsung habis." Ucap Tiwi takjub.


"Aku haus banget, kamu sih hukum aku push-up segala."


"Kan biar kamu jera."


"Tapi ga gitu juga kali."


"Ya maaf." Ucap Tiwi pelan tapi masih dapat didengar oleh Dave.


Dave langsung mencubit kedua pipi Tiwi dengan pelan. "Aduh gemes banget sih kamuu! Minta maaf aja pake malu-malu segala." Ucap Dave.


"Ga malu kok."


"Tapi kenapa pelan banget gitu ngomong maafnya?" Ucap Dave yang membuat Tiwi kehilangan alasan untuk menjawab ucapan lelaki itu.


"Ih kamu mah." Kata Tiwi sambil meninju pelan perut Dave yang membuat Dave tertawa kecil.


"Tiw?" Panggil Dave.


"Apa?"


"Tau gak?" Ucap Dave.


"Ya mana gue tau, lo kan kagak ngasih tau." Kata Tiwi kesal.


"Yaudah aku kasih tau. Dengerin yah." Ucap Dave. "Aku sayang kamu." Lanjut Dave sambil mengelus pelan puncak kepala Tiwi.


"TAPI BOONG" sambung dave dan langsung berlari meninggalkan Tiwi yang menatapnya murka.