
"Kamu itu yah, bosen ibu ngelihat kamu terus yang buat masalah." Omel bu Tika, guru bina konseling disekolahnya.
"Yaudah sih bu gausah diliat biar ga bosen, kam gampang." Jawab Dave santai.
Bu Tika menggelengkan kepalanya saat mendengar ucapan Dave yang begitu santai menurutnya. "Semoga aja
anak saya nanti pas lahir ga kaya kamu sifatnya, bikin pala saya puyeng." Ucap Bu Tika sambil mengusap perutnya yang sudah mulai membesar itu, kira-kira usia kandungan bu Tika sudah memasuki waktu 7 bulan.
"Ya gapapa dong kalo kayak saya, saya kan ganteng." Kata Dave PD sambil menurun-naikkan kedua alisnya.
Bu Tika hanya melirik Dave sinis. "Yasudah kembali ke topik awal, kamu kenapa tidur di pelajaran pak Joseph?" Tanya Bu Tika mulai mengintrogasi.
"Jawabannya hanya satu, saya ngantuk."
"Astagfirullah, sabar Tika sabar..." kata bu Tika sambil mengelus dadanya pelan. "Kamu ini dulu dikasih makan apa sih kok sifat mu kayak gini?"
"Ya makan nasi lah bu, masa makan beras."
"Lah, beras kan juga nasi?" Ucap Bu Tika bingung.
Dave menggelengkan kepalanya. "Bukan lah. Beras itu masih mentah, kalo nasi itu udah mateng. Gitu bu, ngerti ga?" Tanya Dave seakan-akan sedang mengajari muridnya.
Dan Bu Tika yang memang mengerti akan penjelasan Dave menanggukkan kepalanya. "Ngerti.." jawab Bu Tika polos.
Dave menahan tawanya saat melihat Bu Tika mengikuti ucapannya. Seakan tersadar akan kesalahannya Bu Tika langsung merubah wajahnya menjadi tegas kembali. "Nama kamu saya masukan kedalam daftar siswa yang akan di skors karena daftar masalah yang kamu buat sudah sangat banyak. Jika kamu berbuat satu masalah lagi, maka kamu akan di skors." Kata Bu Tika tegas.
Dave langsung bangkit dari duduknya. "Siap Buk!" Ucap lelaki itu lalu Dave memberikan hormat kepada Bu Tika layaknya upacara bendera.
"Wong edan.." ucap Bu Tika sambil menggelengkan kepalanya.
"Yaudah kalau gitu saya permisi ya buk?" Pamit Dave sopan.
Bu Tika mengangguk. "Iya. jangan buat masalah lagi, cape saya ngurusin kamu terus."
"Ya jangan di urusin lagian saya kan bukan anak ibu." Kata Dave sambil tertawa kecil lalu ia pergi meninggalkan ruang BK itu dengan berjalan secepat mungkin.p
Dave melihat jam tangannya, masih pukul 09.00 sebentar lagi bel sekolah berbunyi yang menandakan jam istirahat.
Dave sangat tidak mood untuk masuk kekelas sekarang, jadilah ia melangkahkan kakinya kekantin sekolah untuk membeli minuman.
Ketika sudah sampai dikantin Dave langsung membeli sebotol air minum dingin lalu ia pergi meninggalkan kantin dan menuju ke taman belakang sekolah. Dave memang sangat jarang pergi kekantin pada saat jam istirahat, dia benci keramaian, maka dari itu Ia dan Tiwi selalu menghabiskan jam istirahat di taman belakang sekolah.
Sesampainya ditaman itu, Dave langsung duduk disebuah bangku berwarna putih tempat andalannya, lalu Dave mengirimkan pesan kepada Tiwi.
Dave: Tiwi, aku udah ditaman biasa yah. Kamu susulin aja aku disini.
Bel sekolahnya berbunyi nyaring menandakan istirahat bertepatan dengan Dave mengirim pesan pada Tiwi.
Tak lama kemudian masuklah balasan pesan dari Tiwi untuknya.
Pertiwi: hmmm.
Dave tersenyum kecil saat membaca pesan dari Tiwi, kekasihnya itu memang sangat suka jika membalas pesan dengan singkat tapi kadang cewe itu juga bisa membalas pesan Dave sepanjang pidato. Disaat Dave tengah memainkan Handphonenya Tiwi datang dan langsung duduk disebelahnya, menyadari itu Dave langsung memasukkan handphonenya kedalam saku seragamnya.
"Kamu udah makan?" Tanya Dave pada Tiwi.
Tiwi menangguk . "Udah tadi sebelum kesini beli roti." Lalu gadis itu menyodorkan suatu kotak bekal pada Dave.
"Ambil nih, gue tadi pagi buatin lo bekel."
Dave menerima kotak bekal itu dengan senyum. "Tumben. Ga lo kasi racun kan?" Tanya Dave menggoda Tiwi.
"Gue kasi sianida dikit"
"Yah mati dong gue."
"Bagus dong kalo gitu."
"Idih. Yaudah sih makan dulu cepetan." Kata Tiwi membuat Dave langsung membuka kotak bekal yang berisi nasi goreng itu dan mulai mencicipinya.
"Enak." Kata Dave mengomentari nasi goreng buatan tiwi. Lalu Dave menyendokkan nasi goreng itu dan ia suapkan pada Tiwi. "Kamu juga harus makan." Kata Dave sambil menyuapi Tiwi.
Tiwi mengunyah nasi goreng buatannya dengan rasa bangga, benar kata Dave, nasi goreng buatannya enak.
Lalu Dave mulai memakan nasi goreng itu dengan lahap hingga tidak tersisa, lalu ia meneguk minuman yang ia beli tadi dikantin.
"Jadi gimana tadi pas di BK?" Tanya Tiwi membuka pembicaraan saat ia melihat Dave sudah menghabiskan makanannya.
"Ya gitu." Jawab Dave sekenanya.
"Gitu gimana?"
"Katanya gue ga boleh buat masalah lagi atau gak gue bakalan di skors." Kata Dave santai.
Tiwi tertawa kecil. "Ya mana mempan ancam skors ke elo. Elo mah malahan suka di skors."
"Iya emang." Kata Dave menimpali ucapan Tiwi, lalu ia juga ikut tertawa.
"Mungkin kalo di ancam dikeluarin dari sekolah baru mempan." Kata Tiwi.
Dave menggeleng. "Ya kagak juga sih, gue mana mungkin dikeluarin dari sekolah ini."
Tiwi berdecih, mengapa ia harus mempunyai kekasih yang sangat percaya diri?. "Emang lo pikir ini sekolah punya bokap lo? Ya bisa aja lo dikeluarin bego. Ini bukan novel yang bercerita tentang badboy yang bisa bersikap sesukanya disekolah karena sekolah itu punya bokapnya atau keluarganya. Bokap lo bukan pemilik sekolah ini, Dave. Jadi jangan PD!" Kata Tiwi sinis. Ia kesal melihat tingkah kekasihnya yang sangat menjengkelkan.
"Mana mungkin sih sekolah ini mau ngeluarin anak seganteng gue? Hehe." Dave malah cengengesan disaat Tiwi sedang kesal kepadanya.
"Najis."
"Najis dimulut tapi dihati lo sebenernya menganggumi ketampanan yang gue miliki kan?"
"Yain aja dah suka suka lo. Umur ga ada yang tau." Ledek Tiwi yang membuat Dave menatap sinis ke arahnya.
"Lo kenapa sih pengen banget kayaknya liat gue mati." Kata Dave kesal.
"Bukan gitu maksud gue." Ucap Tiwi menyesal saat ia melihat Dave mulai kesal.
"Gue gasuka lo ngomong kaya gitu, daritadi bahasnya mati sama umur melulu."
Tiwi mulai resah jika Dave sudah bersikap seperti ini, artinya lelaki itu marah. "Maaf Dev, gue ga maksud gitu." Lirih Tiwi.
Bibir Dave berkedut menahan tawanya saat ia melihat Tiwi menunduk meminta maaf sambil memainkan jari-jari mungilnya. Dengan serangan cepat, ia menggelitiki leher Tiwi hingga gadis itu tertawa.
"HAHAHA! Kampret jangan kelitikin gueee!" Teriak Tiwi sambil tertawa lepas.
"Ga mau!" Kata Dave sambil terus menggelitiki leher gadis itu. Tiwi memang sangat sensitif pada lehernya, jika lehernya dipegang gadis itu akan langsung geli dan tertawa.
"DAVE PLEASE, AMPUN. UDAH AH! GUE MAU NANGIS!" Pekik Tiwi karena ia sudah tidak dapat lagi menahan kelitikan dari Dave, sudut mata gadis itu sudah berair menahan rasa geli.
Dave memberhentikan kelitikannya pada Tiwi, karena ia sudah puas mengerjai gadis itu.
"Lo kenapa sih tiba-tiba kelitikin gue , bukannya lo lagi ngambek yah?" Tanya Tiwi saat ia sudah memberhentikan tawanya.
"Ya kagak lah, masa gue ngambek. Tadi gue cuma pura-pura aja ngambeknya. Lagi pengen ngerjain lo aja." Kata Dave sambil tertawa kecil.
Tiwi memukul perut Dave dengan cukup keras hingga membuat lelaki itu meringis pelan.
"Sakit pe'a" ucap Dave sambil memegang perutnya.
"Rasain, siapa suruh lo ngerjain gue segala." Kata Tiwi yang dibalas Cengiran oleh Dave. "Maaf sayang." Kata Dave.
Jauh dilubuk hatinya, Tiwi bahagia bisa mendapatkan Dave disisinya. Walaupun kejadian setahun yang lalu masih terus menganggunya. Tiwi senang mempunyai pacar seperti Dave, ia berharap ia akan selalu seperti ini, bahagia.
Cari cowo itu yang bikin kita nangis karena bahagia, bukan karena sakit hati.