
Para Siswi heboh melihat Dave sang most wanted di SMA High Sky membuka baju seragamnya dilapangan menyisakan kaus putih yang dipakainya memperlihatkan bentuk tubuhnya yang kekar lalu berlari berlari keliling lapangan di saat cuaca sedang terik-teriknya.
Disaat berlari, Dave masih sempat-sempatnya tebar pesona kepada siswi-siswi yang melihatnya, mumpung ga ada Tiwi pikir Dave jadi dia bisa tebar pesona kepada cewe-cewe disekolahan ini tanpa harus dihukum oleh Tiwi.
Setelah selesai menyelesaikan berlari 25 putaran Dave langsung duduk ditepi lapangan dengan kaki yang ia selonjorkan. Hari ini adalah hari yang melelahkan baginya, tadi pagi ia harus Push-up 50 kali, dan sekarang dirinya harus berlari memutari lapangan 25 kali.
Lalu taklama kemudian ramai siswi yang mengelilinginya untuk memberikannya sebotol air minum.
Dave memang haus sekarang, sangat haus. Tetapi ia tak mungkin menerima minuman sebanyak itu.
"Kak Dave, aku beliin kakak minuman nih." Teriak salah satu siswi yang juga berada dalam kerumunan itu.
"Dave ambil minuman dari gue nih, gue tau lo haus." Sahut siswi yang lain.
"Jangan ambil minuman dia! Ambil minuman gue aja dave." Sahut siswi yang satu lagi sambil menatap siswi lainnya dengan sinis. Lalu siswi lainnya juga ikut berteriak agar Dave mengambil air minum yang dibelikannya.
Kepala Dave mulai berdenyut sekarang, dia pusing saat mendengar teriakan siswi-siswi itu yang terus-terusan menyahut.
Dia menutupkan matanya berharap ia bisa pergi dari tempat ini sekarang juga.
"BUBAR LO PADA! COWO GUE GA MAU AMBIL MINUMAN DARI LO SEMUA!" Teriak seseorang yang sangat Dave kenal suaranya. Dave langsung membuka matanya saat Tiwi sudah berdiri dengan tangan yang direntangkan berusaha membatasi jarak Dave dan para siswi itu. Dave tertawa kecil, Tiwi sudah seperti bodyguard nya saja.
"PERGI GAK KALIAN ATAU GUE TIMPUK PAKE BATU KALIAN SEMUA!" Teriak Tiwi sekali lagi saat siswi-siswi itu tak kunjung juga pergi menjauh dari Dave.
"HUUUU!" Teriak para siswi itu serentak pada Tiwi lalu mereka bubar.
Tiwi mendengar ada seseorang siswi yang mengatainya. "Lebay amat yah pacarnya Dave, sok ngatur Dave udah kayak emaknya Dave aja." Ucap Siswi itu pada salah satu temannya. Tiwi hanya tersenyum sinis menanggapinya ia terlalu malas untuk bekelahi saat ini.
"Kenapa lo bisa ada disini? Ini kan masih jam pelajaran. Bolos lu ya?" Tanya Dave pada Tiwi.
Tiwi menggeleng. "Kagak, tadi gue ke ruang guru nganterin tugas ke bu Jasmine trus pas gue lewat lapangan banyak cewe-cewe gitu, jadi yaudah gue samperin kesini." Jawab Tiwi sekenanya dan Dave hanya mengangguk mengerti.
Tiwi lalu mengulurkan tangannya membantu Dave yang masih duduk dilapangan agar lelaki itu berdiri. "Bangun lo, jangan duduk disini." Ucap Tiwi pada Dave.
Dave tersenyum lalu menyambut uluran tangan dari Tiwi. "Emangnya salah kalo gue duduk disini?" Tanya Dave
pada Tiwi.
"Ya salah lah. Ntar lo dikerumunin sama cewe-cewe ganjen."
"Lo cemburu?" Tanya Dave lagi. Ia sangat suka jika menggoda Tiwi seperti ini.
"Cemburu? Yakali, mimpi lo!" Sahut Tiwi.
"Apasih lo PD banget!"
"Yaudah kalo ga cemburu, gue duduk lagi aja disini biar banyak cewek yang ngehampirin gue." Ucap Dave pura-
pura ngambek lalu berjalan meninggalkan Tiwi.
Baru saja selangkah Dave berjalan, Tiwi sudah mencegah tangan lelaki itu. "Eett jangan duduk lagi. Iya gue cemburu." Kata Tiwi pelan tapi masih dapat didengar oleh Dave.
Dave tertawa kecil, Tiwi memang suka tiba-tiba menjadi gadis yang pemalu jika ia mengatakan perasaannya pada Dave. "Gitu dong dari tadi, bilang cemburu aja susah." Ledek Dave pada Tiwi yang membuat wajah gadis itu merah padam.
"Puas kan lo sekarang, dasar kambing!" Kata Tiwi yang semakin membuat Dave tertawa terbahak-bahak.
Sedangkan Tiwi hanya menunduk menyembunyikan pipinya yang sudah memerah.
"Panggilan kepada Dave Anggara Putra kelas 12 Mipa-2, harap keruang BK sekarang juga." Dave tidak terkejut ketika ia mendengar namanya dipanggil keruang BK dari suara pengeras di sekolahnya.
Tiwi menatap Dave tajam saat mendengar nama Dave diucapkan di speaker sekolahnya itu. "Lo buat masalah apa lagi sekarang?" Ucap Tiwi sinis. 'Lagi' ya, Dave memang sudah sering dipanggil ke BK karena hobby lelaki itu adalah membuat onar. Pernah Dave harus masuk BK karena lelaki itu memakai speaker milik sekolah untuk mengumumkan bahwa ia sedang berpacaran bersama Tiwi. Waktu itu mereka masih kelas 10 dan Tiwi harus dibully oleh kakak kelas yang membenci Dave. Tiwi malu sangat malu tapi itulah resiko yang harus dia tanggung saat ia sudah menerima sang pembuat onar untuk menjadi kekasihnya.
"Tadi gue ketiduran di pelajaran pak Gundul." Jawab Dave.
"Oh pantes, sekarang gue baru ngerti kenapa tadi lo lari dilapangan. Lo dihukum kan sama pak Joseph? Dan sekarang pak Joseph ngaduin sikap lo ke BK?" Ucap Tiwi.
Dave mengangguk. "Yoi mba bro."
"Hish! Kenapa sih lo buat masalah mulu?"
"Udah hobby, ga bisa diilangin." Kata Dave yang membuat Tiwi ingin menamparnya hingga lelaki itu terpental ke segitiga bermuda. "Yaudah gue ke BK dulu, kasian guru BK nya udah kangen sama gue." Lanjut Dave.
"Gue ikut ya?" Ucap Tiwi.
"Ga." Ucap Dave sambil menatap Tiwi. "Lo masuk aja kekelas lo sana, belajar biar pinter."
"Ih Dave, gue mau ikut!" Pinta Tiwi yang tetap kekeuh untuk ikut kekasihnya ke ruang BK.
Dave menggeleng. "Udah ga usah, balik kekelas gih sana belajar yang bener. Gue gamau kalo ibu dari anak-anak
gue nantinya bego." Ledek Dave pada Tiwi lalu meninggalkan gadis itu yang menatapnya kesal.
"Ngeselin banget sih, untung gue sayang." Kata Tiwi sambil melihat punggung Dave yang mulai menjauh lalu ia berjalan berbalik arah dan mulai melangkahkan kakinya menuju kekelasnya.