
"Bro, lo ga kenapa-kenapa kan?" Kata Gio panik saat melihat Dave memasuki kelas. 10 menit lagi pembelajaran akan dimulai dan Dave memutuskan untuk menyudahi acara pacarannya bersama Tiwi karena dia dan Tiwi harus masuk kedalam kelas masing-masing.
Dave dan Tiwi memang beda kelas. Dave anak IPS dan kelas lelaki itu adalah iis-2. Tiwi adalah anak dari jurusan IPA kelas Tiwi adalah MIPA-3.
"Baik-baik aja kok. Lo kira Tiwi bakalan bunuh gue apa?" Ucap Dave sinis.
"Yeee kagak sih, tapi gue sebagai teman yang baik kan khawatir sama keadaan lo." Kata Gio sambil menepuk-nepuk bangku yang ada disebelahnya. "Duduk sini, ngapain lo berdiri pe'a." Lanjut Gio.
Ya, Gio dan Dave memang duduk bersebelahan. Dibelakang Gio dan Dave terdapat Arkan dan Jessen. Mereka berempat duduk secara berdampingan, mereka duduk dipojok kelas karena pojok kelas adalah tempat yang paling asyik. Contohnya, mereka bisa memninta jawaban Arkan yang paling pintar diantara mereka pada saat ulangan, mereka bisa tidur jika pelajaran sejarah sedang berlangsung dan Dave bisa menonton drama korea saat sedang Free Class, teman-teman Dave selalu mengejek Dave jika Dave sedang menonton drama korea, tetapi Dave tidak peduli baginya hidup cuma sekali dan lakukan apa yang memang ingin dilakukan.
"Tadi lo diapain aja Dave?" Sahut Jessen dari arah belakang, Jessen tau pasti Dave sudah terkena hukuman karena sikap Tiwi yang over pada lelaki itu.
"Disuruh push-up doang 50 kali." Jawab Dave santai.
"ANJIR!" Pekik Gio dan Jessen bersamaan. Arkhan hanya melirik Dave cuek sambil membaca bukunya.
"Gila ya cewe lo, Pak Johan aja biasanya nyuruh kita push-up 10 kali doang, lah elo disuruh 50 kali." Sahut Gio yang heran dengan kelakuan Tiwi, kekasih Dave. Pak Johan adalah guru Olahraga disekolahnya, Pak Johan adalah guru yang hampir disukai semua murid karena beliau baik, tak pernah menghukum dan yang paling penting dia sering tak masuk mengajar hingga anak-anak mendapatkan free class.
"Ya gapapa lah, sekalian gue olahraga." Kata Dave menyahuti ucapan Gio.
Jessen menggelengkan kepalanya takjub. "Lo itu bandel susah banget diatur, tapi kenapa kalo sama Tiwi lo kaya pembantu yang tunduk sama majikan."
"Karena jatuh cinta itu bisa bikin kita bodoh, makanya gue ga mau jatuh cinta." Sahut Arkan yang membuat ketiga sahabatnya menatap kepadanya.
"Tumben nyaut, lo biasanya diem kayak orang bisu." Ledek Gio yang membuat Arkan mendecih pelan lalu melanjutkan membaca bukunya.
Dave memutar badannya kembali menghadap kedepan dan mengeluarkan handphonenya lalu memasukkan Headshet ke telingannya memutar lagu kesukaannya dan mulai memejamkan matanya dengan wajah yang sudah terletak diatas meja.
Dave terbuai dengan alunan lagu itu hingga akhirnya lelaki itu tertidur dan tak menyadari bahwa Pak Joseph guru matematikanya sudah memasuki kelasnya karena bel masuk sudah berbunyi sejak lima menit yang lalu.
Pak Joseph mulai mengabsen nama-nama anak dikelas itu satu persatu. Hingga nama Dave akhirnya disebutkan.
"Dave Anggara Pratama?" Kata pak Joseph mengabsen. "Dave Anggara?" Ulang pak Joseph karena yang dipaggil tak kunjung merespons.
Seisi kelas serempak melihat kearah Dave lalu menggelengkan kepalanya yang saat melihat Dave sedang tidur dengan nyenyak hingga berliur.
Gio menyenggo tangan temannya dengan pelan berharap Dave akan bangun dari tidurnya sekarang. "Dave bangun, Ntar lo dimarahin sama Pak Gundul kalo ketahuan tidur di kelas dia." Bisik Gio yang tak dihiraukan Dave, lelaki itu malah mengganti posisi tidurnya menyandar di kursi Gio tak habis pikir dengan temannya yang satu ini.
Pak Gundul adalah panggilan yang biasa digunakan siswa dan siswi saat menyebut nama pak Joseph karena kepalanya yang botak apalagi kalau kena sinar matahari, silau coy!
"Dave masuk pak, tuh anaknya." Teriak Putri, sang ketua kelas sambil menunjuk ke arah Dave yang sedang tertidur menyandar dikursi dengan headshet yang tersangkut ditelinganya.
Pak Joseph memicingkan matanya saat melihat Dave , lalu ia bangkit dari kursinya menghampiri Dave yang sedang tertidur.
"Mampus lo Dave, si gundul ngamuk!" Ucal Gio sambil mengusap wajahnya.
"Jangan gangguin gue, gue lagi ngantuk kunyuk!" Ucap Dave ketika merasakan ada seseorang yang melepaskan headshet-nya secara paksa.
Serempak anak kelas tertawa, menertawakan Dave yang mengatakan Pak Joseph dengan sebutan 'kunyuk'.
Wajah Pak Joseph memerah menahan emosinya yang akan meledak. "DAVE ANGGARA PUTRA, BERANI - BERANINYA KAMU NGATAIN SAYA KUNYUK?!"
Dave terbangun dari tidurnya secara spontan akibat terkejut saat mendengar teriakan yang sangat membahana. Mata Dave membulat saat ia melihat disebelahnya sudah ada pak Joseph, Tadi Dave kira yang melepaskan headshet dari telinganya itu Gio makanya Dave kesal tetapi salah, Gio bukan pelakunya melainkan Pak Joseph!
"Bapak kok bisa nongol disini yah?" Ucap Dave pada pak Joseph lalu ia menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.
Pak Joseph menatap Dave dengan tatapan yang sulit diartikan lalu ia tersenyum sambil mengelus kumisnya pelan.
"Kamu tau gak pagi ini pelajaran apa?" Tanya Pak Joseph sinis.
"Hm apaya? Ga tau pak soalnya saya ga pernah belajar dirumah jadi saya ga liat jadwal." Jawab Dave santai.
"Pagi ini adalah pelajaran Matematika, dan saya yang mengajar matematika makanya saya berada dikelas ini." Jawab Pak Joseph dengan nada tegasnya.
"Oh begitu. Apakah saya harus bilang Wow?" Ucap Dave yang membuat anak kelas terbahak-bahak melihat kelakuannya.
Pak Joseph menatap Dave sinis seperti macan yang ingin menerkam mangsanya. "CEPAT KELUAR DARI KELAS SAYA DAN LARI KELILING LAPANGAN 25 KALI!" Teriak Pak Joseph yang membuat seisi kelas terdiam.
"10 kali aja ya pak? Saya capek." Tawar Dave.
"Enak aja, ga ada tawar-menawar. Cepat keluar dari kelas saya!" Perintah pak Joseph yang membuat Dave langsung bangkit dari kursinya malas.
"Dasar gundul-gundul pacul." Ucap Dave pelan saat ia melewati pak Joseph.
"DAVE ANGGARA PRATAMA, SAYA PASTIKAN NAMA KAMU TERCATAT DI BK HARI INI!" Teriak Pak Joseph yang membuat Dave langsung berlari keluar dari kelas terpingkal-pingkal sambil tertawa.