PHANTOM - The Legendary Guild

PHANTOM - The Legendary Guild
RASA BERSALAH



Untuk memulai langkah pertama mereka membangkitkan kembali guild PHANTOM, mereka memutuskan untuk menemui Nouranqy. Di perjalanan ini Blaky yang akan menuntun ke pedesaan dimana tempat Nouranqy tinggal dulu.


Pedesaan Arhakif cukup jauh dari ibukota. Sekitar mendekati perbatasan Barat.


Mereka menempuh 3 hari 3 malam dan melewati berbagai rintangan mematikan. Tak jauh dari desa, terdapat kota perdagangan Filo. Mereka beristirahat sejenak disana sebelum melanjutkan perjalanan.


“kayaknya kita harus beli beberapa bahan makanan buat di perjalanan nanti” ujar Blaky yang sedang mengecek persediaan makanan.


“Potion nya juga kelihatannya mau habis” lanjutnya.


Rinsoul yang duduk di tepi air mancur itu terlihat sangat kelelahan. “kalian aja yang beli, aku istirahat capek”


“kalau gitu kamu beli bahan buat makanan terus aku beli potion” ujar Raphalia membagi tugas.


Blaky mengangguk dan kemudian mereka pergi berpencar mencari toko.


Sedangkan Rinsoul masih kelelahan.


Tak lama, tiba-tiba ia dihampiri oleh seorang perempuan berpakaian lusuh dan juga menggunakan topi pekebun.


“Anu, kamu petualang kan? boleh minta tolong?” tanya dia tiba-tiba.


Rinsoul agak terkejut dengan permintaan yang tiba-tiba itu. “eh? Ah iya, minta tolong apa?”


“aku Sayu dari desa Arhakif didekat sini. Aku mau minta tolong kepadamu untuk melindungiku selama perjalanan pulang” ucapnya dengab wajah agak cemas.


“eh? Apa ada masalah??”


“disepanjang jalanan menuju desa ada banyak penjambret, jadi aku butuh perlindungan. Biasanya aku kesini selalu bersama temanku tapi hari ini dia tidak bisa menemaniku. Aku akan membayarmu dengan pantas di desa nanti jadi..” lanjutnya.


Rinsoul awalnya agak ragu untuk membantunya tapi karena dia merasa kasihan akhirnya dia menyetujuinya.


“aku tidak perlu bayaran. Lagian aku dan teman-temanku juga ingin pergi kesana” ucap Rinsoul tersenyum ramah.


Sayu merasa senang ada seseorang yang mau membantu orang lusuh seperti dirinya dan merasa terharu.


Rinsoul menyuruhnya duduk disebelahnya dan mengobrol ringan sambil menunggu Blaky dan Raphalia kembali.


“Ngomong-ngomong aku Rinsoul. Jadi, temanmu itu apakah dia bisa bertarung?” tanya Rinsoul penasaran.


“iya! Dia sangat kuat, selain itu dia juga sangat baik di desa. Dia selalu membantuku!” jawab Sayu yang tiba-tiba bersemangat.


Rinsoul seketika curiga melihat perubahan sikap Sayu yang tiba-tiba bersemangat saat membicarakan temannya itu.


“Hohooo, jadi temanmu itu laki ya? Sepertinya ada sesuatu diantara kalian nih~” ucap Rinsoul menggoda.


“Eh? A-ah… eng-enggak kok, kita cuman teman semasa kecil” Sayu memalingkan wajahnya yang memerah.


Tak lama kemudian Blaky dan Raphalia sudah kembali dari berbelanja.


“itu siapa?” tanya Blaky kebingungan dengan keberadaan Sayu disamping Rinsoul.


“Dia Sayu, dia minta perlindungan kepadaku buat pulang ke desanya desa Arhakif. Karena sejalur jadi sekalian aja” jelas Rinsoul.


“oh, kalau gitu aku Raphalia salam kenal” ucap Raphalia tersenyum kepada Sayu.


Lalu disusul Blaky juga, “aku Blaky, salam kenal ya”


Sayu juga memperkenalkan dirinya dengan sopan. “salam kenal juga, aku Sayu”


Setelah saling berkenalan, mereka berempat kemudian berangkat menuju desa Arhakif. Mereka pergi menaiki kereta kuda karena Sayu yang membawanya. Sesuai perkataan Sayu, selama di perjalanan mereka diserang penjambret 2 kali.


Sesampainya, Sayu langsung menghampiri temannya yang sedang membajak di ladang. Sayu belari menghampirinya sambil berteriak “Nouranqy!! Ini aku bawa wortelnya!!”


“Nouranqy!!?” ucap mereka terkejut dalam hati.


“Oh Sayu!! Aku khawatir kamu kenapa-kenapa. Kamu gapapa?” tanya dia khawatir dengan Sayu.


“Aku gapapa, ada orang-orang yang mau mengawalku! Karena mereka juga ingin pergi kesini jadi sekalian katanya” Ucapnya riang sambil menunjuk kearah Rinsoul, Blaky dan Raphalia.


Nouranqy langsung menoleh dan ia terkejut. “Ka-kalian!!!!?”


“kalian kok-“ lanjut Nouranqy yang masih terbingung-bingung dengan keberadaan mereka.


Lalu Nouranqy membawa mereka nertiga kerumah dan saling berbicara.


“aku senang melihatmu baik-baik saja” ucap Rinsoul menatap sendu Nouranqy.


“begitulah. Sejujurnya aku senang berada disini. Hidup damai bersama Sayu dan menanam berbagai sayuran, ternyata tidak terlalu buruk” balas Nouranqy sambil melihat Sayu yang sedang bekerja di kebun dari jendela.


“Ngomong-ngomong kenapa kalian bisa bersama??” lanjut Nouranqy yang penasaran.


Kemudian Rinsoul mengulurkan tangannya dan berkata “tolong pinjamkan kekuatanmu Nouran, untuk membangkitkan kembali keluarga(guild) kita”


Nouranqy sebenarnya agak terkejut mendengar itu, tetapi ia sudah memutuskan untuk tetap bersama Sayu dan menjalani kehidupan yang damai bersamanya.


Nouranqy menggelengkan kepalanya menolak. “maaf, aku sudah memutuskan untuk tidak meninggalkan Sayu sejak lama. Aku tidak bisa membantumu, urusanku dengan guild itu.... Sudah selesai” katanya dengan wajah yang bersedih dan juga kecewa.


Rinsoul, Blaky dan Raphalia hanya bisaa menerima keputusan Nouranqy. Mereka bertiga ingin sekali mengajaknya bergabung tetapi mereka juga tidak bisa memaksakannya.


Pada akhirnya suasana menjadi begitu hening dan canggung. Tak lama, tiba-tiba Nouranqy berbicara memecah keheningan.


“selain aku ada banyak member PHANTOM diluar sana. Aku dengar kabar soal Misa, dia tinggal di kota suci yang terpencil di dalam Hutan Tanpa Cahaya. Kurasa kalian bisa menemuinya dan mengajaknya ikut bersama kalian”


*Misa adalah member PHANTOM job class Warrior Rank S.



Ia sangat kuat dan dikenal sebagai 'sang meteor' karena skillnya yang selalu menghantam dari atas bagaikan meteor jatuh menghantam tanah. Selain kuat dia juga terkenal dikalangan perempuan dalam guild.


“ngomong-ngomong kalian menginaplah disini untuk hari ini, aku juga ingin mengobrol santai dengan kalian tentang hal lain” lanjutnya sambil tersenyum tipis.


Karena Nouranqy meminta, akhirnya mereka memutuskan untuk menginap disana semalam.


Keesokan harinya, Rinsoul terbangun lebih awal. Ia bangun dari tempat tidurnya dan berjalan keluar menghirup udara segar. Sedangkan Nouranqy dan Sayu sudah terbangun sedari tadi dan sedang sibuk mengerjakan kebun.


Rinsoul yang melihat mereka berdua langsung menghampirinya dan berkata “kalian berdua, selamat pagi”


Nouranqy dan Sayu berhenti sejenak dan membalas Rinsoul “selamat pagi”


Rinsoul menghirup nafas lalu menghembuskannya. Ia menoleh kesana kemari dan melihat berbagai orang sedang sibuk bekerja. Kemudian ada satu orang laki-laki yang cukup tua menghampiri Nouranqy dan Sayu.


“Kepala desa, ini laporan mingguannya” ucapnya sambil memberikan sepucuk kertas kepada Sayu.


“oh iya terimakasih ya pak” balas Sayu ramah dengan senyumnya.


Kemudian orang itu pergi meninggalkan mereka.


Rinsoul cukup terganggu dengan orang itu yang menyebut Sayu dengan sebutan kepala desa. Rinsoul penasaran dan menanyakan itu kepada mereka berdua.


“Ngomong-ngomong kepala desa, maksudnya?”


Nouranqy yang sedang sibuk menanam sayuran itu menjawab pertanyaan Rinsoul. “Sayu itu kepala desa disini. Sebenarnya ayahnya dulu kepala desanya tapi karena beliau sudah wafat, jadi Sayu menggantikannya”


Rinsoul yang mendengar itu sedikit terkejut dan merasa bersalah. “jadi begitu... Maaf aku tidak tahu apa-apa tentang ayahmu...”


“tidak papa, itu bukan salahmu juga kok” ucap Sayu ramah.


Namun di samping rasa bersalahnya itu, Rinsoul penasaran dengan penyebab kematian ayah Sayu. Tapi karena topiknya agak sensitif jadi dia memutuskan untuk bertanya secara pribadi kepada Nouranqy saat jam istirahat.


Kemudian setelah beberapa jam, Nouranqy dan Sayu beristirahat.


Sayu pergi kedapur dan menyiapkan makanan. Sedangkan itu Blaky dan Raphalia juga sudah terbangun meski agak siang. Rinsoul menghampiri Nouranqy yang sedang duduk santai diberanda dan menanyakan tentang ayah Sayu.


“Nouran, tentang ayah Sayu, beliau meninggal karena apa?” ucap Rinsoul dengan suara agak pelan karena takut Sayu mendengarnya.


“ayah Sayu? Beliau meninggal karena naga. Beliau meninggal tepat didepan mataku dan Sayu” jawab Nouranqy dengan wajah yang tak ingin mengingat-ingat kembali.


Rinsoul sedikit terkejut mendengar itu.


“beliau sebenarnya sudah seperti ayahku sendiri. Orangtuaku adalah petualang dan mereka berdua tak kunjung kembali sejak menerima misi. Waktu itu aku masih berumur lima, bocah yang tak tahu apa-apa selain bermain. Karena sudah 5 hati orangtuaku tak kunjung kembali, aku pun mulai khawatir dan cemas. Takut ada hal buruk yang terjadi kepada orangtuaku. Namun ayah Sayu selalu menghiburku agar aku tak khawatir dan cemas. Sejak saat itulah aku tinggal dengan beliau dan menjadi akrab dengan Sayu” ujar Nouranqy yang mulai bercerita mengenai masa lalunya.


“Aku menghabiskan 2 tahunku bersama Sayu dan beliau. Hingga umurku 7 tahun, akupun mulai suka iseng. Sering pergi keluar dari area aman desa ini. Lalu akupun mulai mengajak Sayu berbuat iseng. Di siang hari aku mengajak Sayu keluar dari area aman desa. Kami berdua semakin menjauhi desa dan tak lama setelah itu kami diserang oleh serigala hitam. Kami berdua sangat ketakutan. Sayu mulai menangis berteriak meminta tolong, sedangkan aku berusaha melindunginya dengan ranting pohon yang kupungut”


Nouranqy tertawa ringan mengingat kejadian itu.


“Betapa bodohnya aku. Kupikir aku akan berakhir saat itu. Tapi siapa sangka aku dan Sayu ditolong oleh seseorang. Orang itu berjubah hijau dengan 2 pedang 1 tangan di samping kanan kiri pinggangnya. Aku masih ingat sekali, orang itu memiliki luka dibagian pipinya sebelah kanan. Dan juga mata orange nya yang terlihat buas. Tapi dia orang yang sangat baik dan ramah. Dia bertanya apakah aku dan Sayu baik-baik saja, lalu memperingati kami untuk segera pergi dari sana. Aku seketika itu terkagum-kagum dengannya. Aku bertanya kepadanya tentang namanya, tapi dia hanya tersenyum lalu pergi menghilang sekejap mata”


“Orang yang menyelamatkanmu yang berjubah hijau itu, jangan-jangan..”


“Iya, dia salah satu member PHANTOM di generasi sebelum kita. Kurasa sekarang dia sudah pensiun dan tinggal damai di gubuk kayu dalam hutan, haha” ujarnya bercanda ringan.


“Lalu keesokan harinya aku memutuskan untuk menemui orang itu saat besar nanti. Aku berlatih bela diri secara otodidak. Mengamati para petualang yang bertarung dengan monster di lapangan rumput luas dekat dengan desa sini. Aku mengamati mereka yang memakai pedang, memakai tombak ataupun gada, dan membuat aliran bela diri sendiri. Selama 10 tahun aku berlatih keras dan melalui berbagai rintangan yang keras, tanpa kusadari aku sudah menjadi petarung rank S. Tak lama setelah itu aku berpamitan kepada Sayu dan beliau untuk pergi ke ibukota menemui orang itu. 2 hari 2 malam aku menempuh perjalanan dan saat beristirahat tak jauh dari gerombolan pedagang, mereka membicarakan tentang desa ini yang sedang rusuh diserang naga” lanjut Nouranqy bercerita.


“seketika itu aku panik dan langsung bergegas kembali. Karena sudah cukup jauh aku menempuh perjalanan, tanpa basa basi aku memakai bulu teleportasi meski item itu yang sudah menguras tabungan ku. Saat sampai, keadaan desa sudah gawat. Kebakaran dimana-mana, banyak rumah yang sudah hancur dan parahnya ada beberapa mayat yang tergeletak. Saat itu pertama kalinya aku melihat mayat dan itu membuatku muntah. Lalu aku bergegas mencari Sayu dan beliau. Tak lama mencari, aku menemukan Sayu sedang menangis sambil berusaha mengangkat papan kayu yang menimpa beliau. Seketika aku terkejut dan langsung membantu mengangkatnya. Tapi saat hampir berhasil, tiba-tiba sang naga datang menghampiri kami. Naga itu membuka mulutnya lebar-lebar bersiap menyembur nafas apinya. Tanpa banyak berpikir spontan aku menarik Sayu menjauh. Seketika aku menghindar, naga itu langsung menyembur dan itu mengenai beliau yang masih tertimpa. Sayu menjerit histeris melihat ayahnya terkena semburan api naga didepan matanya. Aku merasa sedih sekaligus merasa bersalah karena tidak bisa melindungi beliau”


Di bagian ini Nouranqy menceritakannya dengan raut wajah bersedih.


“Tapi tiba-tiba disekitar naga itu bercahaya, lalu muncul beberapa rantai dan itu mengikat naga itu dan menyegelnya. Ternyata ayah Sayu mengorbankan nyawanya untuk menyegel naga itu, dan sampai kini naga itu masih tersegel. Yahh seperti itulah masa laluku. Sayang sekali sih masa lalu tak bisa diubah tapi apa boleh buat, terima saja dan tetap melihat kedepan” ujar Nouranqy selesai bercerita mengenai masa lalunya.


Rinsoul seketika terpukau dengan masa lalu Nouranqy yang penuh dengan perjuangan itu. Namun juga berduka atas apa yang terjadi kepada ayah Sayu.


Tak lama Nouranqy selesai bercerita, tanah terasa bergetar.


“Ini sering terjadi?” tanya Rinsoul yang merasa aneh.


“Nggak, ini baru saja!!” jawab Nouranqy yang juga merasa aneh.


Blaky dan Raphalia juga merasakannya dan menghampiri Rinsoul dan Nouranqy. Mereka berempat dibingungkan dengan getaran tanah barusan. Dan kemudian tiba-tiba....


*BUM!!


Terlihat di depan agak jauh terdapat ledakan tanah yang terhempas. Mereka berempat seketika terkejut, terutama Nouranqy.


“Tempat itu kan!!!!?” ujarnya terkejut dengan wajah agak pucat.


Sesuai dengan dugaan Nouranqy, terdengar raungan naga yang sangat keras. Itu naga yang diceritakan barusan yang masih tersegel. Naga itu terbebas dari segelnya entah apa penyebabnya.


Para penduduk seketika panik dan berlarian tanpa arah menyelamatkan diri masing-masing.


Sayu yang berada di dapur mendengar raungan itu juga dan langsung menghampiri Nouranqy.


“Sayu, kamu bantu para penduduk evakuasi dari sini!!” ujar Nouranqy tegas memberikan instruksi kepada Sayu. Dengan sergap Sayu langsung pergi dan mengarahkan para penduduk evakuasi.


“Kalian bertiga, siaplah untuk bertarung” ucap Nouranqy dengan tatapan serius.


Rinsoul langsung siap dengan katananya. Raphalia dan Blaky juga langsung siap dengan tongkat dan busurnya.


*drap drap drap


Mereka bergegas menghampiri naga tersebut untuk menghentikannya sebelum sampai ke desa, dan berniat membunuhnya apabila itu mungkin.


Tak lama mereka sampai dihadapan naga tersebut. Bentuk naga itu sungguh menyeramkan. Berwarna hijau pekat dengan leher yang sangat panjang, mulutnya yang moncong seperti bebek namun lentur dengan ratusan gigi runcing didalamnya.


*ROAAAAARRRRRRR


Mereka tak menduga raungan naga itu akan sekuat ini. Gendang telinga mereka serasa mau pecah.


Kemudian naga itu melompat sebelum mereka berempat menyadarinya.


“Eh!? Mana naga itu!?” ucap Rinsoul kebingungan.


Tak lama area sekitar terasa gelap. Seperti awan mendung yang datang tiba-tiba. Nouranqy menyadarinya dan berteriak “MENGHINDAR!!”


*Set


Mereka berempat langsung menghindar sebelum naga itu menginjak mereka dari atas. Tak berhenti disitu saja. Naga itu melompat lagi kedua kalinya dan mereka berhasil menghindar lagi.


Untuk ketiga kalinya lagi-lagi naga itu melompat dan berusaha menginjak mereka dari atas. Mereka berempat jadi kebingungan dengan pola serangan naga itu. Lalu untuk serangan keempat dari ketiga pola serangan menginjak berturut-turut, naga itu membuka mulutnya selebar kudanil menguap.


Nouranqy mengenal pola serangan itu dan berteriak “DIA AKAN MENYEMBURKAN API!! MENGHINDAR!!!”


*Set


Mereka berempat berhasil menghindar tepat sebelum naga itu menyembur. Tapi yang disemburkan naga itu bukan api, melainkan semacam laser. Dalam sekejap area dibelakang mereka rusak habis terlahap lasernya.


Nouranqy bingung dengan serangan lasernya barusan karena seingatnya sewaktu dulu naga itu menyembur api.


Lalu dia baru tersadar. Bentuk naganya yang tak persis dengan waktu dulu, dan juga serangan lasernya yang mematikan. Kemungkinan naga itu menyerap energi alam disekitar selama tersegel. Itu tak membuat Nouranqy heran mengapa naga itu berkembang.


“sialan! kalau naga itu memang melakukan hal itu selama tersegel, kemungkinan besar naga ini lebih kuat dari kita!!” ujarnya panik dalam hati.


Kemudian sesaat setelah menyembuhkan laser, Rinsoul berlari secepat tanpa suara, menarik pedangnya dan menebas kakinya berniat melumpuhkan naga itu.


*Slash!!


Tapi itu tak memberikan luka sedikitpun. Tergores sedikit pun tidak. Rinsoul terkejut melihat serangannya tak berefek, lalu ia menghindar dari serangan cambukan ekor naga itu.


“Seranganku gak mempan loh!! Dia kuat sekali!” teriak Rinsoul terkejut.


Lalu tak diduga-duga, Sayu tiba-tiba menghampiri Nouranqy dan bilang bahwa dia sudah mengevakuasi warga. Nouranqy terkejut dengan kedatangan Sayu dan berteriak “SAYU, JANGAN-“


*****


Naga itu mengubah pola serangan dan menembakkan duri-duri yang berada di ekornya. Tembakan duri itu mengenai Sayu dan menusuk perutnya. Sayu langsung tergeletak lemah dengan darahnya yang bercucuran.


Nouranqy seketika shock melihat itu. Ia langsung melesat ke Sayu dan meminumkannya sebotol potion. Tapi itu tak berefek sama sekali.


“Ini kenapa tidak bekerja!!? Sialan kumohon bekerjalah dan sembuhkan Sayu potion sialan!!!” ujarnya kesal menahan tangis air mata sambil meminumkan potion untuk kedua kalinya. Tapi sama saja, itu tak berefek sama sekali.


Nouranqy mulai panik dan tak tahu harus bagaimana untuk menyelamatkan Sayu.


Di detik-detik Sayu sekarat dan berada dipangkuan Nouranqy, Sayu berkata dengan lemah “tidak perlu menyembuhkanku”


Nouranqy mendengar itu pasrah dan mulai meneteskan air mata.


Sayu mengangkat tangannya dan menyentuh pipi kiri Nouranqy sambil berkata “jangan menangis, aku tahu kamu itu orang yang kuat.. jadi kumohon jangan menangis”


“kumohon Sayu tetaplah bersamaku, kumohon jangan tinggalkan aku” ucap Nouranqy tersedu-sedu.


“Aku akan selalu bersamamu.... di sini” ucap Sayu sambil memegang dada Nouranqy.


Kemudian Nouranqy menatap Sayu yang juga menangis dengan mata berkaca-kaca sambil tersenyum, Sayu berkata “aku... mencintaimu”


Tepat setelah itu Sayu mati dan tangannya yang menyentuh dada Nouranqy jatuh tergeletak tanpa tenaga. Mata Sayu tertutup dengan bekas air mata yang mengalir. Sayu mati dengan tersenyum.


Nouranqy langsung memeluknya dan berteriak memanggil nama Sayu.


Sementara itu sang naga yang hendak menginjak Nouranqy yang masih menangis memeluk tubuh Sayu, tiba-tiba tubuh naga itu bersinar terang. Naga itu meraung sangat keras seakan-akan kesakitan. Kemudian beberapa rantai keluar dari tanah dan mengikat sang naga, lalu membawanya terkubu kedalam tanah. Sang naga tersegel.


Tapi diwaktu bersamaan, tubuh Sayu juga bersinar. Perlahan menghilang menjadi serpihan cahaya bagaikan dikelilingi oleh kunang-kunang.


Rinsoul, Blaky dan Raphalia menghentikan serangannya dan menatap Nouranqy yang bersedih. Mereka bertiga ikut bersedih dengan kehilangannya Sayu.


Nouranqy seketika menyalahkan dirinya sendiri karena tidak bisa melindungi Sayu. Fakta Sayu mengorbankan dirinya untuk menyegel sang naga persis seperti yang dilakukan ayahnya dulu, membuatnya terpuruk di masa lalu.


Nouranqy terus menyalahkan dirinya yang lemah, terus-terusan seperti itu. Lalu ia teringat, akan janjinya kepada Sayu sewaktu dulu ia meninggalkan desa demi mencari orang PHANTOM itu. Ia berjanji akan menjadi lebih kuat dan bisa melindungi Sayu dan yang lainnya.


Nouranqy langsung meringkuk sujud dan menangis sekencang-kencangnya sambil berkata, "Sayu… maaf.. aku tidak bisa menyelamatkan mu, maaf…. Aku tidak bisa menepati janjiku, maaf…. Aku tidak bisa melindungi semua orang, karena aku…. Karena aku kamu menderita seperti ini… maaf…. Aku sungguh minta maaf”


Nouranqy menuangkan semua perasaan sedih dan bersalahnya kedalam tangisan itu.


“tak kusangka, Nouranqy yang begitu kuat, bisa menangis seperti ini” ucap Rinsoul bersedih dalam hatinya.


Lalu setelah itu Nouran menancapkan sebuah batu Nisan tepat di naga itu tersegel sebagai tanda pengorbanan Sayu, lalu Nouranqy berjalan kembali ke gubuknya yang sudah hancur disusul oleh Rinsoul, Blaky dan Raphalia dibelakangnya. Nouranqy meremasi barang-barangnya.


"Kau mau pergi?" Tanya Raphalia.


"Iya aku akan pergi” jawab Nouranqy singkat sambil mengobrak-abrik lemarinya.


Kemudian Nouran mengambil sesuatu dari lemarinya, dan ternyata itu jubah berwarna hijau dari guild PHANTOM yang dipenuhi dengan debu. Nouran menepuknya kemudian memakainya.


“ah ini, sudah lama tidak kupakai” ucap Nouranqy merasa nostalgia.


"Sepertinya aku terlalu emosional dan meringkuk menangis karena merasa kehilangan satu2nya keluargaku, betapa egoisnya aku padahal aku memiliki keluarga lain yang tak tergantikan sedang kesusahan” lanjut Nouranqy tersenyum tipis menghadap Rinsoul dan yang lainnya.


Blaky, Rinsoul dan Raphalia terdiam sejenak, kemudian mereka tersenyum.


"Mari kita bangkitkan kembali keluarga kita” ucap Nouranqy dengan tatapan bersemangat.


"Ya!”