Our Soul My Last

Our Soul My Last
Destiny



"Hai sayang. Maaf kemarin aku membuat kekacauan. Maaf baru sekarang bisa melihatmu. Maaf, karena aku kamu jadi terbaring disana dengan tubuh yang kaku. Maaf karena enggak bisa nemani kamu sepedaan waktu itu. Maafff.... Maafin aku".


"Aku bawa icik kemari. Dia lucu kan. Aku pakai kan baju yang dulu pernah kita beli buat anak kak Brietta. Icik kangen banget sama kamu, dia terus mencari mu di setiap ruangan".


"Kamu disana lagi apa? Kamu udah enggak sakit lagikan? Aku selalu terbayang waktu kejadian" Sammy menarik nafasnya lebih dalam. "Kamu sangat tidak berdaya. Aku sudah berdoa kepada tuhan untuk membiarkanmu hidup dan membawa aku untuk menggantikanmu. Tapi sepertinya dia tidak mengabulkan doaku".


"Aku iri sekali dengan Kenzo. Dia bisa menemanimu disana. Dia bisa melihatmu sesering mungkin. Dia pasti selalu berada disisimu kan?".


Sammy gantian memegang nisan Kenzo "Zo. Aku titip dia disana ya. Tolong jagain dia. Tolong temani dia setiap saat. Jangan pernah tinggalkan dia. Aku akan menjemputnya saat waktunya tiba. Aku janji”.


“Sayang, aku rindu banget sama kamu. Aku mau ke Cina lusa buat ketemu mama kamu. Dia sakit, Jun yang merawatnya disana. Sebelum pergi, aku juga mau mengunjungi ayah kamu didalam sel. Maaf ya kalau nanti aku berkunjung nya lama. Aku mau fokus buat mulihin semangat mama kamu lagi. Aku enggak tahu malam itu kamu juga lagi banyak masalah. Kalau kamu butuh uang, kamu tinggal bilang sama aku. Aku bakal usahain apapun buat kamu”. Sammy menyeka air matanya saat dia mendengar ponsel nya berdering.


“Aku udah siap, aku ke mobil sekarang” ucapnya lalu mematikan telfonnya.


Brian yang mangantarnya ke pemakaman. Sammy tidak pulang kerumah orangtua nya. Dia memilih tinggal bersama Brian dirumah Brian.


“Visa sudah bisa diambil besok sore. Aku menyuruh mereka untuk menyelesaikannya dengan cepat”. Ucap Brian saat Sammy baru masuk kedalam mobil.


“Makasih”. Hanya kata itu yang terlontarkan dari mulut Sammy.


Kedua sahabat itu langsung bergegas meninggalkan tempat pemakaman.


“Tiap sore hujan terus ya?” Tanya Sammy.


“Ga kok. Baru 2 hari sejak kau sadar. Mungkin udah masuk musim hujan”.


15 menit didalam mobil hanya terdengar rintikan air hujan yang jatuh diatas mobil Brian. Kedua pemuda itu saling diam dengan pikiran mereka masing-masing.


Mobil terus melaju membelah jalanan yang dipenuhi genangan air. Hujan semakin deras dan jarak pandang terbatas. Sammy meremas seat belt nya. Kenangan kejadian kecelakaan itu tiba-tiba membuatnya khawatir.


“Pelan-pelan saja bri”. Perintahnya.


Brian yang hanya menginjak kecepatan 60km perlahan mengurangi kecepatannya. Dia menoleh kearah Sammy yang saat ini sedang dalam kecemasan.


“Mau putar lagu?” Tawar Brian yang langsung dibalas dengan gelengan Sammy.


Saat dilampu merah. Sammy terus memandangi Lock Screen ponsel Brian yang terdapat foto April dan Brian saat bersekolah dulu. Brian memerhatikan Sammy.


“Kita udah lama banget kenal”. Buka Brian. Sammy tampak tertarik dengan pembahasan ini. ”Kita kayak udah jadi saudara kembar. Apa yang aku punya dia juga harus punya”. Lanjutnya lagi.


“Pernahkah kau jatuh hati pada nya?” Tanya Sammy serius.


Brian tampak berpikir kemudian dia menggeleng “Aku menyukainya, aku menyayanginya, aku mencintainya. Untuk jatuh hati aku enggak berani. Aku takut kehilangan dia. Aku takut suatu saat malah membuat dia sedih, kecewa, aku takut dia juga membenciku. Aku lebih suka menjaganya seperti dia itu adik atau pun kakak ku”.


“Tiap ada laki-laki yang coba mendekatinya aku akan bertingkah agresif. Aku ga akan membiarkan seorangpun menyentuhnya, menyakitinya karna selama ini aku selalu menjaga mood nya tetap baik. Aku selalu menjaga senyum cantiknya tetap merekah, aku menjaga semuanya agar tetap sempurna”.


“Kau tahu? Bagaimanapun cara kulakukan untuk melindunginya terlihat sia-sia saat kejadian itu. Aku ga pernah terfikir kalau takdir akan se kejam ini”.


Sammy menyeka air matanya.


“Aku rindu saat dia menyusahkanku. Menggangguku untuk kepentingan pribadinya. Aku rindu chat panjang yang dia kirim saat dia ribut sama siapapun. Aku rindu dapat notif panggilan darinya. Sekarang dia udah ga ada lagi Sam”. Senyum ketir dari bibir Brian. Tangis Sammy jadi semakin pecah.


Sesampainya dirumah Sammy. Kedua orangtua Sammy Sudah menunggu kehadiran anak semata wayang mereka. Disana juga ada Hani yang juga ikut menunggu di sofa keluarga. Tapi Sammy langsung nyelonong masuk kedalam tanpa melihat orangtuanya.


Brian duduk di sofa sambil menunggu Sammy mengambil barang-barangnya. Kedua orangtua Sammy memandang kearah Brian.


“Gimana Brian? Apa Sammy Sudah benar pulih buat berangkat ke Cina?” Tanya sang mama.


“Dia lemah. Tapi kalau kita menahan nya untuk tinggal beberapa hari, pasti akan membuatnya semakin lemah. Untuk sekarang kita biarkan Sammy untuk melakukan apapun. Kita biarkan dia sembuh dengan caranya”.


“Kamu yakin bisa ngerawat dia sendiri? Aku akan ikut kalau diperbolehkan. Aku juga ingin membantu me rawat Sammy”. Tawar Hani.


“Aku tidak bisa membuat keputusan. Kau bisa tanya Sammy nanti. Tapi kalaupun Sammy menolaknya, aku sendiri bisa menjaga dia. Bukan aku sendiri sih. April punya banyak teman. Dia menyuruh kami untuk menjaga Sammy. Kalian tidak usah khawatir”.


1 Jam kemudian Sammy keluar sambil menggeret kopernya. Dia berjalan kearah ruang keluarga tempat dimana kami berkumpul. Dia berpamitan dengan kedua orangtuanya. Namun saat hendak berangkat, sang mama menghentikan langkah mereka.


Mama Sammy berlari kearah kamar, lalu keluar dengan membawa kotak kecil yang berisi cincin pertunangan Sammy dan April. Dia memasangkan cincin itu di jari anaknya. Lalu mengalungkan cincin April di Leher sang anak.


Sammy melirik kearah jari nya. “Mama….. sakittttt bangettt maaa….” Isaknya. Sang mama langsung memeluk erat putra tunggalnya.


Rumah yang awalnya senyap tiba-tiba pecah karena suara tangis Sammy. Sang mama tidak berdaya lagi melihat anak semata wayangnya yang tidak pernah mengeluh apapun menangis dihadapannya. Sang Papa yang melihat kejadian haru ini mengusap wajahnya kasar. Hati kecil nya juga ikut menangis melihat air mata yang keluar dari sang anak.


“Kamu cinta terakhir dia Samm. April pasti sangat mencintai kamu”. Jelas sang mama sambil memeluk Sammy. “Ini bukan salah kamu. Takdir memang sedikit kejam sama kamu. Mungkin mama punya salah di kehidupan sebelumnya sampai harus di hukum seperti ini”. Sambungnya sambil terisak.


“Mama… A-Ak-aku kangen banget sama dia maa.. Dada aku sesak banget. Sakittt ma… Aku lemah karna waktu kejadian ga bisa melakukan apa-apa. Aku cuma bisa lihat dia meringis kesakitan. Ingatan terakhir ku sama dia adalah ingatan yang mau aku hapus ma. Aku selalu terbayang wajah sakit April. Bahkan sebelum kecelakaan aku malah liat dia nangis dan patah hati”. Isak tangis Sammy semakin pecah.