Our Soul My Last

Our Soul My Last
I’m okay



Suhu tubuh ku normal. Aku enggak apa-apa. Mungkin karena lelah aku jadi pingsan. Diluar lagi hujan ya? Deras banget. Tapi kenapa aku merasa nyaman? Otakku mungkin juga sudah lelah harus menampilkan ingatan yang aku sendiri juga enggak ingat pernah ngalamin itu. Oke, kerja bagus. Kamu harus seperti ini seterusnya. Aku juga ingin jadi orang normal. Menikmati suasana hujan sambil berlari dibawahnya.


Oh iya, dimana ponselku? Dennies pasti khawatir. Udah berapa jam aku pingsan? Aduh pasti Louis marah? Ehh gimana dengan Jun? Dimana dia?.


Sreekkkk


*suara pintu terbuka.


“El!!! Kamu udah sadarrrr. DOKTERRR!! ELYSSEN SADAR”. Teriak perawat yang baru saja memasuki kamarku.


"ELLL??? Gimana keadaan kamu?" kali ini Louis yang masuk sambil memeriksa keadaanku.


"Maaff". Ucapku dengan penuh penyesalan.


"Enggak El. Aku yang mau terimakasih karna kamu udah bertahan".


"Maaf Louis, karna udah membuat kamu khawatir". Louis mengangguk sambil mengelus punggung tanganku.


"Bagaimana keadaannya?". Seorang dokter datang sambil menanyakan kabarku.


"Jauh lebih baik. Terimakasih sudah merawatku". Ucapku.


"Louis yang merawatmu. Aku hanya pendampingnya". Tawa dia. "Aku dokter utamanya. Tapi Louis lebih handal merawat adiknya daripada aku". Lanjutnya.


“Terimakasih Dokter”. Balasku.


“Kau sudah mengenalku berapa lama? Diruangan ini hanya ada kita-kita. Tidak ada siapapun. Panggil aku Rayyan. Aku sudah menganggapmu adik ku sendiri”. Jelasnya sambil menampilkan wajah nya yang sedih.


“Sorry Rayyan. Aku masih belum terbiasa memanggilmu seperti itu kalau di rumah sakit”.


“Iya gapapa. Syukurlah, usaha Louis selama sebulan tidak sia-sia”.


“Usaha apa?” Tanyaku.


“Dia tidak pernah meninggalkanmu sendiri. Dia bahkan tidak pernah pulang kerumah. Dia selalu menunggumu disini hingga kau sadar”.


“Sebulan? Aku koma? Dennies?”.


“Dia pulang sebentar mengganti baju”. Lanjut Louis.


“Jun???”.


“Ada di kantin, biar aku telfon”. Ucap Rayyan sambil mengeluarkan ponselnya.


5 menit kemudian Jun berlari kedalam ruangan ku. Nafas nya masih tersengal-sengal faktor berlari dari kantin yang berada di lantai paling atas.


“Kamu gapapa? Kamu ingat aku April?”. Louis langsung memberi tatapan mematikan kepada Jun.


“April?”.


“Maaf Elll. Maksudku Elyssen”.


"April? Siapa dia?".


"Bukan siapa-siapa. Kita lebih baik keluar. Biarkan Elyssen istirahat\~\~". Ucap Louis.


"Aku udah istirahat sebulan. Mereka semua menyumpahi semoga orang-orang yang berwajah mirip April diseluruh dunia pada mati. Kenapa? Apa salah April?. Tapi, aku bukan April?. Kenapa mereka menyumpahiku juga? Apa wajahku mirip April? Tapi seperti apa wajah April? Apa benar seperti wajah ini?".


"Dia mantanku". Lanjut Jun sambil menyerahkan ponsel miliknya. Disana terdapat foto nya sambil merangkul seorang gadis yang wajah nya mirip denganku.


"Kenapa teman-temanmu membencinya?".


"Karna dia sangat baik".


"Kalau dia menjadi jahat, orang lain juga akan membencinya kan? Kenapa orang baik juga memiliki musuh? Jadi kita harus menjadi jahat atau menjadi baik?".


"Mata dibalas dengan mata, gigi dibalas dengan gigi. Kalau kau melakukan hal itu, akan banyak dendam yang menyelimuti hatimu. Kau tidak akan tenang. Hidupmu akan selalu terusik dengan membalas kejahatan orang". Kali ini Rayyan yang menjawab.


Seminggu telah berlalu. Selama seminggu aku menjalani therapy untuk pemulihan tubuh. Ucapan Rayyan setiap malam mengganggu pikiranku. Aku seperti pernah mendengar kalimat itu sebelummya. Tapi aku tidak bisa mengingat siapa yang berbicara seperti itu padaku.


"Tidak dingin?"Tanya seseorang yang berada 5 meter dariku. Dia sedang menyelimuti seorang gadis yang sedang menghirup udara segar di rooftop bersamaku. Kami tinggal diruangan yang sama.


Gadis ini menggeleng. Lalu selimut itu dia tarik untuk menyelimuti tubuhku.


"Kakak yang lebih membutuhkan ini". Ucapnya sambil tersenyum.


"Aku baik. Jauh lebih baik dari kemarin". Balasku sembari mengembalikan selimut ini kepada pemilik aslinya.


"Hari ini pacar kakak datang lagi?". Tanyanya yang langsung ku balas dengan anggukan. "Bagaimana rasanya? Apa dia sangat baik? Kapan kalian pertama bertemu?".


"Waktu universitasku menggelar acara seni di kampus. Dia datang melihat ku saat aku tampil. Itu pertama kali kami bertemu". Ucapku sambil senyum membayangkan awal pertemuan ku dengan Dennies.


"Oya?? Apa yang kakak tampilkan?".


"Balet".


"Dimana kampus kakak?".


"R.A.S".


"Aku juga. Tahun berapa waktu itu? Kenapa aku ga tau Dennies datang ke kampus ku?".


"2016???".


"Oya? Aku masih Sekolah waktu itu". Ucapnya sedih. "


“Aku kembali ke kamar duluan ya”. Pamitku.


“Mau ku bantu?”. Sarannya.


Aku langsung cepat menggeleng. “Enggak Perlu. Aku bisa sendiri, Jangan terlalu lama diluar. Cuaca semakin dingin”.


“Iya, Aku akan kembali secepatnya”.


Aku berjalan dengan hati-hati sambil mendorong tiang infus sebagai peganganku. Saat pintu lift telah terbuka, aku langsung memasukinya.


“Ruanganku berada di lantai 5”. Ucapku kepada pengawas yang selalu berada didalam lift. Dia langsung menekan tombol dengan angka 5, kemudian pintu lift menutup.


Belum sampai ke lantai 5, pintu Lift terbuka di lantai 6.


“Stop Reika, Jangan ulang kejadian yang dulu. Jangan pernah jadi Elyssen, Kenzo ataupun Aiden. Jangan pernah”.


Aku tau suara itu, aku buru-buru turun dari Lift dan menghampiri suara itu.


“Sayanggg????”. Sapa ku. Dennies langsung memalingkan tubuhnya ke belakang. Dia tampak shock melihat aku sekarang.


“Kamu ngapain disini?”. Lanjutku.


“Ehhh…. Emmmm, aku baru mau jemput kamu ke rooftop tadi”.


“Kamu kenal sama perawat itu? Ada apa? Kenapa kalian bertengkar?”.


“Enggak sayang, enggak bertengkar. Dia fans aku”.


Ku perhatikan wajah Dennies untuk mencari celah kebohongan yang Dennies sembunyikan.


“Ohhh. Kamu sudah lama bekerja disini? Abang saya dokter disini. Namanya Louis, kamu kenal?”.


“Kamu dari department mana?”.


“Maaf, saya masih ada pekerjaan lain”. Pamitnya.


"Reika... Tolong ke ruangan saya segera".


"Rayyannn..." Panggilku. Saat mencari tahu siapa yang memerintah perawat ini.


"Abis dari rooftop? Kamu enggak bosan di rumah sakit terus? kapan mau pulang?". Tanyanya.


"Apa sudah boleh?". Kali ini Dennies yang bertanya.


"Dia sudah baik. Iya kann?". Aku langsung menggangguk secepatnya.


"Aku akan urus berkas-berkas mu nanti. Dennies, setelah antar Elyssen ke kamar, bantu aku melengkapi data-data Elyssen, oke".


"Iya dokter".


"Kalau gitu, sampai jumpa lagi. Kita harus merayakan pesta kepulangan mu dari rumah sakit".


"Baiklahhh. Sampai ketemu lagi Rayyan".


Minggu ini lagi musim hujan ya? Sepertinya hujan lagi sering menyambutku. Apa kau senang aku sudah sembuh? Aku juga senang, karna bisa menikmati suasana hujan tanpa harus menderita karna suhumu yang dingin. Suhu tubuh ku sudah normal sekarang. Aku tidak merasa dingin akan membunuhku lagi. Sekarang aku bisa duduk dibawah atap sambil menyentuhmu. Seperti ini rasanya menikmati hujan? Sangat menenangkan. Aku sangat suka mendengar suara rintikan hujan.


“Yukkkk…” Louis datang sambil memakaikanku mantel tebal yang hangat.


“Dennies dimana?”.


“Dibelakang sama Rayyan”.


“Kalian sudah selesai dinas nya?”. Louis hanya mengangguk sambil merangkulku berjalan dibawah payung.


“Dingin?”. Tanyanya yang langsung ku jawab dengan gelengan kepala.


“Syukurlah kau sekarang sudah membaik”.


“Ini berkat kamu Louis. Makasih sudah mau merawat adik mu yang penyakitan ini”.


“Apapun akan ku lakukan untuk mu. Walau harus mengorbankan nyawaku”.


“Tch… Kalau Seandainya kemarin aku enggak sadar lagi gimana?”.


“Akan ku usahakan sampai kau membuka matamu lagi”.


“Kau begitu menyayangi adik mu ini?”.


“Tentu sajaaa”.


Sebelum masuk ke mobil ada satu pertanyaan yang selama ini pengen banget aku tanyakan.


“Louis, apa kau memiliki pacar?”.


“Kenapa? Awas kepalanya”. Jawabnya sambil melindungi kepala ku agar tidak terantuk saat masuk.


“Sebelum aku menikah, aku ingin melihatmu menemukan perempuan yang kau sayangi. Apa Kau lagi dekat sama perempuan?”. Louis malah tertawa mendengar celoteh ku. Lalu kemudian dia menutup pintu mobil.


“Aku tidak dekat dengan perempuan. Aku juga tidak ingin menikah”.


“Terus? Kalau nanti aku menikah, siapa yang akan mengurusmu?”.


“Aku bisa menjaga diriku sendiri”.


“Kau tidak suka perempuan?”. Dia malah menggeleng.


“Louis. Kau rainbow?”.


”ENGGAK!!. Aku lurus”. Ucapnya dengan lantang.


“Ohhh.. Syukurlah. Mau aku carikan perempuan?”.


“Enggak”.


“Ayolahhh….”.


“Enggak perlu”.


“Aku pengen double date sama kamu”.


“Kita makan bareng tiap hari bertiga”.


“Kesannya bedaaaa”.


“Beda gimana???”.


“Ya bedaaaa… Karna kamu ga punya pasangan”.


“Ya lebih nyaman gitu. Aku enggak suka ada orang baru lagi”.


“Oiya, tadi aku ketemu perawat di Rumah sakit, kalau enggak salah namanya Reika. Lumayan cantik sih, kamu dekat enggak sama dia?”.


“Enggak… Dia bicara apa sama kamu?”.


Aku menggeleng “Dia bicara sama Dennies, bukan samaku”.


“Bicara apa?”.


“Enggak tau, aku juga kurang jelas dengarnya”.


“Kamu jangan dekat-dekat sama dia”.


“Kenapa?”.


“Emmm… Ada yang bilang dia itu jahat”.


“Serius?? Tapi keliatannya enggak kok”.


“Iyaaa, aku juga denger dari perawat lain sih. Tapi lebih bagus kita jaga-jaga aja kann”.


“Iya sihhhh”.


Cklekkk


Suara pintu mobil terbuka. Rayyan dan Dennies masuk barengan sambil basah-basahan berlari dari arah lobby.


“Dokter apaan yang engga punya payunggg”. Sindir Louis.


“Kayak punya ajaaa. Herannnn”. Balasnya.


“Sayanggg. Dingin enggak?”. Tanya Dennies.


“Enggak kok”.


“Kalau dingin, kamu bilang yaaa”. Kali ini Rayyan yang mengusulkan.


“Iyaaa…”.