
3 bulan kemudian
“Kau sudah sadar?”.
”Apa Kau bisa melihat ku?”.
”Sammy?…”.
“Airrr…”.
“Oke, sebentar”.
Setelah meminum seteguk air, dia seperti kebingungan. Mata nya terus mencari sesuatu.
“Apa yang kau cari?”.
Sammy menggelengkan kepalanya.
“Tch Louise dan Kenzo ternyata melupakan ingatan manusia ini”. Ucapku dalam hati.
“Keluarga? Teman? Pacar? Atau istri mu?”. Tanyaku lagi.
“Istri? Aku sudah menikah?”.
“Belum. Kau lapar? Aku punya camilan”.
“Apa boleh?”.
“Tentu, kau harus mengunyah sesuatu saat sadar”.
“Sudah berapa lama aku disini?”.
“Sangatttt lamaaa”.
“Kenapa aku disini?”.
“Kau kecelakaan. Kau ingat siapa namamu?”.
Angguknya “Sammy, Hani dimana?”.
“Mantanmu?. Kau tidak ingat April?”.
Sammy menggeleng lagi. Lalu kemudian dia tertidur kembali.
“Selamat tidur Sammy”. Ucapku lalu keluar dari ruangannya.
Setelah beberapa saat Sammy tersadar kembali dan langsung beranjak keluar dari ruangannya walau dia terus-terusan terjatuh.
Semua orang disini panik. Sammy tidak bisa di kendalikan. Setiap ada orang yang menahannya dia seperti punya kekuatan superhero untuk mendorong orang yang menghalangi langkahnya.
Air mata yang terus mengalir itu pasti punya kisah sedih yang membuatnya terus mengalir deras. Aku bahkan bisa merasakan seberapa sakit penderitaan manusia ini.
“Reikaaa!!!! Apa yang sudah kau lakukan?!!!”.
“Kenzoo?? Kauu??? Bukannya kau telah di eksekusi?”.
“Aku tidak akan menjawabnya. Sebelum kau menjelaskan apa maksud dari perbuatanmu?”.
“Aku? Apa yang kulakukan?”.
“Itu pertanyaanku!”.
“Aku tidak melakukan apapun!”.
“Kau menghidupkan Sammy?”.
“Dia memang masih hidup. Kenapa kau menyalahkanku?”.
“Kau membuat dia terbangun?”.
“Dia sudah lama terbaring disana. Sudah saatnya untuk melanjutkan kembali hidupnya”.
“Berarti ini memang perbuatanmu!”.
“Terus? Apa yang sudah kalian perbuat dengan pria ini? Kalian mencelakai seorang manusia?!”.
“Itu sudah takdir. Dewa tidak akan menyakiti manusia”.
“Takdir? Haha! Dia kehilangan ingatannya juga takdir?”.
“Kau menghancurkan semua rencana sang Agung”.
“Bukan aku, tapi Louis”.
“Aku akan melakukan apapun untuk memuaskan diriku sendiri”. Louis tiba-tiba muncul dihadapanku.
“Lihat? Ini semua ulahnya”. Jawabku.
“Kau sengaja membangunkan Sammy karena ingin menghancurkan pernikahan Elyssen?”. Lanjut Louis.
Sementara itu Sammy yang masih memakai pakaian dari rumah sakit langsung menghentikan taxi lalu pergi ke rumah orangtua April.
Dia tidak menemukan siapapun disana. Rumah itu dalam keadaan sepi. Abu yang sangat tebal sudah menyelimuti keramik halaman rumahnya.
Seorang tetangga menghampiri Sammy yang masih berusaha meneriaki nama April.
“Tidak ada orang. Ibu itu sudah dibawa sama mantan pacarnya. Kamu baru sadar?”. Jelasnya.
Sammy mengangguk lalu dia bertanya lagi. “Jun? Kemana? April?”.
“Cina. Tidak ada yang mengurus Ibu itu dirumah. Dia juga sering sakit-sakitan. Kau belum mendengar kabar April ya?”.
Sammy langsung cepat menggelengkan kepalanya.
“Saya tidak berhak memberitahukan ini kepadamu. Tapi, Brian setiap bulan selalu datang kesini untuk mengecek keadaan rumah. Dia lebih berhak memberitahukan kabar ini daripada saya”.
Mendengar kalimat Itu, Jantung Sammy semakin berdegup kencang. Dia bahkan tidak sanggup membayangkan apa yang isi kepala nya pikirkan.
Dengan hati yang gelisah dia melanjutkan perjalanannya menuju rumah Brian.
Saat sampai disana, hati nya terasa lega karena melihat mobil April terparkir didepan rumah Brian. Dia berpikir April sedang berada disini bersama Brian.
Dia memegang Kap mobil April yang masih panas karena baru dipakai. Saat berusaha membuka pintu pagar rumah itu, seekor kucing langsung berlari menghampirinya. Dia terasa gembira karena bisa melihat majikannya lagi. Tidak berhenti mengeong-ngeong seperti sedang bertanya darimana saja dia selama ini.
Sammy langsung menggendong icik dan melampiaskan kerinduannya selama ini.
“Sammy?”. Ucap kakak Brian.
“Brian!!! Sammy… Briannnnn!” Tanpa aba-aba dia langsung memeluk Sammy dengan tubuh yang bergetar hebat dan nada bicara yang bergetar juga.
“Kkaa..mu udah s-saa-daar? Te-terima-kasih Tuhan”.
Sammy membalas pelukan itu. Bahkan dia tampak kecewa karna orang pertama yang memeluknya saat dia tersadar bukan lah April.
"April dimana? Dia baik-baik saja kan? Dia lebih dulu diselamatkan. Aku meminta orang-orang itu untuk membawa April lebih dulu".
Pelukan kakak Brian semakin mengerat sambil menepuk halus punggung Sammy. Air mata nya terus terjatuh menembus kain tipis milik Sammy.
Tanpa kedua orang itu sadari. Brian tengah berdiri ditengah pintu sambil menggendong keponakannya yang sudah berumur 7 bulan. Dia hanya melihat keduanya sambil menahan air matanya yang sudah ingin menghancurkan dinding pertahanannya.
Saat mata milik Sammy dan Brian bertemu. Brian tersenyum kecil.
Sang kakak langsung melepaskan pelukan itu lalu dia melihat ke arah sang adik.
"April disini?. Tanya Sammy yang langsung dibalas gelengan oleh Brian.
"Kau sudah makan?". Tanya Brian.
"Dimana April?". Sammy tetap pada pertanyaan itu.
"Dia tidak disini. Kau mau bertemu dia? Nanti aku antar".
"Dia masih disini kan? Hhhhhhh!!! Jantung ku hampir putus karena otakku mikir dia dicuri sama Jun!".
"Kenapa Jun mencuri April?".
"Tetangganya bilang kalau mamanya dibawa Jun ke Cina. Aku pikir April dan Jun menikah dan pindah ke Cina. Syukurlah dia masih disini".
"Kau sudah kerumah mamanya? Apa kau sudah pulang kerumahmu?". Sammy Cepat menggeleng.
"Aku baru kerumah mamanya. Aku pikir dia disana".
"Orangtuamu sudah tau kau sudah sadar?".
"Aku membuat kekacauan di Rumah sakit. Mungkin saat ini mereka sedang kesulitan".
"Yaudah. Kalau gitu kamu siapan aja dulu. Mandi, ganti baju, terus makan. Aku mau nyuruh Zia sama Reyna kesini".
Sammy menuruti perkataan Brian. Brian juga menyiapkan baju yang akan dipakai oleh Sammy.
45 menit kemudian, Zia dan Reyna datang barengan. Saat itu Sammy masih makan didapur ditemani oleh kakak Brian.
"Sammy udah sadar. Apa yang harus aku jelasin ke dia?. Aku manggil kalian datang kesini biar kalian yang jelasin ini ke dia. Aku enggak sanggup". Jelas Brian dengan mata yang berkaca-kaca.
Reyna dan Zia hanya bisa terdiam. Mereka juga sedang memikirkan bagaimana cara menjelaskan hal pait ini kepada Sammy.
"Kalian udah sampai? Kenzo mana?". Sapa Sammy dari kejauahan. Brian langsung cepat-cepat berlagak seperti mata nya kelilipan serangga. Dia menyuruh Reyna meniup matanya.
"Ohh... Kenzo... Emmm... Kayaknya dia udah sama April deh". Jelas Zia.
"Hah? Gimana???". Tanya Sammy lagi.
"Ohh itu, tadi katanya kita langsung ketemu disana". Jelas Zia lagi.
"Ohhh aku kira Kenzo pacaran sama April. Mau pergi sekarang ni?". Ajak Sammy.
"Bentarr. Aku ambil dompet dulu". Pamit Brian.
"Tenang aja Samm. Kamu itu cinta terakhir April kok". Lanjut Reyna bercandaan.
Saat di perjalanan. Sammy yang merasa tidak menaruh curiga sama sekali terlihat duduk tenang disamping Brian sambil memegang 2 bucket bunga yang mereka beli tadi di kios.
"Kayak nya udah mau hujan. Kita harus cepat Bri". Cetus Zia.
"Biasanya April nyimpan payung di bagasi belakang. Ada Jas hujan juga sih. Tapi kita ketemu April dimana sih? Di dalam ruangan kan? bukan outdoor?" Sambung Sammy, tapi tidak satupun mereka ada yang menjawabnya.
Perjalanan sudah hampir sampai. Brian melambatkan lajunya karna dia belum siap dengan jawaban apa yang akan dia jawab atas pertanyaan dari Sammy.
Sammy yang mendadak terdiam saat mobil memasuki area pemakaman. Banyak kalimat yang ingin dia tanyakan.
Saat mobil berhenti di parkiran. Brian langsung turun dan membuka bagasi belakang untuk mengambil payung dari sana. Sammy hanya mengikuti langkah teman-temannya karna semua pada turun dari mobil.
“Mau ngapain?”. Tanya Sammy. Lagi-lagi mereka mengabaikan pertanyaan Sammy.
Sammy yang tampak kebingungan tetap mengikuti langkah teman-teman nya yang saat ini sedang berjalan di area pemakaman.
“Novel April diterbitkan jadi series ya? Ada syuting disini? Dimanaaa?”.
“Sepi banget guys. Kita ngapain disini?”.
”Itu kayak mama sama papaku deh?”
“Iya bukan sih?”.
”Kok ada Hani?”.
”Guys, kita mau ketemu April. Kenapa kalian bawa aku ketemu orangtuaku? Disitu juga ada Hani. Mending kita langsung ketemu April”.
”Selama aku koma, Nenek aku masih hidup kan? Dia sehat kan?”.
”Mama sama papaku datang ke makam siapa?”.
“April sekarang kerja dimana? Dia masih kerja di penerbitan iyakan?”.
”Kamu bilang tadi April masih disini kan. Maksudnya dia masih ada kan?”.Semua pertanyaan itu masih tetap diabaikan oleh teman-temannya.
Ketika sampai di tempat yang dituju. Langkah Sammy berhenti. Dia melihat nama Kenzo tertera dibatu nisan.
“Brian. Nama lengkap Kenzo siapa?. Itu bukan makam Kenzo kan?”.
”Tadi kalian bilang April lagi sama Kenzo iyakan?”.
”Shock banget lihatnya. Kok bisa namanya sama gitu”.
Brian mengambil kedua bucket bunga dari pelukan Sammy. Dia meletakkan bucket itu di makam Kenzo dan April. Awalnya Sammy tidak membaca batu Nisan yang berada disebelah Nisan Kenzo. Dia terlalu fokus terhadap batu nisan milik Kenzo.
“Ohhh… Sekarang aku paham. Maksud dari omongan tetangga April dan omongan kalian”.
“Aaarrrgghhhhh!!! Sakittt sekaliiii!!!”. Sammy memukul-mukul dadanya. Bahkan kakinya sudah tidak kuat lagi menahan berat tubuhnya. Dia terjatuh didepan makam milik tunangannya. Karna kakinya sudah tidak memiliki tenaga lagi, dia sampai harus merangkak agar mencapai makam itu.
Sammy menangis keras. Dia melempari semua orang dengan pasir dari makam tunangannya. Dia menjambak rambut di kepala nya dengan sekuat tenaga. Bucket bunga yang tadi iya beli juga dia acak-acak, sekarang bunga itu sudah berserakan.
Tidak ada yang bisa menenangkan hati Sammy. Brian yang sudah dari awal menahan air matanya akhirnya pertahanan dia runtuh juga. Dia juga tidak kalah menangis keras didepan makam kedua sahabatnya.
“APRIL UDAH ENGGAK ADA SAMMY!!!”.
“KAU YANG MEMBUATNYA JADI SEPERTI INI!!”. Murka Brian.
“Tapi aku tidak pantas menyalahkanmu karna kau pun juga sekarat waktu itu”.
“Siapa yang seharusnya kusalahkan atas kejadian ini?”.
“Aku sudah bisa mengikhlaskan dia. Kau jangan membuat kami semua untuk membuka luka lama kami yang sudah hampir sembuh”. Lanjutnya.
“Hari ini aku sedikit senang karna bisa melihatmu sadar kembali. Tapi di sisi lain. Aku bingung bagaimana cara menjelaskan kepergian dia?. Aku kehilangan kedua sahabatku di hari yang sama”.
“Seminggu setelah kecelakaanmu, Kenzo juga kecelakaan dan berakhir seperti April. Di hari yang sama, mereka sekongkol untuk meninggalkan kita disini. Jahat sekali!”.
“Aku tahu hatimu tidak terima. Aku juga!!! Aku juga enggak terima karena harus kehilangan kedua teman yang paling aku sayangi. Aku marah sama Tuhan! Aku marah samamu! Bahkan aku marah sama Hani. Tapi Apa sih reward yang kudapat karena menyalahkan orang lain? Enggak ada Sammm. Yang ada hati ini akan tetap terluka”.
“Aku disuruh belajar ikhlas sama orang-orang yang enggak tau apa arti ikhlas. Aku malah semakin membenci orang-orang yang menceramahi aku untuk hal yang mereka belum tentu pernah rasain. Tapi lama kelamaan aku mencoba memaafkan semuanya. Aku salah karna bersikap seperti ini. Butuh waktu lama Sam. Lamaaaa banget buat aku bisa menerima semua ini. Aku sudah lewati berbulan-bulan dan aku hampir berhasil. Sekarang aku akan mendampingimu agar kau juga bisa melewati semua ini. Kita kuat Sammm. Dia juga ingin melihat kita bahagia disini. Bersedihlah. Wajar Jika saat ini kau tidak bisa mengendalikan dirimu”.
“Menangislah sampai air matamu habis. Kau boleh menyalahkan orang lain ataupun dirimu. Kau boleh membenci keadaan yang kau rasakan sekarang. Tapi Kau tidak boleh menyakiti dirimu sendiri, hidup kita masih berjalan. Ya walaupun kita enggak tahu sampai kapan Kau akan sanggup terus-terusan berada dalam masa berkabung. Tapi cobalah bertahan selama mungkin”.
“Ini salahku. Kalau saja waktu itu aku fokus menyetir sampai dirumah. Pasti sekarang dia masih ada disampingku”. Ucap Sammy.
Sammy menghapus air matanya. “Bukan. Masalahnya bukan dimulai saat itu. Seandainya aku membawanya bersamaku waktu Hani sakit, pasti tidak akan seperti ini”.
“Enggak. Seharusnya hari itu aku ikut bersepeda sama dia dan tidak menjenguk Hani ke rumah sakit. Pasti dia enggak akan terkubur disini. Aku enggak akan kehilangan dia”.
Sammy menatap Hani dengan penuh kebencian. “INI SALAH MU HANI!!!”. Teriak Sammy.