Our Soul My Last

Our Soul My Last
Keep on loving you



\~1 Bulan Kemudian\~


“Elyyy… Kamu mau makan apa?”.


“Entaran aja. Aku belum siap benahi kamar”.


“Makan dulu. Besok kita benahi lagi. Udah malam, kita harus pulang ke hotel. Nanti kamu kelelahan terus drop lagi. Kamu mau liat abangmu yang tampan ini nemeni kamu terus di rumah sakit apa? Dokter juga nyuruh kamu enggak ngelakuin aktivitas berat”.


“Tapi nanggung ni”.


“Yaudah biar aku bantu”.


“Gitu dongg dari tadi”.


“Kamu besok kemana? Mau konsul ke dokter lagi?”.


“Enggak. Aku udah punya dokter pribadi”.


“Siapa?”.


“Louis!!” Ucapnya sambil tersenyum.


“Kau mau aku jadi dokter pribadimu?”.


Elyssen mengangguk “Aku cuma bisa berharap banyak samamu. Karna hanya ter sisa kita kan?”.


“Terus Dennies?”.


“Louis dan Dennies” ulangnya.


“So, dimana dia? Kenapa dia tidak membantu kita?”.


“Biasalah. Dia ada jadwal photoshoot. Tapi besok dia ke hotel kok”.


“Oke. Alasan di terima”.


Keesokan pagi nya. Disaat Elyssen baru membuka mata nya. Dia sudah menemukan Dennies tertidur di samping nya dengan menggenggam tangannnya.


“Lagi nge charge yaaa”. Bisik Elyssen, kemudian Dennies membuka sedikit kelopak matanya.


“Aku baru saja pulang. Capek banget. Kamu juga kelihatan capek. Pasti kamu kerja yang berat kan”. Ucap Dennies sambil mengusap rambut Elyssen.


“Rumah nya hampir selesai. Hanya tinggal memasang sedikit hiasan, tidak terlalu berat. Louis juga membantu”. Jelasnya.


“Mau di temani ke dokter?”.


“Enggak. Aku baik-baik saja. Aku mau bersamamu sehari ini. Kamu ada kegiatan?”. Dennies menggeleng.


“Apa tidak lelah harus terbang ke Cina-Jepang setiap harinya?”. Lagi-lagi Dennies menggelengkan kepalanya.


“Aku sedang berusaha untuk memindahkan semua jadwal ku disini. Aku enggak bisa jauh dari kamu”.


“Emmmm yang bener?”.


“Iya…”.


“Yaudah kamu lanjut tidur aja lagi. Aku mau sarapan dulu. Good morning. Selamat tidur Dennies”.


“Selesai sarapan langsung ke kamar ya. Aku butuh kamu nemeni aku tidur. 3 jam aja. Habis itu kita lanjut makan di tempat yang lagi hits itu. Aku udah booking kursi disana”.


“Oh ya? Okeee. Selamat tidurrr. Aku akan kembali dengan cepat”.


Hari ini sama seperti hari sebelumnya. Sudah selama seminggu osaka dibasahi air hujan. Semua orang tampak sangat sulit karna harus beraktivitas di waktu hujan seperti ini. Ada yang harus berlari sambil melindungi kepalanya karena dia tidak membawa payung. Ada sepasang kekasih yang sedang berlari di bawah payung sambil tertawa kecil melihat satu sama lain. Ada juga seorang ibu yang harus menggendong anaknya sambil memegang payung. Semua ekspresi mereka berbeda.


“Ini pesananmu” seorang pramusaji baru saja membawakan kami pesanan yang kami pesan.


“Terimakasih”. Ucap Dennies. “Akan ku potong kecil-kecil untuk tuan putri kesayangan Louis dan Dennies”. Dennies langsung mengambil piringku untuk memotong daging itu.


“Kau suka hujan tidak?”. Dennies menggeleng.


“Aku menyukainya. Aku menyukai cuaca saat hujan. Langit yang gelap bukan karena sudah malam. Aroma hujan yang unik. Cuaca yang dingin\~\~”.


“Tapi kau takut mendengar petir, kau tidak bisa mengontrol dirimu saat langit berwarna gelap dan tubuhmu tidak cocok dengan cuaca dingin”. Potong Dennies. “Mau aku suapin??”. Elyssen menggelengkan kepalanya.


“Perasaanku yang membuatnya berbeda. Kadang aku ingin menangis, seperti aku pernah berada di posisi sulit. Waktu di mobil saat bersama Louis, saat itu gerimis dan jalanan macet. Louis memutar radio. Waktu itu louis sedang bertelepon, rasanya seperti aku pernah mengendarai mobil saat turun hujan sambil menangis. Otakku selalu memunculkan memori aneh seperti itu. Itulah alasan kadang aku tidak bisa mengontrol emosi ku”.


“Apa sekarang otakmu memunculkan memori itu lagi?”.


Elyssen menggeleng “Hanya muncul kadang-kadang”.


“Sepertinya cuacanya akan semakin dingin. Aku enggak mau kamu tiba-tiba pingsan disini”. Dennies membalut tubuh Elyssen lagi dengan jaket miliknya.


“Kamu enggak kedinginan?”.


“Aku sudah terbiasa dengan cuaca dingin. Tapi aku tidak terbiasa jauh dari kamu”. Gombal Dennies.


“Aku sudah memikirkannya. Bagaimana kalau aku ikut pindah ke Cina sama kamu? Biar kamu enggak harus Jepang-Cina terus. Gimana?”.


“Boleh sih. Tapi setelah sampai di Cina. Mungkin kau akan kehilangan aku”.


“Kenapa?”.


“Louis akan membunuhku”. Goda Dennies.


“Jadi, kalau Louis membunuhku enggak apa-apa?”.


“Ya enggak boleh. Aku enggak mau kehilangan orang yang aku sayangi. Kehilangan kedua orangtua saja sudah membuatku menderita, aku enggak mau kehilangan kamu dan Louis”.


“El… Diantara kami berdua, jika aku dan Louis di sandera penjahat dan kau disuruh memilih diantara kami, siapa yang akan kau selamatkan?”.


“Keduanya. Aku tidak akan memilih salah satu diantara kalian. Aku akan menyelamatkan kalian. Walaupun nyawa taruhannya”.


“Sudah lah, jangan bahas itu lagi. Setelah ini mau kemana?”.


“Belanja. Kebutuhan rumah sudah banyak yang habis, harus di restock lagi”.


“Oke. Cepat habis kan makanan kamu”.


Seperti permintaan Elyssen tadi, Dennies benar-benar menghabiskan satu hari penuh dengan kencan bersamanya.


Di Supermarket Dennies terus berada disampingnya. Mengikuti kemana langkah Elyssen menuju sambil mendorong trolley yang hampir penuh dengan barang yang akan mereka beli.


“Dennies, kita pacaran sudah lama kan? Kapan kita akan menikah?” Tanya Elyssen yang mendadak membuat langkah Dennies terhenti.


“Kamu mau menikah samaku?”.


Elyssen mengangguk cepat. “Kau tidak ingin menikah denganku?”.


“Tentu saja mau”. Sahut Dennies cepat. “Kamu tahu kan, masa seperti ini sulit buat menikah. Aku harus membayar penalti karna melanggar kontrak perusahaan”.


“Louis bisa membantu”. Balasnya dengan raut wajah yang berbeda. “Uang bukan masalah. Tapi kalau kamu belum siap it’s okay. Aku juga tidak mau terburu-buru”. Lanjutnya lagi.


Elyssen sengaja menjauhkan diri dari Dennies, tapi Dennies tetap setia mengikuti kemana gadis itu melangkah, Biarpun langkah gadis itu sengaja di percepat agar Dennies sedikit membuat jarak. Tapi Dennies tetap sedikit mengejar keterlambatannya sambil mendorong trolley.


Setelah ucapannya tadi. Mereka berdua jadi canggung. Beberapa menit hening. Dennies juga tidak berani mengeluarkan suaranya karena dia peka dengan kondisi Elyssen yang saat ini sedang merasa tidak nyaman.


“El… Kamu kan benci Tauge”. Ucap Dennies saat tangan Elyssen meraih Tauge yang sudah di kemas rapi. “Kenapa ngambil nya banyak banget?”.


“Kamu enggak tahu? Katanya tauge bagus untuk kesuburan. Walaupun nantinya aku enggak jadi menikah sama kamu. Setidaknya aku harus menikah dengan orang lain dan memiliki anak kan?”. Jelas Elyssen sambil mencampakkan tauge ke dalam trolley. Lalu dia mengambil alih trolley tersebut dari Dennies.


Dennies membeku. Dia jadi merasa serba salah. Saat di mobilpun keduanya sama-sama membeku. Tidak ada suara.


Cuaca malam ini benar-benar sangat dingin. Biarpun Dennies sudah menyalakan alat penghangat di mobil, cuaca dingin tetap masuk. Mungkin ini juga faktor karena Elyssen marah.


“Aku nyerah. Akan ku bicarakan sama manajer tentang ini. Jangan marah lagi. Maaf…”. Saat Dennies meraih tangan Elyssen, tangan itu sudah seperti membeku.


Dennies buru-buru menepikan mobilnya ke pinggir. Dia langsung memeriksa denyut nadi Elyssen. Merasakan detak jantung yang sudah tidak stabil.


“Gimana perasaan kamu? Kamu masih kuat? Kenapa enggak bilang sama aku kalau kamu kedinginan? Mau ke rumah sakit?”.


“Enggak. Pulang aja”.


“El… Aku minta maaf”.


“Bukan salah kamu, aku nya aja yang lemah. Mungkin aku enggak pantes buat dampingi kamu. Aku nyuruh kamu milih antara kamu sama Louis dan aku milih kalian berdua. Tapi kamu sendiri juga bakal milih aku dan pekerjaanmu juga kannn?”.


“El, aku lebih milih kamu. Udah jangan banyak bicara. Kamu harus ngontrol diri kamu. Jangan pingsan. Aku ambil selimut lagi di bagasi”.


“Dennies, kalau aku mati. Kau akan menemukan gadis yang lebih baik dari aku. Gadis yang sehat juga”. Ucap Elyssen saat Dennies sedang mengambil selimut di belakang.


“Enggak akan ada gadis lain El. Kehilangan kamu itu nyiksa aku. Aku juga akan nyusul kamu secepatnya. Akan ku lakukan hal itu berulang kali kalau kita berinkarnasi”. Dennies kembali lagi masuk ke mobil saat sudah mengambil selimut di bagasi. “Justru kamu. Seandainya suatu saat nanti ada seorang pria yang mencintaimu selain aku dan Louis. Apa kau akan meninggalkan ku?”.


Elyssen menggeleng cepat. “Aku juga akan melakukan hal yang sama El. Apapun akan ku lakukan untukmu”. Lanjutnya sambil menyelimuti tubuh Elyssen dengan selimut.


Dennies memeriksa kembali denyut nadinya. “Sudah lebih baik?”. Tanyanya yang langsung di respon baik oleh Elyssen. Dennies langsung memeluk tubuh Elyssen agar suhu tubuhnya kembali normal.


“Lusa aku akan kembali ke Cina. Aku akan mengakhiri kontrak dengan perusahaan. Mulai sekarang focus ku akan ku beri semua kepadamu”.


“Kenapa berhenti?”.


“Aku ingin berada di sisi mu terus”.


“Jadi kamu enggak kerja?”.


“Enggak, kenapa?”.


“Terus kita mau makan apa?”.


“Kamu bilang tadi Louis bisa membantu”.


“Iya, tapi enggak untuk seumur hidup juga kita bergantung sama diaa. Louis juga suatu saat akan menikah”. Ucap Elyssen dengan senyum merekah. Dennies melepaskan pelukan itu untuk melihat senyuman Elyssen.


“Iya aku tahu. Aku udah punya tabungan kok. Cukup lah untuk hidup selama 10 tahun. Ya tapi kamu enggak boleh boros. Kalau kamu boros. Setengah tahun pasti udah habis”.


“Aku enggak boros. Kamu yang boros. Suka belanja hal yang enggak penting”.


“Tuntutan perusahaan El. Harus gitu memang. Tapi kan enggak selalu aku beli pakai duit sendiri. Kebanyakan juga dikasih promotor”.


“Makanya jangan keluar. Kamu harus tetap kerja. Kan lumayan bisa dapat barang gratis”.


“Aku bisa kerja sama Louis”.


“Terserah kamu sih”.