Our Soul My Last

Our Soul My Last
Why people like this?



“Hari ini aku kembali ke Cina”. Ucap Dennies.


“Iya gapapa”. Jawabku melas.


“Minggu depan baliknya yaaa. Atau bisa jadi lebih lama lagi. Gapapa kan?”.


Aku hanya mengangguk.


“Ayo sini ikut aku bentar” Dennies menarik tanganku keluar dari kamar. “Ada orang yang mau ketemu kamu”. Lanjutnya.


“Siapaaa?”.


“ELL!!!” Teriaknya. Mataku terus mencari tahu siapa orang ini.


“Kamu masih ingat kan?” Tanya Dennies.


Dengan cepat aku menggelengkan kepalaku.


“Dia Jun, kamu pertama kali ketemu dia di rumah kamu. Kamu enggak ingattt?”.


“Ohhhh iya. Haiiii Jun, sorry udah lama enggak ketemu jadi lupa”. Balasku berbohong. Lebih baik berbohong El, daripada membuat orang sakit hati karna kau tidak mengingatnya.


“Iya gapapa El, Gimana kabar kamu?”.


“Baik kok, kamu?”.


“Baik juga”.


“Bro, aku mau balik ke China. Waktu nya enggak pas banget. Sorry yaaa”. Jelas Dennies.


“Iya enggak apa. Kalau aku bawa El gimana?”.


“Emmmm…” Dennies melirik ke arahku, seperti menunggu jawaban dariku.


“Kalau Dennies sama Louis kasih izin, aku pergi”.


“Iya boleh kok. Kamu harus berteman sama banyak orang El” Sambung Louis yang tiba-tiba muncul. “Haiii Jun, apa kabarrr? Ada yang mau aku tanyakan sama kamu, bisa kita mengobrol diruanganku?”. Jun mengangguk. Louis menunjukkan arah menuju ruangannya kepada Jun.


“Sepertinya cuma aku yang tidak tahu siapa orang itu”. Bisikku kepada Dennies. Raut wajah Dennies langsung berubah. Lalu dia mengelus lembut kepalaku.


“Ayo bantu aku berkemas”. Pintanya.


Siang ini waktu aku bersama Dennies tinggal menghitung waktu. Dia duduk di sebelah ku sambil memakan pancake rasa strawberry kesukaanku. Aku tidak sanggup lagi menghabiskannya dan ku beri sisanya kepada Dennies.


“Dia ga bisa kena udara dingin, jaga in dia waktu hujan, sering-sering cek suhu tubuhnya. Dia benci minuman dingin, kecuali ice cream. Dia suka ice cream strawberry, semua yang berbau strawberry dia suka. Tapi jangan pernah belikan dia ice cream. Dia ga boleh makan fast food. Pindahkan selimut di bagasi ke kursi belakang. Kalau terjebak macet saat hujan, ajak dia berbicara apa saja. Jangan sampai buat dia melamun. Ahhh iya, ini yang paling penting——“.


“Dennies….” Sambungku yang ingin memotong ucapan dennies.


“Kalau terjadi sesuatu. Cepat hubungi Louis. Aku kirim nomor nya ke kamu sekarang juga. Kamu itu suka kelewat batas sama keadaan kamu. Ga bisa jaga diri sendiri. Selama aku enggak ada, nurut sama dia sementara waktu”. Ucap dennies menasehatiku. Sedangkan pria ini hanya memandang kami dengan ekspresi yang tidak bisa ku artikan.


“Udah hampir waktu nya boarding. Aku pergi ya. Jaga kesehatan kamu. Jangan lupa ngabarin aku aktivitas apa aja yang kamu lakukan setiap harinya. I will be miss you baby”. Dennies memelukku.


“Duhhh ga siap-siap drama nyaaaa”. Kali ini Jun bersuara.


“Hahaha Maaf Jun. Tolong jagain dia yaa”. Pinta Dennies.


“Udah pasti akan ku jaga. Tenang aja”.


“Bye!! Have fun mainnya yaaa. Jangan pulang malam-malam. Nanti Louis marah”. Canda Dennies, lalu dia berjalan sambil menggeret kopernya.


Hanya tersisa antara aku dan pria ini. Dia langsung membawaku ke tempat yang dari dulu ingin ku datangi. Wahana permainan\~


“Butuh jacket?” Tanyanya. Yang langsung ku balas dengan anggukan. “Teman-temanku sebentar lagi akan tiba. Mau makan lagi sembari menunggu mereka?”. Lanjutnya.


“Entaran aja. Aku juga masih kenyang”.


“Gimana kabarmu El? Apa kamu baik-baik saja selama disini?”.


“Iya aku baik”.


“Setelah acara pemakaman aku lupa mengabari Dennies. Aku benar-benar melupakan beberapa kejadian karena terlalu shock”.


“Pemakaman? Siapa yang meninggal?”.


“Mantan aku”.


“Ohh… Emmm maaf Jun. Aku turut berduka”.


“Gapapa. Sekarang aku sudah jauh lebih baik karena mengetahui hal yang membuatku bahagia. Mustahil sih. Tapi aku sangat beruntung banget”.


“Apa itu?”.


“Gimana perilaku Dennies ke kamu? Dia baik?”.


“Iyaaa…”.


“Kamu sebegitu menyukainya?”.


“Tentu saja”. Balas ku antusias.


Tidak beberapa lama menunggu, akhirnya yang ditunggu datang juga. Mereka sangat banyak. Hingga membuat jantungku berdetak cepat saking geroginya. Sepertinya ini pertama kalinya aku hadir di pertemuan yang ramai seperti ini.


“Aprilll????”. Ucap salah seorang perempuan yang datang-datang langsung menggandeng lengan Jun.


“Ahhh bukan. Dia bukan April. Kenalin semuanya. Dia Elyssen, pacar Dennies. Dennies tidak bisa ikut sama kita karena dia harus kembali ke China pagi tadi. Jadi aku cuma bisa bawa pacar nya kesini. Aku harap kalian bisa berteman baik sama dia”. Buka Jun.


Tapiii, Aprilll? Siapa April?.


4 jam berlalu dengan canda tawa yang tidak pernah kita lewatkan saat bermain wahana. Aku jadi dekat dengan mereka karena jun juga selalu melibatkanku di semua permainan.


“Kau mahir banget bawa mobilnya. Tangan 1 lagi. Ahh Mungkin karna kau sudah biasa bawa mobil. Aku memang tidak bisa bawa mobil”. Ucap salah seorang teman yang membuatku terdiam.


Aku tidak pernah bawa mobil. Aku baru menyadari kalau aku bisa semahir ini memainkannya. Ini pertama kalinya aku datang ke tempat ini dan memainkannya. Apa memang permainan ini sangat mudah bagiku?.


“El, jangan sering-sering dekat sama Jun, dari tadi si ituuu ngeliatin kamu terus”. Bisik salah seorang teman lainnya.


“Kenapa?”.


“Sepertinya dia cemburu”. Lanjutnya.


“Ohhh iya-iya. Makasih ya udah ingati”.


“Terakhir kita mau main arung jeram. Kamu ikut El? Kita barengan aja”.


“Aku enggak ikut. Aku temeni El disini” potong Jun. “El enggak bisa kena cuaca dingin, jadi kalian aja yang main, aku temani El disini”.


“Tapi kita kurang 2 orang lagi Jun, biar kita bisa bagi 2 team”.


“Elll ayo dong. Udara nya ga terlalu dingin kok. Please, biar kita bisa mainnn karena kita kurang 2 anggota kalau kamu sama Jun enggak ikut”.


“Emmmmmm. Seriusan enggak dingin?”.


“Iya, percaya sama aku”.


“Oh oke yaudah”.


“Yeayyyy. Ayo jalannnn”.


“Enggak apa El?”. Tanya Jun sambil berjalan disebelahku. Aku langsung mengangguk. “Jangan di paksa kalau kamu enggak kuat”.


“Aku bisa kok Jun. pasti bisaa”.


Jun terus berjalan di sebelahku. Bahkan saat mengantri pun dia berdiri di belakangku. Perempuan itu terus milirikku tidak suka. Beberapa kali ku dapati wajahnya yang tidak bersahabat sama mata kami bertemu. Aku seperti di asingkan. Dunia terasa seperti hanya ada aku. Ku keluarkan poselku untuk membunuh waktu.


“Titip dompet sama ponsel dong” Jun langsung menyerahkannya kepadaku dan perempuan itu langsung menoleh lagi ke arahku. Dia terus membuat kehebohan berada di antrian depan.


Saat menaiki perahu karet udara dingin langsung menusuk menembus kulitku. Sialan, mereka berbohong. Jun mendapatiku sedang menggosok kedua telapak tanganku, lalu dia memegang tanganku, lalu di masukkannya kedalam kantung jaketnya.


Terlalu hangat dan nyaman. Aku juga tidak bisa menolak perilaku itu.


Saat permainan berlangsung, udara semakin terasa dingin bahkan air yang menyiprat kami aku rasa memiliki suhu yang rendah. Rasa dingin ini lagi-lagi menyerangku ditambah lagi dengan tatapan sinis dari teman-teman Jun yang berada di tim lain yang membuatku sangat tidak nyaman. Bagaimana aku tidak mendapatkan tatapan sinis seperti itu saat Jun terus merangkul tubuhku.


Tubuhku bergetar hebat saat permainan telah usai. Udara dingin sialan ini juga benar-benar menyiksaku. Baju kami semua basah. Jun langsung sigap membeli handuk dan membantu membuat tubuhku hangat. Sial nya tubuh ini semakin bergetar. Aku menggigil. Tanpa aba-aba Jun langsung memelukku erat. Essence tubuh nya membuatku nyaman dan sedikit mengurungi getaran sialan ini.


Jun langsung mengantarku ke kamar kecil untuk berganti pakaian. Dia menyuruh temannya untuk menemaniku. Kami berada di ruangan bersama.


“Aku benci banget liat Jun! Sialan perempuan itu”. Ucap salah seorang yang sudah aku tau siapa pemilik dari suara itu.


Salah seorang teman yang berada di ruangan yang sama denganku menatapku sedih dan menepuk pundakku yang mengisyaratkan aku harus banyak bersabar.


Air mataku langsung terjatuh saat tepukan halus yang dia berikan.


“Wajahnya mirip sekali dengan April. Biarpun April sudah mati, kenapa harus ada orang baru yang wajahnya semirip itu? Kenapa coba? Kenapa bisa?”. Emosi nya terus-terusan meluap. “Aku harap orang yang wajahnya mirip dengan April pada mati!!”. Sarkasnya lagi yang membuat kaki ku langsung melemas saat mendengar itu. “Semoga perempuan itu juga cepat mati!!!”. Lanjutnya. “Tidak bisa kena cuaca dingin lahhh, lebay bangettt cihhhh. Aku harap kamu mati di cuaca dingin seperti ini!”.


Brakkkkkk


Aku terjatuh karena kaki ku seperti tidak memiliki daya lagi. Terlalu banyak makian yang tidak bisa lagi ku tahan. Kenapa ada perempuan jahat seperti ini?


“Elll….. Junnnn…” Dia langsung keluar ruangan dan berlari mencari Jun. Sedangkan perempuan yang berada di depan pintu ini shock melihatku sudah tidak berdaya.


Sebelum mataku menutup, bibirku mengulum senyum ke arahnya. Aku juga berharap mati di dalam kondisi cuaca seperti ini.