
“Aku mau minta izin untuk menikahi Elyssen”. Ucap Dennies sambil berlutut di ruang kerjaku.
“Tidak ku izinkan” balasku tegas. “Aku baru saja mendapatkan adikku kembali dan sekarang kau akan merebutnya kembali dari ku? Kusuruh kau untuk menebus kesalahanmu bukan untuk mengulangnya”.
“Aku akan menebusnya”.
“Maka dari itu korbankan hidup mu untuknya”.
“Apa tidak ada cara lain? Aku akan mengabdikan diriku untuknya”.
“Mata dibalas dengan mata. Gigi dibalas dengan gigi. Nyawa juga harus dibalas dengan nyawa. Mau dunia sudah berevolusi. Hukum tetap lah hukum. Tidak akan ada yang berubah. Maka dari itulah manusia hanya petaka yang akan menghancurkan alam yang sudah susah payah kami ciptakan”.
“Aku juga bagian dari kalian untuk menciptakannya”.
“Tapi sekarang kau manusia”.
“Elyssen juga. Sadarlah Louis. Tidak semua harus berjalan sesuai rencanamu”.
“Terus, apa semua akan berjalan sesuai rencanamu?”. Setelah kalimat itu aku langsung keluar dari ruanganku.
Sudah beribu tahun aku menunggu elyssen kembali padaku. Sudah berapa cara juga aku lakukan. Tapi tetap aja hasilnya tidak sebagus sekarang.
Dalam seribu tahun. Dia sudah reinkarnasi sebanyak 5 kali. Aku harus menunggu dan mencarinya. Sang Agung tetap akan merahasiakan kepadaku jika Elyssen terlahir kembali. Aku berjuang sendiri untuk menemukannya. Tetapi Aiden, dia masih saja tetap egois.
Selama ini tidak ada yang mengerti diriku. Aku lebih banyak melakukan semuanya sendiri. Tanpa seseorang yang membantu. Aku juga banyak melakukan kebencian terhadap sesama kaum ku. Makanya mereka merubah statusku menjadi dewa kekejaman.
Saat itu benar-benar mereka hanya menyalahkanku. Mengataiku. Dan memojokku. Aku tidak punya teman mengobrol, tidak bisa melampiaskan kekecewaanku. Semua memusuhiku.
Hari di mana Elyssen tiada bahkan aku ingin menghancurkan sang Agung yang dengan kejam nya membinasakan adikku. Adik yang selama ini selalu ku lindungi harus mati di hadapanku dengan sangat tragis.
“Aku tidak pernah memberitahukan kesedihanku kepadamu. Aku menyimpannya sendiri dan tersenyum didepanmu. Jika kau marah padaku, Kau masih bisa cerita dengan siapapun. Sedangkan aku? Sama siapa aku harus mengutarakan kesedihanku? Aiden? Bahkan dia sudah tidak perduli lagi denganku. Aku tidak punya siapa-siapa kecuali kau. Kalau kau diam seperti ini terus aku juga akan diam dalam waktu yang cukup lama. Semua bisa kita selesaikan. Kalau memang seperti ini takdirku, aku terima, kau juga harus terima. Aku juga tidak ingin membuatmu sedih. Ini salahku. Makanya aku akan diam dan menerima semua emosimu. Tapi ku mohon jangan berhenti bicara dengan aku”.
“Saat aku tidak ada, Tolong jangan membencinya. Walaupun kami sudah bersama dalam waktu lama, cepat atau lambat dari salah satu kami pasti akan tergoda dengan orang lain. Aku mencintai manusia itu tulus. Manusia lebih mengerti perasaan dibanding kaum kita. Mereka hangat, ceria dan juga penyayang. Aku yang tidak bisa menjaga itu dan dia yang harus menanggung semuanya. Louis, kau harus melindungi Kenzo jangan biarkan sang Agung menyentuhnya. Untuk Aiden dan Reika aku sudah memaafkan mereka. Tidak ada dendam sama sekali. Sepertinya cintaku pada Aiden juga sudah tidak ada lagi. Biarkan dia bersama dengan dewi Reika. Jangan ganggu mereka”.
“Jika aku terlahir kembali. Tetap lah menjadi Louis yang ku kenal. Kau harus menjadi dewa seterusnya. Agar bisa tetap bersamaku. Aku akan kembali secepatnya. Biarpun bukan menempati posisi menjadi seorang dewi”. Perkataan itu di ucapkan Elyssen seminggu sebelum dia di eskekusi mati oleh sang Agung.
“Louis… Ada masalah apa? Kenapa menangis?”. Elyssen mendapatiku sedang menangis di halaman belakang.
“Ahhh enggak. Tadi baru dikasih tau suster, pasien aku meninggal”.
Elyssen datang memelukku dan menepuk-nepuk punggungku. “Good job Louis. Setidaknya kau sudah berusaha. Dia tidak akan menderita lagi di dunia. Dia sudah tersenyum di surga”.
Aku hanya tersenyum mendengarkan elyssen menyebut kata surga. Tidak ada yang namanya surga El kecuali dunia ini. Dunia ini lah surga.
“Louis… Ada yang mau aku sampaikan denganmu”.
“Apa???”.
Ekspresiku langsung berubah mendengar kalimat itu. Lalu beberapa detik ku paksa bibirku tuk mengulum senyum.
“Bagus dong. Selamattt yaaa”. Ucapku penuh kebohongan. Aiden sialan. “Aku pergi ke rumah sakit dulu”.
Mimik wajah elyssen juga ikut berubah setelah aku bicara akan pergi ke rumah sakit. “Kamu enggak suka ya? Aku tidak akan menikah kalau kamu enggak ngerestuin”.
“Kamu sayang sama Dennies?” Elyssen mengangguk.
“Aku akan menyukai semua hal yang kamu suka. Aku juga akan mendukung kamu dalam hal apapun. Kalau kamu memang mau menikah sama Dennies itu terserah kamu, aku akan mendukungmu”. Aku harus mengatakan kalimat bodoh agar Elyssen tidak sedih.
“Beneran?”.
“Iyaaaa” ucapku sambil tersenyum. “Mau ikut ke rumah sakit?”.
“Okeeee, aku siapan dulu”.
Sore itu turun hujan. Aku harus menghidupkan penghamat di mobil. Beberapa kali ku cek kondisi Elyssen untuk melihat reaksi tubuhnya. Dia hanya diam dan melamun. Ada sesuatu yang di pikirkannya.
“Gimana dengan perusahaan Dennies? Apa enggak masalah kalau dia menikah?”.
“Tanggal pertunangannya kapan?”
“Orangtuanya datang kesini kan?. Aku akan persiapkan gedung nya. Gaun mau fitting kapan? Biar aku temeni” Pertanyaan ku itu semua tidak ada yang di jawab Elyssen.
“Louis… Kenapa hatiku sakit banget???”. Saat aku menoleh ke arah Elyssen, air mata nya sudah menurun ke pipinya. Aku langsung menepikan mobil ke pinggir.
Faktor hujan, udara dingin. Ini semua akibat kecelakaan itu. Aku memanipulasi semuanya, tapi akibat nya jatuh ke Elyssen.
Berkali-kali dia menghirup udara banyak sambil menepuk-nepuk dadanya.
“Sakit gimana? Jantung kamu yang sakit?”. Malam itu jantung Elyssen benar-benar berhenti, aku yang menghidupkannya kembali dengan berujung harus melawan sang Agung. Kenzo juga yang membantuku untuk menukar Jiwa nya dengan jiwa Elyssen.
“Tadi sewaktu di lampu merah ada yang neriakin nama APRILLL!!!. Suara nya sama dengan suara seseorang. Louis, sepertinya aku kenal suara itu, apa hanya mirip?”
“Siapa El? Suara siapa? Dennies?”. Elyssen menggeleng.
“Bukannn. Bukan suara Dennies. Aku enggak tahu suara siapa. Tapi sejak mendengar suara itu hatiku jadi sakit”.
“Apa ada yang ku lewatkan? Louis, apa aku pernah lupa ingatan? Kecelakaan? Atau apa gitu?”.
Aku menghapus ingatannya dan memasukkan memori palsu yang tidak pernah dia lakukan.
“Itu Jun! Jun di China Louis. Di lampu merah tadi Jun melihat Elyssen”. Kali ini Kenzo yang berbicara. “Reika sudah memulihkan ingatan Jun. Tentang lamaran itu, kau harus bicara dengan nya. Agar dia tidak ikut campur tangan dalam hubungan Aiden dan Elyssen lagi”.
“Kita pulang aja. Aku lupa hari ini Dennies mau bicara denganku dirumah”.