ONLINE WEDDING

ONLINE WEDDING
Episode 9



Arya: Beautiful in My Eyes



Kalau bukan karena perintah dari papi untuk menghadiri peresmian hotel yang baru dibangun ini, aku tidak mungkin datang ke sini. Apalagi dengan mengajak Nara.



Lihat saja, sedari tadi banyak mata lelaki yang meliriknya terang-terangan. Padahal, tanganku melingkar di pinggang Nara dengan erat. Namun mereka seakan menutup mata. Mereka tanpa malu memperhatikan Nara lekatlekat. Bahkan tadi ada yang mengajak Nara berkenalan. Membuatku semakin kesal saja!



Nara sendiri tampaknya tidak sadar bahwa dirinya malam ini jadi pusat perhatian. Dia bahkan tanpa sungkan membalas senyuman beberapa orang yang menyapa kami. Aku semakin kesal karena gaun yang kubelikan untuknya ternyata terlalu pendek. Kakinya terekspos sempurna. Harusnya kukurung saja dia di kamar. Harusnya aku pergi sendiri ke sini. Bodoh. Penyesalan memang selalu terlambat datangnya.



“Arya kok diem aja sih dari tadi? Malu ya ngajak aku ke sini?”



Bibir mungilnya kini mencebik. Membuat gemas ingin mengecup bibir yang dihiasi lipstik merah itu.



“Kamu cantik malam ini.” Kuabaikan pertanyaannya tadi. Mana mungkin aku malu mengajaknya? Aku cuma kesal karena banyak lelaki yang meliriknya.



“Jadi aku cuma malem ini aja cantiknya? Kemaren-kemaren nggak?”



Dia kini mendengus. Membuang muka ke arah lain. Kuputar dagunya agar kembali menatap wajahku. Raut wajahnya masih tampak kesal. “Bukan gitu maksudku. Kamu selalu kelihatan cantik. Hanya saja malam ini cantiknya lebih dari biasanya.”



“Arya, ih.”



Dia memukul lenganku pelan. Wajahnya sekarang tampak malu-malu. Dia salah tingkah. Aku tersenyum senang.



“Kita pulang sekarang ya?” Tidak ingin lagi aku berlama-lama di pesta ini. Nara akan kusimpan untukku sendiri. Tidak boleh ada yang meliriknya selain aku. Nara hanya milikku.



Milikku.



Ketika dia mengangguk, aku langsung mengajaknya meninggalkan pesta.



***



“Arya. ”



Tubuhku terasa diguncang oleh seseorang. Aku membuka mata perlahan. Aku tidak cukup tidur semalam karena memikirkan gadis yang berada di kamar lain di sebelah kamarku.



“Arya, udah pagi,” ucapnya lagi.



“Hmmm.” Aku duduk dan menyandar di badan ranjang. “Pagi Nara,” sapaku lembut ketika sadar bahwa Nara yang membangunkanku.



“Pagi, maaf aku bangunin kamu.”



“Nggak apa-apa.” Aku melirik jam di dinding, pukul tujuh pagi. Aku memperhatikan Nara yang sudah berpakaian rapi. Sepertinya dia sudah mandi.



“Kamu udah bangun, kan? Aku keluar, ya?”



Aku segera menarik tangannya. Tubuhnya kini jatuh tepat di pangkuanku akibat gerakan tiba-tiba yang kulakukan. Mata indahnya bertemu dengan mataku. Kami bertatapan cukup lama sampai Nara duluan yang mengalihkan pandangan.



“Arya, lepasin.”



Dia berusaha turun dari pangkuanku. Namun tanganku merangkulnya lebih erat. Aku mengecup pipinya sekilas baru menurunkannya dari pangkuanku. Aku berjalan santai menuju kamar mandi sambil bersenandung. Saat aku menoleh, Nara masih terpaku di tempatnya tadi.



Usai mandi, aku sudah tidak mendapati Nara di kamarku. Mungkin dia sudah keluar. Aku pun menuju kamar Nara yang berada tepat di sampingku. Nara sedang merapikan isi tasnya ketika aku masuk.



“Nara,” panggilku pelan.



“Ya?”



“Kamu udah siap-siap?”



“Udah, kita langsung pulang ke Jakarta, kan?”



“Iya, nanti sarapan di bandara aja, nggak apa-apa kan?” Dia mengangguk. Aku menarik tangannya keluar dari kamar menuju mobil yang sudah siap mengantarkan kami ke bandara. Aku semalam sudah menelepon pegawai papi yang waktu itu membawa mobil ke bandara untuk mengantar kami pulang.



Sampai di bandara, aku langsung membeli tiket dan check-in. Setelahnya aku mengajak Nara keluar untuk sarapan di area bandara karena penerbangan kami masih satu jam lagi.



“Arya, kamu nggak kerja? Kan ini hari Senin?” tanya Nara di sela-sela waktu makan kami.



Aku menyesap kopiku dan meletakkan cangkir di atas meja. “Nggak, aku bolos hari ini. Kamu tenang aja, sebelum ke sini aku sudah bilang asistenmu kalo kamu juga nggak masuk kerja hari ini.”



Alisnya terangkat. Matanya tidak lepas menatapku.



Seakan-akan menanyakan ‘kok bisa?’



“Aku udah siapin semua sebelum ngajak kamu ke sini,” ucapku santai. Sejujurnya, aku tidak bolos, aku sudah dapat izin dari papi untuk tidak masuk kantor.



Dia cemberut. Kelihatan lucu, tetapi tetap cantik. Ponselku bergetar di atas meja. Aku melihat caller ID. Mami.



“Ya, Mi. Ada apa?”




“Di Jogja tapi udah mau pulang ke Jakarta.”



“Sama siapa ke Jogjanya?”



“Sama Nara.”



“Ya udah ati-ati.”



“Oke.”



Panggilan berakhir. Nara kelihatan penasaran karena namanya tadi kusebut.



“Mami minta aku ngajak kamu ke rumah abis ini.”



“Ngapain?”



“Aku nggak tahu. Nanti kamu tanya Mami aja deh.”



“Ya udah.” Nara terdengar pasrah.



Sarapan telah selesai. Usai membayar makanan, aku dan Nara menuju ruang tunggu. Satu setengah jam kemudian kami sudah kembali berada di Jakarta, kota yang penuh kemacetan di hari Senin. Sopir keluargaku sudah menjemput ketika kami keluar dari bandara. Mobil pun melaju menuju rumah.



“Kanarya baby....” Mamiku seperti biasa heboh, semakin bertambah heboh ketika melihat Nara juga masuk ke dalam rumah. Mami memelukku dan Nara bergantian.



“Arya nakal ih sekarang.” Mami menjewer kupingku hingga aku mengaduh kesakitan. Nara hanya tertawa melihatku dianiaya Mami.



“Nara diapain aja sama Arya? Kok mau-maunya sih dibawa kabur gitu aja sama Arya?” tanya Mami pada Nara yang langsung menunduk malu.



“Apaan sih, Mi? Aku nggak ngapa-ngapain Nara. Papi yang menyuruhku ngajak Nara ke Jogja,” sahutku tidak terima.



“Masa sih?” Mami melirikku dan Nara bergantian. Entah kenapa, menurutku mami terlihat seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Buktinya mami tersenyum misterius begitu.



Asisten rumah tangga kami datang mengantar minuman. Aku mengambil satu dan menyerahkannya pada Nara. Kemudian mengambil untukku sendiri.



“Arya, beneran nggak nakal kan sama Nara?” tanya Mami lagi.



“Mi. please.” Dengan tatapan memohon, aku berusaha



meminta mamiku berhenti. Tapi sepertinya sia-sia saat senyum mamiku malah semakin lebar.



“Arya berani bohong ih sama Mami sekarang. Arya pasti cium-cium Nara, kan? Di vila ada CCTVnya tahu. Lagian, bibirnya Nara jadi sexy gitu kayak bibirnya Angelina Jolie.” Senyum Mami mengembang sempurna sekarang.



Aku menoleh saat Nara tersedak minumannya sendiri. Tangannya mengusap percikan air di sekitar bibirnya. Penasaran dengan apa yang dikatakan mami, aku memperhatikan bibir Nara. Tidak ada yang salah. Tetapi kenapa mami bisa tahu bahwa aku mencium Nara? Apa benar di vila ada CCTVnya?



“Udah, nggak usah malu-malu gitu. Mami juga pernah muda kok.” Aku dan Nara masih tertunduk malu. “Oh iya Nara, Tante minta kamu ke sini karena mau minta tolong.”



“Minta tolong apa, Tante?”



“Kira-kira WO kamu bisa bantu nyiapin nikahan dalam waktu dekat ini nggak?”



“Emang siapa yang mau nikah, Mi?” tanyaku penasaran.



“Adik kamu, lah,” jawab Mami santai.



“What? Oca mau nikah? Sama siapa, Mi?”



Apa lagi ini? Dilangkahi oleh adikku sendiri? Yang benar saja! Selain digelari bujang lapuk, predikatku pasti akan bertambah lagi setelah ini. Menyebalkan!



“Ya sama Andien dong, sama siapa lagi?”



Andien. Tentu saja aku tahu. Wanita itu satu-satunya wanita yang dekat dengan Zaroca. Bukankah mereka bersahabat? Ah, aku tahu, status sahabat itu cuma kedok saja untuk menutupi perasaan mereka. Aku dari dulu sudah yakin status sahabat itu bakal berubah jadi cinta. Dan sekarang, terbukti, kan?



“Memangnya kapan hari H-nya, Tante?” celetuk Nara, membuyarkan argumen yang tadi bercokol di kepalaku.



“Akhir bulan ini.”



“Kalo gitu Nara cek dulu ya Tante, bisa apa nggak, besok Nara kabarin.”



Mami hanya mengangguk.



Aku kemudian permisi naik ke kamarku meninggalkan mami dan Nara yang tengah asyik berbincang mengenai konsep pernikahan. Dari apa yang kudengar tadi, ternyata Zaroca sudah melamar Andien. Kenapa aku tidak tahu ya? Aku masuk ke ruang kerjaku dan memeriksa dokumen riset konsumen. Perusahaan kami saat ini memang lebih fokus pada konsumen daripada kompetitor. Bukan berarti kompetitor tidak penting, tetapi isu apa yang dihadapi oleh konsumen dalam menggunakan produk kompetitor tentu saja lebih menarik untuk diteliti. Dengan begitu, solusi dari semua isu yang ada bisa ditemukan juga. “Arya. ”



Pemilik suara yang akhir-akhir ini sering menghabiskan waktu denganku tengah berdiri di tengah pintu ruang kerjaku. Aku menghampiri sosoknya. Menarik pinggangnya agar mendekat. Aku mendekapnya dengan erat.



Sejak aku memutuskan meminta Nara jadi pacarku, kehidupan percintaanku memang menyenangkan. Nara yang banyak bicara, selalu bisa membuatku tersenyum. Candanya, tawanya, senyumnya, aku menginginkan semua hal itu ada di hidupku. Selain itu, Nara terlihat tulus dan tidak pura-pura. Semua itu membuatku yakin kalau menjalin hubungan serius dengannya tidak akan membuatku menyesal.