ONLINE WEDDING

ONLINE WEDDING
Episode 8



Nara: A Heart’s Journey



Ini sudah satu minggu sejak kata ‘you’re mine’ terucap dari bibir Arya. Selama seminggu itu pula hariku penuh warna. Kalau kata Syahrini, bunga-bunga cinta bermekaran. Katakanlah aku berlebihan, tetapi siapa sih yang tidak lebay jika sedang jatuh cinta? Wanita mana yang tidak ‘menyemenye’ jika diperlakukan manis dan diberi perhatian sedemikian rupa oleh seorang lelaki? Apalagi lelaki itu adalah Arya. Lelaki yang aku suka. Yang aku inginkan.



Saat pertama Arya mengutarakan ingin menjalin hubungan serius denganku, aku tidak langsung mengiyakan. Harus kuakui, aku memang jatuh cinta padanya, tapi bukan berarti aku dengan mudahnya mau saja. Tidak begitu. Jadi, waktu itu, tanpa pikir panjang, aku langsung memintanya menjemputku pukul empat pagi. Aku mengajaknya ke Puncak untuk melihat sunrise.



Perjalanan di pagi itu sebenarnya caraku untuk menguji Arya. Ketika dia datang tepat waktu, maka dia lolos ujian pertama. Aku terkesan dengan niatnya menjemputku sebelum pukul empat pagi itu.



Sejujurnya, aku memang tidak punya tempat tujuan pasti untuk melihat sunrise. Namun, Arya menyarankan agar kami pergi ke vilanya di Puncak. Aku suka lelaki yang memiliki inisiatif. Dia bisa mengambil keputusan dengan cepat.



“Dingin?”



Aku mengangguk. Dari rumah, aku memang sengaja tidak mengenakan jaket. Udara Puncak yang dingin membuatku menggigil. Untunglah Arya tanggap, lalu memberikan jaketnya padaku. Perlakuan seperti ini memang sederhana, tapi aku tersentuh. Sungguh. Menurutku, saat Arya memberikan jaketnya padaku, itu romantis.



Ada hal lucu yang kuingat. Saat aku meminta Arya memasak. Aku mengikutinya masuk ke dapur. Sejujurnya, aku sudah menebak kalau dia tidak bisa memasak. Begitu Arya hanya melongo saja di depan lemari es, aku pun mengambil alih keadaan. Meski aku menyukai lelaki yang bisa memasak, namun kejujuran Arya yang mengatakan bahwa dia tidak bisa memasak membuatku senang. Di masa depan, aku berharap, sepahit apa pun keadaan yang kami hadapi, Arya akan tetap jujur padaku.



Setelah kami kembali ke Jakarta, Arya kembali menanyakan pertanyaan tentang menjalin hubungan serius denganku. Aku mengiyakan. Aku tidak tahu kenapa aku bisa begitu cepat mengiyakan permintaan Arya untuk mencoba menjalin hubungan. Apa karena aku sudah jatuh pada pesonanya? Atau aku benar-benar jatuh cinta pada Arya? Bisa jadi. Entah apa yang kupikirkan saat mengatakan setuju. Tapi hatiku bilang, ini memang yang terbaik.



Sebenarnya ada satu hal yang menganggu pikiranku. Selama satu minggu ini tidak sekalipun Kanarya mengucapkan ‘i love you’ padaku. Terlalu cepat memang jika hanya satu minggu. Bukannya apa-apa, meskipun dia mengatakan aku adalah miliknya, tetapi sebagai seorang wanita, kepastian tetaplah menjadi tool penting dalam sebuah hubungan.



Kami memang dekat, tetapi dari salah satu novel yang pernah kubaca, tanpa kata sakral ‘i love you’ sebuah hubungan belumlah dianggap resmi. Hubungan yang kujalani ini tetaplah bernama hubungan tanpa ikatan. Aku kan bukan lagi remaja yang mau saja statusnya digantung oleh pasangan. Aku mau hubungan yang jelas!



“Mbak Nara, ada Arya nih, buruan turun,” panggil Lana dari ruang tamu.



Arya memang sudah memberi tahuku jika akan datang ke rumah pagi ini, jadi aku sudah bangun pagi-pagi dan merelakan hari Minggu berharga yang biasa kupakai untuk guling-guling di kasur dengan menemaninya. Setelah mengecek ulang pakaian yang kukenakan serta make-up minimalisku, aku segera turun ke lantai satu untuk menemui pacarku. Pacar? Ya Tuhan, aku rasanya berbunga-bunga cuma karena punya pacar. Norak sih, tapi mau bagaimana lagi? Arya kan memang pacar pertamaku.



“Hai, sorry lama,” sapaku pada Arya yang tengah berbincang dengan Lana.



“Nggak apa-apa, kok.”



Coba lihat apa yang dia kenakan hari ini. Sepotong t-shirt dan celana jeans selutut. Kakinya dibalut dengan Converse hitam. Kadar ketampanannya jadi tampak berkali lipat dengan pakaian santai seperti itu.



“Mbak Nara, mingkem. Nanti mulutnya kemasukan lalat!”



Eh, kemasukan lalat?



Aku langsung membungkam mulut dengan tangan. Arya dan Lana malah tertawa melihat kelakuanku. OMG. Aku malu! Lemparkan aku ke laut, sekarang. Lempar, lempar! Eh. Ah sudahlah, aku malah ngawur sekarang.



“Kalian pada mau ke mana?” tanya Lana pada kami berdua. Aku mengangkat bahu, sedangkan Arya tersenyum penuh misteri.



“Kompakan banget nggak mau ngasih tahu?”



Arya kemudian meminta bicara pada Lana empat mata. Entah apa yang mereka bicarakan karena aku diminta menunggu di luar. Padahal kan aku penasaran, mereka membicarakan apa. Tak berselang lama, Lana dan Arya menyusul ke depan.



“Ati-ati di jalan ya. Titip Mbak Nara. Jaga baik-baik,” ucap Lana pada Arya.



“Pasti.”



Setelah berpamitan pada Lana, Arya menarikku menuju mobilnya yang terparkir di depan rumah. Aku sama sekali tidak bersuara sejak masuk ke mobil, sibuk memperhatikan jalanan yang kami lewati. Aku jadi sedikit heran ketika melihat jalan yang kami lalui ternyata menuju bandara. Mau apa sih ke bandara? Tidak mungkin dia mau mengajakku gliding seperti yang dilakukan Christian Grey pada Anna, kan?



“Ayo turun, Nara,” ucap Arya ketika membukakan pintu mobil untukku.



Kami sudah sampai di bandara. Meski bingung, aku tetap mengikutinya turun dan masuk ke area bandara. Dia berhenti di loket penjualan tiket. Kemudian menyerahkan satu tiket padaku.



“Buat aku?” tanyaku semakin bingung. Entah seperti apa wajahku sekarang.



“Iya, ayo check-in,” jawabnya sambil menggandeng tanganku. Setelah melewati proses pemeriksaan kami sampai di ruang tunggu.



“Arya, kita mau ke mana sih?” tanyaku lagi.



“Jogja.”



“Ngapain? Kan aku nggak bawa apa-apa.”



Aku mulai panik sekarang. Ke Jogja katanya? Aku tidak punya persiapan sama sekali. Kukira Arya mau mengajakku jalan-jalan ke mana, ternyata.... Uh, aku malah jadi kesal sekarang. Belum lagi dia sekarang tampak irit bicara. Dasar menyebalkan!



“Jalan-jalan, ntar kita beli di sana aja,” ucapnya santai. Aku hanya mengangguk. Bingung, kesal, jadi satu.



Setengah jam kemudian kami sudah duduk manis di dalam pesawat. Satu jam kemudian kami sampai di Bandara Internasional Adi Sucipto Yogyakarta. Setelah melewati pintu keluar, sebuah mobil hitam sudah menunggu kami. Lagi-lagi aku hanya menurut ketika Arya menghelaku masuk ke dalam mobil. Arya mengemudikan mobil sendiri. Orang tadi sepertinya hanya mengantar mobil saja.




“Kita beli baju dulu di sini ya.”



“Iya.”



Dia menggandeng tanganku menuju tangga, kami berhenti di lantai dua—di sebuah toko pakaian.



“Nara, beli aja apa yang kamu mau, aku juga mau cari buat aku sendiri,” ucapnya lalu meninggalkanku sendirian. Arya sendiri kulihat sibuk memilih pakaian. Oke, baiklah, mari belanja. Karena tidak ingin dia nantinya menungguku lama, aku dengan sengaja mengambil sebuah celana jeans dan kaos, serta sepasang underwear. Aku belanja cuma sedikit, kan? Aku sedang menjaga imej, takut Arya ilfeel kalau melihatku berbelanja terlalu banyak.



“Udah belanjanya?” Arya bertanya sambil membawa pakaian yang dibutuhkannya.



Aku mengangguk. Dia meneliti pakaian yang kupilih. Pipiku langsung merona ketika sadar bahwa dia juga memperhatikan underwear yang kubeli. Tapi Arya hanya bersikap santai.



“Kamu nggak beli gaun?”



Gaun? Memangnya mau ke pesta? “Buat apa?” tanyaku bingung.



Dia tidak merespons pertanyaanku. Kemudian menarikku menuju counter pakaian wanita yang menjual berbagai gaun pesta. Dia sibuk memilih-milih sendiri, padahal kan aku yang mau beli? Aku sekarang merasa malu, apalagi ada beberapa pasang mata wanita yang memperhatikan kami berdua. Sayangnya Arya sedang dalam mode pangeran es hingga tidak menghiraukan siapapun yang melirik kami.



“Yang ini aja, ya?” tanyanya sambil menunjukkan gaun berwarna hitam berbahan sutera.



Bagus, tetapi jika kukenakan pasti panjangnya jauh di atas lututku.



“Terlalu terbuka,” protesku.



“Masa sih?”



Aku kembali memperhatikan gaun itu. Lebih baik aku menyetujui saja pilihannya. Aku jengah ditatap oleh wanita-wanita yang ada di sini. Seolah aku ini bukan wanita baik-baik.



Apa salahnya sih lelaki membelikan gaun untuk seorang wanita?



“Ya udah, itu aja,” ucapku pasrah.



Aku mengikuti Arya menuju kasir. Arya segera membuka dompetnya dan membayar belanjaan kami dengan uang tunai. Tiga kantung belanjaan pun berhasil kami bawa.



Tak lama kemudian kami sudah berada di dalam mobil kembali. Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Jalan yang kami lewati kemudian menanjak, kami berada di dataran tinggi dengan pemandangan pohon-pohon hijau yang menyejukkan mata. Mobil berhenti di depan sebuah vila.



Aku tahu tempat ini. Kaliurang.



Angin sepoi-sepoi langsung menyambut ketika kami turun dari mobil. Sejuk. Itulah yang kurasakan meskipun matahari berada tepat di atas kepala. Kawasan ini diselimuti kabut tipis sehingga panasnya mentari dikalahkan oleh dinginnya udara.



Arya membawaku masuk ke vila dan menunjukkan kamar yang aku tempati. Ternyata kami benar-benar akan menginap. Aku tidak menyangka bahwa Arya sudah merencanakan ini semua.



Setelah beristirahat dan makan siang, Arya membawaku ke Taman Rekreasi Kaliurang. Dari informasi yang kubaca, taman ini luasnya sepuluh ribu meter persegi, dan dilengkapi dengan banyak mainan. Ada ayunan, perosotan, kolam renang mini, dan lain-lain. Yang menjadi highlight di sini adalah karena taman ini dihiasi oleh patung-patung jin yang ada dalam dongeng seribu satu malam. Sangat menarik. Selain itu juga ada patung-patung lucu berbentuk hewan.



“Arya, aku mau masuk ke situ,” tunjukku pada sebuah patung naga yang sedang dimasuki oleh anak-anak kecil.



“Tapi nggak ada orang dewasa yang masuk ke situ, Nara.”



“Ih biarin, pokoknya aku mau masuk,” sahutku sambil menarik tangan Arya menuju mulut naga yang menjadi pintu masuk. Kami kemudian keluar lewat ekor naganya. Tidak ada yang istimewa sih, aku hanya ingin saja. Menyenangkan diri sendiri boleh kan?



Wajah Arya tidak menunjukkan ekspresi apapun. Datar. Persis tembok. Tapi aku tidak peduli. Yang aku tahu hari ini aku bahagia bisa menghabiskan waktu bersamanya. Tanpa merasa terbebani dengan sikapnya, aku menarik tangannya menuju ayunan dan memintanya mendorong ayunanku.



Kami kemudian naik kereta mini yang bernama kereta kelinci, kami berputar-putar menggunakan kereta kelinci sampai puas.



“Arya,” panggilku saat kami tiba di vila. Hari sudah gelap ketika kami menginjakkan kami. Cahaya bintang di langit malam menambah keindahannya.



“Ya?”



“Makasih udah ngajakin aku jalan-jalan hari ini, aku seneng banget,” ucapku sambil tersenyum lebar.



“Sama-sama. Aku seneng kalo kamu seneng,” balasnya sambil tersenyum juga.



Arya mencium pipiku sekilas kemudian masuk ke dalam kamarnya. Aku sedikit terkejut lalu ikut masuk ke kamarku sendiri. Uh yeah. Aku dicium! Kuraba pipiku yang kini memanas. Aku jadi geli dengan diriku sendiri, padahal ini bukan pertama kalinya ada yang menciumku di pipi. Tapi dicium Arya barusan membuat hatiku dipenuhi bungabunga. Baiklah, sekarang aku butuh mandi setelah seharian bermain di luar. Usai mandi aku mengenakan gaun yang tadi dibelikan Arya. Aku tidak terbiasa memakai baju yang belum dicuci sebenarnya, tetapi apa boleh buat. Daripada aku tidak berganti baju.



Saat kami berada di Taman Rekreasi tadi, Arya akhirnya memberi tahu bahwa akan ada pesta yang harus dihadirinya. Dia mengajakku dan memintaku memakai gaun yang dibelikannya. Gaunnya membalut tubuhku dengan erat. Terlihat bagus, namun sayang, terlalu pendek.