
Arya: I Want to Be The One
Sejak makan malam keluarga berakhir, sejak itu pula aku tidak berkomunikasi dengan Nara. Bukan berarti aku tidak memikirkan Nara. Aku bahkan tidak bisa mengenyahkan sosok Nara dari otakku sejak malam itu. Aku tahu keluarga kami berharap lebih akan hubungan kami, dan aku memang sudah menyiapkan diri untuk menjalin hubungan baru. Benar kata mami, aku sepertinya sudah harus menganaktirikan riset-risetku dan memikirkan masa depan.
Kemarin itu, aku sungguh tidak menyangka akan bertemu Nara di restoran. Sejujurnya aku sudah akan beranjak pergi setelah meeting selesai. Tetapi, begitu mataku menangkap sosok Nara, aku kembali duduk di tempatku.
Jarak tempat duduk kami yang tidak begitu jauh membuatku bisa mendengar apa yang Nara bicarakan dengan wanita yang duduk di depannya. Lalu ketika telingaku mulai menangkap perdebatan Nara dan lawan bicaranya, aku sudah hampir berdiri dari tempatku.
Jadi begini: hampir semua lelaki itu menyukai wanita cantik. Wanita cantik itu banyak, meski begitu, setiap lelaki pasti punya seorang wanita yang ingin dia lindungi. Dan naluri itu muncul ketika aku tidak suka melihat Nara dimaki-maki oleh orang lain. Waktu itu, ingin rasanya aku memeluknya, membawanya pergi ke tempat yang aman, lalu menghiburnya, dan mengatakan padanya bahwa ia akan baik-baik saja.
Ketika aku akhirnya menyapa Nara, iringan fanfare bergema di hatiku. Saking terhanyutnya dengan perasaanku sendiri, aku sampai tidak bisa bicara banyak dengan Nara. Begitu dia mengatakan akan pulang, dengan bodohnya aku juga mengutarakan hal sama. Bahkan aku pergi duluan dan tidak menawarinya pulang bersamaku.
Sebenarnya, aku punya alasan kenapa tidak menghubungi Nara sama sekali. Beberapa hari ini hampir seluruh waktuku tersita untuk pekerjaan dan pernikahan sepupuku, Livia. Livia akan menikah dengan temanku yang pemilik showroom mobil itu, Lerian. Mereka berdua dijodohkan. Keluarga kami memang lekat dengan perjodohan, dan sekarang aku korbannya.
Pernikahan mereka dadakan dan persiapannya hanya tiga bulan. Meskipun memakai jasa wedding organizer, tetapi tetap saja seluruh keluarga harus ikut berpartisipasi. Kemarin kami disibukkan dengan fitting baju yang diseragamkan untuk seluruh keluarga. Padahal untuk lelaki hanya tuxedo warna hitam. Entah kenapa sungguh merepotkan. Aku saja yang tidak datang repot, apalagi Nara yang memiliki wedding organizer? Pasti tidak mudah menghadapi keinginan banyak orang yang berbeda-beda.
Tunggu dulu. Kenapa aku jadi memikirkan Nara?
Sudah sejak pukul enam pagi seluruh keluarga besarku berkumpul di ballroom hotel yang akan digunakan sebagai tempat akad dan resepsi. Aku tidak terlalu mengerti konsep apa yang digunakan untuk dekorasi pernikahan ini. Yang pasti ada pelaminan layaknya pernikahan biasanya, hanya saja di tengah-tengah ada meja khusus untuk acara akad.
Pukul sepuluh pagi, para tamu undangan sudah mulai berdatangan. Pernikahan ini memang besar-besaran hingga para tamu yang datang pun luar biasa banyak. Di antara tamu undangan aku bisa melihat Nara, Lana, Reifar, dan papa mereka. Nara terlihat sangat cantik dengan gaun panjangnya yang membalut tubuhnya dengan ketat.
Shit! Oh shit! Mataku tak bisa berpaling lagi. Di antara ribuan tamu undangan yang ada di sini, pusat perhatianku terebut serta merta oleh dia. Wanita itu. Yang berdiri di samping saudaranya. Yang luar biasa berbeda dari penampilan biasanya. Yang sibuk berbincang dan terlihat begitu percaya diri. Nara. Dia terlihat sangat cantik, aku mengakui itu. Apalagi saat dia tertawa, aku tertular tanpa sebab. Dadaku menghangat. Saat dia mengerling, aku terjerembap dalam kubangan pesonanya. Astaga! Aku benarbenar terperangah oleh penampilannya. Apa yang terjadi dengannya? Kenapa dia begitu—begitu—sexy. Double shit!
Tepat pukul setengah sebelas, akad nikah di mulai. Lerian, calon pengantin pria, terlihat gugup, mungkin karena ini momen berharga yang akan mengubah hidupnya ke depan. Livia tidak terlihat di ruangan ini karena memang mereka akan disandingkan di pelaminan jika sudah sah. Selanjutnya terdengar suara tegas Lerian saat mengucap ijab kabul. Kata ‘sah’ pun bergema di seluruh ruangan. Lerian terlihat meneteskan air mata. Terharu, mungkin? Apa saat menikah nanti aku juga akan ‘menangis’ seperti Lerian? Mungkin saja.
Ketika pengantin telah disandingkan di atas pelaminan, barulah para tamu bergantian mengucapkan selamat. Aku hanya duduk bersama keluargaku yang lain di sebuah meja khusus keluarga. Mungkin nanti aku akan mengucapkan selamat setelah tidak terlalu ramai.
Nara dan keluarganya kini terlihat ikut mengantre di barisan para tamu. Mataku terus saja mengikuti gerak langkahnya. Seperti tidak ingat melewatkan hal apapun dari Nara. Hari ini dia kelihatan berbeda. Sangat cantik. Dan gaunnya. Ya Tuhan, tiba-tiba saja aku merasa tidak suka. Bagian punggung gaunnya terlalu terbuka. Langsung aku memindai sekeliling. Ternyata bukan hanya aku yang menatapnya.
Aku bangkit dari kursi. Berencana menghampiri Nara yang sudah membuatku merasa kesal. Tidak sampai setengah meter jarakku dari Nara, dia tergelincir di tangga pelaminan. Baru saja aku ingin membantunya, seorang lelaki yang sangat kukenal telah melingkarkan lengannya di pinggang ramping milik Nara, menahan tubuh Nara agar tidak jatuh. Entah kenapa seperti ada tangan tak kasatmata yang meremas jantungku kala melihat adegan romantis itu.
Aku terusik.
Apalagi saat mereka saling bertatapan. Lelaki itu bahkan mengatakan Nara cantik. Emosiku seketika menggelenggak. Meronta-ronta ingin dilepaskan. Meskipun ucapan itu pelan dan nyaris seperti bisikan, tetapi aku bisa mendengarnya. Perasaan tidak rela semakin melingkupi diriku.
Aku berdeham. “Keep your hands off my girl!”
Mereka langsung saling melepaskan diri. Rona merah di pipi Nara entah kenapa semakin membuatku kesal. Harusnya rona merah yang cantik itu hanya untukku. Milikku. Aku yang lebih dulu mengenal Nara. Dan orang itu harus menjauhi Nara.
“Your girl, huh?” tanya lelaki itu sambil menunjuk Nara.
“Masalah memangnya?”
“Absolutely not. Kemajuan besar, big bro.” Lelaki itu menepuk bahuku sambil tertawa. Sial. Dia pasti senang melihat kelakuan bodohku. Aku melirik Nara sekilas, dia tertunduk malu. Sadar bahwa kami sedang jadi tontonan menyenangkan untuk banyak orang, aku langsung menggamit lengan Nara dan membimbingnya ke sebuah ruangan yang tadi dipakai Livia untuk menunggu.
***
Kami bersandar di dinding dekat pintu. Aku masih memegangi tangan Nara. Entahlah. Aku enggan melepaskannya.
“Sorry,” kataku pelan.
“Untuk?” tanyanya bingung.
“Kejadian barusan. Juga mengatakan kamu pacarku. Tadi aku refleks menarikmu ke sini.”
“Tidak apa-apa.”
“Tadi yang menolongmu itu adikku, namanya Zaroca.”
“Aku tahu.”
Aku terkejut dia mengenal Zaroca.
“Dia adik kelasku saat SMA. Aku suka memperhatikannya waktu dulu.” Nara tertawa kecil. Sedang aku mati-matian menahan sakit yang merayapi hatiku. “Tapi aku baru tahu kalau dia adikmu,” ucapnya lagi.
“Nara....” Aku menatap tepat di manik matanya. “Jangan dekat-dekat Zaroca. Aku nggak suka! Apalagi lihat kamu dipelukan Zaroca tadi, emosiku rasanya langsung melonjak.”
Nara terlihat salah tingkah. Dari jarak sedekat ini, aku bisa melihat dia tersipu malu. Dia bahkan enggan menatapku. Aku jadi kesal karena lantai sepertinya lebih menarik daripada aku.
Kakiku bergerak mendekati Nara. Kuangkat dagunya dengan tanganku. Tanpa aba-aba, aku merenggut oksigen Nara. Hanya kecupan selama lima detik saja karena suara deringan ponsel yang berbunyi menganggu aktivitasku.
Nara mengangkat ponselnya yang masih berbunyi. “Ya, Dek. Pulang? Oke, aku ke sana sebentar lagi.”
Aku menyela pembicaraan Nara. “Kamu pulang denganku!” Ucapanku lebih merupakan sebuah perintah. Nara mengangguk pelan kemudian berbicara di telepon lagi.
“Aku pulang dengan Arya, Dek. Iya, hati-hati.”
Nara menyimpan ponselnya kembali ke dalam clutch yang dibawanya. Dia kini menunduk, namun aku tetap bisa melihat wajahnya memunculkan rona merah yang sangat cantik. Dia tidak berani menatapku langsung. Mungkin dia malu.
“Sorry for the kiss,” bisikku pelan.
“You stole my first kiss.”
Bukannya merasa bersalah, aku malah merasa senang karena menjadi lelaki pertama yang menyentuh bibirnya. “Aku senang bisa jadi yang pertama,” kekehku pelan.
Nara mencubit pinggangku dan langsung cemberut. Wajahnya tampak lucu. Aku hanya bisa tersenyum melihatnya.
“Ayo kembali, nanti semua orang mencari kita.”
Nara mengangguk. Aku kembali menggandeng tangannya. Ruangan tempat resepsi sudah tidak begitu ramai. Mungkin karena sudah terlalu siang dan tamu undangan telah berkurang.
“Ayo, kukenalkan dengan pemilik acara hari ini.”
Aku membawa Nara menuju pelaminan. Livia dan Lerian sedang berbincang dengan para tamu.
“Woaaah, jadi benar bujang lapuk kita sudah tidak single lagi? Gadis malang mana yang mampu mencuri perhatianmu, hah?”
Aku hanya tersenyum kecut mendengar ledekan Livia. Entah sejak kapan mereka menjulukiku bujang lapuk. Mungkin sejak aku tidak terlihat berpacaran dengan gadis mana pun.
“Selamat ya Ian, semoga sepupuku nggak bikin hidupmu menderita.” Aku menyalami Lerian sambil menggoda Livia. “By the way, kenalin, ini Nara.”
“Kurang ajar ya kamu, awas aja, nanti aku bales,” balas Livia tidak mau kalah. Nara juga ikut tertawa sambil menyalami Lerian dan Livia.
“Semoga kamu betah sama mantan jomblo ini ya, Nara. Bilang sama aku kalo Arya bikin kamu sakit hati, biar aku hajar dia,” ucap Livia lagi sambil memeluk Nara.
“Makasih ya udah nganterin pulang. Mau masuk?”
Aku menggeleng. “Sudah malam. Lain kali saja.”
“Ya udah, aku masuk dulu kalo gitu.”
“Tunggu sebentar. Nara... aku mau nyoba untuk ngejalanin ini sama kamu. Gimana menurutmu?” Bukan tanpa sebab aku tiba-tiba mengutarakan keinginan super serius ini kepada Nara. Aku sudah menganalisis perasaanku. Dan berdasarkan hasil meriset hatiku sendiri, sudah jelas bahwa aku menginginkan Nara.
“Kamu yakin?” Nara menatapku lekat-lekat. “Usia kita beda loh. Ntar kamu nyesel lagi.”
Bukannya menganggapiku dengan serius, dia malah terlihat menggodaku. Aku tahu bahwa usia kami terpaut empat tahun. Aku lebih tua empat tahun darinya. Tetapi, apalah arti perbedaan itu? Aku tetap ingin mencoba menjalin hubungan dengannya. Meski entah nanti akan seperti apa. “Aku yakin.”
“Kamu nggak akan nyesel, kan?”
“Tidak.”
“Oke, tapi aku punya satu permintaan. Kalo kamu sanggup, aku kasih tahu apa yang harus kamu lakuin, abis itu aku kasih keputusan mau serius sama kamu apa nggak.” Permintaan? Aneh. Aku kira karena Nara suka padaku, dia akan langsung mengiyakan, tapi ternyata tidak semudah bayanganku. Baiklah, akan kuikuti. Semoga saja dia tidak minta dibuatkan candi dalam semalam. Aku belum belajar ilmu pada Bandung Bondowoso soalnya.
“Nggak masalah. Apa permintaan kamu?”
Nara tertawa sekarang. Entah apa yang lucu.
“Jemput aku besok jam empat pagi.”
“Jam empat? Mau ngapain?” tanyaku, terkejut. Bagaimana tidak terkejut, belum ada gadis yang sebelumnya minta dijemput di pagi buta begitu.
“Kamu keberatan?”
Keberatan sekali. Tapi tidak kusuarakan keberatanku itu. Aku tahu ini tes atau semacamnya, jadi aku harus berhasil. Kucoba untuk tersenyum. “Nggak, aku jemput kamu sebelum jam empat besok.” Aku hanya berharap semoga aku sudah bangun sebelum pukul empat pagi.
“Oke, kalo gitu aku tunggu kamu. Bye, Arya.”
Setelah mengucapkan hal itu Nara masuk ke rumahnya, meninggalkan aku yang masih terdiam memikirkan segala hal yang akan terjadi besok.
***
Bunyi alarm sejak tadi sungguh mengganggu tidurku. Alarm yang kupasang pukul setengah empat pagi itu membuat kepalaku pening. Aku baru tidur pukul dua karena mengerjakan laporan riset, dan sekarang aku dituntut bangun demi membuktikan kesungguhanku pada gadis yang hatiku bilang kucintai.
Mengabaikan kepala yang terasa berdentam, aku melangkah ke kamar mandi. Untunglah aku bisa mandi air panas sehingga aku tidak akan mati kedinginan karena mandi di pagi buta begini.
Tidak butuh waktu lama, aku menyelesaikan ritual mandi dan berpakaian. Setelahnya aku mengambil kunci mobil dan keluar dari rumah. Tujuanku? Ke mana lagi kalau bukan menjemput gadis yang semalam kusanggupi permintaannya.
Begitu aku tiba di depan rumah Nara, gadis itu sudah berdiri dengan manis di depan pagar. Tanpa basa-basi, dia langsung masuk ke mobilku, mengambil posisi duduk di sebelahku.
“Selamat pagi,” sapanya dengan riang gembira.
“Ya, selamat jam empat pagi,” balasku seraya menyindir. “Jadi, mau ke mana kita?”
“Ke Puncak.”
“Puncak?”
Kuulangi lagi nama tempat yang kudengar. Karena ini masih amat pagi dan aku masih agak mengantuk, aku jadi takut salah dengar. Namun semua keraguan itu buyar saat Nara mengangguk. Oke, baiklah, mari kita ke Puncak!
Aku memutuskan tidak bertanya kenapa kami harus ke Puncak dan lain sebagainya. Aku tahu tugasku sekarang cuma menyetir sampai ke tujuan. Beruntunglah kendaraan belum terlalu banyak sehingga perjalanan ini bisa lancar tanpa macet.
Satu jam kemudian, aku memarkirkan mobil di vila milik keluargaku di Puncak. Beruntungnya ada tempat yang bisa kutuju karena saat di perjalanan tadi, Nara yang kutanyai ternyata tidak punya tempat yang persinggahan untuk kami. Tidak lucu juga kalau kami berdua berhenti di tengah jalan hanya untuk melihat sunrise.
Catat baik-baik. Sunrise. Jadi, aku bangun lebih awal hanya untuk menemani seorang gadis melihat matahari terbit. Memangnya di Jakarta tidak bisa melihat matahari terbit apa? Kusimpan kekesalanku dalam-dalam. Jatuh cinta memang membuatku bodoh. Aku teringat pada tumpukan laporan hasil riset yang harus kuperiksa hari ini. Pekerjaan yang selama ini kucurahkan perhatian sepenuh hati. Demi memenangkan hati Nara, aku pun hari ini terpaksa tidak bekerja karena bisa dipastikan aku pasti akan terlambat masuk kantor juga jika tetap berangkat. Sekarang saja masih di Puncak. Mau ke kantor jam berapa?
Kami berdua sekarang sedang duduk di ayunan belakang vila. Nara sejak tadi berbicara tanpa henti. Aku hanya jadi pendengar saja, sesekali menimpali supaya Nara tidak merasa diabaikan.
“Bagus kan sunrisenya?”
Aku mengangguk. Apa yang bagus dari matahari terbit? Bukannya setiap hari matahari masih terbit dari timur? Warnanya juga masih kuning, kan? Inilah salah satu alasan kenapa selama ini aku malas menjalani hubungan yang serius. Karena... memahami isi pikiran seorang gadis lebih sulit ketimbang mengerjakan riset.
“Arya, aku laper.”
“Ya udah, ayo cari makan.”
“Aku maunya dimasakin sama kamu.”
Masak? Kenapa kamu tidak minta dibangunkan candi sekalian, Nara? For God Sake, yang bisa kumasak hanyalah mi instan. Dan gadis di hadapanku ini malah minta aku memasak sesuatu? Kubur saja aku! Kubur!
Masuk ke vila, aku langsung menuju dapur. Yang pertama kali kubuka adalah lemari es. Karena vila ini ada yang menunggui, isi lemari esnya cukup komplit, ada sayuran, telur, daging ayam, dan lain-lain. Hanya saja, aku bingung, apa yang akan kumasak untuk Nara.
“Arya, mau masak apa?”
Aku menatap Nara lekat-lekat sebelum menjawab. “Nara, seharusnya aku jujur sama kamu kalau aku ngga bisa masak. Jadi, aku nggak bisa ngasih kamu makan.”
Tawa Nara tanpa kuduga membahana di dapur. Awalnya aku pikir dia akan marah atau minimal kesal padaku. Tapi sekarang, dia malah tertawa, dan masih meneruskan tawanya itu.
“Lihat kamu kebingungan dari tadi, aku udah tahu kalo kamu nggak bisa masak. Tapi aku hargain usaha kamu yang natap isi kulkas dengan serius itu. Aku aja yang masak kalo gitu, kamu duduk aja di depan. Nanti aku panggil kalo masaknya udah selesai.”
Setelah pengakuanku yang tidak bisa memasak itu, akhirnya Nara yang mengambil alih tugasku. Tidak butuh waktu lama untuk Nara menyelesaikan masakannya. Setelah makan, kami bertolak ke Jakarta.
“Makasih ya udah nganterin pulang. Mau masuk?” Aku sudah berada di depan rumah Nara sekarang.
“Nggak, aku mau pulang aja. Tapi sebelum itu, aku mau menagih jawaban yang semalam.” Aku sudah menuruti permintaan Nara, jadi sekarang giliran gadis itu untuk memberikan kepastian padaku.
“Kamu yakin mau serius sama aku?”
Pertanyaan ini sama dengan yang semalam, jawabanku pun masih sama. “Aku yakin.”
“Nggak akan berubah pikiran? Maksudku, kita baru aja kenal, belum paham sifat masing-masing, kamu yakin mau serius sama aku? Nggak takut sama konsekuesinya?”
Kuraih tangan Nara. Kupegang erat, tapi lembut. Kutatap mata indahnya. Aku tersenyum begitu menemukan beragam emosi di matanya itu. “Nara, seperti yang kamu bilang, kita memang belum lama kenal, tapi... aku mau serius sama kamu. Kamu bisa pegang janjiku ini kalo aku memang serius sama kamu.”
“Baik, aku pegang janji kamu. Kalo kamu nyakitin aku, aku pergi.”
Sudut bibirku langsung tertarik ke atas. Rasa lega membanjiri hatiku. “Terima kasih, Nara.”
Gadis itu hanya mengangguk kemudian membuka pintu rumah. Saat Nara sudah melangkah masuk, aku memanggilnya. “Nara, you’re mine. Ingat itu.” Aku mengecup pipi Nara sekilas kemudian masuk ke dalam mobil. Aku melajukan mobil meninggalkan kediaman Nara. Dari kaca spion, aku bisa melihat Nara yang masih terpaku. Seulas senyum tersungging di bibirku, lagi.