ONLINE WEDDING

ONLINE WEDDING
Episode 5



Arya:Trying to Get the Feeling Again



Hampir ketahuan kalau tengah mengikuti biro jodoh kemarin itu sungguh hal konyol. Mami dan papi yang datang tiba-tiba, mengajak Kaynara berkenalan, sampai mami yang mengira Kaynara adalah pacarku. Untung saja Kaynara tidak mengatakan apapun soal biro jodoh yang kuikuti pada kedua orangtuaku. Kalau tidak, harga diriku pasti sudah jatuh.



Semalam juga, Reifar tiba-tiba menanyakan bagaimana kesanku setelah bertemu Kaynara. Apakah Kaynara menarik dan lain sebagainya. Aneh! Kami saja baru bertemu sekali, itu pun karena Reifar yang dengan briliannya menyuruhku mengikuti biro jodoh. Dan, Kaynara yang kebetulan adalah calon kakak ipar Reifar merupakan pemilik biro jodoh yang kuikuti. Entah hanya perasaanku atau bagaimana, sepertinya alam semesta juga turut berkonspirasi dalam hal mencarikanku jodoh.



Berbicara soal Kaynara, aku masih ingat gadis itu menatapku head to toes saat kami pertama kali bertemu. Dia kelihatannya tertarik denganku. Tapi aku? Apakah tertarik juga dengannya? Entahlah. Mungkin sedikit tertarik.



Aku harus mengakui kalau dia cantik. Dan hanya lelaki bodoh yang suka melewatkan wanita cantik. Dia juga mandiri. Terbukti dia memiliki wedding organizer. Sepertinya dia juga berasal dari keluarga baik-baik, karena Papi mengenal Papa Nara. Aku tidak menampik bahwa Kaynara memenuhi kriteria wanita impianku. Semua lelaki pasti ingin memiliki wanita yang nyaris sempurna seperti dia. Tetapi sayangnya, menjalin hubungan dengan serius belum terpikir olehku.



Semuanya karena wanita itu. Wanita yang meninggalkanku tiga tahun lalu. Dia wanita yang mandiri dan ambisius. Tidak ada yang mampu menghalangi keinginannya jika tekadnya sudah bulat. Aku pun yang saat itu berstatus sebagai kekasihnya tidak mampu menahan kepergiannya ke Jepang untuk meraih cita-cita.



***



Hari ini tepat setahun kami berpacaran. Aku mulai berpacaran dengan Silvana sejak kami berada di tahun kedua perkuliahan. Meskipun kami berbeda fakultas—aku teknik—Silvana kedokteran—tetapi hal tersebut tidak serta-merta membuat aku kesulitan mengejar cinta Silvana yang notabene adalah bunga kampus. Nyatanya Silvana juga tertarik padaku yang saat itu menjabat sebagai ketua klub fotografi di kampus. Bahkan Silvana memutuskan ikut klub fotografi agar lebih dekat denganku. Akhirnya kami resmi berpacaran setelah melewati masa perkenalan yang cukup panjang selama setahun.



Aku berencana memberikan kejutan kepada Silvana dengan menyiapkan makan malam romantis di sebuah restoran yang sengaja kubooking agar mendapatkan suasana yang lebih privat bersama Silvana. Tetapi ketika makan malam selesai, gantian akulah yang mendapat kejutan.



“Ar ”



“Ya, Sayang? Kenapa?”



“Aku dapat beasiswa ke Jepang.”



“Oh ya? Selamat ya, Sayang.”



“Ar, mengenai hubungan kita. ” Aku memotong pembicaraan Silvana.



“Kamu nggak perlu khawatir soal hubungan kita, aku nggak masalah kok kalo harus LDR,” ucapku sambil mengusap tangan Silvana yang terasa dingin.



“Papa jodohin aku sama anak temannya, Ar.”



Aku melepas tangan Silvana dan menatap sorot matanya yang terlihat sedih.



“Kebetulan anak teman Papa itu akan jadi mentorku di Jepang. Kamu tahu kan, apa artinya Ar? Jika aku menerima perjodohan ini, selain aku bisa menyenangkan kedua orangtuaku, studiku juga bisa berjalan sesuai harapanku karena aku memiliki pendamping yang mendukung pendidikanku. Aku minta maaf, Ar.” Silvana semakin tertunduk. “Aku rasa hubungan kita cukup sampai di sini saja. Sekali lagi maafin aku, Ar.”



Aku menatap wanita di hadapanku ini tak percaya. Apa yang baru aja dia bicarakan? Dia mau dijodohkan oleh orangtuanya? Dia bercanda! Ini tidak mungkin. Setelah sekian lama kami menjalin hubungan, dan akhirnya seperti ini? Brengsek!



“Mak—maksudmu apa, Sil? Ini bercanda, kan? Ini—ini bohong, kan? Ayo bilang padaku kalau kamu berbohong. Aku mencintaimu, Sil. Demi Tuhan, aku mencintaimu.”



Bukannya anggukan, hal bertolak belakang yang aku dapatkan. Wanita itu menggeleng. Matanya berkaca-kaca, lalu dia meninggalkanku begitu saja.



Shit! Aku cinta padanya! Dan dia meninggalkanku demi pria lain? Dadaku rasanya sakit. Sesak! Kalaupun ini mimpi, aku ingin segera bangun dan mengakhiri malam paling mengerikan ini. Namun punggung Silvana yang bergerak terus menjauhi itu terlihat begitu nyata. Saat dia masuk ke dalam mobil dan pergi dari sini,



juga nyata. Sungguh… aku benar-benar sakit hati! Kecewa!



Aku tertawa miris. Bahkan setelah dikecewakan sedemikian rupa, aku masih saja mengingat Silvana sampai detik ini. Aku mengingatnya bukan karena aku masih menaruh hati padanya. Bukan itu. Perlakuan buruknya yang membekas di hati dan pikiranku. Itulah yang kuingat. Perlakuan dan ketakutan itu yang membuatku malas menjalin hubungan dengan serius.



Tok.... Tok.... Tok....



“Masuk,” ucapku singkat.



“Permisi, Bapak ditunggu Pak Rudolf di ruangannya.” Aku hanya mengangguk. Sekretarisku langsung keluar setelah kuizinkan. Kenapa papi memanggilku? Kucoba mengingat-ingat kesalahanku. Rasa-rasanya aku tidak berbuat salah selain kesalahpahaman dengan Kaynara kemarin. Laporan dana yang telah dianggarkan perusahaan untuk riset dan pengembangan produk makanan beku sudah kuserahkan. Riset soal pengembangan teknologi baru untuk meningkatkan kualitas produk pun kulaporkan pada papi. Kuputuskan langsung ke ruangan papi daripada menebak-nebak.



Aku masuk ke ruangan papi setelah mengetuk pintu.



Papi masih sibuk dengan laptopnya saat aku masuk. “Duduk!”



Papi menutup laptopnya lalu menatapku lekat-lekat. Tipe tatapan tajam yang menusuk dan mampu membuat nyali ciut. Membuatku seketika membuang pandangan ke arah lain sebelum menatapnya lagi. Inilah sosok papi jika di kantor, berbeda 180 derajat dengan sikapnya di rumah yang hangat.



“Kamu undang keluarga Nara untuk makan malam di rumah kita nanti malam!” Suara papi terdengar tegas dan tidak mau dibantah.



“Dalam rangka apa, Pi?” Terang saja aku heran, tidak ada angin atau hujan, tiba-tiba papi memintaku mengundang keluarga Kaynara makan malam.



“Mami kamu yang minta. Jadi, Papi mau nanti malam Nara dan keluarganya ada di rumah kita.” Papi menatapku dengan sorot mata yang... err, terlihat sedikit kesal. “Lanjutkan pekerjaan kamu!” Ucapan Papi barusan merupakan pengusiran secara halus untukku, sehingga aku langsung berdiri dan melangkah menuju pintu.



“Tunggu sebentar.”



Aku berbalik.



“Kamu beli apa lagi hari ini?”



Aku mengembuskan napas keras-keras. Sepertinya aku akan dimarahi lagi. “Beli action figure, Pi.” Aku tidak bohong, kemarin aku memang membeli FX-7 the Medical Droid, karakter robot medis di Star Wars: The Empire Strikes Back. Aku sudah punya Luke Skywalker dan Han Solo, jadi begitu ada yang melelang action figure produksi Palitoy pada 1980 itu, aku tidak berpikir dua kali untuk mendapatkannya. And, yeah... i get it! Aku bahagia.



Papi berdecak kesal. “Kamu susah diberi tahu. Sana keluar!”



Memang, jawabku dalam hati.



Aku bergegas keluar tanpa menoleh lagi. Kepalaku langsung dipenuhi berbagai pertanyaan. Untuk apa papi sampai mengundang keluarga Kaynara? Apa yang papi rencanakan? Apakah ada maksud tertentu dalam makan malam ini? Ah, sial! Harusnya aku berusaha keras mengorek jawaban dari papi tadi dan bukannya berjalan sambil kebingungan begini.



Begitu sampai di ruanganku, segera kucari nama Reifar di kontak. Pihak yang kutelepon langsung menjawab saat nada tunggu panggilan kedua terdengar.



“Bro, kirimin alamat kantor Nara sekarang juga.” Aku memutus panggilan secara sepihak. Aku yakin sekarang Reifar tengah mengumpatku dengan beragam katakata ajaibnya. Aku tidak peduli, karena permintaan papi lebih penting sekarang. Tak lama kemudian alamat yang kuinginkan telah berada di inbox ponselku.



Segera kuambil kunci mobil dan melajukan mobilku ke alamat tersebut. Untunglah jalanan agak lengang sehingga aku bisa cepat sampai. Setelah memarkir mobil, aku masuk ke dalam gedung yang dari luar kelihatan cozy. Sepertinya pemilik gedung itu memiliki selera yang bagus.



“Permisi Pak, ada yang bisa saya bantu?” Aku disambut oleh seorang wanita ketika sampai di lobi gedung.



“Saya ingin bertemu Ibu Kaynara Asheeva.”



“Sudah membuat janji sebelumnya?”




“Baiklah Pak, tunggu sebentar, saya akan mengubungi Ibu Nara terlebih dahulu.”



Wanita itu langsung terlihat sibuk berbicara di telepon. Mungkin menghubungi Nara. Aku mengetukkan ujung sepatu ke lantai sambil menunggu. Tak lama kemudian ia tersenyum. “Bapak sudah ditunggu Bu Nara di ruangannya. Silahkan langsung naik ke lantai dua melalui lift sebelah kanan.”



Aku hanya mengangguk. “Terima kasih.”



Di lantai dua, aku disambut oleh seorang wanita lagi. Mungkin asistennya Nara. Apa pegawai di perusahaan ini wanita semua?



“Bapak Kanarya?” Aku mengangguk. “Silakan langsung ke ruangan Bu Nara.”



Dia berjalan di depanku dan menunjukkan jalan. Dia membuka pintu sebuah ruangan dan mempersilakanku masuk. Di tengah ruangan terlihat Nara sedang asyik menekuni laptopnya. Saat melihatku, gadis itu langsung berdiri dari kursinya.



“Ah, Pak Kanarya,” sapanya sambil mempersilakan aku duduk di sofa yang tersedia di tengah ruangan.



“Tolong panggil saya Arya saja, lagipula saya belum setua itu sampai harus dipanggil Bapak,” gurauku sambil tertawa kecil.



“Baiklah, kalau begitu panggil saya Nara juga. Karena saya juga masih terlalu muda untuk dipanggil Ibu.” Kami sama-sama tertawa. Ternyata wanita ini bisa bercanda juga. “Ada yang bisa saya bantu?”



Gadis yang kini duduk di hadapanku terlihat manis dengan mengenakan gaun selutut berwarna merah muda. Aku hampir tidak melihat riasan apapun di wajahnya. Cantik natural. Benar-benar kriteria gadis yang kuinginkan. Cantik apa adanya.



“Begini, saya bingung bagaimana mengatakannya. Papi saya meminta saya menyampaikan undangan makan malam untuk keluarga Anda malam ini di rumah saya.”



Matanya melebar. Nara terlihat terkejut, tetapi ia dengan cepat mengganti raut wajahnya agar terlihat tenang seperti sebelumnya. “Saya akan menyampaikan undangan ini kepada keluarga saya kalau begitu.”



“Nara, saya juga ingin membatalkan pendaftaran saya di biro jodoh.”



“Ah, saya mengerti. Sayang sekali dibatalkan, padahal saya yakin kalau Anda tetap menjadi member, pasti akan banyak wanita yang ingin berkenalan.”



Aku mengernyit. Ucapannya barusan berbanding terbalik dengan raut wajahnya sekarang. Harusnya dia kecewa karena kehilangan klien, tetapi gadis di depanku itu malah terlihat senang setelah mendengar ucapanku tadi. Raut wajah bahagianya sangat kentara. Memperkuat keyakinanku bahwa gadis itu memang tertarik padaku.



Nara kini menunduk. Terlihat salah tingkah. Mungkin malu. Sekarang aku malah tersenyum sendiri. Baru kali ini ada gadis yang terlihat menyukaiku tetapi bisa malumalu di saat bersamaan. “Baiklah Nara, kalau begitu, saya permisi dulu. Sampai jumpa nanti malam.”



Nara mengangguk dan mengantarku sampai ke lift. Kami saling berjabat tangan. Tangannya halus, terasa mungil dalam genggaman tanganku. Dia kemudian tersenyum manis sekali. Dan entah kenapa, senyum manis itu menimbulkan desiran di hatiku.



***



Sejak pukul enam sore tadi, mami sibuk memberikan perintah kepada semua asisten rumah tangga kami agar mengecek ulang semua makanan yang tersaji di meja makan. Padahal menurutku di meja makan sudah tersaji beragam makanan, mulai dari main course sampai dessert. Tetapi, bukan Nyonya Givia Laudya namanya jika tidak heboh mengatur makan malam ini.



Bel rumah kami berbunyi. Aku bergegas membukakan pintu sebelum mami mengomel. Kaynara, Kaylana, Reifar, dan seorang lelaki seusia papi, berdiri dengan manis di depan pintu. Kaynara malam ini mengenakan gaun berwarna ungu muda sebatas lutut. Lagi-lagi wajahnya terlihat cantik natural. Berbeda sekali dengan adiknya yang all-out dalam merias wajah. Di mataku, posisi kakak adik mereka jadi terbalik. Sepertinya Kaynara yang lebih cocok disebut sebagai adik.



“Silakan masuk,” ucapku sopan. Aku menggeser tubuhku ke pinggir dan membiarkan mereka melewatiku. Nara yang terakhir masuk menyunggingkan senyum manis padaku. Efeknya langsung terasa, jantungku kini berulah. Degupannya tidak wajar.



Maksudku begini, selama ini banyak wanita yang memberi senyuman padaku, tapi belum ada yang mampu membuat hatiku resah begini. Aku jadi tidak sabar menunggu senyum itu terbit lagi.



Papi dan mami langsung menyambut tamu-tamu kami dan menggiring mereka semua ke ruang makan. Makan malam kali ini sangat ramai menurutku, karena Reifar dan Lana yang memang sudah dikenal papi dan mami tiada henti-hentinya menggodaku dan Nara. Untunglah adik lelakiku, Zaroca, sedang sibuk mengurusi perusahan miliknya, jika tidak ia akan turut menggodaku habis-habisan.



“Kanarya baby, jadi kapan hubungan kamu sama Nara mau diresmikan?”



Diresmikan? Keningku langsung berkerut. Heran dengan maksud perkataan mami. Seingatku, sampai malam ini, aku dan Nara tidak memiliki hubungan apapun.



Papi berdeham. Aku yakin ada hal penting yang akan dibicarakan. Dan itulah maksud diadakannya makan malam ini.



“Begini, Arya. Sebenarnya sudah sejak lama Papi dan Om Kalvin ingin menjodohkan kamu dan Nara. Tetapi ternyata kalian sudah lebih dulu berkenalan sehingga kami berdua semakin yakin dengan niat kami untuk menjodohkan kalian.”



“Benar sekali yang dikatakan Rudolf. Sudah lama kami merencanakan ini. Kami ini sahabat sejak masuk kuliah. Senang sekali rasanya jika persahabatan kami nantinya meningkat menjadi keluarga.”



“Kalian tahu kenapa nama kalian mirip?” sela papiku tiba-tiba. “Itu sama sekali bukan kebetulan. Waktu kami masih kuliah, kami pernah iseng membicarakan nama untuk anak-anak kami nantinya. Kanarya dan Kaynara merupakan gabungan dari kata Kanaka yang artinya emas, dan Kanaya yang artinya mulia. Kami memodifikasi nama itu hingga muncul Kanarya dan Kaynara. Papi memberikan nama itu untukmu.”



“Wah,” Mamiku bertepuk tangan. Wajahnya menunjukkan antusiasme yang tinggi. “Mami yakin kalian berjodoh. Gimana Arya, mau nggak dijodohin sama Nara?” celetuk mamiku tiba-tiba.



“Mi.... ini... ini—” Aku gelagapan. Setelah mendengar ucapan papiku tadi mengenai arti nama kami, memang ada perasaan aneh yang menyusup ke hatiku. Kusebut aneh karena aku tidak tahu kata yang tepat untuk mendefinisikan perasaanku itu. Dan sekarang, saat mami mengutarakan soal perjodohan, hatiku semakin tidak keruan. Ada bagian hatiku yang ingin berontak. Menolak, dengan alasan bahwa aku tak ingin jadi Siti Nurbaya abad ini.



“Kami nggak akan memaksa kalian, tapi kami akan sangat senang jika kalian bisa menjalin hubungan yang baik.”



“Nara mau kan, Sayang?” tanya Om Kalvin pada putrinya.



Aku melirik Nara yang ternyata tengah menatapku juga. Raut wajahnya tidak terlihat bingung, malah terlihat cemas. Seperti takut mendengar jawaban yang akan keluar dari bibirku. Jadi, bisa kusimpulkan bahwa sebenarnya dia



sudah menerima informasi mengenai perjodohan ini lebih dulu. Aku jadi penasaran dengan jawaban Nara. Apakah dia akan menerimanya, atau justru menolaknya?



Aku menghela napas dalam-dalam, menunduk sejenak, mengalihkan pandangan dari Nara. Kebimbangan menggelayuti hatiku. Di satu sisi, aku tidak ingin menyakiti hati orang-orang yang berharap akan rencana perjodohan ini. Bukan berarti aku mau menolak juga. Hanya saja, seperti yang kubilang sebelumnya, menjalin hubungan dengan serius belum ada dalam agendaku sampai saat ini.



“Arya... Nara. Gimana?”



“Pa, Om, Tante ”



Aku memperhatikan Nara yang kini angkat bicara. Senyum yang tadi terselip di bibirnya lenyap tak berbekas. Raut wajahnya datar. Kecewakah dia karena aku belum menjawab?



“Aku dan Arya kan baru saja kenal. Alangkah baiknya kalau kami saling mengenal terlebih dahulu sebelum memutuskan menerima atau menolak perjodohan ini.”



Sudut bibirku melengkung ke atas. Jawaban Nara cukup bijak. Aku akan mengamini ucapannya. Kami memang harus saling mengenal dulu. “Aku setuju sama Nara.”



“Baiklah, jika kalian maunya begitu. Tapi tolong pertimbangkan permintaan kami ya?” pinta papiku lagi.



Aku dan Nara sama-sama mengangguk. Selanjutnya, kami pindah ke ruang tamu. Malam pun dihabiskan dengan pembicaraan mengenai perusahaan dan persiapan pernikahan Reifar dan Lana.



Usai mengatakan jika aku akan belajar mengenal Nara, aku mulai berpikir bahwa kehidupanku setelah ini akan berbeda dengan sebelumnya. Aku tahu hari seperti ini akan datang. Saat di mana aku akan diminta menikah. Dan mungkin... aku memang harus mulai memikirkan tentang pernikahan. Pernikahan, dengan Nara di dalamnya.