ONLINE WEDDING

ONLINE WEDDING
Episode 6



Nara: Hold My Hand,Take a Ride



Tiga hari telah berlalu sejak makan malam bersama keluarga Kanarya. Sejak itu pula aku dan Kanarya tidak berhubungan sama sekali. Reaksinya saat rencana perjodohan kami dikemukakan membuatku sedikit kecewa. Tampak sekali bahwa Kanarya terlihat tidak setuju dengan rencana itu. Dia diam saja ketika ditanya hingga aku akhirnya terpaksa angkat suara. Padahal aku sudah berharap banyak.



Tiga hari ini aku menunggunya menghubungiku. Saat itu kan dia sepakat untuk mempertimbangkan permintaan orangtua kami agar mau berkenalan lebih dekat denganku, tetapi nyatanya apa? Menghubungiku saja tidak pernah. Apanya yang mau mencoba?



Jangan kira aku akan menerima diperlakukan seperti ini. Mentang-mentang ganteng kayak Orlando Bloom dan aku tertarik padanya, dia bisa seenaknya padaku.



Nah, karena sementara ini, dia belum menghubungiku, aku bisa menarik kesimpulan jika Kanarya tidak tertarik padaku. Uh. Mungkin sudah nasibku harus sendiri tanpa ada yang mendampingi. Eh, kenapa aku jadi melankolis dan galau seperti ini? Hilangkan Kanarya. Hilangkan Kanarya. Aku sedang menyugesti pikiranku agar melupakan Kanarya sejenak. Lebih baik aku fokus pada pekerjaanku. Masih banyak klien yang harus kutangani.



Denting notifikasi chat masuk, membuatku dengan malas mengambil ponsel dari dalam tas.



Mbak Nara, jangan lupa besok temenin Papa


ke nikahannya Livia Auriga. Aku berangkat sama Reifar soalnya. Baju udah aku siapin



Aku hanya bisa menghela napas saat membaca pesan dari Lana. Besok aku akan bertemu Kanarya karena yang menikah adalah sepupunya, Livia. Tetapi, mengingat dia yang tidak tertarik padaku, membuatku jadi malas datang. Jika boleh memilih, aku lebih baik tinggal di rumah saja. Tetapi Lana dan Papa pasti kecewa jika aku tidak hadir, mengingat Livia adalah teman satu kantornya di



penerbitan. Sementara keluarga Auriga adalah relasi bisnis Papa, khususnya Om Rudolf yang merupakan sahabat Papa. Mau tidak mau aku harus hadir.



Ah, tunggu dulu... besok bisa jadi kesempatanku untuk menunjukkan siapa diriku pada Kanarya. Akan kubuat lelaki itu bertekuk lutut. Dengan cepat jemariku mengetikkan balasan untuk Lana sebelum dia mengomel karena aku tak membalas pesannya.



Well, mari lanjut bekerja. Kubaca jadwal di buku agendaku. Ada dua klien yang harus kutemui, satu di Balai Samudera, terkait masalah booking gedung yang akan digunakan klienku untuk resepsi pernikahan. Satunya di restoran Common Grounds, mengenai dekor tempat. Aku akan ke Balai Samudera dulu, jadi lebih baik aku langsung ke sana saja.



Untunglah asistenku sudah membuat janji dengan manajer gedung sehingga aku bisa langsung menanyakan prosedur peminjaman gedung dan budget yang harus dikeluarkan tanpa harus menunggu lama. Meskipun sebenarnya aku sudah tahu—berdasarkan paket pernikahan 2015—bahwa biaya sewa gedung ini lumayan mahal, sekitar enam puluh juta lebih.



Harga kateringnya mulai dari 157 juta rupiah untuk minimal pemesanan 1500 pax makanan. Dan karena jumlah undangan klienku katanya mencapai dua ribu orang, maka aku harus membicarakan kekurangannya lebih lanjut.



“Ibu Nara. ”



Aku berdiri untuk menyambut klienku yang telah datang bersama pasangannya. Klienku dua-duanya anak pejabat, maka mengenai budget mereka tidak terlalu mempermasalahkan. Mereka bilang yang penting semua keinginan mereka tercapai. Mumpung hanya sekali seumur hidup, katanya. Klien seperti mereka bagiku sangatlah menyenangkan karena tidak akan ada perdebatan mengenai kelebihan anggaran seperti layaknya klien-klienku yang lain. Ada uang, rencana jalan.



“Pak Alvo, Bu Alya. Selamat datang,” sapaku sopan. “Perkenalkan, ini Pak Tony, manajer gedung ini. Tadi saya sudah membicarakan mengenai sewa gedung dan tidak ada masalah dengan tanggal yang sudah ditetapkan.”



“Benarkah? Wah, kita beruntung banget, iya kan, Sayang?” tanya Bu Alya pada Pak Alvo yang dibalas dengan anggukan. Calon suaminya adalah tipe lelaki yang irit bicara, berbanding terbalik dengan Bu Alya yang cerewet. Tetapi itulah yang namanya jodoh, saling melengkapi.



“Nah, bagaimana jika kita membicarakan masalah dekorasi? Saya sudah bicara dengan Pak Tony tadi, kita bisa bicara di ruangan depan.”



“Mari Pak, Bu. Saya tunjukkan.” Pak Tony menunjukkan jalannya pada kami. Setelahnya ia pamit untuk melanjutkan pekerjaan yang lain.



“Bu Nara, mengenai dekorasi, saya ingin dekorasi floral glamour.”



Noted. Aku mencatat baik-baik permintaannya di buku yang selalu kubawa.



“Ah, tentu saja, Bu. Kita beruntung karena gedung ini memiliki pilar-pilar yang tinggi, nanti tinggal menambahkan beberapa properti pendukung. Efek glamornya bisa kita dapatkan dengan menambahkan kristal atau Swarovski. Selain itu nantinya akan ada rangkaian bunga-bunga yang akan memenuhi venue mulai dari area masuk, lounge, dan di setiap pojokan. Mungkin Bapak atau Ibu ingin menambahkan sesuatu?” tanyaku pada pasangan yang mendengarkan penjelasanku dengan serius.



Pasangan itu menggeleng. Mungkin sedang membayangkan seperti apa nantinya dekorasi untuk pernikahan meraka. “Kami menyerahkan masalah dekorasi pada Bu Nara saja.”



“Baiklah, nanti saya akan berkonsultasi pada dekorator terlebih dahulu dan hasilnya akan saya kirim via email.”



“Ah iya, Bu Nara, saya ingin buket bunga pengantin saya nantinya berwarna margarita green,” ucap Bu Alya lagi. Noted. Sudah kucatat. For your information, margarita green adalah campuran warna hijau kekuningan dengan kombinasi pink.



“Nanti saya akan memberi tahukan hal ini pada flo rist langganan kami,” balasku sopan.



Selanjutnya, di sela membahas dekorasi, calon mempelai wanita mengutarakan keinginannya untuk mengenakan gaun pengantin dengan potongan rok seperti gaun pes ta (ballgown) yang menggelembung. Setidaknya perancang gaun pernikahan langganan kami harus bekerja ekstra untuk mewujudkan pernikahan impian klien kami ini.



Perbincangan tadi didominasi oleh calon mempelai wanita, sedangkan sang pria hanya sesekali menimpali dan memberikan pendapat. Wajar saja sebenarnya, karena setiap wanita pasti menginginkan pernikahan yang sempurna sesuai impiannya.



Setelah berbincang mengenai konsep pernikahan selama tiga jam penuh, akhirnya aku meninggalkan Balai Samudera. Lelah memang, tetapi menyenangkan. Bekerja sesuai passion memang membawa kebahagiaan tersendiri. Tetapi, bukan berarti kalau tidak sesuai passion boleh bekerja serampangan. Tidak begitu, pekerjaan apapun tetap harus dilakukan dengan sungguh-sungguh supaya hasilnya maksimal.



***



Aku bersyukur Common Grounds tidak begitu jauh dari Balai Samudra. Begitu sampai di restoran, aku segera menuju meja yang sudah dipesan untuk tempat janjian.



“Ibu Lila?” sapaku ramah.



“Oh, Ibu Nara, silakan duduk.”



Aku mengangguk, lalu menari kursi di seberang klienku itu. “Sendirian saja?” tanyaku sambil celangak-celinguk memperhatikan sekitar. Pada pertemuan sebelumnya, Ibu Lila datang berdua dengan calon suaminya.



“Adit sedang ke luar kota, jadi saya hanya sendirian.”



“Oh, begitu rupanya. Bisa kita langsung mulai saja,



kan?” Aku mau pertemuan ini cepat selesai supaya bisa cepat pulang. Aku sungguh lelah. Badanku sudah berteriak minta direbahkan ke ranjang.



“Tunggu sebentar Ibu Nara, saya mau mengubah tempat resepsi pernikahan saya.”



What? Apa-apan ini? Aku menahan diri untuk tidak melotot ataupun berteriak di depan klienku ini demi kesopanan. Aku memaksakan diri untuk tersenyum. “Maaf, maksud Ibu mengubah lokasi ini bagaimana, ya?”



Klienku berdeham. “Saya mau tempat resepsinya dipindahkan ke Ritz Carlton Pacific Place.”



“Maaf, Bu,” ucapku sepelan mungkin, meski tanganku di bawah meja terkepal kuat. Aku masih menahan diri untuk tidak menyemburkan api ke wajah klienku ini. “Saya rasa, kita sudah sepakat untuk menggelar resepsinya di Hotel Mulia. Lagi pula, dekor untuk tempat resepsinya sudah kita bicarakan juga.”



“Saya tidak mau tahu, tempat resepsinya saya minta dipindahkan. Saya kan sudah membayar mahal kalian untuk mengurusi pernikahan saya!”



Pindah katanya? Enak saja main pindah-pindah seenaknya! Dikira semua tempat itu punya nenek moyangnya apa? “Bu Lila, mengubah lokasi resepsi berarti banyak hal.



Saya dan Anda sendiri tentunya tahu hal itu,” tuturku hatihati. Aku masih berharap klienku ini mau berkompromi.



“Bilang saja WO Anda tidak bisa mengabulkan keinginan saya. Tidak masalah kalau begitu, saya bisa mencari WO lain. WO Anda tidak profesional rupanya.”



Amarah yang sejak tadi kutahan-tahan, kini semakin menggelegak dan meronta ingin dilepaskan. Aku sungguh tidak terima. Usaha ini kujalankan dengan seluruh kemampuanku. Butuh waktu lama agar bisa sebesar ini. “Bu Lila, silakan kalau memang Ibu mau mencari WO lain. Tentunya Ibu sudah tahu konsekuensinya bagaimana, bukan?”




dijadikan tempat resepsi pernikahan bukanlah hal mudah. Tidak semudah membalikkan telapak tangan.



“Saya akan bilang pada calon suami saya untuk pindah ke WO lain. Akan saya beri tahu teman-teman saya untuk tidak menggunakan WO yang tidak profesional ini. Apa lagi pemiliknya menyebalkan seperti Anda. Saya pastikan WO Anda akan sepi job.”



Setelah menyelesaikan ucapannya, wanita itu berlalu dari hadapanku. Aku menarik napas lega. Dasar wanita menyebalkan. Kurang ajar. Tidak sopan! makiku dalam hati. Lihat saja, wanita itu pasti nanti akan memohon agar aku mengurus pernikahannya. Dia pikir gampang apa mengurus pernikahan orang?



“Nara. ”



“Hah?” Aku tersentak begitu merasakan sentuhan di bahuku. Ketika aku memutar kepalaku, wajah Arya tampak di pelupuk mata. Sosok yang tiga hari ini membuatku uring-uringan kini ada di dekatku. Ingin rasanya aku menghambur ke pelukannya. Mendekapnya erat supaya kerinduan yang menyesaki hatiku bisa berkurang.



“Kamu tidak apa-apa? Saya tadi lihat kamu berdebat dengan seorang wanita,” ujarnya. Arya kini sudah duduk di depanku.



“Oh, tadi.” Aku tertawa kecil. Meski kesal, tidak mungkin kutunjukkan kekesalanku pada lelaki yang kusuka ini. “Biasalah, klien. Tidak semuanya menyenangkan, dan wanita tadi masuk kategori menyebalkan versiku. By the way, sedang apa di sini?”



“Ada urusan tadi,” jawabnya singkat.



Aku melirik jam di pergelangan tangan. Pukul tiga sore. Waktunya aku pulang. “Maaf Arya, aku sudah dari tadi di sini, dan sekarang aku mau pulang.” Aku masih ingin duduk bersama Arya sebenarnya, tapi aku benar-benar lelah. Apalagi tidak hanya tenagaku yang terkuras habis, emosiku juga.



“Aku juga mau pulang. Sampai jumpa lagi kalau begitu.” Arya berdiri lalu pergi meninggalkanku.



Eh, sampai jumpa katanya? Astaga! Dia tidak menawarkan diri untuk mengantarku pulang atau apalah sekadar basa-basi, begitu? Ya ampun, keterlaluan. Aku memang bisa pulang sendiri sih, tapi... tapi. ah, sudahlah.



Pulang ke rumah, aku langsung berendam air panas, setidaknya bisa merilekskan badanku yang terasa lelah. Sehabis mandi, aku teringat dengan gaun yang dikatakan Lana tadi. Segera saja kuperiksa lemari pakaianku. Ada sebuah kantong belanjaan dengan logo Black Halo.



Isinya long dress tanpa lengan cantik berwarna nude. Gaun yang sedikit rumit dengan aksen renda berwarna merah muda di bagian depan dan belakang sampai depan bawah lutut, kemudian di bagian bawah terlihat seperti model rok tutu yang tidak terlalu mengembang.



Kucoba mengenakannya di badanku lalu menghadap



standing mirror, dan. wow… aku cukup terpesona dengan penampilanku. Aku bahkan tidak menyangka, diriku bisa seluar biasa ini. Gaun ini sangat pas, sesuai ukuran tubuhku, bahkan gaun ini membalut tubuhku dengan sempurna, memberikan sedikit kesan sexy karena menampilkan lekukan tubuhku.



Lihat aja ya Kanarya, kamu bakal terpesona sama aku. Akan kubalas perbuatanmu tadi yang mengabaikanku begitu saja!



Setelah puas bergaya di depan kaca, kulepas gaun tersebut dan memasukkannya dalam lemari gantungan. Aku butuh tidur sekarang agar bisa fit menghadiri acara besok. Untuk bertemu Kanarya juga, tentu saja.



***



Hari Minggu biasanya aku akan bangun saat matahari sudah tinggi. Bukannya aku malas bangun pagi, tetapi hanya hari Minggu aku bisa beristirahat sejenak dari rutinitas yang melelahkan.



Dan kali ini aku harus rela bangun subuh gara-gara Lana. Jam enam pagi aku sudah disuruhnya mandi dan sarapan. Satu jam kemudian dia sudah sibuk memoles berbagai macam kosmetik di wajahku.



Jujur saja, aku tidak terlalu bisa berdandan, biasanya aku hanya memakai pelembab, bedak, dan lipgloss jika akan berangkat ke kantor. Tetapi kali ini aku harus membiarkan Lana bereksperimen dengan wajahku. Aku bahkan diam saja saat ia menjepit bulu mataku, agar lebih lentik katanya. Sekarang mataku terasa sedikit perih akibat eyeliner yang masuk ke mata karena terlalu banyak bergerak. Aku heran kenapa untuk tampil cantik harus serepot ini.



“Selesai,” ucap Lana girang.



Aku pun membuka mata yang sedari tadi sengaja kututup agar tidak shock dengan perubahan yang dihasilkan Lana pada wajahku. Aku ternganga. Takjub. Hasil kreasi tangan Lana luar biasa. Sosok di cermin meja rias itu sangat cantik.



Saat aku mencoba berkedip, mata cantik dengan bingkai bulu mata yang lentik dan lengkungan eyeliner yang halus di dalam cermin tersebut, ikutan berkedip. Saat aku mengangkat dua sudut bibirku ke atas, lipatan bibir dengan dengan lipstik indah itu ikutan tersenyum. Bahkan, ketika aku melebarkan senyum, pipi yang biasanya hanya kusapu dengan bedak itu, merekah indah. Merona segar, memberikan kehidupan. Wow… aku sama sekali tidak menyangka keajaiban yang datang dari make up bisa sehebat ini. Apa benar itu aku ya?



“Iya, itu kamu, Mbak Naraku sayang,” ucap Lana lagi seakan mengerti pertanyaan yang ada dalam pikiranku. “Mbak cantik kok, cuma nggak suka dandan aja. Makanya sekarang, Mbak harus sering-sering dandan biar lelaki-lelaki di luar sana pada ngelirik,” goda Lana sambil tertawa. “Ya udah ganti baju gih, ntar baru giliran rambutnya yang aku tatain. Aku juga mau dandan dulu.” Lana langsung melesat ke kamarnya. Tinggallah aku yang sibuk memperhatikan bayanganku di cermin.



Mungkin setelah ini aku akan belajar berdandan pada Lana. Dan aku tidak butuh banyak lelaki untuk melirikku. Cukup satu, Kanarya seorang saja.



Setengah jam kemudian, Lana kembali ke kamarku. Dia sendiri sudah berdandan rapi, memakai longdress berwarna dusty pink dengan detail lipit pada bagian dada dan detail draperi yang memberikan kesan tambahan volume pada tubuh Lana yang memang langsing. Rambut hitamnya dibiarkan tergerai dan diberi jepit cantik berwarna perak.



“Rambutnya mau diapain, Mbak?”



“Terserah kamu aja, kan aku nggak ngerti.”



Lana langsung sibuk dengan rambutku. Ia terlihat mengepang rambut hitamku yang panjang. “Ini namanya kepang buntut ikan, Mbak.”



Aku hanya mengernyit, heran mendengar penjelasannya.



Kepang buntut ikan? Aneh. Tetapi tetap terlihat cantik. “Yuk turun, Papa sama Reifar udah mati bosen tuh nungguin kita di bawah.” Aku bercermin sekali lagi lalu ikut turun bersama dengan Lana.



“Wow, kamu cantik banget, Sayang.” Reifar langsung bersiul begitu melihat penampilan Lana. Lana terlihat merona. Pasangan lovebird ini yang membuatku iri. “Mbak, you look different. But, beautiful as always.”



Aku tersenyum mendengar pujiannya. “Thank you.” Reifar saja mengatakan aku cantik. Tinggal menunggu reaksi Kanarya. Lihat saja, dia pasti akan terpesona!



“Nggak nyangka, anak-anak gadis Papa cantik-cantik semua.”



“Papa juga masih ganteng kok. Walaupun dikit sih.” Lana dan Reifar langsung tertawa mendengar ucapanku.



“Ya udah, yuk berangkat.”



Kami menuju mobil bersamaan. Reifar yang mengemudi. Lana di sampingnya, sedang aku dan papa di kursi belakang. Kami akhirnya berangkat bersama, tidak jadi pergi sendiri-sendiri. Setengah jam kemudian, kami sampai di sebuah hotel mewah yang dijadikan tempat akad sekaligus resepsi pernikahan Livia Megantari Auriga dan Lerian Vaza Anggara. Keduanya anak pemilik perusahaan besar, jadi wajar saja jika pernikahan ini diselenggarakan secara mewah.



Sambil menunggu acara dimulai, aku mengamati dekorasi. Setiap kali datang ke pesta aku selalu menjadi pengamat. Siapa tahu ada yang bisa kujadikan referensi. Pernikahan ini misalnya, mereka menggunakan dekorasi shabby chic. Terlihat dari warna pink dan pastel yang mendominasi ruangan ini. Kesan romantis benar-benar terasa.



Dari tempatku duduk sekarang, aku melihat Kanarya sedang menatapku. Tatapannya tajam, menusuk. Menancap tepat di hatiku. Aku gemetaran sekarang. Aku tahu bahwa sejak aku masuk, dia sudah memperhatikanku. Apa kubilang? Dia terpesona padaku.



Tepat pukul setengah sebelas pagi akad nikah dilangsungkan. Mempelai pria terlihat tegang dan gugup. Tetapi, setelah para saksi menyatakan ‘sah’ barulah wajahnya terlihat lega. Tak lama kemudian mempelai wanita datang bersama ibunya. Mereka disandingkan di atas pelaminan. Acara akad dan resepsi dilakukan sekaligus. Para tamu kini bergantian mengucapkan selamat kepada pasangan yang baru menikah tersebut.



Aku bersama papa, Lana, dan Reifar berjalan menuju pelaminan yang dibuat seperti panggung kecil di tengah ruangan. Tangga yang berundak, gaun panjang, ditambah dengan heels sepuluh sentimeter, sukses membuatku tergelincir, kehilangan keseimbangan.



Aku menutup mataku, sudah pasrah jika harus jatuh dan mendapat malu. Satu detik... dua detik... Eh, kenapa aku tidak menyentuh lantai ya? Segera aku membuka mata, sebuah lengan terasa melingkari pinggangku, menopang bobot tubuhku agar tidak terjatuh. Kuembuskan napas lega.



“Cantik.”



Bertambah lagi orang yang mengatakan aku cantik. Orang itu sepertinya tidak sadar telah berucap seperti itu. Meskipun pelan dan nyaris seperti bisikan tetapi aku masih bisa mendengarnya karena jarak wajah kami yang sangat dekat.



Ketika kelopak mataku mengerjap, saat itu pula aku sadar bahwa ada sepasang mata cokelat yang familier, menatapku dengan pandangan yang sulit kuartikan. Dan dehamannya, sontak membuatku dan lelaki yang menolongku saling melepaskan diri.