
Nara: Wedding Planning
“Mir, kita nanganin berapa wedding bulan ini?”
Aku sedang berada di kantorku sekarang. Mengingat kejadian kemarin, aku benar-benar malu. Rasanya aku tidak punya muka lagi untuk bertemu dengan Tante Givia. Tetapi, Tante Givia sendiri malah memintaku menjadi WO pernikahan anaknya. Aku agak terkejut mengetahui adik lelaki Arya yang juga adik kelas yang pernah kutaksir saat SMA dulu akan segera menikah.
“Mbak, ada dua project nikahan buat bulan ini.” Syukurlah, berarti aku bisa memenuhi permintaan Tante Givia.
“Mir, kenalanku ada yang mau nikah akhir bulan ini, dia minta WO kita buat ngurusin, kira-kira bisa nggak, ya?”
Aku harus meminta pendapat asistenku dulu sebelum memutuskan. Karena ini akan jadi kerja team, bukan individu. Meskipun biasanya WO kami menangani maksimal lima project pernikahan dalam satu bulan, tetapi itu semua kan sudah direncanakan jauh-jauh hari. Bukan mendadak seperti sekarang ini.
“Bisa sih mbak, lagipula project kita yang lain udah 85% semua, jadi kita bisa ambil job ini.”
Aku mengembuskan napas lega karena tidak harus mengecewakan Tante Givia. Berarti sekarang aku harus menghubungi Tante Givia. Tapi bagaimana caranya? Aku bahkan tidak punya nomor ponsel Tante Givia.
Minta Kanarya, bisik batinku. Ah, benar juga. Kanarya pasti punya nomor ibunya sendiri.
Aku membuka aplikasi LINE dan mengetikkan pesan.
Arya, maaf menganggu. Bisa aku minta nomor
ponsel Tante Givia? Aku mau membahas tentang pernikahan adikmu.
Tidak sampai satu menit sudah ada balasan masuk.
Arya, maaf menganggu. Bisa aku minta nomor
ponsel Tante Givia? Aku mau membahas tentang pernikahan adikmu.
Ini nomor Mami 081234686xxx
Makasih udah mau bantu ya ^ ^
Sama-Sama.
Begitu nomor ponsel Tante Givia tersimpan di ponselku, aku langsung menghubunginya. Tak berselang lama, panggilan pun tersambung.
“Assalamualaikum, Tante, ini Nara.”
“Wa’alaikumsalam, Nara. Ada apa? Tumben telepon Tante.
Kangen ya?”
Tante Givia heboh seperti biasa. Aku terkikik geli. “Ini Tante, Nara mau kabarin kalo WO-nya Nara bisa bantuin ngurus nikahannya Oca.”
“Beneran? Wah, makasih ya Nara.”
“Iya Tante, sama-sama. Jadi kapan kita bisa ketemu buat bahas konsep pernikahannya?”
“Sekarang juga nggak apa-apa, mumpung Tante lagi di luar nih. Biar Tante ke kantor Nara aja. Nara kirimin alamatnya, ya. Bye, Nara.”
“Bye, Tante.”
Setelah mengirimkan alamat kantorku pada Tante Givia, aku kembali berkutat pada pekerjaanku. Satu jam kemudian pintu ruanganku diketuk dari luar.
“Masuk!” seruku dari dalam.
Pintu terbuka, menampakkan Tante Givia dan Mira. “Masuk, Tante.” Aku mempersilakan Tante Givia masuk dan duduk di sofa yang berada di ruanganku.
“Kamu di sini aja Mir, biar kita diskusi bareng,” ucapku menahan Mira yang akan keluar dari ruanganku. Mira mengangguk kemudian mengambil buku besar berisi sample konsep pernikahan yang kami punya.
“Tante, kenalin ini Mira, asisten Nara.”
“Nara ini calon menantu saya lho.”
Aku menunduk malu mendengar ucapan Tante Givia, sedangkan Mira menatapku dengan sorot mata penasaran. Aku berdeham. “Tante, ini beberapa sampel konsep pernikahan yang WO ini pernah kerjakan. Tante boleh liat dulu. Mungkin nanti ada yang bisa jadi insprirasi.”
Ketika Tante Givia sedang sibuk melihat buku besar yang kuberikan, aku memberi isyarat agar Mira meminta OB membuat minuman untuk Tante Givia. Mira langsung keluar dari ruangan, kemudian kembali dengan nampan berisi tiga cangkir green tea.
“Silakan diminum dulu, Tante,” ucapku sopan.
“Makasih ya Nara, Mira,” balas Tante Givia sambil tersenyum.
Tante Givia kembali membolak-balik halaman buku besar. Kemudian dia tersenyum. Mungkin sudah menemukan konsep yang dia inginkan.
“Nara, Tante pengen dekorasi kayak gini, ya,” ucap Tante Givia antusias.
Aku melihat ke arah halaman buku besar yang menampilkan dekorasi pernikahan bergaya Eropa.
“Ini gaya Renaissance, Tante. Dekorasinya klasik tapi tetap elegan. Kira-kira gedung mana yang akan dipakai?” tanyaku pada Tante Givia.
“Zaroca dan Andien sih mintanya The Palms Ballroms.”
“Bentar ya Tan, aku minta Mira cek dulu kira-kira tanggal segitu gedungnya available apa nggak.” Tante Givia mengangguk.
“Mir, bisa minta tolong tanyain The Palms Ballrooms available nggak tanggal 27?”
“Kayaknya bisa, Mbak, klien kita sebelumnya kan mau pake The Palms Ballroms tanggal segitu jadi udah dibooking, tapi pernikahan mereka diundur satu minggu jadi aku udah ubah tanggal bookingnya, tapi buat mastiin aku tanya ulang deh. Bentar ya.”
Mira keluar ruangan untuk menelepon. Aku dan Tante Givia melanjutkan diskusi tentang pernikahan ala Eropa yang diinginkannya. Dekorasi pernikahan ala Eropa ini biasanya didominasi warna putih, broken white, gold, pink, merah tua, dan merah maroon. Tetapi Tante Givia meminta agar warna gold yang lebih mendominasi. Yang pasti akan dibutuhkan banyak properti seperti pilar untuk membuat suasana menjadi klasik layaknya kastil-kastil di Eropa sana. Jika waktunya masih lama sih tidak masalah, tetapi ini kurang dari satu bulan. Rasanya aku akan bekerja lebih keras dari biasanya.
Mira masuk ke ruanganku lagi. “Gimana, Mir?”
“Bisa, Mbak,” sahutnya gembira.
Aku mengembuskan napas lega. Terima kasih Tuhan, sudah mempermudah pekerjaanku. Aku tidak harus membuat calon mertuaku kecewa. Eh, calon mertua?
“The Palms Ballrooms bisa dipake buat tanggal 27, Tante, jadi kita tinggal ngurus dekorasi, katering, suvenir, undangan, sama baju pengantin. Kira-kira akad nikahnya mau di mana, Tante?”
“Di rumah aja Nar, akadnya cuma mau ngundang keluarga besar. Resepsinya kita serahin sama Andien dan Zaroca aja mau ngundang siapa.”
“Oke. Tante foto preweddingnya mau di mana?”
“Kayaknya Andien sama Zaroca nggak akan foto prewed deh, udah mepet banget juga waktunya.”
“Wah sayang banget ya, Tan, mungkin nanti mereka mau bikin foto after wedding, Nara bisa bantuin kok.”
“Makasih ya, Nara.”
***
Aku sudah berada di The Palms Ballrooms bersama dengan Tante Givia dan Mira selama dua jam. Aku juga sudah membuat janji dengan dekorator The Palms Ballroms sehingga dua jam ini kami habiskan untuk berdiskusi mengenai dekorasi ruangan yang diinginkan Tante Givia. Untunglah dekoratornya mau menyelesaikan designnya dengan cepat, aku sedikit memaksa sih. Jadi tiga hari lagi dia akan mengirimkan hasil designnya via email kepadaku. Jika sudah fix, kami akan segera mulai mendekorasi.
Aku sedikit heran sebenarnya kenapa kedua calon mempelai memilih The Palms Ballroms yang jelas-jelas berada di Jakarta Barat, sedangkan tempat tinggal kami semua ada di Jakarta Pusat. Padahal gedung pernikahan di Jakarta cukup banyak. Tapi sudahlah, permintaan calon pengantin kadang memang aneh-aneh. The Palms Ballroms ini mempunyai packages sendiri untuk pernikahan, jadi sebenarnya tanpa WO pun bisa. Tapi karena grand wedding package yang ditawarkan The Palms Ballroms hanya untuk 800 pax jadi aku harus negosiasi lagi karena tamu undangan dari kedua belah pihak mencapai dua ribu orang. Tugasku selanjutnya menghubungi pemilik katering, suvenir, percetakan undangan, pemilik butik, dan lain-lain. Masih banyak!
Tugas pertama, berkonsultasi pada dekorator sudah selesai, tinggal tugas-tugas selanjutnya. Dari The Palms Ballrooms, aku dan Mira menuju ke daerah pusat untuk menghubungi pihak katering dan suvenir. Tante Givia sudah kami minta pulang ke rumahnya. Menjelang malam aku baru sampai di rumah. Badanku mau remuk rasanya.
Berendam air hangat kedengarannya menyenangkan. Bisa membuat otot-otot yang kaku menjadi rileks. Setengah jam kemudian, aku keluar dari kamar mandi mengenakan handuk kimonoku. Setelah berendam rasanya badanku memang lebih segar.
Sambil bersenandung aku membuka lemari pakaianku, mengambil underwear dan gaun tidur. Saat berbalik, aku terpekik kaget. Mataku melotot kepada sosok yang sedang melipat tangan di dadanya.
“Arya. ”