
Roy mengerahkan seluruh anak buahnya untuk mencari Wilona, rencana honeymoon dengan sang istri pun terbengkalai karena hal ini. Begitu banyak kejutan yang sebenarnya ingin Roy tunjukkan kepada Louisa. Namun, saat ini seseorang membawa pergi Wilona. Ia tidak ingin sesuatu terjadi kepada adiknya.
Setelah berpamitan kepada kedua orangtua Louisa, Roy dan Louisa kini sedang dalam perjalanan menuju Indonesia. Menurut informasi yang ia dapat, lokasi terakhir Wilona berada di Raja Ampat Indonesia.
"Maafkan aku pertemuan dengan keluargamu hanya sebentar, setelah masalah ini selesai kita dapat kembali lagi ke sana," ucap Roy lalu mengecup punggung tangan istrinya.
Louisa tersenyum lalu menggenggam tangan sang suami."Tidak apa, keselamatan Wilona lebih penting".
Roy merasa bersyukur mendengar ucapan Louisa, ia terdiam sejenak memikirkan siapa orang yang berani bermain-main dengannya. Ben dan Takashi tidak mungkin melakukannya, karena mereka mengincar pewaris yang berada dalam rahim Louisa.
Roy memijat pelipisnya yang semakin pusing memikirkan hal ini. Ia berharap semoga adiknya tidak mengalami hal buruk di sana.
Sementara itu, Wilona yang sedang begitu dikhawatirkan oleh sang kakak saat ini sedang menari indah di atas tubuh pria yang menculiknya. Baru saja ia membayangkan bercinta dengan Morgan, tiba-tiba saja pria itu datang dan langsung menyerbunya.
Setelah melakukan percintaan didalam kolam berenang, mereka berpindah tempat naik ke atas. Wilona kini mengambil alih permainan panas mereka, ia dengan lincah menari indah di atas tubuh Morgan. Kedua tangan Morgan tidak tinggal diam, ia memainkan dua benda kenyal yang sejak tadi menganggur.
"Aahhh kau membuatku gila!" racau Wilona saat Morgan kembali membalikkan tubuhnya.
Untungnya hanya ada mereka berdua didalam vila, tidak ada seorang pun anak buah Morgan diizinkan masuk olehnya. Ia mengangkat tubuh polos Wilona seperti koala dengan milik mereka yang masih menyatu.
Morgan berjalan menuju kamarnya menggendong Wilona sambil berciuman. Wilona sangat menyukai ketika kedua bibir mereka saling bertaut. Apalagi saat ia merasakan pusaka kebanggaan Morgan yang memenuhi dirinya. Oh astaga, pantas saja Louisa dan kakaknya sangat menyukai aktivitas seperti ini. Ternyata begitu nikmat dan menyenangkan, Morgan yang awalnya hanya ingin membuat Wilona hamil kini menjadi kecanduan. Ia selalu saja ingin merasakan lagi dan lagi, tubuh adik dari musuhnya ini membuatnya menjadi gila.
Entah ini disebut cinta atau hanya pelampiasan saja, Morgan tidak tahu. Ia kembali memompa tubuh Wilona di dekat jendela kamar. Wilona memegang kaca jendela ketika Morgan memompanya dari belakang.
Entah berapa kali mereka melakukannya dan berapa kali juga Morgan membanjiri ladang indah Wilona dengan benih premium miliknya. Kedua kini berbaring di atas tempat tidur sambil berpelukan.
Hanya selimut tebal yang menutupi tubuh polos mereka. Wilona menatap Morgan yang hendak memejamkan matanya.
"Aku masih penasaran alasanmu menculikku? Apa karena kakakku?" tanya Wilona selidik.
"Jangan sebut namanya, aku sangat membenci kakakmu!" ketus Morgan.
"Dia merusak segala rencana yang telah kami buat, pesta pernikahan yang akan segera digelar batal karena kakakmu. Dia menghamili calon istriku," sambungnya lagi.
Morgan bangkit dari tempat tidur, ia lalu mengenakan celana pendeknya. Berjalan menuju balkon kamarnya, Morgan menyalakan rokok lalu menghisapnya.
Entah mengapa hati Wilona merasa teriris mendengar jawaban Morgan. Ia merasa seperti alat balas dendam Morgan kepada kakaknya. Ia kini tahu wanita yang Morgan cintai adalah Louisa sahabatnya.
Betapa beruntungnya Louisa selalu dicintai pria hebat seperti Roy dan Morgan. Morgan menatap lurus ke depan, beberapa hari ini ia lupa akan rencananya membuat Wilona hancur. Bukannya membuat hancur, gadis itu justru merasa senang diculik olehnya.
Bahkan kini ia sangat kecanduan tubuh mungil adik dari musuhnya itu. Morgan melihat Wilona berjalan menuju kamar mandi tanpa memakai apapun menutupi tubuhnya.
Guyuran air shower membasahi tubuh indah Wilona, tubuh yang putih mulus saat ini memiliki banyak tanda yang dibuat oleh Morgan. Wilona tercekat ketika merasakan dua lengan kekar melingkar menangkup kedua dada nya. Seolah tidak puas berjam-jam bermain dengannya pria itu kini mulai kembali memancing hasrat Wilona.
Kini hanya ada suara indah nan merdu memenuhi kamar mandi, cuaca dingin di luar sana tidak dapat mendinginkan hawa panas di dalam. Wilona mengerang dengan keras ketika Morgan kembali mengobrak-abrik tubuhnya.
Di sisi lain Roy kini menemukan siapa pelaku penculikan Wilona, ia melihat sebuah CCTV di mana anak buah Morgan membawa kabur Wilona. Roy mengeraskan rahangnya, ia mengepalkan tangannya dengan sangat kuat. Roy yakin, Morgan ingin membalaskan dendam kepadanya melalui Wilona.
Berita kedatangan Roy dan Louisa sepertinya telah diketahui oleh Morgan. Ia sepertinya sudah mengetahui apabila Louisa lebih memilih bersama Roy daripada kembali kepadanya.
"Kau beristirahat saja sayang, biar kami yang mencari Wilona," ucap Roy lalu mengecup kening istrinya.
Louisa menganggukkan kepalanya ia lalu berusaha memejamkan kedua matanya. Perjalanan hari ini sangat panjang dan melelahkan, meskipun sebenarnya ia ingin sekali ikut mencari Wilona. Namun, ia harus memikirkan kondisinya saat ini, ia tidak boleh terlalu lelah karena tidak baik untuk janin mereka.
Setelah memastikan Louisa beristirahat di dalam kamar, Roy dan yang lainnya pergi mencari Wilona. Ley diperintahkan untuk menjaga Louisa di sekitar hotel, mereka saat ini menuju villa terpencil milik Morgan.
Setelah lama berkendara, kini mobil Roy dan tim nya sudah mengepung villa tersebut. Anak buah Morgan bergegas berlari melawan serangan musuh. Morgan yang sedang asyik berendam dengan Wilona, ia mendengar suara gaduh dari bawah. Morgan tersenyum miring mendengar itu, ia yakin pria itu saat ini sedang marah karena ia berhasil membawa pergi gadis keras kepala ini.
Morgan bangkit dari dalam bathub, ia bergegas memakai bathrobe miliknya. Wilona tentu saja mengikuti Morgan, ia terkejut ketika melihat banyak anak buah sang kakak sudah mengepung villa tempat mereka menghabiskan waktu bersama.
Oh my God!
Morgan mengenakan celana pendek dan kaos lengan pendek untuk menemui Roy di bawah sana. Wilona mencengkram pergelangan tangan Morgan, ia takut terjadi sesuatu kepadanya.
"Lebih baik kau tidak perlu menemuinya," ucap Wilona. Ia sangat mengetahui apabila kakaknya tidak akan segan-segan membunuh siapapun orang yang berani menyentuh keluarganya.
"Kau meragukanku?"
Wilona menggelengkan kepalanya, ia lalu memeluk Morgan membuat Morgan merasakan kehangatan yang belum pernah ia dapatkan selama ini.
"Bawa aku pergi! Ayo culik aku lagi?" pinta Wilona membuat Morgan melongo mendengarnya.
"Hah?"
......
Jangan lupa like komen dan vote bestie 💕 Calangheyo 🤗