One Night Stand With Mafia

One Night Stand With Mafia
Melindungi Louisa



Roy meminta Hudson untuk mengawasi Louisa dari kejauhan. Pekerjaan ia masih begitu banyak, namun ia merasa tidak tenang ketika mendengar kabar dari Hudson. Hudson mengatakan apabila ada sebuah mobil yang sejak tadi mengintai mereka.


Roy sangat yakin, Ben dan Takashi pasti sudah mengetahui apabila Louisa sedang mengandung benih Roy. Itu sebabnya mereka mengikuti kemanapun Louisa pergi. Andai El ada disini ia sudah meninggalkan pekerjaannya, namun proyek yang sedang ia kerjakan saat ini bernilai milyaran.


Roy merasa bimbang, di sisi lain ia tidak dapat membiarkan Ben dan Takashi menyakiti istrinya. Untungnya Erick datang tepat waktu, Roy meminta Erick menghandle pekerjaannya.


"Ben dan Takashi sedang mengincar Louisa, aku harus segera pergi," ucap Roy sangat panik.


"Pergilah! Biar aku yang urus semua ini," jawab Erick.


Roy bergegas pergi meninggalkan perusahaannya, Thea merasa aneh melihat Bos nya pergi begitu saja seperti sedang mengkhawatirkan seseorang.


Sementara itu saat ini Louisa dan Wilona baru saja keluar dari salon setelah selesai menjalani perawatan. Louisa baru saja memotong rambutnya sedikit ia bentuk seperti wanita-wanita Korea. Ley hanya menggelengkan kepalanya melihat kedua majikannya sejak tadi berdebat ingin melanjutkan destinasi selanjutnya.


Ley baru saja berjalan untuk menuju mobil, tiba-tiba saja datang segerombolan pria bertubuh besar menghampiri mereka. Dengan cekatan ia melawan mereka satu persatu, Hudson yang berada tidak jauh dari sana ikut membantu Ley melawan mereka. Louisa dan Wilona terkejut ketika melihat para penjahat yang berusaha menyakiti mereka.


Tiba-tiba saja seseorang datang membawa Louisa dan Wilona masuk ke dalam mobil. Louisa merasa lega ketika melihat suaminya datang tepat waktu. Ia kembali menghampiri para penjahat, satu persatu dari mereka tumbang karena tembakan Roy.


DORR!! DORR!!


Louisa sangat ketakutan ketika ia melihat Roy yang nampak menyeramkan seperti ini. Baru kali ini ia mengalami hal seperti ini, karena ketika bersama Morgan tidak pernah ada musuh yang mendekati Morgan. Karena Morgan tidak pernah memperlihatkan sisi gelapnya, bahkan Louisa tidak tahu apabila Morgan pun mafia.


Berbeda dengan Roy, begitu banyak yang mengincar kekayaan dan kekuasaan yang Roy miliki oleh karena itu ia memiliki banyak musuh. Louisa dapat melihat betapa kejamnya Roy menghabisi satu persatu musuh yang berani menyakitinya.


Wilona melihat raut wajah Louisa, ia menggenggam tangan kakak iparnya. Ia tahu mungkin ini hal yang baru dialami oleh dirinya.


"Kau tenang saja, semua akan baik-baik saja sekarang," ucap Wilona meyakinkan.


"Apa dia selalu membunuh banyak orang?" tanya Louisa selidik.


"Kakak tidak berniat untuk membunuh, ia hanya membela diri untuk melindungi orang-orang yang dicintainya," jawab Wilona.


Louisa terdiam sejenak, benarkah Roy mencintainya? Ia mencintai dirinya atau bayi yang ada dalam kandungannya? Tak lama kemudian pertempuran selesai, semua telah dibereskan oleh Roy dan timnya.


Ben dan Takashi geram karena gagal menculik istri Roy, Takashi melajukan mobilnya meninggalkan tempat kejadian. Ia pun bergegas masuk ke dalam mobil, sementara anak buahnya membereskan kekacauan di luar sana.


Roy langsung memeluk Louisa, Louisa dapat mendengar dengan jelas detak jantung Roy berpacu dengan cepat saat ini.


"Kau baik-baik saja?" tanya Roy sangat cemas. Louisa hanya menjawab dengan anggukan kepala.


Baru kali ini Wilona melihat betapa sang kakak mengkhawatirkan seseorang. Bahkan kepada dirinya ia tidak pernah seperti itu.


"Ya ampun kalian melupakan aku? Aku pun ada di sini Kakak," sewot Wilona menggerutu.


"Maafkan aku, kau tidak apa-apa?" tanya Roy sambil mengurai pelukannya kepada Louisa.


"Terlambat tuan Walker," cibir sang adik sambil mengerucutkan bibirnya.


"Wah! Kau mengganti model rambutmu?" tanya Roy ketika ia mengusap rambut istrinya ada hal yang berbeda.


Louisa tersenyum kikuk mendengar pertanyaan suaminya sambil memegang rambutnya.


"Aku hanya ingin terlihat lebih fresh," jawab Louisa beralasan.


"Bukan karena wanita tadi pagi..," belum sempat Wilona berucap Louisa dengan cepat menutup mulutnya.


Roy terkekeh mendengar ucapan adiknya yang hampir mengatakan bahwa Louisa melakukan itu agar ia tidak tersaingi oleh Thea.


"Kau cemburu Nyonya Walker?" bisik Roy sambil merengkuh kembali pinggang Louisa.


"Ti..tidak, mana mungkin aku cemburu pada wanita seperti itu," elak Louisa merasa gugup.


Roy begitu senang menggoda Louisa, ia bahkan sejak tadi menciumi tengkuk Louisa membuat ia meremang dibuatnya. Wilona berdecak sebal melihat dua insan yang duduk di sampingnya memamerkan kemesraan sejak tadi.


"Hey! Kalian tidak lihat ada anak di bawah umur di sini," protes Wilona yang saat ini menjadi saksi bisu.


"Kakakmu ini Wilo, aku sejak tadi hanya diam saja," bela Louisa sambil menyingkirkan tangan suaminya yang sudah berani nakal berjelajah pada tubuhnya.


Tiba-tiba saja ponsel Roy berdering, Louisa melihat nama Thea di depan layar ponsel suaminya. Entah mengapa ia merasa tidak suka ketika melihat wanita itu terus mendekati suaminya. Apakah ia sudah mulai cemburu? Namun ia masih meraksasa hal yang sama terhadap Morgan.


"Aku sudah menyerahkan segalanya kepada Erick, biar Erick yang menghandle semua," jawab Roy ketika ia menerima panggilan dari sekertarisnya.


Roy lalu mematikan sambungan teleponnya, ia meminta Ley membawa mereka ke sebuah restoran. Pertarungan tadi membuatnya menjadi lapar, Roy bahkan meminta Ley mencarikan rujak setelah mereka sampai nanti.


"Apa kau selalu kesulitan apabila menginginkan sesuatu?" tanya Louisa.


"Ada Erick dan Hudson yang dapat aku andalkan, hanya saja aku tidak tahan apabila tiba-tiba ingin muntah," jawab Roy jujur.


"Lalu, saat ini kau masih merasa mual?" tanya Louisa lagi.


Wilona memilih mendengarkan musik lewat headset yang ia pakai daripada melihat keuwuan mereka sejak tadi.


"Ketika berada di dekatmu rasa mual itu hilang, mungkin bayi kita selalu ingin kita bersama," balas Roy lalu tersenyum.


Oh astaga manusia batu ini sangat tampan ketika ia tersenyum manis kepadanya. Louisa merasa bersalah, ia berusaha untuk terpisah dengan Roy dan anaknya nanti setelah melahirkan. Sedangkan sang bayi memang terlihat begitu ingin mereka bersama. Terbukti ketika semalam ia tidak dapat tidur, ketika bersama Roy ia dapat tidur dengan nyenyak.


Louisa menjadi dilema, ia sudah berjanji kepada Morgan untuk kembali kepadanya. Namun kini ia terjebak dengan kasih sayang tulus yang Roy berikan kepadanya. Pria ini bahkan rela merasakan segala yang dialami wanita hamil demi dirinya.


Haruskah ia egois memilih kembali kepada Morgan?


.....


Jangan lupa like komen dan vote bestie 💕 Calangheyo 🤗