One Night Stand With Mafia

One Night Stand With Mafia
Kesalahan Louisa



Roy membawa Louisa ke sebuah restoran mewah di pinggir kota. Wilona tidak ikut, ia memilih untuk pergi bersama dengan Ley daripada menyaksikan pasangan yang sedang dalam masa pendekatan itu. Meskipun mereka belum saling mencintai namun mereka memiliki chemistry yang kuat karena bayi dalam perut Louisa.


Louisa terpana melihat apa yang dipersiapkan oleh Roy, meskipun hanya makan siang namun ia membuatnya terlihat romantis. Wanita mana yang tidak klepek-klepek oleh pria dingin ini apabila diperlakukan seperti ini.


Roy mempersilahkan Louisa untuk duduk di kursi yang disediakan. Louisa pun mengikuti apa yang diperintahkan suaminya. Roy duduk di samping Louisa, keduanya duduk menghadap kearah jendela. Terlihat begitu jelas pemandangan laut didepan sana yang menyejukkan mata.


Roy dan Louisa pun memesan makanan, pelayan restoran pergi setelah mendapatkan pesanan mereka. Louisa tercekat ketika Roy tiba-tiba saja menggenggam tangannya.


"Maafkan jika bersamaku hidupmu selalu dalam bahaya, namun aku akan selalu melindungimu kau tidak usah khawatir," ucap Roy lalu mengecup punggung tangan sang istri.


"Mereka itu siapa?" tanya Louisa penasaran.


"Ben adalah saudara sepupuku, ia tidak terima karena tahta kekuasaan keluarga Walker kini milikku. Dan orang Jepang yang bersamanya, Takashi sahabat Ben yang memiliki dendam pribadi denganku," jelas Roy.


"Sepertinya kau dikelilingi banyak musuh," balas Louisa membuat Roy terkekeh.


"Itu sebabnya aku tidak pernah mencintai wanita manapun, mereka akan terus mengincar orang-orang yang aku cintai agar aku lemah. Namun kalian hadir dalam hidupku membuatku merasakan sesuatu yang berbeda," tutur Roy sambil mengusap perut Louisa yang masih rata.


"Berbeda bagaimana?" tanya Louisa.


"Aku menginginkan kalian selalu bersamaku, tapi aku tidak dapat memaksa apabila kau ingin kembali kepada Morgan setelah bayi kita lahir," timpal Roy terlihat begitu serius.


Deg!


"Kau mengetahui semua?" tanya Louisa lagi.


"Tanpa sengaja aku mendengar semuanya, aku tidak masalah apabila kau ingin kembali dengan Morgan. Aku tidak dapat memaksakan kehendakku, karena aku tau cinta tidak dapat dipaksakan," jawab Roy.


Tak lama kemudian pelayan datang membawa pesanan mereka. Roy begitu telaten memotong daging untuk Louisa, lalu memberikan kepadanya. Pelayan pun pergi setelah mengantarkan minuman mereka.


"Tapi mengapa kau kemarin seperti marah kepadaku? Apa kau cemburu?" tanya Louisa sedikit gugup.


"Entahlah aku tidak tahu seperti apa rasanya itu, aku hanya tidak suka. Tapi aku tidak dapat memaksa seseorang untuk mencintaiku," jawab Roy lalu memasukkan potongan daging kedalam mulutnya.


"Kau dapat menemukan wanita yang lebih baik dariku nanti," saut Louisa.


"Bagiku pernikahan hanya sekali seumur hidup, oleh karena itu aku tidak akan menikah lagi apabila kau kembali kepada Morgan. Namun apabila kau tetap bersama denganku dan buah hati kita, akan ku pastikan hanya kau satu-satunya ratu di hatiku. Tidak ada yang lain," ucap Roy membuat Louisa merasakan sesuatu yang aneh.


Ia merasa begitu dicintai oleh pria dingin seperti Roy, apalagi tatapan matanya saat ini membuat Louisa terjatuh dalam pesona Roy.


Louisa tercekat ketika Roy tiba-tiba saja mengusap noda saos yang berada di dekat bibirnya.


Deg!


Jantung Louisa berpacu semakin cepat, apalagi ketika ia menatap manik mata berwarna biru yang menatapnya penuh cinta. Roy tidak menyadari bahwa kini ia mulai mencintai istrinya.


"Kau makan seperti anak kecil," ejek Roy lalu terkekeh.


Louisa mengerucutkan bibirnya mendengar ucapan Roy, setelah selesai makan siang Roy membawa Louisa jalan-jalan. Ia sangat perhatian kepada Louisa, hingga Louisa merasa rasa perhatian ini bukan untuk bayi mereka namun untuknya.


Hari-hari berlalu begitu saja, Louisa semakin dibuat dilema oleh perhatian dan kasih sayang yang diberikan oleh Roy kepadanya. Pria itu rela memijat kakinya meskipun ia terlihat lelah karena seharian bekerja.


Roy benar-benar hanya ingin berdua saja, Louisa bahkan kini sedikit demi sedikit mulai menerima Roy.


"Wilona sekarang pergi kemana lagi?" tanya Louisa sambil menyuapi Roy yang sedang merebahkan tubuhnya di pangkuannya.


"Entahlah, dia selalu seperti itu pergi sesuka dia. Dia satu-satunya anggota keluarga kami yang paling sulit diatur," cerocos Roy.


Sudah beberapa hari ini Wilona pergi dan belum kembali, biasanya saat ini Wilona sedang pergi ke kota lain. Ia sangat suka memfoto burung, berbagai jenis foto burung langka menjadi koleksi an Wilona.


"Dulu aku ingin seperti Wilona, pergi keliling dunia menikmati keindahan setiap negara yang berbeda. Namun, aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku sehingga aku melupakan keinginanku," timpal Louisa begitu antusias.


"Apabila proyek ini selesai, mari kita keliling dunia seperti yang kau inginkan," ucap Roy lalu bangkit untuk duduk berhadapan dengan Louisa.


Cup!


Roy mengecup bibir ranum yang sejak tadi menggodanya, ketika mereka hendak berciuman tiba-tiba saja seseorang menembakkan peluru kearah mereka.


Dor!!


Untungnya Roy dapat merasakannya, sehingga ia dapat melindungi Louisa. Louisa terkejut ketika mendengar suara peluru yang sangat dekat dengannya.


Roy mengambil senjatanya, ia lalu berusaha membidik senjatanya mengarahkan kepada musuh yang berusaha menyakitinya. Namun senjata yang ia gunakan tidak mengeluarkan peluru, Roy melihat ternyata tidak ada peluru di dalamnya.


"Maaf, aku enggak mau kamu membunuh banyak orang," ucap Louisa dengan nada bergetar.


Ia menyadari kebodohannya saat ini membuat ia dan suaminya berada dalam bahaya. Roy kini terjebak, ia tidak memiliki senjata. Bahkan anak buahnya tidak ada satupun yang mengikuti dirinya.


Ben dan Takashi tersenyum menyeringai ketika melihat Roy dalam keadaan terjepit. Roy mengambil pisau yang tadi di gunakan oleh Louisa untuk memotong buah-buahan.


"Menyerah saja Roy, kali ini kau tidak akan selamat," ejek Takashi terkekeh.


"Aku masih dapat melawan kalian walaupun tanpa senjata," balas Roy dengan tatapan tajam.


Louisa merasa gugup mencoba menghubungi Hudson dan Erick. Ia menangis tersedu karena membuat suaminya berada dalam bahaya. Ia dengan bodoh melepaskan peluru pada senjata Roy, agar Roy tidak membunuh banyak orang lagi.


Ben berjalan menghampiri Roy lalu menghajarnya, Roy dengan cekatan dapat menangkis pukulan yang Ben berikan.


"Ucapkan selamat tinggal pada pewarismu Roy," ejek Takashi.


Takashi merasa geram, ia pun membidikkan senjatanya mengarah kepada Louisa. Roy melemparkan pisau yang ia pegang kepada Takashi. Pisau itu mengenai tangan Takashi sehingga tembakan Takashi meleset.


Melihat Takashi tidak berhasil, kini giliran Ben yang mengarahkan senjatanya kepada Louisa. Roy berlari memeluk istrinya sehingga peluru tersebut mengenai dirinya.


Dorrr!!!


"Tidak!!!!".


.........


Jangan lupa like komen dan vote bestie 💕 Calangheyo 🤗