
Kini Aiyla memandangi dirinya yg telah lengkap dengan pakaian berkabung nya.Mukanya sungguh tak seperti dirinya banyak bekas air mata disekitar wajahnya.Ia pun membasuh wajahnya dan melepas ikatan rambutnya agar wajah kusutnya tidak terlalu terekspos oleh orang sambil memakai earphone nya untuk meredam setidaknya sedikit rasa sakitnya.
Ayahhh gumamnya tak terasa air matanya kembali mengalir dengan cepat ia menghapus air matanya saat tiba-tiba suara mamanya memanggil.
Tok Tok Tok
"Aiyla ayo kita keluar para tamu sudah berkumpul untuk upacara ayah"terdengar dari nadanya bahwa mamanya menahan tangis didepan nya.
Huh Hah
Aiyla mencoba mengatur napasnya sambil menepuk-nepuk pipinya ia juga harus kuat untuk mamanya."Ya mah"dan benar sosok wanita yg satu satunya Aiyla sayangi sudah berdiri diambang pintu dengan pakaian yang sama dengan nya.
Aiyla pov
Gue dan mama menuruni tangga untuk memulai upacara penghormatan terakhir untuk ayah. Seketika seluruh pasang mata menatap kami dengan tatapan prihatin ada juga yg menatap dengan tatapan tunduk.Gue nggak suka mereka natep gue kyk gini seakan akan gue lemah.
Semua orang memberi salam hormat pada kami saat melewati barisan tentara yg mungkin mereka adalah bawahan ayahku.
Acara penghormatan terakhir untuk ayah serta acara pemakaman nya pun hampir selesai kini tubuh ayah yg sudah berbalut kafan hendak dimasukkan ke dalam tempat peristirahatan terakhir nya. Tangis mama pun pecah saat melihat tubuh ayah yg ditimbun tanah sedikit demi sedikit.Dengan hati yg sesak dan air mata yg mungkin sebentar lagi akan meluap gue berusaha sekuat mungkin gue nggak mau mama tambah sedih karna gue juga sedih.Gue harus kuat buat mama.Tapi tekat itupun pupus juga saat tubuh ayah sudah tak terlihat seketika bayangan kenanganku bersama ayah muncul begitu saja membuat dadaku semakin sesak dan sempit.Gue pun berlari sejauh mungkin dari tempat pemakaman ayah dan ternyata memang tidak disadari oleh semua orang.
Normal pov
Kini tujuannya hanyalah mencari tempat yg sepi untuk menangis tanpa da yg mendengarnya. Tangis Aiyla pun pecah di sebuah pohon yg lumayan jauh dari pemakaman ayah.
"Hikss ayah kumohon jangan seperti ini hiks aku tidak mau ayah pergi... kumohon...hiks seseorang katakan padaku bahwa ini semua adalah mimpi buruk yg tak akan pernah terjadi padaku..hiks mohon seseorang bangunkan aku dari mimpi buruk ini aku hanya ingin ayah aku hanya ingin semua seperti dulu lagi kumohon..hiks kenapa semuanya tega padaku Hikss" itulah yg terus ia katakan dalam tangisnya dengan posisi tangannya yg memeluk lutut.
"Hey, jangan nangis wajah lo jelek klo nangis" ujar seorang lelaki yg mungkin seumurannya berdiri tepat didepan Aiyla sambil menyodorkan sapu tangan nya pada Aiyla.
"Apa hubungannya padamu pergilah! aku tidak suka pengganggu dan diganggu"jawabnya ketus sambil memalingkan wajahnya yg ia yakini bahwa wajahnya memang jelek saat ini.
Lelaki itu pun mendudukkan tubuhnya disamping Aiyla.
"Bukannya kau ingin seseorang membangunkanmu dari mimpi buruk mu" ucapnya santai sambil menatap lekat Aiyla yg masih memalingkan wajahnya darinya."Entah kau mendengarkan ku atau tidak, tapi kau harus tau bahwa kau tak akan pernah sendiri di dunia ini" sambungnya sambil menatap langit biru yg seolah menjadi atap bagi para makhluk dibawahnya.
"Pergilah!! aku tidak ingin diganggu apa lagi oleh orang asing sepertimu aku sedang ingin sendiri" ujarnya dengan wajah datar.
"Ck, ga dasar ini, ambilah" pria itu kembali menyodorkan kembali sapu tangannya pada Aiyla."Thanks"
"lo emang nggak kenal gue tapi lo harus inget gue penggemar berat lo jadi gue nggak mau ngeliat bias gue nangis" jelasnya sambil mengulas senyum.
"lo harus inget bahwa nggak semua hal buruk yg lo benci adalah mimpi buruk lo dan nggak semua hal baik itu mimpi indah kita nggak tau apa yg Tuhan rencanakan untuk kita bisa jadi mimpi yg lo anggap buruk adalah awal dari mimpi indah yg nggak pernah lo bayangin dan bisa jadi mimpi indah lo nggak seindah yg lo kira jadi jangan salahin mimpi apapun itu lo harus kuat ngedepinnya karna lo pasti akan bangun dengan sendirinya kalo udah waktu nya jadi lo nggak usah minta orang lain buat bangunin lo"jelasnya panjang lebar.
Aiyla hanya menanggapi apa yang lelaki itu bicarakan dengan tatapan tak suka karna dia memang tak suka diganggu walaupun memang lelaki itu bukan sedang mengganggu nya.
Kring Kring
dering hp Aiyla berbunyi dan benar saja ibu nya menelpon tanpa ia sadari ternyata pemakaman bahkan sudah sepi hanya tinggal beberapa kepala saja yg masih berada di sekitar pemakaman ayahnya.
"Halo mah"
"Aiyla kamu dimana sayang semuanya nyariin kamu"
"Iya mah tenang aj Aiyla nggak papa kok Aiyla kesana sekarang dah"
Aiyla pun segera berdiri membersihkan rok belakangnya yg kotor karna terlalu lama duduk di tanah.
"Hei!! tukang ceramah semoga hari lo menyenangkan jangan ganggu gue lagi dan lo harus inget gue nggak suka pengganggu.Jadi simpen aja kata kata lo tadi buat orang lain aja thanks sapu tangannya" Aiyla pun segera meninggalkan lelaki itu tanpa menghiraukannya.
Lelaki itu menatap punggung Aiyla sambil mengulas senyuman.Dan tatapannya pun teralihkan pada sebuah benda kecil di tempat dimana Aiyla duduk tadi yg tak lain itu adalah salah satu earphone yg Aiyla kenakan.
"Kau salah sepertinya kita akan bertemu lagi gadis aneh"gumamnya sambil memandangi earphone pink milk Aiyla.
Selama perjalan pulang hanya ada kesunyian yang menyelimuti perjalanan mereka.Entah itu Aiyla maupun mamanya mereka larut pada lamunannya masing masing.
Sesekali terdengar isakan yg tertahan oleh sang mama.Aiyla memandangi mamanya yg kini begitu rapuh bak kaca yg sudah retak sehingga siapapun yg menyentuhkan akan memecahkannya.
"Mah, jangan ditahan, nangis aja mah Aiyla nggak papa kok" Aiyla mencoba meyakinkan mamanya iya tahu betul bahwa mamanya hanya berusaha kuat untuk Aiyla.
"Terima kasih Aiyla" ujar mamanya sambil memeluk satu satunya harta berharga miliknya seakan ia tak mau kehilangan harta satu satu nya yg sangat berharga.
Isakan dari keduanya pun mendominasi mobil yg membuat bi Mae dak pak R terasa teriris melihat majikannya yg sangat rapuh saat ini.
"Aiy gimana kalo kita pergi ke rumah mama untuk sementara waktu" tawar mamanya sambil menghapus air mata dan melepas pelukannya pada Aiyla.
"Iya mah Aiyla mau ikut mama pulang"jawab Aiyla mantap sambil mencoba mengulas senyuman pada mama nya.
Kini tekadnya hanya satu yaitu melindungi mamanya dan membuatnya bahagia dengan tidak adanya sang ayah diantara mereka.