NIGHTMARE

NIGHTMARE
Kembalikan Ayah ku



Dengan wajah berseri Aiyla menaiki tangga menuju kamarnya sambil bersenandung kecil meningkat apa yg akan ia berikan pada ayahnya besok.


"Non"panggil bi Mae yg aneh melihat tingkah anak majikannya itu yg terkadang bisa bersikap dingin kadang juga sangat aneh.


"Ada apa bi?"tanyanya sambil memamerkan deretan gigi putihnya.


"Apa non baik baik saja?"tanya bi Mae dengan hati hati takutnya menyinggung perasaan nona mudanya yg moodnya suka nggak jelas.


"Sangat baik bi, Aiyla sangat baik hanya saja Aiyla terlalu bersemangat untuk menunggu besok"jawabnya sambil melanjutkan langkahnya tanpa menghiraukan bi Mae yg mematung ditempat sambil tersenyum maklum karna Aiyla sangat menyayangi kedua orang tua nya sesibuk apapun mereka.


Tak terasa pagi kembali menyapa masih dengan wajah dan sinar yg sama sang mentari menyapa seluruh makhluk yg berada dibawah naungan nya.


Berbeda dengan Aiyla dihari biasa ia bahkan sudah rapi dan keluar sebelum mamanya tiba di tangga teratas menuju kamar Aiyla.


"Pagi mah!!" satu kecupan kecil berhasil mendarat di pipi mulus sang mama. Sadangkan sang empu hanya mematung sambil menatap putri satu satunya dengan wajah geli. Bagaiman tidak putrinya bahkan sudah bangun sebelum ia gedor bahkan sudah rapi tak biasanya juga ia mengecup pipinya. Senyuman kecil pun muncul dibibir sang ibu yg menatap anaknya yg menuruni anak tangga sambil tak henti hentinya bersenandung kecil menikmati setiap alunan musik yg ia dengar.


Aiyla berjalan menuju atap rumahnya Diman ia biasa duduk santai kalau bosan. Tujuan Aiyla bangun pagi adalah karna ia ingin menjemput ayahnya dibandara tapi setelah mendengar bahwa ayahnya tidak mau dijemput membuat Aiyla sedikit kesal walau itu tak menghilangkan kegembiraannya karna sang ayah yg sudah tak pulang selama dua tahun penuh karna tugasnya yg menumpuk. Digenggamnya sebuah kotak persegi berlapis bludru merah dibagian bawah dan sebuah tutup plastik yg membuat sebuah benda bulat itu terlihat yg tak lain adalah medali emasnya di Kejuaraan kemaren. Senyum pun terukir di bibir merah mudanya sambil terus memandangi benda kecil itu. Hingga matanya tertuju pada mobil putih yg menuju kearah rumah Aiyla.


"Apakah itu ayah?!" gumamnya sambil jingkrak jingkrak kesenangan. Tapi bukan sosok ayahnya yg keluar dari mobil tersebut melainkan seorang tentara dengan seragam khusus yg sepertinya ia adalah bawahan ayahnya dilihat dari banyaknya pin yg ada dipakaiannya.


Rasa penasaran pun muncul pada Aiyla iapun langsung menuruni tangga menuju ruang tamu. Batapa terkejutnya ia mendapati sang mama yg sudah bersimpuh dilantai denga Isak tangis yg sudah tak terbendung lagi.


Takk


Rasanya jantungku berhenti berdetak saat itu juga saat mendengar apa yang tentara itu katakan pada mama.


"maaf nyonya kami sudah berusaha melindunginya tapi kecelakaan terjadi saat jendral hendak memasuki helikopternya yg menyebabkan jendral..."


"Tidak mungkin!!! katakan padaku bahwa itu tidak benar!! cepat katakan!!!" semuanya menoleh pada Aiyla yg ternyata sudah mendengar perkataan utusan tersebut dari awal sampai akhir. Air mata Aiyla sudah tak dapat dibendung lagi.


"Maafkan saya nona" lanjutnya sambil menundukkan kepalanya.


Brukk


Aiyla yg sudah tak dapat menopang tubuhnya sendiri ambruk sambil terisak mendengar perkataan sang tentara yg tengah berdiri dihadapannya.


Greb


sebuah tangan menarik tubuhnya kedalam pelukannya kini keduanya menangis membuat sekitarnya ikut teriris menyaksikan keduanya.


Suara sirene ambulans mulai terdengar. Sebuah ambulance mulai memasuki halaman rumah Aiyla yg mana didalamnya adalah peti mati milik ayah Aiyla jendral besar Axel.


Aiyla hanya bisa menutup mulutnya dengan tangan yg telah basah oleh air mata saat peti mati itu diletakkan dan memperlihatkan sosok ayahnya yg kini sudah kaku dan dingin bak balok es yg baru saja keluar dari lemari es.Ayahnya yg sedari dulu selalu memberikan Aiyla perhatian dan kasih sayang nya hanya untuknya seorang kini sudah tak dapat berbuat apapun untuk nya lagi bahkan untuk tersenyum menatap putrinya saja mustahil.


"Aiyla jangan seperti ini nak mama mohon" Renea baru saja ingin meraih tangan putri nya.Namun dengan cepat Aiyla menghindar.


"Hikss Hikss Hikss kembalikan ayah ku!!!" Aiyla sudah tak tahan dengan pemandangan ayah nya yg sudah tak bernapas lagi ia pun berlari menuju kamarnya.


Renea yg melihat putrinya semakin terisak.


"Nyonya,mari saya antar kekamar para tamu akan segera datang" bi Mae mencoba menyadarkan majikannya yg masih terduduk di lantai sambil menangis dengan napas yg tak beraturan.


Tak


Aiyla membuang kotak merah yg sedari ia pegang untuk ayah nya sebagai hadiah untuk nya.


"Hiks ayah... katakan pada Aiyla bahwa itu bukan ayah.. hiks Aiyla mohon ayah Aiyla nggak mau ayah pergi hiks kumohon Hikss...."


kini tangis Aiyla pecah didalam kamarnya sambil memeluk bantal hingga menutupi wajahnya napasnya bahkan sudah tak beraturan tenggorokannya terasa sangat sakit juga kering karena menangis.


Terdengar dari dalam kamarnya mulai banyak mobil dan suara orang berdatangan untuk menghadiri upacara penghormatan terakhir untuk ayah nya.


Dengan kasar Aiyla menyibak gorden yg menutupi jendela kamarnya dilihatnya para tamu yg mulai berdatangan dan halaman yg sudah penuh dengan tenda.


Hiks hiks hiks hiks


hanya ada suara tangis Aiyla yg mendominasi kamar nya.


Tok Tok Tok


"Non,maaf non ini saya bi Mae tolong bukakan pintu kamar nya non"


"Masuklah bi tidak dikunci"


Betapa terkejutnya bi Mae saat mendapati Aiyla yg sedang menangis disamping jendela kamarnya.


Bi Mae hanya bisa menatap nonanya itu dengan perasaan sedih ia tak pernah melihat sisi rapuh nonanya ini.


"Non,maaf para tamu sudah mulai berdatangan sebaiknya non segera bersiap"ujarnya sambil menyerahkan pakaian berkabung dengan warna hitam.


"Letakkan saja di atas kasur bi nanti aku akan menyusul"ujarnya dengan napas masih berat.


"Baiklah non saya permisi"


Dipandangnya pakaian yang telah disiapkan bi Mae untuk nya.Ia bahkan tak menyangka akan memakai pakaian itu secepat ini.