NIGHTMARE

NIGHTMARE
Dialah Aiyla



Setelah memenangkan kejuaran menembak Kejuaraan Eropa kini disinilah Aiyla disalah satu bangku penumpang tepat disamping kursi pengemudi.


Senyum indah tak henti hentinya gadis itu tunjukkan setelah memenangkan apa yg terjadi padanya.


"Mah kapan ayah akan kembali ke London?" kini Aiyla membuka pembicaraan dengan senyuman yg tak pernah pudar dari wajah cantiknya.


"Hmmm katanya sih lusa ayah baru akan sampai di bandara" jawab Renea yg tak lain adalah mama dari Aiyla.


"Uooh baiklah kalau gitu"balasnya diiringi anggukan kecil darinya.


Kini tibalah mereka di sebuah rumah mewah yg tak lain adalah rumah Aiyla.



Baru saja ia melangkahkan kakinya keluar mobil seorang wanita paruh baya yg usianya tak jauh dari Renea juga seorang lelaki berkepala akhir tiga itu datang menghampiri sang majikan dengan wajah berseri seri.


"Selamat datang nyonya,non Aiyla"sapa keduanya sesopan mungkin.


"Ehh iya bi Mae, pak R makasih udah nyambut"jawab Aiyla dengan senyum yg merekah indah membuat wajah cantik bak Dewi itu makin terlihat cantik.


"Selamat ya non saya benar benar salut sama non, non memang hebat" kata kata pujian pun keluar dari mulut bi Mae yg tak lain adalah ART rumahnya sambil mengacungkan jempolnya.


"Duhh makasih bi, Aiyla juga nggak segitu hebatnya kok, jadi bibi jangan berlebihan"


Kini Aiyla pun memasuki kamar bernuansa pink dan langsung menjatuhkan tubuhnya kekasur sambil memandangi sebuah medali emas yg masih setia bertengger di lehernya.


"Ayah, lihat lah! Aiyla berhasil mendapatkannya, ayah harus lihat ini,"gumamnya sambil terus memandangi benda bulat itu sambil tak henti hentinya menghela napas lega bahwa apa yg ayahnya ajarkan kali ini bisa Aiyla berikan pada ayahnya.


Aiyla disaat usianya baru 7 tahun ayah Aiyla yg tak lain adalah seorang jendral besar angkatan darat mengajarinya bela diri agar nanti Aiyla bisa menjaga diri sendiri saat Aiyla pergi sendiri itulah yg ayahnya katakan dulu. Lalu sejak saat itu ia sering memenangkan lomba bela diri berbagai perlombaan dan diusianya yg ke 10 ayahnya mulai mengajarinya menembak karna Aiyla ingin seperti ayahnya yg handal memegang pistol. Tak mudah mendapatkan izin dari ayahnya untuk itu tapi akhirnya ia dapat menguasai segi menembak dengan cukup baik bahkan memenangkan beberapa lomba menembak diusianya yg masih sangat muda.


Setelah membersihkan dirinya Aiyla pun terlelap dalam tidurnya.


"Aiyla!!!! apakah kau belum bangun hah?! sudah pukul berapa gadis seperti mu belum juga bangun?! bahkan siput pun bergerak lebih cepat darimu Aiyla!! bangunlah!!"


"Hmmm mama berisik sekali!!! Aiyla bisa dengar mah, tidak perlu berisik seperti itu bahkan singa betina pun akan lembut pada anaknya"balasnya yg tidak ingin kalah dari ibunya yg mengatainya lebih lamban dari siput.


"Dasar kau ini!! cepatlah bangun!! mama akan tetap disini jika kau belum bangun juga!"titahnya bagai sesuatu yg mutlak bagi yg mendengarnya tapi tak dengan Aiyla yg sudah kebal dengan sifat mamanya yg sangat cerewet tapi disaat yg bersamaan juga lembut pada Aiyla.


"Iya mah Aiyla sudah bangun "Aiyla berjalan ke arah pintu dengan malasnya benar saja mamanya sudah berada diambang pintu dengan darah yg sudah mendidih karna ulah anaknya yg tak pernah berubah dari dulu.


"Puas?!"tanya Aiyla sambil mengucek matanya berusaha menyesuaikan cahaya diretinanya."Cepatlah mandi!! mama akan menunggumu dibawah untuk sarapan"


"hmmm baiklah"


Tak butuh waktu lama untuk Aiyla segera menyelesaikan ritual mandi nya.


Kini ia sibuk berkutat pada lemari pakaiannya di sebuah ruangan khusus pakaian miliknya.


Iapun memakai hoodie krem dengan jeans diatas lutut setelah merasa cukup, ia pun membuka sebuah laci yg menampakkan berbagai macam earphone miliknya.Aiyla adalah seorang yg tak bisa lepas dari earphone nya walau hanya sebentar karna dengan earphone nya lah ia bisa merasa senang dan tak kesepian. Walau hidupnya bisa dibilang diatas rata rata tak dapat dipungkiri bahwa sejak dulu ia tak memiliki seorang teman pun walau ia cukup populer disekolah nya.


Kini hanya ada kesunyian dimeja makan Aiyla sibuk dengan makanannya dan Renea juga melahap makanannya sampai tak tersisa."Aiy mama berangkat dulu ya mungkin nanti mama akan pulang malam tak apa kan?"


"Iya mah kayak sama siapa aja sih" jawabnya sambil melahap makanannya.


Weekend bagi semua orang adalah hari yg ditunggu tunggu untuk melepas penat bersama keluarga atau teman tapi tidak untuk Aiyla weekend adalah hari yang panjang dan membosankan karna dihari itu mamanya akan lebih sibuk pada pekerjaannya karna ia adalah pemilik dari sebuah perusahan parfum yg cukup terkenal di kalangan masyarakat menengah ke atas mamanya harus sibuk disaat para pekerjanya berlibur dengan keluarga nya.Sementara ayahnya jangan ditanya lagi ia bahkan jarang sekali pulang karna pekerjaannya jadi Aiyla hanya bisa menghubunginya setiap hari sebagai pelipur rindu dengan ayahnya. Aiyla adalah orang bisa berteman dengan siapa saja disekolah ia tak merasa canggung dengan siapapun itulah yg menyebabkan ia terkenal di sekolahnya tapi ia juga tertutup pada teman temannya ia selalu menolak setiap diajak pergi oleh temannya. Padahal dia sendiri kesepian dirumahnya.


Taman belakang rumahnya tempat ia duduk jika merasa bosan atau dia akan bersantai di atap rumahnya untuk menikmati kota.


Membosankan sekali gumamnya sambil menutup novelnya. Kini ia hanya berkutat dengan handphone nya sambil mencari lagu yg setidaknya tidak membosankan untuk ia dengar. Ia bahkan sudah hapal setiap lagu yg ia dengar.


"Benar juga kenapa tidak terpikir, besok ayah akan kembali aku harus menyiapkan apa untuk ayah?"pikirnya sambil memainkan jarinya.