
"Kamu yang tadi bukan?"
'eh maaf pak, saya tidak sengaja, maafkan saya," ucap Anggri merapikan pakaiannya dan menunduk hormat.
"Tak usah sungkan, aku juga salah dan aku minta maaf karena tidak sengaja menabrakmu,"
'Maaf pak, saya permisi," Anggri berjalan melewati Zein, namun dengan cepat pria itu mencekal lengannya, "Siapa namamu?''
Jarak antara Zein dengannya begitu dekat, membuat tubuh Anggri semakin ketakutan dan gemetar. Lidahnya terasa sangat kelu, hingga untuk menjawab pertanyaan Zein pun tak bisa.
"Mengapa kau menghindariku? apa kita pernah bertemu sebelumnya?' tanya Zein lagi, dia menatap dalam gadis itu,
Anggri mendorong Zein, "Maaf pak, saya anak magang disini, dan ini hari pertama saya masuk ke kantor ini, dan saya tidak mengenal bapak sebelumnya, maaf untuk kejadian ini" ucapnya lalu berlalu meninggalkan Zein yang membisu.
Zein tak lagi mencegahnya atau coba menghentikan langkahnya, pria itu terdiam dengan pikiran melayang coba mengingat sesuatu, tatapan itu seperti dia kenal tapi siapa dan dimana? mengapa dia bisa lupa.
"Pak.." terdengar suara seseorang memanggilnya, Zein menoleh, ada Sintya yang sudah berdiri dibelakangnya. "Ya"
''Ada tamu yang menunggu Bapak, Pak Hartono dari Media Loka,"
"Oh ya, sebentar saya akan kesana." Zein mengikuti langkah Sintya menuju ruang rapat menemui kliennya.
***
Jam sudah menunjukkan pukul enam sore, Anggri bersiap-siap untuk pulang. Miranda telah menunggunya di depan kantor, gadis itu lebih dulu selesai sedangkan Anggri masih ada beberapa hal yang harus dia selesaikan lebih dulu sebelum pulang.
'Maaf membuatmu menunggu," ucapnya mendatangi Miranda
"Lama bener, aku sampai berakar tau!"
'Ya maaf, tadi masih ada kerjaan, udah ah jalan yuk,"
'Nggri, ke mall yuk?''
'Ke mall, ngapain?"
"Aku mau beli baju, aku nggak nyaman dengan pakaianku ini, semua yang diruangan aku pakai jas, aku sendiri yang enggak,"
"Gimana ya? aku pamit dulu dengan mbak Reta ya,"
'Ya udah buruan,"
Setelah berpamitan mereka berdua pun pergi ke mall menggunakan taksi. Miranda memborong banyak kemeja dan juga jas untuknya, sedangkan Anggri gadis itu hanya membeli sebuah kaos oblong dengan gambar avatar, yang dulu sangat disukai oleh Zein.
Sesampainya di rumah, Anggri membuang asal kaos itu, dia sendiri bingung mengapa dia bisa membeli kaos kesukaan pria tengil yang telah menggoreskan luka di hatinya itu.
'Bodoh, kenapa aku masih memikirkannya? dan kenapa aku bertemu lagi dengannya? bersusah payah aku menekan rasa ini, aku pergi sejauh ini untuk melupakannya lalu mengapa kini aku harus kembali bertemu dengannya? dan mengapa debaran itu masih ada? sedangkan dia sudah tidak mengenaliku lagi,
Bodoh!
Bodoh!
aku memang bodoh, berhadapan dengannya saja aku sudah tidak mampu bicara, kemana Siska yang pemberani, ingat siska dia sudah menghinamu, dia sudah menolakmu, dan ini saatnya kamu membalasnya, lupakan dia dan buat dia menyesal akan apa yang pernah dia lakukan padamu,
bangkit dan balas dia!'' bisik hati Anggri
Satu sisi hatinya yang lain membantah, "jangan lakukan itu, bukankah kau masih mencintainya, itu artinya kalian berjodoh, dan ini saatnya kamu mendapatkan cintanya,"
"Aaaaa..." siska berteriak
Arreta yang ada di kamarnya sampai keluar dan berlari ke kamar adiknya, 'Ada apa?' tanya gadis itu memeluk Anggri yang duduk menutup kedua telinganya.
'Kenapa dia kembali mbak?" ucap gadis itu dalam pelukan sang kakak
Arreta melerai pelukan adiknya, 'Siapa?" tanyanya bingung
Anggri masih diam dan menangis, Arreta mengguncang bahunya dan bertanya dengan penuh rasa penasaran, dia sungguh tak sabar menunggu penjelasan anggri "Siapa Siska, jawab mbak,"
'Zein," sahut gadis itu pelan
''Zein, dimana kalian bertemu?"
"Dia bosku di kantor, ternyata dia adsalah CEO Z&Z group,"
'hah!' sahut sang kakak tak percaya
'Apa dia mengenalimu?"
Anggri menggeleng, Arreta bernapas lega, "Syukurlah," ucapnya pelan, membuat sang adik mengangkat kepala menatapnya bingung.
"Kamu masih mencintainya?" tanya Arreta serius, Anggri terdiam dan menggeleng pelan.
'Apa kau takut bertemu dengannya?" gadis itu diam dan menunduk
Huh! Arreta menghela napas berat, dia tau dengan jelas jika adiknya masih sangat mencintai Zein, dia sendiri heran mengapa Siska bisa sedalam itu, sedangkan dia sudah beberapa kali putus cinta tapi enggak seperti siska. Awalnya dia pikir perasaan adiknya hanyalah cinta monyet tapi sejauh ini dan saat ini terbukti jika dugaanya salah, Siska masih sangat mencintai Zein, tetangga dan teman kecilnya.
"Mbak ada ide."
'Apa mbak?''
"Bersikaplah biasa saja saat bertemu dengannya, karena dia juga tidak mengenalimu bukan? dan satu lagi, kamu ingin membalasnya bukan?'' Anggri mengangguk
"Kau bisa membuatnya tertarik padamu dan jatuh cinta padamu, selama dia belum tau identitasmu, setelah dia jatuh cinta, kau bisa membalas dengan mematahkan hatinya, gimana?''
'Apa aku bisa mbak?"
'Kamu mau balas dendam enggak?"
Anggri mengingat kembali kejadian beberapa tahun yang lalu, kejadian yang sudah dia kubur dalam di dasar ingatannya kini kembali terbuka. Saat dia dengan polosnya mendekati Zien dan pria itu menolaknya bukan hanya itu Zein mengatainya tak tau malu, karena dia mengejar zein.
Muncul tekad untuk membalasnya, benar kata mbak Arreta aku akan membuatnya bertekuk lutut lalu aku akan mecampakkannya seperti yang pernah dia lakukan padaku dulu, aku ingin dia tau bagaimana perasaanku dulu, saat dia menghinaku.
''Aku mau mbak,"
"Bagus, mulai besok kamu harus bisa bersikap biasa saja saat di dekatnya,"
'baik mbak, makasih," Anggri memeluk kakaknya.
**
Seminggu sudah berlalu dan Anggri sudah mulai bisa menguasai dirinya, dia bisa bersikap biasa saja didekat Zein.
Siang ini ada rapat dan lagi Niken mengajaknya. Sintya duduk di sebelah Zein, entah mengapa dia merasa panas melihatnya, apalagi gadis itu sengaja duduk begitu dekat dan sesekali berbisik.
''Apa ada saran?' tanya Zein
'Saya rasa sudah jelas Pak," sahut PakĀ Aditya
"Baiklah, rapat di tutup," ucap Zein
Semua berdiri dan berjalan keluar dengan perasaan lega, begitu juga dengan Anggri yang berjalan di belakang Niken. Dia berjalan santai menuju ruangannya.
"Anggri" panggil seseorang saat dia melewati ruang tunggu
''Galih," sahut gadis itu terkejut
''Kamu kerja disini?" tanya pria muda itu
'Enggak kak, aku masih magang disini, kakak sendiri?'
'Aku, mau wawancara, bos kalian mencari asisten seorang pria dan aku mau mencoba, siapa tau rejeki,"
"Loh bukannya kamu.."
'Aku bosen, aku ingin suasana baru, doain aku ya," ucapnya
"Galih purnama,"
'Namaku udah di panggil, aku masuk dulu ya, bye"
Galih masuk kedalam, Zein membaca CV yang pria itu tuliskan, dan dia cukup salut dengannya, 'Apa yang membuat mu tertarik bergabung dengan perusahaan ini?'
"Saya ingin mencari pengalaman Pak,"
'Ok, kamu saya terima dan mulai besok tugasmu menjadi asisten pribadi saya,"
'Makasih Pak,"