
Tidak ada yang bisa dilakukan Jihan selain harus berkata jujur pada Rehan dan mamanya yang bernama bu Renggo. Bu Renggo yang sudah lama menginginkan cucu merasa sedih dan kasihan dengan nasib Jihan. Sedangkan Rehan belum bisa percaya seratus persen dengan cerita Jihan karena mereka baru kenal.
“Kamu harus sabar Jihan menghadapi ini semua. Ini semua adalah sebuah ujian yang kamu jalani dengan ikhlas dan lapang dada. Jangan pernah mengeluh dan menyalahkan diri sendiri.
“Terima kasih Bu. Saya sangat berterima kasih pada Ibu dan juga om Rehan karena telah menolong saya,” ucap Jihan sambil menangis.
“Ya udah, sekarang kamu istirahat dulu.”
“Jaga kesehatan kamu Jihan dan jangan terlalu banyak berpikir,” ucap Rehan berusaha memberi semangat pada Jihan.
Kemudian bu Renggo memanggil pembantunya yang bernama Siti.
“Siti....”panggil bu Renggo.
“Saya Bu...” jawab Siti.
Siti yang sedang di dapur langsung lari terbirit-birit begitu mendengar suara bu Renggo yang terkenal cerewet. Setelah sampai di hadapan majikannya Siti langsung berkata. “Ada apa Bu?”
“Tolong pindahkan barang-barang kamu ke lantai atas. Mulai sekarang kamu tidur di kamar tamu yang ada di lantai atas biar Jihan yang tidur di kamar kamu,” jelas bu Renggo memberi perintah.
Siti merasa bingung mendengar perintah majikannya sehingga dia bertanya lagi.
“Kenapa tidak mbak Jihan saja yang tidur di kamar tamu Bu? Bukankah kamar saya kecil dan sempit.”
“Semua ini demi kebaikan Jihan.
Jihan sedang hamil jadi dia jangan sering naik turun tangga. Ibu khawatir akan bayi yang ada di dalam kandungannya,” ucap bu Renggo.
Akhirnya Siti menuruti perintah majikannya. Dia memindahkan semua barang-barangnya yang ada di kamarnya dan dibawahnya naik ke lantai dua.
“Maafkan saya ya Kak karena telah merepotkan Kakak,” ucap Jihan merasa bersalah.
Siti hanya diam saja karena dia merasa kesal. Kedatangan Jihan ke rumah itu telah membuat dia repot harus memindahkan barang-barangnya malam ini juga.
Jihan yang melihat ekspresi Siti seperti tidak suka dengan kedatangannya hanya diam saja.
Dia menyadari bahwa kedatangannya telah membuat Siti repot karena hanrus memindahkan barang-barangnya.
***
Setelah Jihan dan Siti beranjak dari hadapan Rehan dan mamanya, Rehan langsung berkata pada mamanya.
“Mama jangan terlalu percaya pada orang yang baru Mama kenal,” ucap Rehan mengingatkannya.
“Maksud kamu apa Rehan?” tanya bu Renggo heran.
“Kenapa Mama langsung percaya begitu saja pada Jihan dan langsung menyuruhnya tinggal di sini sampai dia melahirkan.
Sementara kita kan baru mengenalnya. Bisa saja dia berbohong dengan mengatakan kalau dia itu hami padahal sebenanrnya dia tidak hamil.”
“Nggak mungkin dia berbohong dan mengatakan hamil sementara tidak hamil Rehan. Kamu terlalu berburuk sangka pada orang yang baru kamu kenal,” ucap bu Renggo.
“Ma, zaman sekarang banyak kejahatan dengan berkedok seperti itu. Pura-pura sakit dan tidak berdaya supaya orang bersimpati dan membantunya. Tapi setelah dibantu gantian kita yang ditindasnya. Makanya kita harus hati-hati,” ucap Rehan.
Mendengar penjelasan Rehan bu Renggo terdiam sesaat. Dia baru menyadari apa yang dikatakan Rehan bisa saja terjadi karena mereka baru saja mengenal Jihan. Bu Renggo langsung khawatir setelah mendengar cerita anaknya.
“Jadi apa yang harus kita lakukan Rehan,” tanya bu Renggo dengan nada khawatir.
“Mulai sekarang Mama harus berhati-hati. Perhatikan gerak-gerik Jihan mulai besok. Rehan juga sedang mencari tau tentang Jihan dan keluarganya.”
“Apa kamu ada mengenal keluarga Jihan?” tanya bu Renggo lagi.
“Ya nggak ada. Tapi Rehan mau mencari tau dari teman-teman SMA-nya. Kebetulan anaknya pak Saidi sekolah di sekolah Jihan juga makanya Rehan mau mencari tau tentang Jihan dari anaknya pak Saidin.”
“Ya udah, mulai besok segera cari tau ya. Mama kasihan sekali dengan nasib Jihan, Rehan...”
***
Pertama kali bertemu Jihan, bu Renggo terlihat suka pada Jihan. Dari peampilan dan sikap Jihan terlihat kalau Jihan anaknya baik dan soleha. Hal inilah yang membuat bu Renggo merasa bersimpati.
Bahkan bu Renggo menginginkan Jihan jadi menantunya setelah melahirkan nanti. Tapi bu Renggo belum berani mengatakn hal ini pada Rehan.
Untuk saat ini bu Renggo dan Rehan masih mengumpulkan informasi tentang Jihan. Kalau Jihan memang benar hamil akibat diperkosa Leo dan sampai melahirkan Leo tidak bertanggung jawab maka bu Renggo sudah berniat untuk menjadikan Jihan menantunya.
Rehan yang terkenal baik dan sayang pada mamanya pasti tidak akan menolak seandainya dijodohkan dengan Jihan. Itulah yang ada dalam pemikiran bu Renggo saat ini.
***
Rehan tidak dapat memejamkan matanya meskipun sudah pukul satu dini hari.
Sejak tadi dia miring ke kanan dan ke kiri tapi tidak dapat memejamkan matanya. Akhirnya Rehan duduk di dekat jendela kamarnya sambil memperhatikan kendaraan yang lewat di depan rumahnya.
Ternyata sudah larut malam masih banyak kendaraan yang lalu lalang.
Tidak lama kemudai Rehan merasa haus sehingga dia pergi ke dapur yang terletak di lantai bawah.
Saat sudah dekat dapur terdengar suara seseorang di kamar mandi seperti sedang mengambil air wudhu untuk sholat.
‘Siapa yang sedang di kamar mandi. Sepertinya suara orang sedang mengambil air wudhu,’ batin Rehan.
Saat Rehan sedang duduk minum air putih tiba-tiba Jihan keluar dari kamar mandi. Tapi dia tidak melihat keberadaan Rehan yang sedang duduk di dapur.
Jihan kemudian pergi ke ruang mushollah yang tidak jauh dari dapur. SedangkanRehan hanya bisa memperhatikannya dari jarak jauh.
‘Sepertinya Jihan sedang sholat tahajud. Ternyata Jihan wanita soleha. Aku telah berburuk sangka pada Jihan. Saat mendengar cerita Jihan, aku kurang percaya apa yang dikatakan Jihan.
Tapi setelah melihat dia sholat tahajud aku yakin kalau Jihan memang anak yang baik. Yang dikatakan kalau dia hamil pasti juga benar.
Tapi aku harus menyelidikinya dulu sampai tuntas,’ batin Rehan.
Rehan yang belum ngantuk juga kemudian makan keripik yang ada di meja makan. Sambil memainkan ponselnya dia menikmati keripik pisang.
Saat sedang asik berselancar dengan ponselnya tiba-tiba terdengar seperti ada suara terjatuh di dekat ruang mushollah.
Rehan yang terkejut mendengar suara itu langsung berlari ke arah datangnya suara. Saat sudah dekat terlihat Jihan sedang terjatuh di depan mushollah. Dia tidak sadarkan diri membuar Rehan langsung panik.
Kemudian Rehan mengangkat tubuh Jihan yang tampak lemah ke kamarnya. Sampai di kamar, tubuh Jihan yang lemas langsung direbahkan di atas ranjang yang berukuran kecil. Kamar itu juga ukurannya sangat kecil karena kamar pembantu.
Tidak ada yang bisa dilakukan Jihan selain harus berkata jujur pada Rehan dan mamanya yang bernama bu Renggo. Bu Renggo yang sudah lama menginginkan cucu merasa sedih dan kasihan dengan nasib Jihan. Sedangkan Rehan belum bisa percaya seratus persen dengan cerita Jihan karena mereka baru kenal.
“Kamu harus sabar Jihan menghadapi ini semua. Ini semua adalah sebuah ujian yang kamu jalani dengan ikhlas dan lapang dada. Jangan pernah mengeluh dan menyalahkan diri sendiri.
“Terima kasih Bu. Saya sangat berterima kasih pada Ibu dan juga om Rehan karena telah menolong saya,” ucap Jihan sambil menangis.
“Ya udah, sekarang kamu istirahat dulu.”
“Jaga kesehatan kamu Jihan dan jangan terlalu banyak berpikir,” ucap Rehan berusaha memberi semangat pada Jihan.
Kemudian bu Renggo memanggil pembantunya yang bernama Siti.
“Siti....”panggil bu Renggo.
“Saya Bu...” jawab Siti.
Siti yang sedang di dapur langsung lari terbirit-birit begitu mendengar suara bu Renggo yang terkenal cerewet. Setelah sampai di hadapan majikannya Siti langsung berkata. “Ada apa Bu?”
“Tolong pindahkan barang-barang kamu ke lantai atas. Mulai sekarang kamu tidur di kamar tamu yang ada di lantai atas biar Jihan yang tidur di kamar kamu,” jelas bu Renggo memberi perintah.
Siti merasa bingung mendengar perintah majikannya sehingga dia bertanya lagi.
“Kenapa tidak mbak Jihan saja yang tidur di kamar tamu Bu? Bukankah kamar saya kecil dan sempit.”
“Semua ini demi kebaikan Jihan.
Jihan sedang hamil jadi dia jangan sering naik turun tangga. Ibu khawatir akan bayi yang ada di dalam kandungannya,” ucap bu Renggo.
Akhirnya Siti menuruti perintah majikannya. Dia memindahkan semua barang-barangnya yang ada di kamarnya dan dibawahnya naik ke lantai dua.
“Maafkan saya ya Kak karena telah merepotkan Kakak,” ucap Jihan merasa bersalah.
Siti hanya diam saja karena dia merasa kesal. Kedatangan Jihan ke rumah itu telah membuat dia repot harus memindahkan barang-barangnya malam ini juga.
Jihan yang melihat ekspresi Siti seperti tidak suka dengan kedatangannya hanya diam saja.
Dia menyadari bahwa kedatangannya telah membuat Siti repot karena hanrus memindahkan barang-barangnya.
***
Setelah Jihan dan Siti beranjak dari hadapan Rehan dan mamanya, Rehan langsung berkata pada mamanya.
“Mama jangan terlalu percaya pada orang yang baru Mama kenal,” ucap Rehan mengingatkannya.
“Maksud kamu apa Rehan?” tanya bu Renggo heran.
“Kenapa Mama langsung percaya begitu saja pada Jihan dan langsung menyuruhnya tinggal di sini sampai dia melahirkan.
Sementara kita kan baru mengenalnya. Bisa saja dia berbohong dengan mengatakan kalau dia itu hami padahal sebenanrnya dia tidak hamil.”
“Nggak mungkin dia berbohong dan mengatakan hamil sementara tidak hamil Rehan. Kamu terlalu berburuk sangka pada orang yang baru kamu kenal,” ucap bu Renggo.
“Ma, zaman sekarang banyak kejahatan dengan berkedok seperti itu. Pura-pura sakit dan tidak berdaya supaya orang bersimpati dan membantunya. Tapi setelah dibantu gantian kita yang ditindasnya. Makanya kita harus hati-hati,” ucap Rehan.
Mendengar penjelasan Rehan bu Renggo terdiam sesaat. Dia baru menyadari apa yang dikatakan Rehan bisa saja terjadi karena mereka baru saja mengenal Jihan. Bu Renggo langsung khawatir setelah mendengar cerita anaknya.
“Jadi apa yang harus kita lakukan Rehan,” tanya bu Renggo dengan nada khawatir.
“Mulai sekarang Mama harus berhati-hati. Perhatikan gerak-gerik Jihan mulai besok. Rehan juga sedang mencari tau tentang Jihan dan keluarganya.”
“Apa kamu ada mengenal keluarga Jihan?” tanya bu Renggo lagi.
“Ya nggak ada. Tapi Rehan mau mencari tau dari teman-teman SMA-nya. Kebetulan anaknya pak Saidi sekolah di sekolah Jihan juga makanya Rehan mau mencari tau tentang Jihan dari anaknya pak Saidin.”
“Ya udah, mulai besok segera cari tau ya. Mama kasihan sekali dengan nasib Jihan, Rehan...”
***
Pertama kali bertemu Jihan, bu Renggo terlihat suka pada Jihan. Dari peampilan dan sikap Jihan terlihat kalau Jihan anaknya baik dan soleha. Hal inilah yang membuat bu Renggo merasa bersimpati.
Bahkan bu Renggo menginginkan Jihan jadi menantunya setelah melahirkan nanti. Tapi bu Renggo belum berani mengatakn hal ini pada Rehan.
Untuk saat ini bu Renggo dan Rehan masih mengumpulkan informasi tentang Jihan. Kalau Jihan memang benar hamil akibat diperkosa Leo dan sampai melahirkan Leo tidak bertanggung jawab maka bu Renggo sudah berniat untuk menjadikan Jihan menantunya.
Rehan yang terkenal baik dan sayang pada mamanya pasti tidak akan menolak seandainya dijodohkan dengan Jihan. Itulah yang ada dalam pemikiran bu Renggo saat ini.
***
Rehan tidak dapat memejamkan matanya meskipun sudah pukul satu dini hari.
Sejak tadi dia miring ke kanan dan ke kiri tapi tidak dapat memejamkan matanya. Akhirnya Rehan duduk di dekat jendela kamarnya sambil memperhatikan kendaraan yang lewat di depan rumahnya.
Ternyata sudah larut malam masih banyak kendaraan yang lalu lalang.
Tidak lama kemudai Rehan merasa haus sehingga dia pergi ke dapur yang terletak di lantai bawah.
Saat sudah dekat dapur terdengar suara seseorang di kamar mandi seperti sedang mengambil air wudhu untuk sholat.
‘Siapa yang sedang di kamar mandi. Sepertinya suara orang sedang mengambil air wudhu,’ batin Rehan.
Saat Rehan sedang duduk minum air putih tiba-tiba Jihan keluar dari kamar mandi. Tapi dia tidak melihat keberadaan Rehan yang sedang duduk di dapur.
Jihan kemudian pergi ke ruang mushollah yang tidak jauh dari dapur. SedangkanRehan hanya bisa memperhatikannya dari jarak jauh.
‘Sepertinya Jihan sedang sholat tahajud. Ternyata Jihan wanita soleha. Aku telah berburuk sangka pada Jihan. Saat mendengar cerita Jihan, aku kurang percaya apa yang dikatakan Jihan.
Tapi setelah melihat dia sholat tahajud aku yakin kalau Jihan memang anak yang baik. Yang dikatakan kalau dia hamil pasti juga benar.
Tapi aku harus menyelidikinya dulu sampai tuntas,’ batin Rehan.
Rehan yang belum ngantuk juga kemudian makan keripik yang ada di meja makan. Sambil memainkan ponselnya dia menikmati keripik pisang.
Saat sedang asik berselancar dengan ponselnya tiba-tiba terdengar seperti ada suara terjatuh di dekat ruang mushollah.
Rehan yang terkejut mendengar suara itu langsung berlari ke arah datangnya suara. Saat sudah dekat terlihat Jihan sedang terjatuh di depan mushollah. Dia tidak sadarkan diri membuar Rehan langsung panik.
Kemudian Rehan mengangkat tubuh Jihan yang tampak lemah ke kamarnya. Sampai di kamar, tubuh Jihan yang lemas langsung direbahkan di atas ranjang yang berukuran kecil. Kamar itu juga ukurannya sangat kecil karena kamar pembantu.