
"Biarkan saja!" Suara itu bergema, membisukan semua orang dengan segera.
Mo Fan menoleh, mencoba mengarahkan matanya keasal suara. Dan ketika dia berhenti menoleh, matanya menangkap sosok pemuda gendut yang berdiri menutupi pintu masuk balai kebangkitan.
"Sedang apa b*abi gendut itu disana?" Gumam Mo Fan dengan pelan, heran dengan siapa sosok pemuda gendut itu.
"Lihat! Itu anak panatua pertama bukan?"
"Iya, itu memang anak panatua pertama."
"Kudengar dengar dia membangkitkan semangat sihir di usianya yang ke-7?"
"Bukan hanya itu, dia juga membangkitkan semangat sihir bintang 11!"
Kerumunan orang di balai kebangkitan kembali riuh, berdiskusi satu sama lain diantara mereka namun bedanya kali ini tidak ada yang tertawa mengejek seperti saat Mo Fan meminta tes tadi, yang ada sekarang hanya tatapan kekaguman disertai sorakan sorakan.
Mo Fan mengkerutkan keningnya, tambah bingung dengan sosok yang sekarang ini tengah berjalan menuju dirinya. Mungkinkah seorang yang berpengaruh? Mo Fan mulai berspekulasi.
Setelah beberapa saat, pemuda gendut tadi akhirnya berada didepan Mo Fan. Menatap dengan pandangan merendahkan.
"Saudara Fan, bukankah kau ingin membangkitkan semangat sihir untuk yang ke-5 kalinya?" Tanyanya dengan suara yang sangat menjengkelkan bagi Mo Fan.
Mo Fan diam, hanya mengkerutkan keningnya dan kemudian memejamkan matanya. Dia saat ini tengah mencari ingatan tentang pemuda yang ada didepannya.
"Oh jadi begitu.." Mo Fan bergumam pelan, mulai paham dengan sosok yang saat ini mengajaknya bicara.
"Hei, s*ialan. Beraninya kau mengabaikanku?!" Pemuda gendut, yang tidak lain adalah saudaranya Mo Pau, berteriak marah karena merasa di abaikan.
Mo Pau merupakan anak panatua pertama di Keluarga Mo dan memiliki usia yang sama dengan Mo Fan saat ini telah menjadi Penyihir periode dasar tingkat 4. Dia dianggap sebagai salah satu generasi muda berbakat. Mampu membangkitkan semangat sihir saat usianya masih 7 tahun dan lagi semangat sihir yang dibangkitkan olehnya itu semangat sihir bintang 11.
"Maafkan aku, saudara Pau. Aku tadi hanya berfikir sebentar." Mo Fan membalas dengan tenang sembari memberikan senyuman seramah mungkin.
"Hahaha, apakah kau memikirkan ketampananku? Atau hasil gagal yang akan keluar setelah tesnya, saudara Fan?" Mo Pau tertawa mengejek.
"Bukan bukan" Mo Fan melambaikan tangannya, memberi isyarat bahwa Mo Pau salah menebak. "Yang kupikirkan adalah, bagaimana b*abi sepertimu bisa bicara?" Lanjutnya dengan senyum yang semakin lebar.
Semua orang membeku, Mo Pau kaget dan senior yang ada dihadapan mereka diam membisu.
Tuan muda sampah berani menghina generasi muda berbakat! Benar benar gila!
Biasanya Mo Fan hanya akan tersenyum dan diam saja bila dihina namun entah mengapa sekarang berbeda.
"S*ialan kau, brengs*ek!" Wajah Mo Pau memerah karena marah, bukan malu seperti loli loli kecil yang digoda om om pedofil.
"Hahaha, tenanglah saudara Pau. Aku hanya bercanda." Mo Fan tertawa ramah dengan ekspresi muka yang seakan benar benar senang.
"Hmph!" Mo Pau hanya berusaha menahan kekesalannya, dia ingin bersabar menunggu Mo Fan untuk melakukan tes dan melihat hasilnya. Ketika hasilnya telah keluar, Mo Pau bisa dengan bebas tertawa riang dan mempermalukannya.
"Cepat kau lakukan tesmu!" Titah Mo Pau pada Mo Fan.
"Baiklah saudara, aku akan melakukannya sekarang." Mo Fan menoleh pada seniornya. "Senior, mohon bantuannya." Untuk sekali lagi, Mo Fan menangkupkan tangan dan memberi hormat pada seniornya.
"Baiklah junior, mari lewat sini." Ajak senior itu pergi keruang yang menurutnya akan lebih cocok melakukan tesnya untuk mencegah orang luar melihat, sesak.
"Ya, senior." Mo Fan dan Mo Pau mengikutinya menuju kesebuah ruangan lebih kecil dengan 5 kursi yang dibuat melingkari meja bulat ditengahnya, diatas meja juga terdapat sebuah bola putih berkilauan.
"Mari duduk junior." Ucap sang senior sembari menduduki salah satu kursi disana.
Mo Fan dan Mo Pau segera ikut mencari tempat duduk, setelah beberapa saat mereka pun sudah duduk melingkar dengan 2 kursi disamping kanan dan kiri senior kosong tak bertuan.
"Jadi, junior Fan. Letakan tanganmu diatas 《Mysthical Orb》, berkonsentrasilah dengan sungguh sungguh. Bila nanti kau memang memiliki semangat sihir, akan ada bayangan semangat sihirmu di《Mystical Orb》." Jelas sang senior.
"Baik, senior." Mo Fan mengangguk, meletakan kedua telapak tangannya diatas 《Mystical Orb》. Sedikit informasi, Mystical Orb adalah item sihir peringkat A yang digunakan para generasi muda untuk membangkitkan semangat sihir mereka.
Item sendiri memiliki beberapa peringkat. Dari yang paling terendah adalah F, E, D, C, B, A dan S. Terdapat juga beberapa peringkat item yang sangat jarang muncul yaitu item kelas SS dan SSS.
Mo Fan memejamkan matanya, mencoba sekuat tenaga menyalurkan konsentrasinya kedalam《Mytical Orb》namun setelah beberapa saat Mo Fan mencoba, tak ada tanda tanda apapun yang keluar dari《Mystical Orb》tersebut.
"Sampah tetaplah sampah." Mo Pau tiba tiba bergumam sembari melirik kearah Mo Fan dengan senyum mengejeknya.
Mo Fan yang mendengar gumaman itu tidak mempedulikannya. Dia masih dengan bersungguh sungguh terus menyalurkan konsentrasinya kepada bola bening yang ada didepannya.
Dahi Mo Fan semakin lama semakin berkerut, benar benar dengan sekuat tenaga mencoba.
Sementara itu, diluar ruangan tempat Mo Fan dan yang lainnya berada. Langit cerah yang tadinya membungkus dunia sekarang ini menghilang diganti dengan awan hitam yang berbaris rapi diatas sana, gemuruh gemuruh petir terdengar menggelegar dan angin angin berhembus dengan liar.
---
"D-dimana aku?!" Aku menengok kekanan dan kekiri.
Saat ini, entah bagaimana aku ada ditempat yang sangat gelap. Apakah orang lain mematikan lampu? Ahaha, tidak mungkin ini masih siang dan lagi didunia ini tidak ada lampukan?
Aku mencoba meraba sekelilingku, hampa. Benar benar kosong tidak ada apa apa, aku dimana?
Aku mencoba berjalan tapi tunggu... Kakiku tidak menapak?! Apakah aku melayang?!
Keringat dingin mulai keluar dari dahiki, punggungku bahkan sudah dibasahi olehnya. Jujur saja, aku gugup kali ini. Seingatku, aku tadi masih dibalai kebangkitan bersama b*abi gendut dan senior itukan?
Kenapa jadi begini?
"Oi, bocah." Tiba tiba saat aku tengah asyik berfikir sendiri, aku mendengar suara yang memanggilku.
Aku menengok kekanan dan kekiri, masih sama. Gelap. "Siapa itu?!" Dengan sedikit keberanian aku bertanya dengan nada tinggi pada suara misterius itu.
"Kenapa kau bertanya? Bukankah kau datang untuk membangkitkanku?" Tanya suara itu yang semakin membuatku bingung.
"A-apa maksutmu?" Sedikit takut aku bertanya.
"Bukannya kau ingin membangkitkan semangat sihirmu? Aku semangat sihirmu bodoh!" Dia berteriak dengan marah, teriakannya menggema membuatku sedikit terbang menjauh dari tempatku berada sebelumnya.
"A-apa?!"
(Mo Fan Pov end.)
-----
"Hahaha, saudara Fan. Menyerahlah!" Mo Pau berseru dengan kencang, menepuk pundak Mo Fan yang saat ini tengah menutup mata sembari memegang《Mystical Orb》.
"Junior, ja-" Sebelum senior yang menjadi pengawas tes menyelesaikan kata katanya, tiba tiba《Mystical Orb》 mengeluarkan sedikit asap hitam. Mulut senior terbuka lebar, matanya melotot seakan benar benar tak percaya. Mo Pau yang berada disisi Mo Fanpun tak jauh lebih baik, senyum merendahkan yang sedari tadi dia tampilkan sekarang menghilang diganti dengan ekpresi ketidakpercayaan.
Jujur, mukanya yang sudah hancur sekarang seakan benar benar hancur.
"B-bagaimana m-mungkin!" Mo Pau berseru dengan terbata, tangannya menunjuk dengan gemetar kearah《Mystical Orb》yang saat ini mengeluarkan beberapa bunyi mendesing.
"Dia b-berhasil?!" Senior bergumam dengan banyak rasa ketidakpercayaan, jujur saja dia terkejut dengan fakta yang ada didepannya.
Mo Fan berhasil membangkitkan semangat sihirnya! Dia benar benar berhasil! Batin kedua orang yang saat ini tengah dikuasi ketidakpercayaan.
Semangat sihir, sesuatu yang sangat penting bagi setiap ras. Meski setiap ras memiliki penyebutan yang berbeda namun itu memiliki satu makna yang sama. Partner.
Semangat sihir adalah partner bagi setiap ras yang memang sudah ada didalam jiwa. Semangat sihir memiliki beberapa tingkatan yang disebut tingkatan Bintang, mulai dari yang terendah bintang 1 dan yang paling tinggi adalah bintang 15.
Semangat sihir bintang 1 - 5 dianggap sebagai ampas, tidak berguna. Bintang 6 - 10 dianggap sebagai semangat sihir tingkat menengah atau yang biasa dan semangat sihir tingkat 11 sampai 15 adalah semangat sihir yang sangat jarang muncul, semangat sihir tingkat tinggi! Dan yang kali ini didapat Mo Fan memiliki kemungkinan menjadi semangat sihir kelas tinggi!
Mimpi apa mereka semalam? Si sampah bisa membangkitkan semangat sihirnya?! Semakin mejadi keterkejutan mereka kala melihat samar samar terdapat sosok didalam《Mystical Orb》.
Semakin lama, sosok yang ada didalam《Mystical Orb》terlihat semakin jelas. Tanduk yang mencuat dari dahinya, bulu hitam lebat, gigi gigi taring yang sangat tajam dan juga terdapat lambang bulan keperakan didahinya.
"I-itukan!" Semakin dibuat tidak percaya, Mo Pau dan senior berdiri dari duduknya. Menggebrak meja, terkejut dengan apa yang ada didepannya.
"S-serigala.. s-serigala bayangan bulan p-perak!" Mata Mo Pau melotot keluar, mulutnya terbuka lebar.
"Hahh, akhirnya selesai juga." Ditengah keterkejutan mereka, Mo Fan membuka matanya, menghela nafas sembari menampilkan senyum tercerahnya.
"Aku berhasil membangkitkannya!" Mo Fan bersorak, senang dengan hasil yang dia dapatkan.
"K-kau.." Saat Mo Fan tengah bersorak sorai dengan penuh keceriaan, tiba tiba suara Mo Pau menegurnya. Dilihatnya Mo Pau tengah berdiri dengan kaki gemetaran, dahi keringatan dan hati sepi sehabis diselingkuhi.
"Ha? Aku apa saudara Pau?" Tanya Mo Fan bingung.
"Bagaimana kau memiliki semangat sihir tingkat tinggi?!" Mo Pau berteriak, kesal dan sangat tidak terima.
Dia tidak terima karena Mo Fan berhasil membangkitkan semangat sihirnya apalagi semangat sihirnya adalah Serigala Bayangan Bulan Perak, semangat sihir tingkat tinggi! Lebih tepatnya semangat sihir bintang 12, satu bintang lebih tinggi dari Mo Pau.
"Hehehe, aku juga tidak tahu. Mungkin, karena aku lebih berbakat darimu tapi bakatku belum muncul untuk sementara waktu." Mo Fan balas megejek.
"K-kau!" Mo Pau tambah marah, dia menunjuk nunjuk Mo Fan dengan tidak terima.
"Sudahlah, aku akan kembali dulu kalau begitu sampai jumpa dan senior terimakasih." Mo Fan menangkupkan tangannya, memberi hormat pada seniornya lalu melenggang pergi begitu saja. Meninggalkan senior yang terbengong bengong bersama b*abi gendut yang tengah ingin mengamuk.