
Xuankong, China - Sains World
"Akhirnya.." Mo Fan mengelap keringat yang mengucur di dahinya, cukup melelahkan ternyata mengubur jasad seseorang. Ya, dia saat ini telah selesai menguburkan tubuh Pak Tua Wei dan yang pasti kuburannya dilitakkan di samping rumah Wei tua.
Lebih tepatnya dibawah pohon beringin besar yang berjarak hanya beberapa meter dari rumah kayu.
Mo Fan menatap sayu gundukan tanah baru yang hanya diberi nisan sederhana olehnya, dia mengatupkan tangan, menutup mata dan berdoa untuk memberi penghormataan terakhir bagi Wei tua.
"Ku harap dikehidupan selanjutnya kita bisa bertemu kembali." Mo Fan membuka mata, untuk sesaat menatap kuburan baru itu lagi lalu mulai beranjak pergi. Dia ingin mengambil barang yang ditinggal oleh si Tua Wei untuknya.
-----
"Harusnya disinikan?" Sekarang ini, didalam rumah kayu terlihat Mo Fan tengah mengacak-acak salah satu ruangan disitu. Mencari dimana letak barang yang ditinggalkan oleh Wei tua.
"Hm..." Mo Fan berhenti mencari dan mulai berpikir dimanakah letak barang itu berada?
"Tempat biasa, ya?" Mo Fan bergumam, menutup matanya berusaha mengingat dimana tempat biasa Wei tua menyimpan barang.
"Harusnya disini bukan? Pak Tua itu selalu menyimpan barangnya di ruang bawah tanah ini!" Mo Fan semakin bingung.
"Tunggu... Tempat biasanya?" Dahi Mo Fan tiba tiba berkerut, matanya terpejam kuat menunjukan bahwa dia tengah berfikir dengan sangat.
Tiba tiba..
"Ah mungkin disitu!" Mo Fan berlari, meninggalkan ruang bawah tanah dengan tergesa gesa. Bahkan barang barang yang di buat berantakan, dia tinggalkan begitu saja.
Setelah beberapa saat, Mo Fan akhirnya berhenti. Didepannya sekarang ini terlihat sebuah lukisan yang memiliki aura elegan yang kuat. Namun jangan salah, sebenarnya lukisan itu adalah brangkas!
"Biasanya aku tak boleh membuka ini namun mungkin sekarang berbeda." Mo Fan menatap lukisan itu dengan lamat, lalu tangannya mulai membuka lukisan itu. Dibalik lukisan ternyata terdapat brangkas baja yang dilengkapi sandi pengaman disana.
Beberapa kali Mo Fan salah memasukan sandi, menyebabkan suara "tit" panjang terdengar beberapa kali. Namun itu tak lama, setelahnya brangkas itu tak lagi berbunyi "tit" brangkas itu hanya berdengung. Itu terbuka!
"Akhirnya! Dasar pak tua itu, sandinya selalu diubah setiap kali aku kesini. Untung aku bisa menebak sandinya dengan mudah." Gumam Mo Fan.
Dibukanya brangkas itu, perlahan tapi pasti pintu brangkas itu terbuka.
"I-ini?!" Mo Fan benar benar terkejut, barang yang ditinggalkan oleh Wei tua benar benar tidak terduga. Sungguh, itu sama sekali tak terpikir olehnya!
"Kenapa cincin ini yang ditinggalkan oleh si tua itu?!" Mo Fan benar benar kesal, dia kira barang yang akan ditinggalkan oleh Wei tua adalah barang berharga namun kenyataannya sangat berbeda.
"Sialan! Rasa sedihku tiba tiba hilang tak tersisa sekarang." Mo Fan menggerutu.
Setelah beberapa saat, Mo Fan merasa hatinya sedikit lega. Kemudian diambilnya kertas lusuh yang tersimpan di brangkas itu. Mungkin ini akan menjelaskan semuanya, pikir Mo Fan.
Secara seksama, Mo Fan memperhatikan kertas lusuh ditangannya. Dahinya mengkerut, tanda dia tak mengerti dengan apa yang ditulis dikertas itu.
"Benar benar... tidak jelas?" Ucapnya dengan suara pelan.
Bukan tanpa sebab Mo Fan berucap seperti itu, itu karena tulisan yang ada dikertas lusuh itu benar benar tak bisa dia mengerti! Ini seperti bahasa asing yang belum pernah Mo Fan pelajari!
Meski begitu, Mo Fan masih mencoba untuk membaca tulisan itu. Dengan perlahan tapi pasti, Mo Fan melafalkan kalimat yang ada.
"Aku wong kang ndueni rogo kebek duso, wong kang ndueni takdir ngarubah ndunyo. Saiki neng kene.." Tanpa Mo Fan sadari setelah dia melafalkan kalimat itu, lantai tempatnya berdiri tiba tiba mengeluarkan cahaya ungu.
"Aku nggaweni sumpah mati marang gusti ilahi, sumpah ben aku dadi nomor siji, sumpah ben aku dadi penerus kang janjeni.." Angin bertiup kencang di luaran sana, awan hitam seakan akan datang meramaikan, petir dan kilat menyambar dimana mana.
"Tak persembahaken.." Mo Fan seakan terhipnotis dengan lafalan yang dia ucap sendiri, cahaya yang berada dibawah kakinya semakin terang setiap kali Mo Fan melafal. Lalu tiba tiba dia menggigit ibu jarinya dengan keras menyebabkan luka kecil yang mengeluarkan darah.
"Getih iki nggawe ngelakoni janji marang gusti." Mo Fan meneteskan darahnya pada Cincin perak, suara berdengung hebat terdengar tatkala darah segar membasahi cincin itu.
Cincin terbang melayang, suara berdengung semakin terdengar, cincin perak lambat laun juga mengeluarkan cahaya samar.
"Gusti seng kuoso, gusti seng nduweni ndunyo. Aku, awak kebek duso nyuwon restu nggae nguasai ndunyo." Tiba tiba petir menyambar tepat ditempat Mo Fan berada namun bukannya kehilangan kesadaran Mo Fan malah semakin kuat menapak.
Cahaya ungu terang semakin bersinar, membungkus Mo Fan selayaknya ulat yang ingin mengalami perubahan.
Tak sampai disitu, cahaya ungu terang juga menjalar perlahan keseluruh dunia. Membungkusnya entah atas tujuan apa.
Setelah beberapa saat, cahaya ungu mulai meredup, perlahan tapi pasti cahaya itu hilang seakan tak pernah ada dibumi.
Mo Fan juga sudah terbaring lemah di lantai rumah kayu, kehilangan kesadarannya. Cincin perak yang tadi melayang entah bagaimana sekarang tersemat dijari Mo Fan. Awan awan hitampun sudah pergi, seakan mengerti bawah pesta telah berhenti.
----
Note : Maaf bila isi dari sumpah memakai salah satu bahasa daerah. Namun karena saya tidak ingin membuat kata yang maknanya tak ada, saya akhirnya memutuskan memakai bahasa daerah yang jelas jelas saya pahami maknanya.