Mystical World

Mystical World
Chap - 1. Permulaan



Bukit belakang rumah Mo Fan, Xuankong city, China - Sains World.


"Kenapa Pak Tua itu memilih tempat tinggal di tempat tak jelas seperti ini? Butuh tenaga ekstra setiap kali aku ingin bertemu dengannya." Di kaki bukit belakang rumah Mo Fan, terdengar gerutuan seseorang di sepanjang jalan menuju puncak bukit.


Dia adalah Mo Fan yang sedang ingin pergi ke rumah Pak Tua Wei di puncak bukit belakang rumahnya. Aneh memang seorang kakek tua bisa tinggal sendiri di tempat antah berantah seperti itu, namun itulah kenyataannya.


"Ahh, sudahlah jangan menggerutu terus! Ayo kita cepat ke rumah si Tua Wei!" Mo Fan berusaha menyemangati dirinya sendiri, mempercepat langkah kakinya agar bisa cepat sampai ke tujuannya.


----


"Akhirnya..." Mo Fan membungkuk, memegangi lututnya yang sedikit bergetar karena lelah dengan nafas terengah-engah. Didepannya sekarang terlihat sebuah rumah kayu sederhana dengan halaman yang dihiasi oleh bunga, pohon juga beberapa tempat duduk dan meja untuk bersantai.


Itu adalah rumah si Tua Wei!


Setelahnya, Mo Fan kembali menegakkan tubuhnya kemudian berjalan dengan santai menuju pintu depan rumah itu.


"Kenapa aku merasa sepi sekali hari ini?" Mo Fan bergumam sendiri sembari membuka knop pintu. Bukan tanpa sebab dia bergumam seperti itu namun menurutnya suasana rumah kayu kali ini benar benar sepi!


Tanpa melanjutkan berpikir tentang keanehan itu, Mo Fan memasuki rumah dengan perlahan. Memasukan kepala terlebih dahulu untuk menengok kondisi rumah yang ternyata berantakan itu.


"Ini..." Mo Fan kehilangan kata kata. Rumah yang biasanya terlihat sangat rapih kini benar benar berantakan! Dan ini bukan kebiasaan Pak Tua itu yang terkenal akan kebenciannya terhadap sesuatu yang kotor!


Dalam pikiran Mo Fan berkecamuk banyak pertanyaan yang menambah ketegangan saat ini. Hal hal buruk tentang sesuatu seperti Pak Tua yang menjadi zombie atau gila telah dia pikirkan!


Hei! Jangan salah dulu, coba kau bayangkan bila orang yah terkenal akan kebersihannya tiba tiba mengacaukan rumah dengan sangat berantakan? Sungguh tidak lazim!


Dengan perlahan Mo Fan mulai masuk kedalam rumah itu, menengok kanan-kiri untuk melihat kondisi rumah yang benar benar seperti kapal pecah. Dia berjalan pelan, sebisa mungkin mengurangi bunyi berderit dari lantai lantai kayu yang menjadi pijakannya.


Perlahan tapi pasti, Mo Fan berjalan menuju ruang istirahat si Tua Wei. Mengendap ngendap seakan dia pencuri yang takut tertangkap, detak jantungnya terpacu cepat.


Dia mendekati pintu kayu berwana coklat yang nampak lumayan usang, membukanya dengan perlahan dan memasukan kepalanya kedalam untuk kembali sekedar mengintip.


"Pak Tua!!!" Mo Fan berteriak dengan kencang, panik tiba tiba melanda seluruh tubuhnya. Dengan cepat dia langsung membuka pintu dan berlari menuju apa yang membuatnya panik seketika. Benar benar... sesuatu yang dia intip benar benar membuatnya tegang!


Itu adalah tubuh rentan si Tua Wei yang terbujur kaku! Tanpa terlihat tanda pergerakan sama sekali, hanya seperti dengan sungguh sungguh ingin terus tidur pulas diatas tempat tidur itu.


Mo Fan mendekatinya, memeriksa hidungnya. "Tidak bernafas?!" Mo Fan tambah panik, punggungnya mulai basah karena keringat dingin yang tiba tiba membanjirinya.


Lalu dia duduk diranjang samping Pak Tua Wei berada, memeriksa denyut nadi miliknya. Mengecek semua bagian tubuhnya dengan harapan bahwa orang didepannya tengah tidur pulas. Namun kenyataan seakan benar benar mempermainkan...


"Dia sudah tiada." Mo Fan bergumam dengan pelan, sedikit perasaan sedih tersirat dalam suaranya, matanya kosong menatap tubuh tak bernyawa didepannya dan hatinya dibanjiri dengan perasaan campur aduk.


Sedih, marah, kecewa, sebal, kesal dan masih banyak lagi perasaan lain yang sekarang bergelut dalam hati Mo Fan.


Si Tua Wei adalah orang yang baik menurutnya, orang yang selalu memperlakukannya dengan ramah juga tak terlalu mempedulikan julukan "Produk Gagal" yang tersemat pada dirinya. Menurutnya, Wei benar benar orang yang sudah seperti kakeknya sendiri.


"K-kenapa..." Berkata dengan suara bergetar, hatinya merasakan rasa perih yang teramat.


Dilihatnya sekiling tempat itu, dia baru sadar. Disamping tempat tubuh Pak Tua Wei terbujur, terdapat sepucuk surat yang sepertinya sengaja diletakan disitu.


Mo Fan dengan perlahan mengambilnya, membaca dengan serius apa isi yang disampaikan surat itu. Lebih tepatnya surat itu beserisi seperti...


"Nak, aku tahu kau akan datang ketempatku. Maka dari itu, aku menulis surat permintaan ini untukmu, tolong kuburkan tubuhku disamping rumah ini, ditempat yang menurutku adalah tempat ternyaman. Jangan terlalu bersedih atas kepergianku, aku memang sudah terlalu lama hidup didunia ini dan aku meninggalkan sedikit barang untukmu agar bisa mengenangku. Jangan lupa kau ambil barang itu, di tempat biasa. Aku harap, setelah kau menerimanya kau akan menjadi nomor satu dan percaya dengan cerita ceritaku.


Tertanda - Lu Wei" Mo Fan membacanya dengan menahan sedih yang menjalar dalam hati. Rasa perih kembali menggila, membawa pedih yang teramat dalam hatinya.


"Pak Tua.." Mo Fan meremas surat itu, tangannya bergetar hebat menahan sedih yang teramat.


"Aku akan melakukan yang kau mau." Ucapnya sembari menatap kosong raga tak bernyawa didepannya.