
Malam berangsur angsur mulai pagi.
Alina merasakan tubuhnya pegal pegal setelah semalaman tidur di sofa panjang. Jadi ia terbangun kemudian Dia merenggangkan otot ototnya yang terasa kaku, tangannya terulur keatas, kakinya berselonjor panjang hingga sofa itu terlihat penuh. Perlahan Dia membuka matanya dengan menyipit menyetarakan cahaya yang masuk ke dalam retinanya.
Dia melirik jam yang tergantung pada dinding tembok. Ternyata sudah jam 9. Kemudian menoleh ke arah ranjang yang semalam digunakan Leonel tidur. Tetapi ternyata sudah kosong, Ranjang itu kelihatan sudah rapi.
Mungkin, Leonel pergi ke kantor. Apalagi semalam David mengatakan akan memindahkannya ke kantor pusat. Tentu saja pria itu pasti melakukan suatu hal sehingga ia harus pergi pagi sekali.
Alina beranjak dari sofa melipat selimut dan menempatkan bantal ke tempat semula. Dia melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi. Menggosok gigi lalu mandi.
Sepertinya tidur di sofa semalam membuat dirinya merasakan siksaan yang terlalu berat, jadi memutuskan untuk berendam sebentar. Merilekskan ototnya yang kaku dan menambahkan wewangian agar tidak terlihat kuyu.
Bak mandi telah terisi penuh dengan air hangat, mencampurkan wewangian ke dalam nya. Satu persatu membuka pakaiannya dan memasukkannya ke dalam keranjang. Setelah itu, ia masuk ke dalam bak mandi. Ia merasakan ke rileks kan yang hakiki.
Selama hidup selama 25 tahun. Baru kali ini dia tidur di sofa. Ah seharusnya semalam dia tidur saja di kamar tamu. Setidaknya dia tidak akan seletih ini. Memikirkan hal ini, nanti dia akan meminta bibi Wati untuk memindahkan barangnya ke kamar tamu saja.
Meskipun Leonel adalah suaminya. Tetapi dia masih merasa trauma akan hari itu, dia belum siap memiliki anak. Lagi pula umurnya masih dianggap muda oleh dirinya sendiri. Dia baru saja lulus dari universitas Brawijaya, setelah menempuh pendidikan S2 selama 3,5 tahun. Setidaknya dia melakukan sesuatu agar ijazahnya tidak terlalu sia sia.
Memikirkan hal ini, Dia harus mencari pekerjaan. Meskipun keluarga Louis tidak pernah mempermasalahkannya tentang berapa banyak harta yang mereka miliki untuk dia habiskan. Tetapi bagi Alina, Dia hanya ingin memiliki pengalaman tentang pekerjaan.
Seharusnya dia membuat cv dan mencari perusahaan yang pas. Kemudian Alina tersenyum lebar, merasa sangat senang setelah hari hari yang ia lewati hanya menganggur.
Alina keluar dari dalam bak mandi, menyalakan kran dan membilas badannya.
Selesai mengganti pakaiannya, Alina bertelanjang kaki keluar kamar. Bibi Wati melihat Alina sudah keluar dari kamarnya, ia segera menyiapkan makanan.
"Selamat pagi." Sapa Alina, dia seperti biasanya tersenyum sempringah menyapa.
Bibi Muna tersenyum dan meletakkan piring dengan secentong nasi di atasnya lalu meletakkannya dihadapan Alina. Seperti apa yang biasa dia lakukan untuk meladeni majikannya.
Sup wortel dengan isian daging telah tersaji di atas meja, asapnya mengepul ke udara. Alina menuangkan dua centong sup wortel itu ke atas nasi lalu memakannya sendiri.
Rumah besar ini, masih tetap sama. Setiap harinya selalu sepi. Hanya terisi bibi Muna sebagai pembantu dan suaminya di perkerjakan sebagai sopir. Sementara yang berjaga hanya ada dua satpam di luar.
Leonel tidak menyukai kebisingan, jadi hanya memiliki empat orang di rumahnya untuk membersihkannya setiap hari.
Dulu, sebelum Leonel menikah. Dia membeli rumah ini hanya untuk mempersiapkannya setelah menikah dan sebelumnya Leonel memilih tinggal di apartemen yang jaraknya lebih dekat dengan perusahaan yang bisa di tempuh dalam 5 menit.
Dan setelah menikah, Alina lah yang mengisi rumah itu. Leonel sangat jarang pulang ke rumah itu, hanya sesekali kembali ke sana jika dia merasa suntuk ataupun sedang bosan.
Alina yang selesai makan melirik ke arah bibi Muna yang masih berdiri disampingnya menunggunya makan.
"Bi Muna, nanti tolong pindahkan barangku ke kamar tamu saja. Aku akan tinggal di kamar tamu." Alina memberinya perintah.
"Tapi Nyonya. Tuan baru saja kembali? Bagaimana jika beliau marah karena anda akan tidur di kamar tamu."
"Dia tidak akan marah. Lagi pula selama ini dia dan aku meskipun telah menikah, dia sering tinggal di luar negeri. Kini dia kembali. Hanya saja, aku juga butuh pengenalan dengan dia sebelum aku siap bersamanya. Jadi tolong anda siapkan saja." Alina berkata dengan meyakinkan. Bibirnya sedikit berkerucut.
"Baiklah." Bibi Muna pun menyetujuinya.
Alina tersenyum, dia meminum air putih kemudian beranjak dari tempat duduknya.
Bibi Muna dan di bantu sang suami memindahkan barang barang Alina ke kamar samping. Alina kemudian memainkan laptopnya di ruang tengah untuk mencari perusahaan yang sedang membuka lowongan pekerjaan.
Dia juga mengirimkan cv pelamaran kerja ke sepuluh perusahaan. Perusahaan perusahaan itu adalah perusahaan ternama. Dia sudah meneliti perusahaan yang ia kirimkan lamaran itu tidak berada dibawah naungan perusahaan Louis group. Dan dia juga tidak berniat melamar pekerjaan di Louis group ataupun pada perusahaan yang dikelola oleh Hendro Ayahnya.
Dia tidak ingin terlibat pada perusahaan keduanya. Dia ingin memulainya dari awal.
Setelah selesai mengirim ke sepuluh cv lamaran kerja, ia tersenyum lega. Menepuk kedua tangannya dengan bangga. Tepat saat itu Bibi Wati telah selesai memindahkan barang barangnya ke kamar tamu.
"Nona Alina, kami sudah memindahkan barang barang anda." Ucap Bibi Muna melaporkannya.
Alina langsung menutup laptopnya dan bergegas ke kamar tamu. Dia menaiki tangga dengan senyum cerah mencapai matanya.
...****************...
Siang berganti malam, Saat ini jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Leonel baru saja kembali dari kantor setelah mengurus kepindahannya di kantor cabang ke kantor pusat.
Wajahnya terlihat lelah. Saat ini Bibi Muna datang. "Tuan, Apakah akan makan malam di rumah?" Tanya Bibi Muna.
"Ya, dimana Alina?" Mata pria itu terlihat sangat mengantuk, semalam dia tidur pukul 1 dini hari, tetapi karena akan mengurus kepindahannya dari luar negeri dia harus terbangun jam lima pagi.
Dia melihat seisi rumah itu dan tidak menemukan Alina berada di antaranya, jadi ia segera bertanya tentang keberadaan wanita itu.
"Nyonya Alina di kamarnya, sepertinya nyonya Alina setelah jam lima tadi belum keluar. Beliau juga belum makan malam." Ucap Bibi Muna sambil menundukkan kepalanya.
"Baiklah, aku akan ke atas untuk melihatnya."
Bibi Wati mengangguk dan Leonel pergi ke lantai atas. Namun matanya memicing kala lampu pada kamar tamu menyala. Dia berusaha mengabaikannya dan melanjutkan langkahnya menuju kamar utama.
Leonel menekan handel pintu dan mendorongnya hingga terbuka. Sesaat kemudian ia tertegun kala kamar itu terlihat sangat sepi dan rapi, Alina juga tidak ada di kamarnya. Dia melirik ke arah kamar mandi, mungkin saja dia sedang mandi. Namun lampu kamar mandi tidak menyala.
Leonel memiringkan kepalanya. "Gadis bodoh ini!"
Leonel wajahnya menjadi ketat. Dia menarik dasinya, kemudian menyingsingkan lengan panjangnya sampai ke ujung siku. Langkahnya ia belokkan ke kamar tamu.
Tok tok tok
Leonel berusaha bersikap tenang dan mengetuk pintu, satu ketukan pertama tidak ada gerakan. Dua kali ketukan juga tidak ada yang menyahut. Ketiga kali gedoran membuat si empu pemilik kamar merasa terganggu. Alina setelah melakukan pekerjaannya untuk menulis surat lamaran kerja langsung ketiduran.
Tidak terasa jika Alina telah ketiduran begitu lama, Alina mendongak ke arah jendela luar, terlihat lampu telah menyala semua. Dia menggosok matanya dan melihat pintu. Pintu itu di gedor hingga hampir rubuh.
"Iya iya, tunggu sebentar." Alina dengan wajah yang baru saja bangun tidur langsung mendekati pintu dengan tubuh masih terasa lemas.
Ceklek.
Belum sempat ia menarik pintu, tetapi ia terhuyung ke belakang dengan keras. Pintu itu di dorong oleh Leonel yang sudah tidak bisa menahan kesabarannya. Alina sampai melangkah mundur. Saat memdongakan wajahnya, ia sedikit terkejut. Leonel memang memiliki tatapan yang tajam tetapi tatapan ini terlihat sangat tajam dan memerah. Alina tanpa sadar melangkah mundur dan ketakutan.
"Apa yang kau lakukan disini?" Leonel bertanya sambil matanya melihat seisi ruangan kamar itu. Dia melihat banyak barang Alina yang tersusun rapi di atas meja seperti buku, Boneka dan hiasan lainnya.
Alina melihat tatapan Leonel yang begitu mengintimidasi. Tiba tiba gorokannya seakan tercekat. Dia menelan ludahnya dengan kesusahan.
Kini tatapan Leonel kembali menatapnya. "Cepat katakan, atau aku akan menghabisimu saat ini juga." Ucap Leonel penuh ancaman.
Tubuh Alina terhentak, dia tidak berani menatapnya. Jari jemarinya ia mainkan di depan tubuhnya.
"Aku akan tidur di kamar ini. Mulai malam ini dan seterusnya." Sahut Alina dengan suara pelan dan menundukkan kepalanya.
Mata Leonel semakin memerah, rahangnya mengetat dan tatapan matanya semakin dingin.
"Apa maksudmu?"
"Waktu itu, kau meniduriku aku belum siap memiliki anak denganmu."
Leonel mengepalkan tangannya dengan erat. Apa maksudnya wanita itu berkata seperti itu?
"Aku ingin kita tinggal terpisah sampai aku benar benar siap." Alina juga menambahkan kata kata ini dengan tubuh yang menggigil.
Leonel tidak habis pikir dengan apa yang dipikirkan wanita ini. Dia memejamkan matanya sejenak. Dia benar benar tidak mengerti.
Leonel tidak mengatakan apapun selain menahan amarahnya. Dia berbalik dan pergi dari kamar itu.