
Sepulang dari kantor, Elle sudah pulang terlebih dahulu. Tepatnya ia pulang sekitar jam lima sorean. Ia terlihat begitu lelah dan wajahnya tertekuk dalam.
Tenaganya hampir habis karena kepala divisi memberikan tugas yang harus ia kerjakan tanpa tersisa.
"Elle, kamu sudah pulang?" Begitu Brian masuk sudah mendapati Elle yang duduk di meja tengah dengan menyalakan televisi tanpa minat untuk menontonnya.
Elle menoleh sebentar kemudian ia kembali menatap layar datar itu yang menyala.
"Menurutmu...?" Balas Elle acuh dan raut wajah lelah.
"Kenapa wajahmu cemberut seperti itu." Tanya Brian seraya merenggangkan dasi yang sedari tadi mencekiknya.
"Soal pekerjaan. Kamu taukan kalau aku tidak suka dengan pekerjaan itu. Kepalaku malas buat berpikir." Balas Elle. Membayangkan pekerjaannya yang tertumpuk berlipat didepan meja kerjanya membuat dirinya tidak bisa relaks sama sekali.
"Kamu masih ingat dengan janjiku? Asal kau bisa mengerjakan pekerjaan itu, aku akan membantumu membuat skripsi tulisanmu, dan aku akan mendukungmu menjadi penulis terkenal seperti impianmu." Balas Brian lembut.
Elle menoleh menatap sang suami dengan lekat. "Persyaratan yang sangat berat Bri, tapi aku sepertinya tidak bisa....menjadi apa yang aku inginkan. Mungkin benar kata Mr, Broke kalau aku bukan penulis handal. Banyak tulisanku yang selalu ditolak olehnya karena kurang menarik." Elle merunduk dalam mengingat bagaimana perjuangannya saat masih berada di London. Tulisannya selalu ditolak oleh banyak produser dengan alasan yang kurang menarik. Padahal Elle, untuk mengerjakannya saja dia tidak tidur semalaman demi mendapatkan ide ke dalam tulisannya.
"Itulah kamu yang gampang menyerah, seperti saat kita dijodohkan dulu. belum apa apa kau sudah kabur terlebih dahulu tanpa mempertimbangkan perasaanku." Balas Brian yang justru malah membuat Elle membelalak dan tersipu.
"Sudahlah. Lebih baik kau mandi dan kita pergi ke tempat mama. Mama mengundang kita makan malam di sana." Lanjut Brian dan beranjak dari duduknya.
"Mungkin benar kamu Bri, aku orang yang gampang menyerah dan aku jadi tidak percaya diri dengan kemampuanku." Gumam Elle bermonolog menyaksikan punggung suaminya yang menjauh dan menghilang di balik pintu. Lantas ia pun beranjak dan menyusul suaminya dengan tekat ia akan bekerja keras demi impiannya.
"Elle, kamu cantik sekali." sambut sang mama mertua ketika Elle memasuki rumah besar Brian itu.
"Terima kasih ma, oiya ini ada hadiah kecil buat mama." Balas Elle lalu menyerahkan sebuah paper bag yang berwarna coklat ke mama mertuanya.
Mama mertuanya menerimanya dengan antusias. "Harusnya sih gak perlu repot repot membawa hadiah seperti ini, cukup beri kejutan kalau kami akan segera menimang cucu akan lebih bagus." Sahut mama mertua dengan sempringah.
Elle yang tadinya tersenyum lebar berubah tersenyum getir.
"Mama, aku sudah lapar. lebih baik kita mulai saja makan malamnya." Suara Brian mengalihkan pembicaraan mama dan istrinya.
"Ah iya, ayo El. Kamu harus makan makanan sehat. Mama sudah memasakkan beberapa sayuran." Lanjut mama mertuanya lalu membawa Elle agar segera duduk di ruang makan.
Brian lekas duduk di samping Elle dan membuka piring mereka masing masing. Kali ini mereka makan di selingi dengan perbincangan, sedikit banyak mengutarakan tentang bisnis mereka sementara Mama mertua juga mengungkapkan isi hatinya kalau banyak di antara teman sosialitanya yang selalu menceritakan anak menantunya dan cucu cucunya yang lucu.
Selepas makan malam dari tempat mama mertuanya, Elle semakin cemberut.
Keduanya sudah berada di dalam kamar dengan pakaian tidur seperti biasanya.
"Entahlah, sepertinya pikiranku kini bukan hanya terbebani dengan masalah pekerjaan saja juga memikirkan pewaris perusahaan kamu." ucap Elle memandang lurus ke arah depan.
Brian menoleh ke arah Elle yang sepertinya terlihat sangat sedih dan tertekan.
"Lalu, apa yang akan kamu lakukan sekarang? Aku tidak akan menghalangi langkahmu. Mana dulu yang ingin kau capai, aku akan slalu ada buatmu." Balas Brian.
Elle menoleh sekilas lalu menggeleng, saat ini ia belum memikirkan sesuatu di dalam benaknya.
"Tetapi, hal yang sekarang aku inginkan hanyalah sederhana." Ucapan Elle terjeda.
Brian menatap serius Elle dan menunggu ucapan selanjutnya. Kemudian Elle menoleh dan menatap intens ke arah Brian.
"Aku merasa nyaman sama kamu." Sahut Elle yang membuat Brian tersenyum lebar.
"Sekarang sudah malam, lebih baik kita tidur saja." Brian meletakkan tabletnya di atas nakas lalu memposisikan dirinya untuk berbaring begitu juga Elle yang berbaring dengan selimut yang sama yang menutupi keduanya hingga sebatas leher.
"Bri..."
"Hemm."
"Menurutmu, apakah aku sebagai istrimu adalah istri durhaka?" Ucap Elle membuat Brian terkejut.
"Maksud kamu?"
"Kita sudah menikah selama beberapa waktu, tapi...." ucapan elle terjeda beberapa detik merasa ragu mengucapkannya.
"tapi...."
"tapi....kita belum melakukannya...." sambung Elle dengan suara mengecil.
"Tidak apa apa Elle, aku akan menunggumu sampai kau siap. jadi kau tak perlu merasa bersalah." balas Brian, meskipun ada rasa kekecewaan di dalam dirinya karena dia adalah pria normal. Dan dia juga mendambakan penerus. Usianya juga sudah cukup matang untuk mendapatkan seorang putra.
"Terima kasih Bri..." balas Elle.