MY WIFE

MY WIFE
Bab Lima Belas



Sepanjang malam terlewati dengan damai. Hingga suara kicau burung membangunkan Elle yang dengan nyamannya tidur dalam dekapan Brian.


Brian membuka matanya perlahan karena tangannya begitu pegal. Saat menyadari bahwa ada Elle yang sangat pulas di dekapannya Brian tersenyum tipis dan memandangi wajah Elle yang begitu cantik meski tanpa make up apapun.


Elle bergerak gerak karena sepertinya sudah terlihat terang. Brian segera memejamkan matanya berpura pura tidur. Elle membuka mata sempurna saat menyadari dirinya berada di dekapan Brian. Lalu mencari bantal dan guling yang ia gunakan sebagai pembatas tadi malam.


Dan bantal itu tergeletak di samping kirinya, ia terkejut bahwa yang semalam ia sendiri yang memindahkan bantal itu. Ia melihat Brian masih terpejam dengan erat. Pelan pelan ia segera bangkit.


Betapa malunya jika Brian tau kalau ia berada di pelukannya dan terlebih semua bantal itu ia sendiri yang menyingkirkannya.


Elle segera berlari masuk ke dalam kamar mandi dan menguncinya. Betapa jantungnya sudah bertalu talu saat berdekatan dengan Brian, juga rasa malu jika Brian mengetahui hal ini.


Setelah mencuci wajahnya dengan air, Elle berusaha biasa saja dan melewati Brian yang masih meringkuk dengan posisi yang berbeda. Elle segera pergi keluar dan menuju dapur.


Karena Brian belum sempat mencari Art, jadi Elle harus menyiapkan makanannya sendiri. Hanya menyiapkan roti sandwich yang mudah.


"Selamat pagi." Ucap Brian yang menuruni tangga dan masuk ke ruang makan.


Elle mendongak ke arah suaminya lalu meletakkan dua piring sandwich dan mengucapkan selamat pagi kepada Brian.


"Pagi Brian." Sahut Elle yang kemudian ikut duduk di samping Brian.


"Sepertinya pagi ini cerah sekali ya." Ucap Brian.


Elle memandang sekitar dan memang pagi ini sangat cerah.


"Sepertinya begitu." Sahut Elle yang kemudian memakan rotinya.


"Semalam juga sangat nyaman banget tidurnya sampe tangan aku pegel." Ucap Brian.


"Uhuk Uhuk..." Elle tersedak dengan rotinya.


Brian mengulurkan gelas minumannya seraya mengelus punggung Elle agar batuk Elle segera mereda.


"Hati hati El kalau makan." Ucap Brian santai.


Elle meneguk minumannya hingga separuh. lalu menaruhnya di meja.


"Kamu minum digelas aku sampai hampir habis, gimana rasanya?" Ucap Brian.


Elle menyadari saat gelasnya sendiri masih tetap utuh lalu di samping kirinya ada gelas Brian. Elle menatap Brian yang kini tengah tersenyum menyeringai. Elle melotot lalu menutup mulutnya.


"Itu artinya, tanpa sengaja kita berciuman." Ucap Brian senang.


"Brian!" Pekik Elle yang sudah tidak tahan lagi dengan ucapan Brian yang menggodanya.


Brian meletakkan kedua tangannya dibawah dagunya, alisnya bergerak gerak naik turun, sementara ia tersenyum ke arah Elle yang semakin jengkel.


"Kenapa sayang?" Tanya Brian begitu santainya.


"Uh, kamu sengaja ya..." Ucap Elle semakin kesal, harusnya pagi ini ia merasa ceria tapi sepertinya Brian selalu menggodanya dan ia sungguh merasa kesal.


"Bukan sengaja, tapi kamu sendiri yang sengaja." Balas Brian.


Elle menekan kedua tangannya ke meja. rasa kesalnya ia harus redakan, Elle menarik nafas panjang dan menghembuskan perlahan.


"Aku mau mandi dulu bersiap siap." Kata Elle akhirnya. lalu meninggalkan ruang makan.


Brian tersenyum riang tidak peduli Elle yang merasa kesal dengannya, justru ia malah seneng kalau Elle kesal pipinya akan merona. Brian menikmati sarapan paginya dengan santai.


***


Elle dan Brian berada dalam satu mobil hingga ke kantor. Tapi sepertinya Elle harus menimbang sesuatu, dia adalah pegawai baru. jika saja ada orang kantor yang mengetahui hal ini, Elle pasti akan diejek sebagai wanita penggoda.


"Astaga Brian, bisa gak sih pelan pelan." Sentak Elle.


"Elle, kenapa kamu berteriak sampai aku kaget Elle. Dan kamu menyalahkan aku." Ucap kesal Brian.


"Berhenti disini saja, aku mau jalan kaki." Ucap Elle.


"Gila, ini masih jauh elle, lagian kenapa kamu memilih jalan kaki dibanding naik mobil aku?" Tanya Brian seraya mengernyitkan dahi.


"Aku ini pegawaimu Brian, mana mungkin aku semobil denganmu. Kalau orang kantor tau, bisa saja aku diejek sama mereka karena sudah menggoda bos mereka yang sok kecakepan." Balas Elle sewot.


"Jadi ceritanya kamu jeles." Ucap Brian sambil nyengir.


"Ih, mesum." Balas Elle menampol bahu Brian.


",ih kamu gak ngerti sih." Sambung Elle semakin cemberut.


"Iya...Iya, kamu bisa lewat belakang Elle, disini jauh. Apa kamu sanggup jalan dari sini sampai kantor, ini aja udah kurang lima menit. Kamu tau gak, kalau kamu telat sampai ke kantor, gaji kamu di potong dan kamu harus membayar hutang kamu dua kali lipat." Ucap Brian mengancam.


"Astaga Brian, kenapa kamu begitu sadis sekali sama Gue." Desis Elle meninggi.


"Bahasa Elle, kenapa kamu balik lagi ke bahasa yang gak normal seperti itu lagi." Geram Brian.


"Iya...itu gara gara elo, pake bahasa terlalu baku. Dan sekarang, Aku mau demo sama Elo. Gue istri elo, kenapa elo begitu jahat banget sama gue sih." Ucap Elle menahan rasa kesalnya.


"Aku gak jahat El, cuman aku gak mau kamu pergi dari aku lagi." Ucap Brian lalu menangkap tangan elle yang berada dekat dengannya.


"Aku sudah begitu menderita selama tiga tahun ini, menunggu kamu kembali yang entah kenapa aku diharuskan setia sama kamu. Padahal aku gak bisa Elle. Aku waktu itu hampir stres tau gak, aku sering mengenalkan setiap wanita sama papa dan tetap saja papa menolak. Itu karena kamu Elle." Ucap Brian.


"Tapi...waktu itu gue gak mau sama elo bri." Ucap pelan Elle.


"Andai aja, waktu itu kamu bilang apa alasan kamu pergi, aku bisa ngerti. tapi kamu belum menemuiku dan malah pergi gitu aja." Sahut brian melembut.


"Ku kira waktu itu, aku dijodohkan dengan pria tua mesum dan perutnya buncit..."


"Dan sekarang kamu lihat sendiri, apakah aku seperti yang kamu katakan..." sambung Brian.


Elle hanya menggeleng.


"Elle, Aku gak mau kejadian tiga tahun ini terulang lagi. Kamu bisa kan?" Ucap Brian seraya merengkuh tubuh Elle, dan elle hanya bisa pasrah dan mengangguk.


***


Meskipun lama keduanya berdebat di dalam mobil, tetap saja Elle memilih jalan kaki ke kantor dan itu membuat Seorang Brian Adam Subroto murka.


Brian mengemudikan mobilnya hingga di lobi lalu melempar kuncinya kepada seorang pria.


Brian berjalan santai memasuki lobi, dan seperti biasa para karyawan selalu menyapa dan menunduk hormat. Setelah itu mereka para karyawan wanita langsung tersenyum dan membicarakan ketampanan bos mereka. Kadang juga mencuri pandang dengan bos mereka agar mereka dilirik.


Tapi Brian si Bos tampan yang dingin dan cuek. Sebanyak apapun para karyawannya mencuri perhatiannya ia tetap acuh dan tetap menampakkan wajah datarnya hingga ia menaiki lift khusus dan sampai diruangannya.


Sementara Elle harus berlari dari jalan hingga ke kantor. Masih ada seratus meter hingga sampai di lobi. Apalagi Elle mengenakan hell setinggi lima senti, jika berlari akan membuat kakinya kesulitan masih lagi mengenakan rok mini yang membuat langkahnya menjadi kecil.


Elle sesekali mengecek jam dipergelangan tangannya, saat hampir sampai di depan pintu lift, pintu lift segera menutup. Dan ia terlambat satu langkah saja. Ia pun memutuskan untuk menaiki tangga.


"Host....Host....Host..." Nafas Elle begitu panjang panjang saat sudah menaiki tangga 16. masih kurang empat tangga lagi, tapi sepertinya kakinya sudah tidak tahan lagi.


Ia kembali mengecek jam ditangannya sudah lewat lima menit, Ia kembali berlari hingga sampailah berada di lantai dua puluh.


Elle segera duduk dan meletakkan tas tangannya di laci, baru saja akan membuka laptop didepannya, bu kepala divisi memanggilnya.