
Kali ini Leonel tidak menunjukkan kemarahannya hanya dengan bersikap kasar. Tetapi dia membuang pil pencegah kehamilan itu ke luar melalui balkon.
Setelah itu dia berbaring di atas kasur dan mulai memejamkan mata.
Tak berapa lama Alina juga menyusulnya memasuki kamar. Dia melirik ke arah tempat tidur. Leonel telah tertidur dengan tenang di sana kemudian melihat pintu balkon yang masih terbuka.
Ia bergegas ke sana dan menutup pintu itu. Kemudian menarik gorden jendela hingga tertutup. Dia mengganti lampu kamar menjadi lampu tidur. Lalu ikut berbaring di samping Leonel.
Keduanya langsung tertidur hingga pagi menyapa. Saat Alina terbangun, ia sudah tidak menemukan Leonel di sampingnya. Ia mengambil ponsel dan melihat jam. Ternyata sudah jam 8 pagi. Pantas saja Leonel tidak ada di sampingnya melainkan ia sudah berangkat bekerja.
Alina merenggangkan tubuhnya kemudian mengambil laptop di sampingnya. Mengecek beberapa email jika saja sudah mendapatkan panggilan. Tetapi ia tidak mendapatkan kabar apapun selain pesan emailnya kosong.
Alina menyondongkan bibirnya kesal. Menutup laptop dan meletakkan di meja semula.
Memasuki kamar mandi sekedar menggosok gigi dan mencuci muka. Setelah itu keluar kamar menuruni tangga dan masuk ke dapur. Dia akan membuat sarapan pagi seadanya. Namun dia melakukannya dengan bantuan ponsel lalu mengenal satu persatu bahan yang ada dengan benda pipih itu.
Untung saja ingatan Alina sangat tajam, jadi ia dengan cepat bisa mengingatnya. Setidaknya ia akan belajar memasak untuk mengenyangkan perutnya.
Setengah jam pun berlalu, dia telah selesai membuat sop iga sapi. Dia memasukkan bahan sesuai ajaran yang ia tonton di ponselnya meskipun rasanya tidak sebaik masakan bik Muna tapi setidaknya demi tidak kelaparan, makanan ini dapat di makan.
Dia mengambil secentong nasi lalu melahapnya dengan sop iga sapi itu. Dia sangat menikmati makanan yang ia masak untuk pertama kalinya.
Seusai sarapan, ia membersihkan piring bekas makannya tidak lupa membersihkan ruang makan. Menyapu lantai dan mengepel. Semua pekerjaan ini membuatnya sangat lelah hingga tak terasa hari semakin siang.
Dia duduk di sofa panjang di ruangan tengah. Dia bernafas terengah engah karena capek. Saat melihat jam ternyata sudah pukul setengah satu. Ia mengeluarkan ponsel dan menelepon Leonel.
"Halo." terdengar suara Leonel yang dingin dan datar dari sebrang.
"Leonel! Apakah kau akan pulang untuk makan siang?" Tanya Alina.
Saat Alina bertanya, Leonel mendongak sambil melihat jam pada pergelangan tangannya. Ternyata sudah memasuki makan siang. Karena terlalu fokus pada kerjaannya Leonel hampir melupakan makan siangnya. Berpikir jika wanita itu merasa kesepian, ia pun menyetujui.
"Ya, setengah jam lagi aku akan kembali."
"Oke."
Mendengar Leonel akan segera kembali. Dia pun pergi memasuki dapur. Karena waktunya tidak cukup untuk memesan makanan jadi dia memasakkan tempe goreng saja sesuai petunjuk di video melalui ponsel pribadinya.
Untuk rasa, dia tidak yakin enak atau tidak. Yang pasti dia sudah berusaha sesuai keinginan Leonel.
Tepat setengah jam, Leonel telah kembali. Terdengar deru mesin mobil memasuki halaman. Alina mendongak setelah selesai menata piring. Kemudian bergegas keluar.
"Leonel! Kau sudah kembali?" Alina berdiri di ambang pintu sedang menyambutnya.
"Ya." Leonel memandangnya sekilas dan melewati dirinya masuk ke dalam ruang makan.
Dia duduk di kursi, lalu Alina dengan cepat menata nasi ke atas piring dan memberinya dua tempe goreng di atasnya. Meletakkannya ke hadapan Leonel kemudian mengambil porsi untuk dirinya.
"Makanlah."
Leonel menundukkan wajahnya. Alisnya bertaut. Di atas nasi ada dua tempe yang digoreng hingga kecoklatan. Karena keahlian memasak Alina sangat buruk maka Leonel hanya bisa menghela nafas.
Dia memakan makanan yang di tata rapi dihadapannya lalu memakannya dengan tenang. Seharusnya dia memanggil koki terkenal untuk mengajari Alina agar wanita itu bisa memasak. Meskipun makanan yang di masak oleh Alina bukanlah masakan kesukaannya tapi setidaknya wanita itu sampai pandai untuk memasakan sesuatu.
Makanan Leonel sudah tandas dan telah berpindah ke dalam perutnya. Ia sudah merasa kenyang sekarang. Ia mengelap sudut bibirnya. Melihat Leonel yang telah selesai menghabiskan makanannya, Alina buru buru meminum air di sampingnya.
"Apa kau malam ini akan pulang tepat waktu?" tanya Alina.
Alina menggelengkan kepalanya. "Jika kau pulang tepat waktu, aku akan mempersiapkan makan malam untukmu." Alina menjawab sambil menunduk. Dia sangat takut melihat wajah Leonel.
"Mungkin akan sedikit terlambat."
"Oke."
Leonel beranjak dari duduknya dan kembali pergi ke kantor. Alina tidak memiliki pekerjaan lagi. Dia juga belum mandi. Jadi ia pergi ke kamar utama dan membersihkan dirinya lalu setelah itu dia tidur sepanjang siang.
…
Jam menunjukkan pukul 7 malam. Alina baru saja terbangun dari tidur siangnya. Karena terlalu lelah dia pun tertidur terlalu lama. Saat membuka mata ia tercengang.
Alina buru buru turun ke bawah, menyalakan lampu dan mengirim pesan kepada salah satu restoran ternama untuk segera mengirimi makanan.
Kemudian ia kembali ke kamar dan mandi. Selesai berganti pakaian, ia pun turun kebawah sambil menunggu makanan datang.
Keseharian seperti itu berlanjut hingga satu minggu kemudian. Alina merasa bosan berada di rumah. Setiap kali mengecek pesan email juga tidak mendapatkan balasan apapun tentang lamaran kerja darinya.
Siang ini Alina bersiap pergi ke rumah Emilia. Dia hanya memiliki satu teman selama dia masih bersekolah dulu. Emilia adalah teman sedari mereka sekolah dasar. Alina dan Emilia saling berteman ketika mereka merasa senasib. Emilia adalah orang yang gigih dalam belajar meski terhalang biaya, sementara Alina dipaksa belajar karena desakan keluarganya.
Keduanya merupakan kutu buku dalam bersekolah. Sering kali mereka di anggap cupu karena selama jam istirahat keduanya selalu berada di dalam perpustakaan. Dan selalu membawa buku kemanapun mereka pergi.
Selama itu Emilia dan Alina saling berteman satu sama lain.
Alina bergegas masuk ke garasi dan menyetir mobil. Dia masih ingat di mana Emilia tinggal. Dia melajukan mobil mewahnya pergi ke sebuah rumah yang berada di perkampungan kumuh yang berada di pinggiran kota metro.
Sebuah rumah minimalis berwarna kuning gading itu masih terlihat sama dengan waktu Alina terakhir kali datang ke sana. Alina memarkirkan mobil mewahnya ke lapangan yang berada di sebelah rumah Emilia agar pengguna jalan tidak terganggu.
Alina keluar dari dalam mobil dan berjalan ke tempat Emilia.
"Alina!" Emilia tampak terkejut dengan kedatangan Alina sahabatnya yang secara tiba tiba.
"Emi." Alina langsung menghambur ke dalam pelukan gadis itu karena merasa kangen dengan sahabatnya itu. Ternyata dia sudah lama tidak pernah bertemu dengannya.
Emilia membawanya masuk dan mendudukkannya di sofa. Dia sendiri ikut duduk di sampingnya sambil merangkul bahunya. Alina tampak berkaca kaca.
"Hei ada apa? Kenapa kau datang tidak mengabariku. Kenapa kau menangis?" tanya Emilia secara beruntun.
Alina tersenyum sambil mengusap kedua pipinya. "Tidak apa apa. Aku hanya merasa kangen dengan mu. Lagi pula kita bertemu dua tahun terakhir sebelum aku akan melakukan ujian."
"Haha kukira kau sedang ada masalah. Jadi kau menangis." Emi langsung tertawa mendengar ucapan Alina yang konyol.
Alina meringis malu.
"Sudahlah, aku akan mengambilkanmu air." Emi langsung menenangkannya dan pergi ke dapur. Saat keluar ia hanya mengambil dua gelas air putih dengan sepiring kue camilan.
Alina setelah menangis tenggorokannya menjadi kering, ia langsung mengambil gelas dan meminumnya.
"Apa tujuanmu datang kemari. Ini tidak biasanya Alina yang ku kenal. Apakah kau memang ada masalah?"
Emilia menebak jika saat ini Alina sedang ada masalah. Seperti biasanya gadis itu akan datang ketika ia sedang ada sesuatu. Jadi ia akan mencari Emi.
"Sebenarnya tidak terlalu. Aku hanya merasa bosan berada dirumah sepanjang hari. Aku hanya butuh pekerjaan." Ucap Alina.
Emilia menepuk bahu Alina pelan. "Kau memiliki suami yang kaya. Buat apa kau butuh pekerjaan."