
Sejak perkataan dari sang mama mertua, Elle merasa sangat bersalah. Di satu sisi ia ingin menjadi seorang penulis dan di sisi lain ia tidak bisa memberikan apa yang diinginkan mama mertuanya.
Pagi ini, ia begitu tidak bersemangat meski Brian sudah mengatakan untuk tetap menunggunya. Tetapi batin seorang istri tetap saja tidak bisa acuh akan hal itu.
Elle sudah menyiapkan beberapa masakan di pagi hari. Brian segera turun dan duduk di kursi sebagai kepala keluarga, Elle memberikan sepotong sandwich di piring Brian.
Brian tidak mengatakan apa apa selain diam dan menikmati sarapan paginya. Setelah itu mereka pergi bersama sama ke kantor.
Hari ini sudah sebulan ia pergi bekerja di kantor Brian begitu juga pernikahannya yang sudah sebulan ia jalani.
"Hei El. Cemberut aja. Yuk makan siang." Ajak Nadia teman se'Divinya.
"Eh, sudah siang ya?" Ucap Elle yang langsung menilik jam di tangannya.
Teman sekantornya juga sudah menghilang, tinggal dirinya dan Nadia yang setia menunggunya yang masih berada di sana.
Elle segera bangkit dan kedunya berjalan bersampingan menuju lift.
Saat berada di kantin, Elle dan Nadia memesan makanan seperti soto. Nadia membulatkan mata.
"Elle, kamu juga suka dengan soto?" Tanya Nadia tak percaya.
Kepala Elle langsung menatap Nadia bingung.
"Maksudku, kau itu bule. Bukankah kamu lebih menyukai makanan luar, tapi kamu memilih soto." Lanjut Nadia menjelaskan.
Elle tertawa kecil, terus terang saja. Kepribadian Elle ini sama seperti bule, di tambah lagi penampilannya yang cuek dan rambut yang diwarnai biru. kesannya ia seperti bule bule pada umumnya.
"Aku memang dari luar negeri bertahun tahun, tapi aku juga adalah orang sini. bagaimana mungkin aku tidak menyukai soto. Aku justru merindukan makanan khas seperti ini."
Mendengar penuturan Elle, Nadia tercengang. Tapi itu hanya sesaat yang kemudian ia melanjutkan makan siangnya.
Setelah selesai, mereka kembali ke kantor melanjutkan pekerjaan mereka sebagai penerjemah.
Tiba tiba, ibu kepala divisi keluar dan mengumumkan bahwa, besok akan di adakan rapat. Dan rapat itu sepertinya menunjuk salah satu stafnya yang bisa menerjemah bahasa Asing.
Kemudian tatapannya beralih pada Elle yang malah suka melihat raut wajah teman temannya,
"Kamu!" Tunjuk kepala divisi kearah Elle.
Semua mata mengarah pada Elle, Elle merasa bingung lalu melihat sisi kepala divisi yang sedang menatapnya dengan tajam.
"Besok, kamu yang mewakili untuk penerjemah Mr, Damson." Ucap ibu kepala divisi.
Sejak tadi, ibu kepala divisi itu meminta para stafnya untuk maju sebagai penerjemah tapi tak ada satupun yang mau. Sementara Elle malah menggaruk tangannya hingga ke atas seperti bersedia.
Elle tercengang, dan semua kawan sedivisinya merasa tenang karena sudah ada perwakilan yang akan mewakilkan divisi mereka.
"Hah, Aku!" Elle menunjuk dirinya sendiri tak percaya. dan Kepala divisi itu mengangguk pasti.
"Baiklah, Divisi kita sudah ada yang menjadi sukrelawan. Sekarang kembali bekerja ke tempat masing masing. Dan kamu Ellena, ikut saya ke kantor." Ucap ibu kepala Divisi.
Semua teman sekantornya bergegas ke tempat kursinya sementara dirinya ikut masuk ke ruangan kepala divisi.
Setelah beberapa saat, Ellena keluar dengan wajah semakin cemberut dan lesu. Nadia segera menarik kursinya mendekati bangku Ellena.
"Hei, gimana?" Tanya Nadia penasaran dengan apa yang terjadi pada Ellena.
"Huh." Ellena menyeruakkan nafas panjang lalu memberikan berkas yang diberikan kepadanya.
"Wow, kapal pesiar!" Nadia menatap proposal itu dengan tak percaya satu tangannya menutup mulutnya.
Ellena mengangguk lesu.
"Hebat El, kau bisa pergi ke kapal pesiar. aku saja ingin tapi tidak bisa pergi." ucap Nadia.
"Kalau begitu, kamu saja yang pergi." ucap Ellena.
Nadia menggelengkan kepala dan meletakkan proposal itu kembali ke meja Ellena.
"Aku tidak bisa bahasa, kamu kan bule tentu sudah bisa banyak bahasa. ini kesempatan emas Elle, kapal pesiar itu tidak semua bisa masuk ke sana apalagi nanti akan bersama CEO yang tampan itu selama tiga hari. Aku saja tidak bisa membayangkan jika bertahan disisi CEO selama itu. pasti sangat menyenangkan." Ucap Nadia girang.
Mendengar kata Nadia barusan, ia langsung mengambil pulpen dan menjitak kepala Nadia dengan keras.
Nadia meringis kesakitan dan mengelus kepalanya yang terasa sakit.
"Ini tidak sebanding dengan CEO itu Nad, ini kerjaan berat." Ucap Elle lalu segera membuka layar komputernya.
"Ya, setidaknya bisa bersama Ceo itu el, kan ganteng." Nadia meringis cengengesan lalu kembali ke kubikelnya semula.
Tiga hari di kapal pesiar bersama CEO, itu akan sangat membosankan. meskipun Brian di hadapannya selalu lembut padanya tapi juga sangat menjengkelkan. Elle mendengkus lesu.