MY WIFE

MY WIFE
Bab Empat Belas



Saat jam 11 malam, Elle terbangun dari tidurnya. Matanya masih terlihat jelas membengkak karena seharian menangis. Gara gara Brian, ia sepertinya tidak mempunyai muka lagi untuk menghadapi Lukas.


Padahal Ia hampir berhasil, hasil tulisannya bakalan dia serahkan kepada Lukas. Si produser dari perusahaan E-Picture. Tapi sepertinya, sejak kejadian siang tadi pasti Lukas tidak akan menerimanya lagi.


Elle berjalan menuju dapur karena sejak siang ia belum makan apapun. Untung saja, kemarin ia mempunyai banyak stok di kulkas, dan ia langsung mengambil bahan dari kulkas dan memasaknya.


Brian yang baru saja sampai dirumahnya langsung masuk ke dalam rumah, kepalanya masih terasa pening jadi ia masuk ke dapur untuk minum air dingin.


Tapi ia melihat sosok Elle yang sedang asik dengan wajan dan kompor yang menyala. Langkah Brian semakin lebar agar sampai di dapur.


"Elle!" Lirih Brian.


Elle tidak segera menjawab, ia acuhkan pria menyebalkan itu karena masih sakit hati dengan Brian.


Brian seperti angin lalu yang diacuhkan oleh Elle, Brian segera menghampiri Elle setelah mengambil botol minuman dari kulkas lalu menenggaknya di samping Elle.


"Kamu masih marah?" Tanya Brian yang seraya menutup botol minuman.


Elle masih tidak menyahut, ia terus mengaduk makanan di wajan.


"Elle, aku bicara sama kamu." Ucap Brian.


Elle masih saja acuh, ia mengambil mangkuk yang tak jauh dari tempatnya tapi di sana ada Brian yang menghalanginya.


"Minggir!" Teriak Elle. Tapi Brian masih enggan untuk menyingkir, Ia malah menatap Elle dengan tatapannya yang dingin. Elle balas menatap Brian.


Brian menghela nafas panjang.


"Maafkan aku Elle, tapi bisakah kamu bicara sama aku," Ucap Brian.


Elle menahan emosinya lalu menghembuskan nafasnya pelan.


"Kamu tau Brian, aku sudah muak dengan kamu." Balas Elle lalu menatap brian tak kalah tajamnya.


Brian mengambilkan mangkok dan mengulurkannya kepada Elle. Elle memindahkan hasil masakannya ke mangkok dan berjalan ke meja makan. Brian bergegas ikut duduk di meja makan.


Elle mengambil dua piring dan mengambil nasi. Ia menaruhnya dihadapan Brian dan dirinya sendiri.


Hati Brian menghangat dengan sikap Elle yang meskipun marah masih tetap mengambilkan nasi untuknya.


Elle makan makanannya dengan diam, Tetapi Brian berbeda, ini seperti dihutan saja. Sepi. Sesekali Brian melirik ke arah istrinya masih terus saja diam. Sampai terakhir makanan itu habis, Elle masih saja diam lalu mengambil piring Brian yang juga sudah kosong dan membawanya ke wastafel.


"Baiklah El, kalau kamu tidak mau bicara sama aku lagi, malam ini aku akan pindah ke kamarmu." Ucap Brian.


"Tidak Brian!" Lirih Elle yang membuat langkah Brian berhenti, Ia tersenyum tipis lalu menyeringai.


"Kenapa? Apa yang kamu takutkan, kita sah suami istri. Dan besok kamu kembali bekerja di kantorku." Ucap Brian tegas seakan tak bisa di bantah.


Brian melangkahkan kakinya ke arah tangga, Elle hanya diam dan masih menatap punggung suaminya sampai menghilang dari pandangannya.


Elle menghembuskan nafasnya panjang, lalu menekan kran air dan memulai mencuci piring. Setelah selesai ia bergegas kekamarnya dan ia terpaku saat Brian sudah duduk di atas ranjangnya.


"Ke...kenapa kamu disini?" Tanya Elle dengan terbata.


"Kenapa? Pertanyaan itu sungguh konyol Elle. Bukankah kita suami istri dan memang seharusnya kita berada dalam satu kamar."Ucap Brian menyeringai.


"Aku mau mandi dulu Elle. Kuharap kamu jangan lari lagi." Ucap Brian seraya masuk ke dalam kamar mandi.


Elle berjalan pelan hingga ke sisi ranjang. Untung saja malam ini ia sudah berganti pakaian piyama panjang, ia memasang bantal dan guling di tengah supaya tangan Brian tidak akan menjamah kemana mana seperti malam dihotel setelah akad waktu itu.


Elle benar benar merinding. Meskipun ia sudah terbiasa hidup diluar negeri bukan berarti dia dapat di sentuh sembarangan orang. Elle membungkus tubuhnya dengan selimut hingga ke leher, bahkan tidak akan ada celah jika mata Brian bakalan menatapnya mesum.


Mata Elle masih terjaga, Apalagi siang tadi Brian begitu bringasnya menindihnya, tapi untung saja Brian masih mampu mengontrol emosinya. Yang dipikirkan Elle tidak terjadi. Tapi rasa sakit hatinya masih ada.


Mata Elle menoleh saat Brian keluar dari kamar mandi. Brian mengernyitkan alis dalam.


Sampai segitunya Elle melindungi dirinya, membungkus tubuhnya hingga rapat rapat. batin Brian.


Mata Elle tetap mengawasi pergerakan Brian yang membuka pintu lemari, Elle semakin heran, sejak kapan baju baju Brian sudah berada di sana. batin Elle.


Brian begitu santainya mengenakan pakaian di depan Elle, dan sialnya Elle masih tetap menatap tajam ke arah Brian.


Sampai Brian mengenakan celana training barulah Elle menyadari, Elle segera mengarahkan pandangannya ke arah tembok lain. Brian terkekeh pelan lalu segera naik ke atas ranjang.


Menyadari Brian sudah naik ke atas ranjang, Elle kembali menoleh. Untung saja pandangannya terhalang oleh bantal, jadi Wajah Elle tidak terlihat oleh Brian.


"Aku tau Elle, kamu menatapku. Lebih baik kamu tidur, dan lupakan kejadian hari ini." Ucap Brian datar seraya memejamkan matanya.


Elle menghembuskan nafasnya panjang, jantungnya juga sudah tak karuan.


"Tapi Elle...Maukah kamu maafkan aku?" Tiba Tiba Brian melongok di atas bantal pembatas yang dipasang Elle, sehingga mata Elle melotot sempurna.


"Bri...Brian.." Ucap Elle tergagap dengan mengeratkan selimutnya.


Brian semakin terkekeh melihat sikap Elle yang gerogi seperti itu, pipinya merona dan itu membuat Brian semakin Gemas melihatnya saja.


"Jadi...maafkan aku kan. Besok kamu harus ke kantor." Ucap Brian lagi.


Elle menghembuskan nafasnya panjang, demi apa menghadapi Brian yang menyebalkan ini.


"Tapi, Brian aku tidak sesuai dengan bidang yang kamu berikan itu. Aku ini penulis bukan penerjemah, mana bisa aku bekerja di kantor kamu itu." Balas Elle.


Brian menyadari dengan bahasa yang digunakan Elle, tiba tiba Perasaan Brian semakin bahagia. Sepertinya Elle merubah sikapnya dengan bahasa yang lebih baik. Perubahan yang bagus. Batin Brian.


"Tidak apa, kamu bisa belajar Elle. pelan pelan, kamu bisa di bidang bahasa inggris dan selebihnya kamu bisa belajar bahasa negara lain dengan teman sekerja kamu." Balas Brian lalu kembali merebah di bantalnya.


"Terlalu sulit Bri, Aku gak mau belajar di bidang itu. Tujuanku adalah seorang penulis terkenal mana bisa otakku bekerja di bidang lainnya." Sahut Elle.


"Jika itu tujuanmu, aku bisa membantumu." Sahut Brian datar.


"Beneran Bri." Kini kepala Elle yang melongok menatap Brian.


Brian menoleh membalas tatapan Elle dan tersenyum manis.


Sumpah demi apa? Elle dapat melihat senyuman manis Brian, dan itu membuat dirinya semakin terpesona. apalagi tatapan itu begitu lembut dan tulus membuat Elle semakin jatuh.


Brian mengangguk, kemudian mengulurkan satu tangannya dan mengelus pucuk kepala Elle.


"Sudah malam, buruan tidur. Besok kerja. aku gak mau kesiangan berangkat ke kantor." Ucap Brian. Elle mengangguk dan segera merebah di bantalnya sendiri dan memejamkan mata.