My Prince Is Mr. CEO

My Prince Is Mr. CEO
Episode 6~~~ jalan-jalan (2)



Kami sampai juga di bioskop. disana sangat ramai. begitu kami sampai di sana, kami telah disambut oleh antrian yang super duber panjangnya.


Hah!! antriannya panjang amat seperti kereta api. ucapku dalam hati.


Karena aku dan ardian ingin menonton film horor terbaru, maka kami terpaksa harus ikut mengantri untuk membeli tiketnya. Yang benar saja, menunggu dalam mengantri itu hal yang sangat-sangat super membosankan buatku. yang aku takutkan adalah pas giliran kami untuk membeli tiket, terus tiketnya habis. dan waktu yang kami habiskan untuk mengantri itu jadi mubazir.


Hah.... pikiranku tolong...! Teriakku dalam hati keras.


"Dian dian, kita sebaiknya gak nonton di bioskop deh" tegurku untuk ardian.


Hah kok dia gak jawab teguranku sih? apa dia agak budeg?, bicara ku dalam hati.


"Dian dian.. ayo kita pergi saja, aku bisa bosan disini" ucapku.


Kan, dia memang budeg. sabar... sabar. hanifah kamu itu harus sabar menghadapi cowok budeg kayak dia. ujarku untuk diriku sendiri.


Hah.. kayaknya Ardian itu terlalu fokus ya dengan antriannya, sampai-sampai aku bicara tak didengar.


"Dian dian.." amarahku yang sekiranya masih 50%


"Dian dian.." sepertinya amaraku menaik jadi 75%


"Dian dian.." amarahku memucak serasa mau meletus (100%).


Plak!!


tanpa sengaja aku memukul kapalanya Ardian kebawah dengan keras.


Aduh.. kebiasaanku mulai kumat, habislah aku. takutku dalam hati.


"Kamu!!" teriak Ardian lalu memegang kepalanya.


Mereka semuanya yang lagi antrian melihat kearah kami, termasuk mbak-mbak penjual tiketnya. sepertinya aku telah membuat diriku dan Ardian malu secara gratis.


mereka semua melihat kami dengan tatapan aneh, lalu tertawa.


"Haha.. suara pukulan apa tadi itu?"


"Wanita itu berani sekali ya memukul kepala cowok ganteng itu mending cowoknya untuk aku saja"


" Dasar cowok lemah, kok mau aja dipukul cewek"


"Cewek gila ya kamu, haha.."


dan sebagainya. ucapan-ucapan mereka itu tidak baik sekali. sebaiknya aku ajak Ardian pergi dari sini atau tidak ucapan-ucapan mereka itu akan merajalela. tapi aku rasanya tidak puas kalau tidak membalas ucapan mereka. baiklah, aku akan balas ucapan mereka!


"Hey!! bisa diam gak kalian semua, jangan suka ikut campur urusan saya kenapa!! kalian semua banyak omong kosong!!" Teriakku keras.


"Hey bocah!! jaga mulut!!"


"Dasar anak jaman sekarang!"


"Tidak biadap"


"Sudah jelek, marah-marah lagi"


"Tidak tahu malu!!"


"Gila, wanita gila!!"


Hah.. salahku.. kebiasaan ku ini.


Dan tiba-tiba datanglah dua orang satpam untuk mengusir kami, yap mengusir kamu dengan kasar tentunya.


Setelah aku dan Ardian diusir dari bioskop, kami kembali ke mobil.


"Ardian aku minta maaf ya karna sudah buat malu kamu di bioskop" jujurku.


"Kamu kenapa memukul kepalaku tadi? sakit tau rasanya, mana kamu memukul kepalaku dengan keras lagi. untung tidak berdara"


sepertinya Ardian marah besar kepadaku.


"Aku memukul kepala kamu karena salah kamu juga kan."


"Salahku? salah apa? kan kamu tanpa sebab langsung memukul kepalaku!"


"Ya salah kamulah! kamu itu ku panggil-panggil gak dengar-dengar. karna kesabaran ku habis langsung kupukul aja kepalamu. mana tau sudah ku pukul langsung gak jadi budeg" sedikit candaku keluar.


"Apanya yang gak dengar? aku dengar, kukira kamu berbicara dengan orang dibelakangmu. jadi ya, aku diam saja"


"Orang dibelakangku? aku tidak berbicara dengan orang dibelakangku? kan aku panggil kamu 'dian-dian' itu panggilan untuk kamu."


"Haa wajar aku tidak menjawabmu, kamu memanggilku dengan sebutan 'dian dian'. kukira 'dian dian' itu nama orang lain, nah taunya itu sebutan baru untukku." Ardian menggaruk-garuk kepalanya.


"Ya intinya aku minta maaf. aku salah" ujarku sedikit kesal.


"Tapi ya, kenapa kamu harus memukul kepalaku sih? kan bisa pukul tangan atau cubit perut."


" Ah itu, karena kebiasaan aku sih. haha"


"Karna kebiasaan kamu itu kita jadi dapat malu secara gratis. nah sekarang kita tidak bisa menonton film horornya." Ardian mulai menyertirkan mobilnya.


Disepanjang jalan dia eh maksudnya Ardian mengocehiku. dia berkata 'makanya kebiasaan kamu tuh diperhatiin kan jadi bla bla bla. dan bla bla bla......'. dia ibarat sudah seperti ibuku aja yang selalu mengocehiku dirumah kalau aku malas.