
"Hey.. kenapa manajer ingin bertemu kamu?"
"Itu, mungkin karena manajer sering melihatku makan disini. dan mungkin saja manajer nya mau kasih kupon.. hahahh" Ujar Ardian.
Tak lama kemudian pelayan datang sambil membawa pesanan kami lalu menghidangkannya didepan kami dan pelayan itu menata rapi sendok garpunya agar terlihat cantik.
Setelah pelayan pergi.. aku hanya memandangi kepitingnya saja.
"Hm.."
"Kau tidak memakannya ya?"
"Aku mau memakannya hanya saja aku tidak tau cara memakannya saja." Kata Hanifah melirik makanannya.
"Sini aku bantuin" Ucap Ardian.
Ardian pun mulai mendekat kearah ku. Ia pun mulai duduk dibelakang ku lalu tangan kanan dan kirinya langsung memegang tanganku.
"Oh! Hey!!" Seru ku.
"Apa??"
"Bisakah kamu jangan seperti ini!" Kataku marah.
"Apanya?"
"Itu loh.. tangan kamu dan juga kenapa kamu harus dibelakangku sih?! kan aku bisa malu kalau ada yang lihat!"
"Ini agar lebih mudah untuk mengajarimu. Lagian ngapain kamu malu?"
"Perg, pergi dari belakangku!" Ucapku kepadanya sambil sambil mendorongnya menggunakan kedua tanganku.
"Ya.. ya.."
"Adegan tadi jadi ingat drama yang pernah aku nonton, kan.. aku jadi blushing.." Ucapku dalam hati sambil memandang sinis Ardian.
"Aku minta maaf ya. Dan, kenapa wajahmu jadi merah? apakah kamu sedang demam?" Dia tiba-tiba merasakan keningku.
---Blushing--- "hancur sudah.. kenapa perasaanku jadi begini sih?" ucapku dalam hati.
Kemudian aku menyingkirkan tangannya dari keningku "Ah.. wajahku merah karna udaranya panas. Sudah-sudah aku akan melihat kamu bagaimana cara memakan kepiting ini"
Lalu aku pun melihat cara ia memakan kepitingnya. tak lama kemudian, aku dan dia pun selesai memakan makanan kami. lalu tiba-tiba ia pergi menemui manajer restoran itu.
Awalnya aku pikir gak apa-apa sih dan kukira dia pergi tidak lama. sekalinya... dia pergi menemui manajernya lama sekali.
karna aku kesal dan bosan jadi aku pergi meninggalkan pondok itu lalu berjalan menuju pintu.
aku hanya melihat-lihat sekeliling mana tau ada dia ya kan. tapi, aku malah mendengarkan kata-kata busuk pelayan-pelayan restoran itu.
(percakapan pelayan yang didengar Hanifah)
"Eh.. kamu tau gak tadi?"
"Hah? tau apa?"
"Tadi aku ada lihat tuan Ardian, huwaaa"
"Wah.. pasti ganteng sekali kan? uwaa"
"Iya dia ganteng banget tadi apa lagi dia pakai jaket impor lagi.. luluh hati.."
"Wah... huwaaa"
"Tapi sayangnya tuan Ardian membawa wanita jelek disampingnya"
"Serius? ih.. kalau aku lihat wanita itu aku pasti akan bully dia, hahah"
"Cukup sudah kesabaranku!!" ujar kesalku dalam hati.
"HEY!!! BISAKAH KALIAN MEMBICARAKAN ORANG SEPERTI ITU KALAU ADA ORANGNYA!!! KALIAN BERDUA HANYA BISA MEMBULLY ORANG DARI BELAKANGNYA SAJA!!!" Ku menaikkan nada bicaraku ini.
"Eh?!! BERANINYA KAMU MEMARAHI KAMI!!!!"
"Satpam!!!"
"Iya?" ucap satpam.
"Tolong usir wanita ini!"
Kemudian satpam itu mulai menangkap tanganku. Mungkin satpam itu pikir bahwa aku tidak bisa apa-apa kalau tanganku ditangkap. Tapi... sebenarnya salah besar kalau satpam itu pikir dengan menangkap tanganku, aku tidak bisa apa-apa. karna aku.. bisa bela diriku tau!!!
"Heh!" ucapku meremehkan satpam itu dengan mengernyitkan mata lalu manatap tangan kananku yang telah ditangkap oleh satpam itu.
Aku hanya menundukkan kepala, lalu aku mulai melompat kebelakang satpam itu, kemudianlah satpam itu melepaskan tanganku dari dia.
"Hah!! dia bisa salto?!" ujar kedua pelayan itu kepadaku.
"Heh.. aku bukan wanita lemah tau!!"
Satpam itu mengepal tinju dari tangan kirinya.
Kalau hanya begitu, aku bisa mengelaknya! teriak barinku.
"HENTIKAN!!!"
"Hah!! ma-manjer.." kedua pelayan itu tiba-tiba berwajah pucat seperti mayat hidup.
"Eh itu? itu dia si Ardian!!" Grutuku dalam hati.
"Hanifah!" ardian kemudian menarik tanganku.
"Eh?!"
"Apa kamu tidak apa-apa?" Ardian menatapku cemas.
"Apa aku terlihat baik-baik saja?!"
"Hm.. kau terlihat baik-baik saja sih" Ardian kemudian membalikkan badannya.
"Hahf.. sungguh pria yang tidak peka.." ujarku dalam hati.
"Ardian.. maaf atas semua kekacauan ini." ujar manajer itu kepadanya.
"Ah.. tidak apa-apa. sebaiknya aku pergi dulu ya"
"Hm.. ya.." seyum sinis manajer kepadanya.
Ardian mengambil tanganku untuk keluar restoran. Aku hanya menatapnya saja dengan sinis.
(Diluar restoran...)
"Ada apa dengan pandanganmu kepadaku?? apa ada aku salah?" Tanya Ardian.
"Iya.. kamu salah!"
"Salah? salah apa?"
"Ah.. sudahlah jangan dibahas lagi yang tadi. ayo kita pulang saja" Ujarku pergi meninggalkan dia.
"Hm..."
Ardian lalu membukakan pintu untukku mobilnya untukku. Aku pun masuk kedalam mobilnya itu.
Tak lama dari itu Ardian mengantarkanku pulang kerumah.
Saat dia mengantarkanku kerumah, dia hanya diam tak berbicara. Aku sempat bingung kenapa dia seperti itu. Tapi kenapa aku harus memikirkan itu, aku kan juga bukan siapanya dia...
Keesokan harinya..
Seperti biasa aku bangun dari tempat tidurku secara tepat waktu, lalu mandi dan makan tepat waktu.
meong..meong...
"Hah?"
Kenapa aku merasa seperti mencium bau-bau kotoran kucing?? Apa jangan-jangan?!! Kucing ini!! seru batinku.
"Hey! Kamu!!! Awas kamu Rai!!!!!" Teriakku kepada kucingku bernama Rai.
Bodoh gak sih aku ini? Kok marah sama kucing yang tidak punya pikiran. Hah.. hidup ini memang sangat melelahkan.
Aku kemudian membersihkan kotoran kucingku, lalu mengepel rumahku agar harum. setelah mengepel rumah, aku kelelahan. rasanya aku ingin tidur lagi. aku pun kemudian tidur kembali.
•••••
"Hanifah!! Awas!!" Teriak seorang laki-laki yg memanggil namaku begitu keras.
"Hah!" Tanpa aku sadari, seseorang menusuk punggungku lalu menembus perutku menggunakan pisau tajam "Ark!" Teriak sakitku. lalu seseorang dibelakangku menarik kembali pisau itu dari punggungku kemudian pergi. aku terjatuh ke lantai dengan darah yang mengalir deras di bajuku yang berwarna putih. didepan ku ada seseorang laki-laki yang berlari ke arah ku lalu merobekkan lengan bajunya untuk menutupi pendarahan pada perutku. laki-laki itu lalu mengambil kepalaku lalu membaringkan ke atas pahanya itu. dia menangis histeris melihatku yang berlumuran darah dari perutku dan juga punggungku. dia berkata "Ini aku, ini aku. aku sudah kembali, kumohon jangan tinggalkan aku, aku mohon...".
kemudian nafasku mulai sedikit demi sedikit melemah dan juga pandanganku hampir memudar karena itu aku sulit untuk melihat wajah laki-laki itu. laki laki menangis lalu memelukku. dan dia berkata lagi "Kamu pernah berjanji padaku bahwa tidak akan pernah meninggalkanku, jadi aku harap kamu tak meninggalkanku"
.
.
"HAH!!! HAH!! HAH..." Sentak aku terbangun.
"Apakah tadi mimpi? Tapi tak mungkin terasa nyata sekali."
Ahh ini hanya mimpi, jadi tidak mungkin nyata.
Aku melihat-lihat bagian tubuhku yang terluka tadi, mencubit tanganku dan menampar pipiku.
"Benar. itu hanya mimpi. untung saja itu mimpi"
"Tapi.. laki-laki di dalam mimpiku itu.. kenapa, kenapa dia begitu sedih? apakah karena aku mempunyai hubungan yang dekat dengannya? atau ada hal lain?" Ujarku menggaruk-garuk kepala.