
"Ardian.. kamu gak mampir dulu ya?"
"Gak lah. Kayaknya aku ada urusan nih. jadi kayaknya aku pamit dulu."
"ok"
Setelah itu Hanifa mulai membuka pintu rumahnya, lalu adiknya langsung memeluk sambil menangis.
"Kakak.. kak.." Ucap adik Hanifah menangis kepada hanifah sambil berlari dan langsung memeluk Hanifah.
"Eh.. ada apa?" Ucap hanifa kepada adiknya.
"Ayah kak.."
"Ayah??" kata Hanifa bingung.
"Ayah telah meninggal kak..."
"Hah?!" hanifah sambil menangis.
Dan setelah itu pihak rumah sakit mengantar mayat kerumah kami pada hari itu juga. Keesokan harinya, Ayah dikubur.
6 bulan berlalu, Ibu sepertinya sudah ada pengganti ayah. Karna dalam 3 bulan terakhir ibu telah berpacaran dengan seorang laki-laki duda kaya yang tak mempunyai anak sama sekali. aku memanggilnya dengan sebutan paman, dan 6 bulan ini tepatnya ibu dan paman itu menikah secara mewah. Lalu esoknya, ibu pergi dari rumah untuk tinggal dirumah paman tersebut. ibu sempat mengajakku dan adikku untuk ikut, adikku mau ikut. kalau aku tidak, karna kupikir aku lebih baik untuk tinggal dirumah lamaku daripada dirumah paman itu walaupun aku sendirian.
Flashback...
Hari khamis..
"Panas sekali didalam rumah ini. Mungkin aku sebaiknya membuka pintu luar agar dingin kali ya??" Hanifah pun mulai membukakan pintu depannya lalu ia duduk didepan kursi tamunya.
"ah.. mana aku lapar lagi. Mana tau di kulkas ada makanan yg bisa aku buat. Tapi... baru sadar aku kalau makanan di kulkas itu sudah habis. Hah.. sialnya hidupku ini.." Sambil menggaruk-garuk kepalanya.
Sepertinya aku harus belanja bulanan nih. Sebaiknya aku meminta kepada ibu, agar mengirim uang belanja bulanan kepada ibu. Batinku. Hanifah mengambil HPnya lalu mulai mengirimkan sms kepada ibunya.
"Akhirnya sudah terkirim, tinggal nunggu diread aja"
"Meong... Meong.."
"Hee.. kucing? kok bisa ada kucing disini? Kucing Persia lagi nih."
"Iya, aku yang bawakan kamu kucing ini untuk menjadi teman kamu dirumah" Ujar ardian didepan pintu.
"Ei?"
"Hm??"
"Gak jadi"
"Oh.."
Rzzxk suara perut hanifa.
"A... apa kamu lapar ya?"
Sudah tau itu bunyi lapar kok masih ditanya sih, Batin Hanifah. "Ya.. aku lapar"
" mau makan di luar dengan ku?"
"Eh.."
"Tak punya uang? aman.. aku ada" Membanggakan diri.
"Ok, ok. tapi kita makan dimana??"
"Bagaimana kalau makan di 'Angel of Secret'?"
"Wah.. itukan restoran bintang 5. dan lagipun restorannya kan jauh."
"tenang.. aku ada mobil, mau atau tidak nih?"
"mau.. aku ganti baju dulu. jangan ngintip dan jangan maling ya"
"he?! siapa juga yg mau maling dan ngintip kamu nanti aku jadi bintitan gara-gara itu."
"kan mana tau kamu mau ngintip"
"makanya kalau kamu takut aku ngintip kamu ganti baju, tutup pintu, tutup jendela kalau bisa kunci.."
"yaudahlah aku mau ganti.."
"ya.. ya"
Skip setelah ganti baju...
"cantik gak penampilan ku?" tanya Hanifah kepada ardian sambil senyum-senyum.
"wah.. biasa aja" jawab ardian sambil blus.
"yang benar?"
"iya benar, biasa aja. aku kita pergi" ujar ardian sambil menarik tangan Hanifah keluar rumah.
"bentar. aku kunci rumah dulu"
"aku tunggu didalam mobil ya.."
"ya.." sambil melihat mobil milik ardian didepan halaman rumahnya.
Aku kok curiga ya?? apakah dia seorang pemuda kaya? mobilnya aja kayak mobil artis-artis gitu. tapi kalau dari penampilannya dia macam orang yang sederhana.. sepertinya dia tidak mungkin seorang pemuda kaya. mungkin hanya perasaanku aja kali. Batin hanifa.
.........
"Akhirnya selesai juga mengunci pintu rumah. kayaknya kunci ini sedikit berkarat makanya agak susah mengunci pintu." sambil melihat-lihat kunci rumahnya.
"Hei.. cepat.. aku sudah menunggumu dari tadi."
"Hah! ok ok.." sambil membuka pintu mobil. Setelah masuk kedalam mobil lalu menutup pintu mobilnya.
"Hei.. kok kamu lama sekali sih?"
"oh.. ini kuncinya, berkarat jadi agak susah mengunci pintunya."
"yaudah nanti beli baru aja"
"bulan depan aja lah aku belinya. nunggu ibuku beri uang saku bulanan."
"apanya yg ada?"
"uanglah lagi"
"aku gak suka ngebebani orang. kalau bulan depan aku ada uang untuk beli kunci yang baru, buat apa ngebebani orang"
"betul juga sih. yaudah gak usah dibahas lagi. ayo kita pergi."
anehnya dia selalu ngerasa punya banyak uang, tapi dari gayanya gak mencerminkan seorang pemuda yg kaya, ujar Hanifa dalam hati..
Dengan percakapan kami tadi, lalu dia pun menyalakan mobilnya lalu memutarkan mobilnya pergi ke restoran bintang 5 itu.
saat ditengah jalan, aku hanya memandangi pinggir jalan melalui kaca mobilnya saja. sedangkan dia, sangat fokus melihat kedepan saat mengemudi. kupikir bagus juga kalau dia fokus saat mengemudi, tapi saat dia fokus melihat kedepan dia sama sekali tak senyum, ia tampak seperti meperlihatkan wajah sedihnya.
Ardian.. rambutnya coklat tua bagaikan coklat beku, matanya juga coklat, hidungnya mancung, bibirnya yang tipis bagaikan aktor yang siap mencium pasangan pemainnya. memikirkan ini saja sudah membuatku geli dan juga tak percaya. karna, kok bisa sih ada pria yang mau berteman dengan aku? aku kan jelek, gak terlalu cantik juga, kok bisa ya? mungkin faktor nasib kali ya. kadang mereka yang cantik juga nasibnya tak begitu bagus. berarti.. aku termasuk nasib yang beruntung ya!. Batinku.
"Hey Hanifah!"
"Apa?" ucapku kesal.
"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri? kamu gila ya?" ucap dia santai.
"Heh? itu karna.. aku melihat ada yang lucu ada di jalan tadi, hahah.." kataku gugup.
"Yakah? kok aku gak kelihatan ya? padahal aku lagi mengendarai mobil loh"
"Kamu kan ngendarai mobil fokus ke arah depan aja, bukan ke arah samping" ujarku sambil mengejek.
"Hm.." ardian tiba-tiba memberhentikan mobilnya lalu menghadapku "aku, mau bilang sesuatu."
"Bilang apa?"
"Aku mungkin hanya punya waktu 3 bulan lagi disini dan setelah itu mungkin, sepertinya kita tak bisa bertemu lagi"
"Emangnya, ada apa?"
"Tidak apa-apa. aku hanya memberitahumu saja agar kamu tidak rindu" ujarnya sambil menyalakan kembali mobilnya.
"Hah? apa aku gak salah dengar tu? rindu? sepertinya belum ada kata itu dikamus ku kalau untuk seorang pria" kataku sambil ketawa girang.
"Yaudah. yang penting aku telah memberitahukannya kepada mu."
"Ya ya.."
Dia lalu menjalankan mobilnya untuk melanjutkan perjalanan itu.
Lalu hujan turun deras. Saat itu juga aku merasa mengantuk sekali, ngantuk sekali. aku bahkan hampir tidak bisa membuka mataku.
Dan... entah apa yang terjadi aku tidak tau. lalu aku terbangun, tepat dihadapanku adalah dia (ardian)
"Enak tidurnya??"
"Eih.. kenapa kamu ada didepan hadapanku? minggir. apakah kita sudah sampai?"
"Sudah. hanya saja karna kamu tidur didalam mobilku, aku tak bisa meninggalkan sendiri didalam mobilku. jadi aku tungguin kamu sampai bangun"
"Heh.. ayo kita keluar"
Dan aku pun, keluar dari mobilnya lalu memandangi restoran tersebut.
Ardian tiba-tiba menarik tanganku "Ayo cepat. kamu lapar kan tadi? ayo.. jangan melamun aja"
"Ah.. iya"
Begitu sampai.. banyak karyawan yang menyapa Ardian, tapi aku tidak. Mungkin saja ardian sudah pernah beberapa kali makan di restoran ini jadi makanya mereka mengenal Ardian.
Lalu...
Ardian pun memilih tempat untuk makan kami yang spesial. Tempat untuk makan kami itu ada jauh di dalam restoran itu, tepatnya taman dibelakang restoran itu.
Taman itu dikelilingi oleh bunga-bunga dan tempat makan kami ada didalam Gazebo (tempat seperti pondok).
Kemudianlah aku masuk kedalam Gazebo itu. Ternyata dibelakang gazebo itu ada kolam ikan mas beserta air mancurnya.
Aku duduk diatas bantal lalu memandangi kolam itu "Wah.. indahnya."
"Indah seperti kamu"
"Ah.. bucin.. Bagus sih kolam nya"
"Yalah.. siapa dulu yang memilih tempat ini.. aku kan" kata Ardian.
Tak lama kemudian para karyawan datang lalu membawakan daftar menu makanannya kepada kami.
"Kamu pilih yang mana?" Kata Ardian.
"Aku belum tau. sepertinya daftar menunya membuatku bingung. Ardian, kamu mau pesan yang mana?"
"Sepertinya aku pesan kepiting saos tiram dan es teh"
"Oklah. aku ikut kamu aja"
"Yakin kamu ikut aku? nanti gak enak makanannya di kamu"
"Pasti enak lah"
"Ok. Mbak, kami pesan kepiting saos tiramnya 2 dan es tehnya 2"
"Baik." kata karyawan itu "Btw, manajer mencari kamu Ardian"
Ardian sempat mengodekan kode mata agar tidak berbicara terlalu jauh kepada karyawan itu.
Karyawan itu tersentak lalu tersenyum tipis "Saya membuat pesanan ini. permisi"
Hanifah hanya melihat tingkah laku karyawan itu.
"Hey.. kenapa manajer ingin bertemu kamu?"
To Be Continued...
Beri saran dan kritik ya.. agar lebih baik kedepannya..