My love belongs to you

My love belongs to you
IX



Student's Hostel


Zoya yakin akan keputusannya yang telah ia tetapkan kepada Anggara. Setidaknya dia mau berusaha terlebih dahulu, baru Zoya melihat kedepannya seperti apa. Dia tak jadi mengatakan untuk menolak perasaan Anggara karena sulit melontarkan semua kalimat penolakan yang ingin dikatakannya melainkan pernyataan akan berusaha untuk menerima hati Anggara. Itu lebih baik karena dia teringat kata Zaza akan suatu hal.


"Zoy, biarlah dia pernah menetap di hati kau, dulu, mungkin tidak untuk sekarang atau kedepannya. Cobalah menerima hati seseorang yang berusaha untuk kau. Pahami hatinya, pasti akan mendapatkan apa yang kau inginkan, jika tidak mendapatkan, setidaknya kau telah mencoba."


"Jalani Zoya. Waktu akan terus berjalan. Kau tidak tahu kedepannya seperti apa tetapi setidaknya kau telah berjalan sesuai alurnya."


"Lagi pula, Gara ganteng. Hihihi," kata Zoya cekikikan membayangkan perdebatan konyolnya ketika selalu berada disekitar Anggara.


Zoya harus berangkat ke Indonesia besok, dia mengambil penerbangan pagi ke Jakarta. Zeze sudah tidak sabaran akan halnya untuk dia datang ke acara pernikahannya dan tentu Zaza sahabatnya yang satu lagi rasanya sudah seperti ingin membunuh Zoya jika tidak jadi berangkat ke Jakarta. Ya, Zaza sangat merindukan Zoya begitu juga sebaliknya.


Zoya pun mempersiapkan segala keperluannya selama berada di Jakarta. Dia berencana lima hari disana. Itu juga karena paksaan dari Zeze. Zoya memiliki cukup tabungan untuk bepergian.


"Semuanya udah clear. Tinggal istirahat, deh," ucapnya menaruh koper disamping lemarinya lalu beranjak untuk tidur.


°°°


Bandara


Zoya menyumpalkan earphone, mulutnya komat-komit bernyanyi mengikuti alunan musik, menghentakkan kaki layaknya sangat paham baik setiap dentuman musik yang didengarnya seperti mewakili perasaan Zoya saat ini. Zoya sekarang sudah berada di bandara, tinggal menunggu keberangkatannya.


Zaza is calling ...


Zaza menghubunginya, di otak cerdik Zoya terlintas untuk mengerjai Zaza, sekali-kali tidak apa-apa untuk menjaili Zaza.


"Halo, Za. Maaf, aku enggak jadi berangkat ke Indo."


"Lebih tepatnya Jakarta," ujar Zoya dengan nada sedih. Zaza tidak tahu Zoya sudah menahan diri agar tidak tertawa mendengar semprotan maut Zaza.


"Lah lu nggak asik banget sih jadi orang," jawab Zaza dengan bahasa gaul Jakarta.


"Gak usah bacot deh, Zoy, lu lagi ngerjain gua kan?"


"Dih, pede gila mau ngerjain lu," jawab Zoya dengan gaya bahasa yang sama.


"Songong banget, sih, lu."


"Ngikut-ngikut gua."


"Gak cocok lu ngomong gitu," semprot Zaza yang membuat Zoya cekikikan sambil geleng-geleng kepala. Tak habis pikir, mereka selalu berdebat, mereka tak pernah saling akur satu sama lain. Ketika mereka bertemu seakan wujud asli mereka ketahuan satu sama lain. Zaza dengan sifat yang tak mau kalah, suka ngotot, cerewet, terkadang centil dan songongnya enggak ketulungan.


"Iyain, saja deh yang waras mah ngalah," ucap Zoya.


"Situ kan enggak waras," tambahnya lagi.


"Sebelumnya mohon maaf, ya, Nona dengan siapakah saya berbicara saat ini karena saya tidak dapat menerima panggilan yang tidak dikenal apalagi dengan mengatai saya, itu sangat tidak sopan, asal anda tahu?" ujar Zoya bersamaan dengan tawaan gelak tak tertahan mendengar jeritan Zaza.


Zoya tak pungkiri, di sekitar Zoya terheran-heran melihatnya mungkin dipikiran cantik mereka Zoya gila. Zoya langsung mematikan panggilan sebelum orang-orang makin aneh melihat Zoya dan dengan segera Zoya mengirim pesan ke Zaza.


Zaza : Za, jemput gue di Bandara jam 11!


°°°


Indonesia


Akhirnya Zoya menginjakkan kaki kembali ke negara tercintanya Indonesia. Sebelumnya, Zoya mengambil keputusan selama kuliah Zoya tidak akan balik ke Indonesia sampai dia tamat. Semata-mata untuk menjernihkan pikiran Zoya, maksud Zoya untuk melupakan tetapi nasi sudah menjadi bubur, Zoya tak dapat menolak permintaan Zeze.


Zoya berjalan layaknya model dengan memakai sweater kebesaran berwarna mastard dimasukan ke jeans rok dan tak lupa sepatu boots cokelatnya. O, satu hal lagi yang tak lupa koper kesayangan yang digeretnya yaitu warna kuning.


Zoya sangat manis menurut keluarganya, sahabatnya dan tentu dirinya. Dia tidak suka dibilang cantik. Menurut Zoya kalau cantik itu bosan dilihat, kalau manis enak dipandang tetapi semua perempuan cantik dan manis tergantung siapa yang melihatnya.


So whatever it is you girl. Love yourself.


Dan kalian bayangkan di usia Zoya yang sudah menginjak kepala dua, dia sama sekali belum pernah pacaran.


Dan cobaan terberatnya adalah teman-temannya mengatakan kalau Zoya belok dengan mengejek dan mengatainya agar segera diperiksa. Disaat teman-temannya sudah ingin mengikat hubungan satu sama lain sedangkan Zoya masih belum bertemu dengan Pangerannya.


Untuk persoalan pacaran, Zoya tidak terlalu berpikir ke arah situ. Usia Zoya juga sudah tidak dapat dikatakan masih muda. Eh, tetapi masih muda juga, 22 tahun. Wajar juga ingin berpacaran, tetapi Zoya hanya mau mencintai seseorang yang mencintai dirinya juga.


Tidak termasuk Anggara, ya. Anggara tidak pernah menembak Zoya sama sekali jadi, mereka tak berpacaran. Zoya pikir Anggara berkomitmen akan ucapannya dan lalu mengenai Zoya apakah Zoya berkomitmen juga, jawabannya adalah hanya berusaha.


°°°


"Zoyaaaa," teriak seseorang sambil berlari kearah Zoya. Lihatlah seseorang yang tengah berlari kearah Zoya, umurnya sudah tidak dikatakan muda lagi. Dia seperti anak kecil saja, berteriak memanggil nama Zoya dengan tidak tahu malunya.


Zoya mendesah kesal melihat tingkah Zaza. Dasar Zaza untung saja dia sahabat Zoya kalau tidak sudah Zoya buang ke Antartika.


"Ngos-ngosan gua," ujarnya sambil mengambil tubuh Zoya supaya bisa didekapnya.


"Malu gua sumpah. Enyah deh lu dari sini," kata Zoya sambil menjauhkan Zaza dari jangkauannya.


"Empet gua lihat lu," tambahnya lagi.


Sedangkan Zaza membelalak mendengar Zoya berkata seperti itu. Zaza mulai meneteskan air matanya. Dia tak tahan seperti ini. Inilah kelemahannya yaitu bersama orang yang disayanginya.


"Hiks, hiks, elu gak rindu sama gua?" tanya Zaza sambil menghapus air mata.


"Fake tau gak?"


"Huaaaaa! Zoya, aku rindu sama kau, kok jahat banget sih ngomongnya gitu, kasar kali kau, aku enggak suka," kata Zaza sambil menyeka air mata dengan menatap tajam ke Zoya, sedangkan yang ditatap malah mengedikkan bahu acuh.


1... 2 ... 3


Sembur Zoya tergelak ketawa melihat tingkah Zaza. Bagaimana tidak ketawa, lihatlah sekarang penampilan Zaza seperti anak kehilangan, ingus sudah meler dan baju sudah kusut.


"Buahaahaha." Ketawa Zoya kuat tak tertahan sambil mengambil momen seperti ini dengan memotret Zaza, jarang-jarang dia dapat menjaili Zaza seperti ini, sedangkan Zaza mencebik kesal, dia sekarang sudah menjadi tontonan orang yang berlalu lalang.


"Sini, aku peluk."


"Baby, come on," ujar Zoya sambil merentangkan tangan ke Zaza.


"Aku rinduuuu sanggattt. Miss you so much little sister," ujar Zaza menerima uluran tangan Zoya penuh semangat. Zoya pun menepuk-nepuk pundak Zaza agar menenangkan Zaza karena habis menangis.


"Udah dong, maafin gue ya," ucap Zoya sambil melepaskan pelukan, sedangkan yang dipeluk enggan untuk melepaskan.


"Za, nanti lagi, deh, pelukannya. Diliatin orang, nih. Malu gue," ucap Zoya yang berhasil membuat Zaza melepaskan pelukan kami.


"Ck! dasar! jadi elu malu gitu? Dah, ah, jadi luntur make up gue," katanya sambil memukul lengan Zoya dan mengambil ponsel untuk melihat riasannnya.


"Udah, yuk. Gue laper, nih," kata Zoya menarik tangan Zaza.


"Za, enggak lucu kan gue pakek bahasa gue lu?"


"B aja," jawabnya datar sambil mengamit lengan Zoya sepertinya dia sangat rindu dengan Zoya.


"Mampus, lupa gue," ujarnya sambil memukul jidat mulusnya.


Aku menoleh ke Zaza. "Apa?"


"Ada yang ketinggalan," katanya, sedangkan Zaza malah segera pergi yang diduga arahnya berada di balik tembok.


"Zoya."


DEG!


Zoy tersentak kaget mendengar suara yang memanggil namanya. Jantungnya bergemuruh hebat. Zoya memegang dadanya yang terasa berdenyut sakit. Darahnya berdesir mendengar suara tersebut.


Dia?


Panggil seseorang bersamaan tetapi yang hanya kulihat adalah Zeze.


"Zoyaaaa."


Zoya kesentak saat Zaza menyentuh bahunya.


"Ada apa?" tanyanya.


"Dia," kata Zoya sadar mengingat suaranya.


"Hah? dia siapa? Zeze maksud lu?" kata Zaza sambil menarik Zeza mendekat.


"Kamu kenapa Zoy?" Sekarang giliran Zeze yang menyenggol Zoya.


"Zeze," kata Zoya langsung memeluknya dan beralih menatap tajam ke arah mereka berdua.


"Ck! so siapa yang bisa menjelaskan?" kata Zoya memelototi mereka.


Yang ditatap malah mengendik acuh.


"Ayok, aku lapar Zoy. Nanti kami akan menjelaskan," ucap Zeze menarik Zoya menuju mobil.


"Iya, Yok," kata Zoya juga sambil melihat ke belakang meyakinkan dirinya dengan apa yang didengarnya tadi tetapi tetap saja nihil tidak ada apa-apa, hanya orang berlalu lalang pergi keluar bandara. Zoya yakin dia mengenal suara itu. Suara seseorang yang ingin dilihat dan mengetahui perasaannya apakah sudah berubah atau belum.


"Kenapa aku merasakan dia berada disini?" batinnya dalam hati.


DRT DRT DRT


Zoya tersadar saat ponselnya bergetar dan nama Anggara yang terpampang memenuhi layar utamanya. Zoya pun tersenyum melihat isi pesan yang dikirim oleh Anggara, ah, lebih tepatnya seuntai lirik lagu yang dipopulerkan oleh Andmesh. Lalu Zoya mematikan ponselnya, Zoya pikir tak perlu dibalas pesannya dan, ya, Zoya juga lupa untuk mengganti nama kontaknya.


Pak Anggara Dosen


Ku disini sangat merindukanmu sangat rindu


Apakah engkau juga begitu oh sayangku


Bukan berarti di sini kumeragukanmu


Oh sayangku jangan lupakan aku


Aku merindukanmu, Zy.